Bobo tidak pernah bobo…

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

AGAK sulit mencari tulisan tentang ulasan majalah anak-anak di Indonesia. Bahkan bisa dikatakan sangat sedikit untuk menyebutnya tidak ada sama sekali. Dunia anak-anak memang tidak mendapat perhatian yang serius untuk dibicarakan, dimajukan atau diawasi dari pengaruh negatifnya.

Tulisan ini bukan untuk mengisi kekosongan itu dan juga bukan sebagai bentuk promosi sebuah media cetak anak-anak. Sama sekali bukan itu tujuannya. Saya hanya ingin berbagi dengan banyak jutaan anak Indonesia yang sudah tumbuh menjadi dewasa, sedang menikmati masa remaja, sebagai anak-anak atau masih balita, yang semuanya memiliki pengalaman yang sama tentang sebuah ingatan yang menarik.

Membicarakan dunia anak-anak di Indonesia tidak mungkin melupakan nama Bobo. Tokoh karakter dalam sebuah majalah anak-anak ini, hampir 40 tahun menemani anak-anak Indonesia berkembang dengan baik sesuai dunianya. Kehadirannya ditandai dengan pertama kalinya Bobo dan keluarganya terbit sebagai majalah pada tanggal 14 April 1973. Kemunculannya dalam bentuk majalah adalah sebuah lanjutan dari pemunculan tetapnya di sebuah kolom anak-anak pada harian Kompas. Jadi sebenarnya, Bobo sudah hadir sebagai tokoh sebelum “dia dilahirkan” sebagai majalah.

Keluarga Bobo dulu dan kini

Di Indonesia ada banyak tokoh-tokoh yang mewakili karakter anak-anak yang lahir dan kemudian pergi begitu saja tanpa pamit kepada anak-anak. Mereka menghilang bukan tidak disukai anak-anak, tetapi tidak bisa lagi hidup lebih lama di lingkungan persaingan yang terus berubah. Bobo bisa terus hadir dengan nyaris tanpa mengalami gangguan akan kehadirannnya.

Kehadiran Bobo begitu lama dalam sejarah anak-anak di Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari dukungan kelompok media yang melahirkannya, sehingga tampil, hadir dan bertahan dengan kekuatan penuh. Anehnya, Bobo hadir tidak untuk menggantikan karakter budaya lokal di Indonesia. Bukan berarti Bobo hadir, lalu banyak anak Indonesia tidak tahu siapa Si Unyil, apa itu Si Gundala, siapa Si Sara 808, siapa itu Hanuman, siapa Petruk, Gareng, Bima, Semar atau siapa pula Wibisana, tokoh dalam dunia pewayangan.

Satu hal positif dalam kehadiran Bobo, dia tidak terlalu kental membawa nilai-nilai barat yang banyak dikhawatirkan merusak dan menggerus pemahaman anak-anak Indonesia terhadap jati dirinya. Berbeda dengan kehadiran tokoh-tokoh kartun dari barat, yang suka diperbincangan dalam perdebatan budaya. ”Anak saya lebih kenal Mickey Mouse daripada siapa itu si Bima”, kata teman saya dengan sedikit kesal.

Dalam dunia cerita Bobo, semua nama karakter diubah namanya menjadi sangat Indonesia. Ada yang namanya si Coreng, si Upik atau Paman Gembul. Berbeda dengan karakter lain produk luar yang tetap memakai nama asli mereka, dan hanya diterjemahkan deskripsi karakternya, seperti Donal Bebek (Donald Duck), Mickey Tikus (Mickey Mouse) dan banyak lagi lainnya. Keadaan ini seperti berhasil menyembunyikan fakta dengan halus, bahwa Bobo sebenarnya bukan berasal dari ‘home grown’ hasil budaya lokal. Banyak yang tak tahu bahwa kalau Bobo itu asalnya dari Belanda! “Wah, kirain Bobo itu asli Indonesia”, kata seorang ibu dengan nada penuh keheranan.

Banyak adaptasi dilakukan agar Bobo terlihat seperti tokoh lokal. Untuk melihat seperti apa katakter asli Bobo dari Belanda, bisa dilihat dari majalah Bobo Junior, yang diterbitkan beberapa tahun kemudian.

Selama kehadirannya sebagai majalah atau sebelumnya, bisa dikatakan tidak pernah terjadi muatan cerita Bobo mengundang polemik serius di masyarakat, terutama tentang moral, edukasi ataupun budaya lokal. Hampir setiap anak-anak di Indonesia merasa ditemani masa kecilnya dan mereka bangga dengan Bobo sebagai sahabat mereka. Namun satu kekurangan dari Bobo, dia kurang menyentuh sampai semua lapisan anak-anak Indonesia hingga sampai ke golongan dari keluarga kurang mampu.

Diperlukan waktu yang panjang untuk bisa menjadi teman semua anak-anak di Indonesia. Mungkin Bobo harus berpikir untuk menyediakan medium khusus bagi anak-anak kurang mampu, dengan konten, disain dan perlakuan khusus, agar bisa berbicara dengan anak-anak yang kurang beruntung.

Saya sendiri beruntung bisa ditemani oleh Bobo semasa kecil. Ada satu hal yang saya dapatkan dari masa-masa indah itu, bahwa seorang anak jangan dibelenggu untuk meraih kesuksesan yang dibuat oleh orang tuanya. Sukses bukan berarti harus melewati jenjang sekolah dengan nilai-nilai yang bagus sekali, sehingga bila perlu si anak dipaksakan dengan cara mengguyur kepala si anak dengan air dingin, agar tidak mengantuk menghadapi pelajaran, ulangan atau ujian esok pagi. Bobo hadir hanya untuk menemani anak-anak dengan bermain dan mendidik, bukan membelenggu.

Selamat ulang tahun Bobo. Jangan pernah bobo untuk menjadi sahabat anak-anak Indonesia. (*)

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

2 Comments to "Bobo tidak pernah bobo…"

  1. Iklima  18 April, 2017 at 06:42

    Terimakasih mbaa bagus sekalii

  2. sokanindya pratiwi wening  15 April, 2013 at 09:19

    Biar udah tuir gini, mae masih suka baca Bobo…!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *