Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Ndeso? Yo ben…

Tuesday, 13 April 2010

Viewed 2599 times, 1 times today | 72 Comments |

Sumonggo – Sleman

Sebuah buku biografi diluncurkan berisi kisah masa kecil seorang tokoh cendekiawan. Dalam sebuah berita televisi beliau yang sedang diwawancarai dengan bahagia menceritakan kisah masa kecilnya di desa. Seorang pengusaha sukses yang mengaku bermodal dengkul dengan bangga menceritakan bagaimana beliau dulu adalah anak desa yang nama daerahnya pun hampir tak dikenal di peta, kalau dalam istilah Jawa “ndeso mucuk gunung”. Seorang artis dan presenter kondang bertarip mahal, dengan ceria memaparkan bagaimana dulu kehidupannya sebagai anak desa. Tetapi kesuksesan mereka semua, tak membuat malu mengakui masa kecil di desa bagaikan Malin Kundang malu mengakui “ke-ndeso-annya”.

Dalam sebuah forum di internet, dua pihak saling berargumen. Ketika suasana memanas, entah siapa yang memulai, keduanya saling memaki lawan bicaranya dengan kata-kata “ndeso” dan “kampungan”. Apa salah “ndeso” dan kampung, kok dijadikan bahan makian? Memangnya “ngutho” selalu lebih baik dari “ndeso”? Mengapa seringkali mudah memvonis tampang dan logat seseorang sebagai ndeso untuk dijadikan bahan untuk merendahkan orang lain? Apa perlu dibuat standar baru lagi, misalnya Standar Ndeso Indonesia?

Setiap pagi hari bila kita berada di jalan antara Bantul-Yogya, ada rombongan penglaju bersepeda dengan bermacam tujuan aktivitas. Walikota Yogya, beberapa lama lalu memunculkan program sego segawe, yaitu sepeda kanggo sekolah lan nyambut gawe (sepeda untuk bersekolah dan berangkat kerja).

Ditengarai memang muncul trend untuk malu bersepeda di kalangan anak sekolah. Yang usia SMP sudah merengek minta dibelikan sepeda motor, yang SMA sudah bawa mobil ke sekolah. Entah apakah usia mereka sudah memadai untuk memperoleh SIM. Masih untung kalau bukan mobil dinas bapaknya yang dibawa, dan pulang sekolah masih juga dipakai buat pacaran. “Malu ah, ndeso, nggak modern”, mungkin begitu jawaban sebagian anak SMP-SMA tersebut bila diajak untuk naik sepeda.

Lho, justru orang modern itu naik sepeda, apalagi kalau kontur jalan seperti di Yogya yang cenderung landai dan cukup mendukung, tentu beda lagi dengan yang jalannya berbukit-bukit. Sepeda tidak bisa dipakai pacaran, kurang romantis? Siapa bilang? Tanyakan saja pada para “sesepuh” (ehm … termasuk yang sedang membaca artikel ini, ha ha …)

Rasanya tak relevan lagi menggunakan istilah ndeso atau kampung sebagai makian. Ndeso tidak identik dengan norak dan tak bermutu. Ndeso juga tak identik dengan gaptek. Memangnya siapa yang lebih gagap dalam teknologi pengolahan tiwul dan gathot menjadi variasi hidangan yang lezat? Masuk angin kerokan, ndeso? Ah, siapa bilang? Buktinya, bule yang pernah merasakan kerokan malah ketagihan.

Saya teringat staf di sebuah universitas yang sering disebut sebagai “Universitas Ndeso”, malah bangga. Sebutan itu malah menunjukkan betapa kedekatan universitas dengan masyarakat, dan bagaimana universitas menjawab persoalan-persoalan di masyarakat. Bukan model universitas yang terjebak di menara gading. Jadi biarpun “Universitas Ndeso” tapi prestasinya kelas dunia.

Bagi pemirsa (maupun mantan pemirsa) TVRI Jogja, mungkin masih mengingat program acara Mbangun Ndeso. Bahkan yang sudah jauh di negeri perantauan pun mencari-cari seandainya ada streaming dari acara tersebut di Internet. Rindu pada kepolosan Sronto, ketengilan Den Baguse Ngarso, dan ngeyelnya Kuriman.

Kadang orang memiliki persepsi yang meremehkan suatu local wisdom, semata-mata karena dianggap tradisional dan tidak modern. Padahal terdapat hal-hal yang bila dikaji secara holistik, ternyata mengandung aspek yang potensial.

Syukurlah di rumah ini memiliki spektrum yang luas. Global ok, lokal monggo, high-tech yes, tradisional bisa, katro pun oye. Tak perlu memaksa diri untuk tampil selalu metro. Bila ingin tahu model cowok metro yang sedang trend sekarang, ya tanyakan saja pada kernet metromini, ha ha ha …. Tak perlu malu mengakui bila sebenarnya memang berasal dari desa. Mau dibilang ndeso? Yo ben …. Nuwun.

Catatan: Berikut lirik lagu yang dipopulerkan oleh Tukul Arwana.

Wong Ndeso

ndeso wong ndeso,

tapi gpp rejekine wong kutho

puas5x


yo wes ben wong arep ngomong opo

yo wes ben aku iki memeng wong ndeso

yo wes ben arep ngomong empat mata

yo wes ben sing penting ora kalah karo wong kota

yo wes ben wong arep ngomong opo


puas2 5x , ndeso ndeso…, tapi gpp rejekine wong kutho


memang tampang aku katrok

tapi rejekine kota

tampang nggak jadi ukuran

kadang wajah kota rejekine ndeso


pancen aku wong ndeso soal cinta aku romeo

banyak cewek sing tresno tapi ora tak pikirin

tak sobek2 masa bodoh just kidding just for luck


yo wes ben wong arep ngomong opo


dasar wong ndeso rejeki wong kuto

never mind2x

hahahahhaha…

(bisa juga didownload di http://antiteori.or.id/uploads/Wong_Ndeso.mp3)

Sekedar intermezo, ada kumpulan stiker jadoel yang unik ini, menurut penampilnya disebut sebagai stiker ndeso, silakan dinikmati pada: http://mulyantogoblog.wordpress.com/2008/06/17/stiker-ndeso/.

Share This Post

Posted by Tuesday, 13 April 2010 on 00:00.

Categories: Nusantara. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

72 Responses to “Ndeso? Yo ben…”

Pages: [8] 7 6 5 4 3 2 1 »

  1. 72
    Alvina Says:

    Mas Sumonngo, bayar utang/ eh janji… ini dia tanggapan no. 48 ttg rental sepeda BIXI yg bayarnya pake credit card:

  2. 71
    adhe Says:

    Mas Den Kemplu……sorry yaaa baru komen belakangan, iya nih orang2 koq suka ngeledek “Ndeso”, “Ndusun” ato “Katrok”, “Kampungan”……. mana ada yg ngatain “eh kamu…..dasar Kotaan !” hehehehe….. lho…Kota itu kan asalnya dari Ndusun….lalu berkembang jadi Kampung…kemudian membesar jadi Desa, …. trus membesar jadi Kota. Seharusnya orang2 kota itu jangan sombong, lha…mereka asalnya wong ndeso ‘n kampung juga, hehehe…., aku ngaku wong ndeso lho tinggalnya juga di desa, asli sesuai KTP, hehehe.

Pages: [8] 7 6 5 4 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)