Ling Nan

Elizabeth – Zeng Ceng

Hello sobat Baltyra….semoga semua memiliki week end yang menyenangkan ya.

Week end ini saya lagi buang dokumen-dokumen di computer saya (biar ada space buat nyimpen foto gitu) eh ternyata nemu foto foto kunjungan ke Ling Nan Impression Garden, Guangzhou.

Awal tahun lalu pas Garden/ museum ini belum lama dibuka, kebetulan ortu sedang berkunjung jadi ya sekalian aja muas-muasin ortu liat bangunan jaman baheula gimana.  Awalnya saya sendiri gak terlalu ngerti maksudnya Ling Nan culture itu gimana, jadi iseng iseng keblabasan malah nemu cerita sejarah yang menarik.

Dan kebetulan kan sekarang sudah bulan April, sebentar lagi akan ada  Guangzhou Asian Games, nah siapa tahu sobat Baltyra ada yang ke Guangzhou mungkin bisa mneyempatkan diri menikmati suasana Guangzhou jaman dahulu kala.

Ling Nan memiliki dua  pengertian, yaitu :

  • Seluruh daratan yang terletak di bagian selatan pegunungan Wu Ling, jadi meliputi daratan China, dan beberapa wilayah Asia Tenggara. (pegunungan Wu Ling membentuk tembok alami yang membagi 2 zona, yaitu Ling Nan , sisi selatan Wu’ Ling; dan Ling Bei , sisi Utara Wu Ling )
  • Bagian selatan dari  wilayah cultural ‘Hundred Yue’, yaitu meliputi  Kwangtung (Guangdong), Guangxi, Hainan  dan Vietnam bagian utara.

Yang dimaksud dengan ‘Hundred Yue’ adalah sebutan untuk  penduduk asli China bagian selatan.  Kata ‘Yue’ secara literal berarti ‘beyond’ kata ini digunakan karena  ‘Hundred Yue’ tidak termasuk  wilayah kekuasaan Dynasty Zhou (Dynasty ke 3, dalam San Dai atau ‘Three Holy Dynasty’ => Xia – Shang – Zhou ).

Menurut catatan sejarah, pada jaman Dynasty Zhou, wilayah kekuasaan Zhou terbagi menjadi 9 lapisan , seperti kotak dalam kotak, dan kotak terkecil didalamnya merupakan Ibukota. Dan yang dimaksud dengan ‘Yue’ = ‘beyond’ adalah seluruh wilayah diluar 9 lapisan kekuasaan Dynasty Zhou tersebut, kecuali Mongolia. Dan orang orang ‘Yue’ disebut  ‘Hundred Yue’ karena jumlah mereka yang tak terhitung dan terbagi menjadi beberapa sub group dan Klan, seperti :

  • ‘Min Yue’ (daerah Fujian, cikal bakal orang Hokkien, bahasa ‘Min’ merupakan cikal bakal bahasa Min Nan- Hokkien),
  • Luo Yue’ (cikal bakal orang Vietnam Utara);
  • ‘Ou Yue’ (Ou Yue bagian barat merupakan leluhur ethnic minoritas ‘Nung’ dan ‘Tay’ di Vietnam, dan masih berhubungan dengan ethnic ‘Zhuang’ di Guangxi).
  • ‘Dian Yue’ ( Ethnik Dian, di Yunnan)

Dan masih banyak ‘Yue’ lainnya (termasuk yg berhubungan  dgn Taiwan, maaf karena di banned jadi gak bisa cari info ). Jadi keturunan ‘Hundred Yue’ ini yang saat ini masih eksis seperti Ethnik  Bo Yi, Ethnik Zhuang, Ethnik Yao , Ethnik Miao, Ethnik Dong, Ethnik Shuiji, dan Ethnik Li.

Sedangkan  istilah ‘Ling Nan’ digunakan pertama kali pada jaman ‘Eastern Zhou’ untuk menyebut daerah,yg menurut nama sekarang adalah  Guangdong, Guangxi, Hainan (saat itu belum jadi propinsi, masih masuk ke wilayah Guangdong) dan Vietnam bagian Utara.

Setelah Dynasty Zhou runtuh, dan digantikan oleh Dynasty Qin, kaisar pertama China, yaitu Qin Shi Huang berambisi menyatukan seluruh China, dan karenanya beliau mengirimkan armada untuk mengokupasi China selatan, termasuk area ‘Hundred Yue’.

Pada masa pemerintahan Dynasti Qin,  Qin Shi Huang menunjuk Jendral Zhao Tou untuk ditempatkan di Long Chuan  yang merupakan lokasi yang strategis. Jendral Zhao Tou kemudian meminta  Kaisar Qin Shi Huang untuk mengirimkan 500.000 orang dari China tengah ke Nan Hai (kini perbatasan Guangzhou dan Fo Shan).

Ratusan ribu orang tersebut digunakan untuk mengasimilasi kebudayaan China Tengah dengan kebudayaan ‘Yue’ setempat, yaitu  kebudayaan zona Ling Nan.

Saat Qin Shi Huang meninggal dan Dynasty Qin runtuh, Jendral Zhao Tou menggantikan kedudukan atasannya sebagai commander di Nan Hai, dan mengikuti anjuran mantan atasannya tersebut untuk mendirikan kerajaan sendiri di China selatan.

Dengan menggunakan pegunungan sebagai pertahanan alam untuk menghadapi China Utara, beliau juga berhasil menguasai Guangxi, Yunnan, Vietnam Tengah dan Vietnam Utara yang terletak disisi selatan pegunungan. Saat itulah Jenderal Zhao Tou mendirikin kerajaan ‘Nanyue’ dan menyebut dirinya sendiri sebagai ‘Wu Wang’ (martial king).

Ling Nan Impression Garden yang saya kunjungi, dulu merupakan University City Museum, dan kini telah direnovasi dan dikemas secara menarik, termasuk memindahkan bangunan bangunan kuno asli di wilayah ‘Ling Nan’ untuk di tata di Museum ini.  Kebudayaan Ling Nan yang ditonjolkan di Museum ini merupakan kebudayaan pada masa Kerajaan ‘Nanyue’ jadi sudah terasimilasi dengan kebudayaan China Tengah.

Salah satu kebudayaan Ling Nan yang khas dan menonjol adalah  arsitektural gaya Ling Nan, model bangunan yang unik, tersebut disesuaikan dan selaras dengan  Cuaca dan Alam di  zona Ling Nan. Bentuk bangunan gaya Ling Nan yang khas ini masih dapat kita temui di kota Guangzhou, Hong Kong dan Macau.

Untuk yang di Guangzhou, bangunan khas Ling Nan yang masih asli adalah Chen Clan Ancestral Temple, dan Xiguan Dawu (keduanya ada di district Liwan ), dan Qilou building, hanya saja bangunan model Qilou ini dibeberapa tempat  seperti Yi De Lu dan Ren Min Lu, merupakan asimilasi dengan arsitektural Yunani ( asimilasi pada jaman Dynasty Qing). Jadi kalau sobat Baltyra shopping di district Liwan (Shang Xia Jiu Lu,  Jade market, Beijing Lu, Ren Min Lu, Yi De Lu  dsb, jangan lupa kepala nya ndongak untuk liat ukiran-ukiran di ceiling dan model bangunan2 tsb hehehe).

Budaya asli ling Nan lainnya meliputi,  dialect Ling Nan (Kanton, Hakka, Tsie chou, Hainanesse, Tang Ka),  Canton Opera, Ling Nan Caligraphy,  Seni Ling Nan (seperti boneka dari janur, dan boneka dari tepung) Music, Lukisan,  dan masakan tentunya, kecuali ‘Yum Cha’ atau ‘Minum Teh’.

Secuil kisah menarik mengenai  kebiasaan minum teh bagi orang Kanton.  Konon, penduduk asli Guangdong  dulu tidak mengenal teh. (Teh  dulu merupakan sajian istimewa bagi anggota kerajaan, dan kemudian dikonsumsi sebagai obat lalu sebagai minuman ).

Dan saat Dynasti Qin, teh ini terbawa oleh para migrant dari China Utara yang datang ke zona Ling Nan. Lalu pada masa perdagangan Jalur Sutra, Guangdong merupakan pintu bagi Jalur Sutra melalui laut, dan saat itu untuk menjamu para pedagang yang lewat, orang setempat mulai berdagang penganan kecil dan disertai teh, yang lalu  dikenal sebagai ‘Dim Sum’ dan ‘Yum Cha’ (dim sum = untuk makanan kecil yang menyertai acara minum teh, sedangkan ‘Yum Cha’ adalah sebutan untuk minum teh disertai Dim Sum).

Jadi  Yum Cha yang erat dengan budaya canton tersebut bukanlah kebudayaan asli Ling Nan.

Baiklah teman teman silakan dinikmati foto-fotonya, maaf ya kalau cerita sejarahnya kepanjangan. Untuk teman-teman yang akan datang ke Guangzhou sempatkan datang ke museum ini, dan Chen Clan Temple yang merupakan salah satu bangunan asli khas Ling Nan dan dibangun masa Dinasty Qin. (mungkin lain kali saya  bikin artikel dan muat foto-foto mengenai Chen Clan temple ini).

Tempat lain yang layak di kunjungi adalah kuburan Raja masa kerajaan Nanyue, saya belum sempat kesana. Dan sayangnya sebagian besar makam  dihancurkan oleh Empress Dowager karena pertikaian berlandaskan politik, eh maaf ntar jadi cerita sejarah lagi deh.

Ya selain shopping Guangzhou juga memiliki beberapa tempat wisata yang menarik. Dan kalau ada yang mau tanya ttg  jurus2 shopping, seperti lokasi, harga, dan map shopping+ transportasi shopping biar efisien silakan japri. (loh kok jadi ngiklan ya.. :p )

Oh ya, museum ini di buat seperti kota jaman dulu jadi model jalan dan bangunannya (yang sebagian itu asli dan dipindahkan dari sekitar Guangdong) itu pun berfungsi pula seperti masa dulu, ada jalan umum dan bangunan-bangunannya di lantai bawah untuk toko (hanya saja sekarang untuk toko cendera mata , restaurant dsb), lalu ada jalan yang bangunannya adalah rumah2 nelayan (bangunan asli dan diambil/dipindahkan  dari satu desa nelayan yang sama).

Bahkan ada salon lengkap dengan perlengkapan model  kunonya, yang keliatan serem deh…lebih mirip kursi hukuman hahaha,  sayang batere kameraku dah abis jadi gak bisa foto.

Foto A,B,C & D

Air dan Alam merupakan salah satu elemen yang diperhitungkan dalam arsitektural Ling Nan. Foto E,F & G

Sudah lelah jalan jalan, mari jajan dulu.  Hidangan semacam sup penyegar ada yang manis ada yang asin. Makan sup disertai tontonan Canton Opera, Live di latar belakang nya. Foto H

Di museum ini boleh mengadakan pesta pernikahan (dengan ijin khusus tentunya), dan pengantin pun di bawa dengan tandu pengantin semacam ini. Pernah ada pasangan Cantonese + American yang menikah dan menggelar pesta dengan adat khas Ling Nan di tempat ini. Foto I

Ini Speaker, biar gak kelihatan unsur modernnya jadi dibuat kayak batu deh , pinter juga ide nya yah.   Foto J

Traditional Spinster’s House, bagian dalamnya hanya terdiri 2 lantai, lantai bawah untuk ruang serba guna, ruang atas untuk satu kamar tidur dengan balkon. Baskom kayu yang diatas tempat tidur itu, aku ga tau itu  kaskus atau tempat cuci muka yah…   Foto K, L & M

Stand penjual boneka dari tepung, seni khas Ling Nan.

Foto N

Pemandangan dilihat dari menara pengawas. Foto O & P

Bangunan bangunan modern yang tampak di kejauhan adalah gedung gedung universitas. Museum ini terletak di tengan tengah ‘Kota Universitas’ .  FOTO Q

Uang kertas jaman dulu, tapi  bukan jaman kerajaan Nanyue’ soalnya ada gambar Sun Yat Sen. Uang kuno dalam bingkai ini nemunya di rumah tukang daging.  Foto R

Setelah capek muter-muter dan berbelanja oleh-oleh, si kecil pun kecapekan tahu-tahu dah nangkring di atas rickshaw kuno. Tembok yang ada di latar belakang adalah tembok khas Ling Nan, tembok tersebut dibuat dari cangkang Oyster. Foto S

Di salah satu sudut  ‘kota’ eh museum ini ada kompleks rumah nelayan, bangunan bangunan rumah tersebut masih asli dan kuno banget, dipindahkan (diangkut?)dari lokasi asalnya. Gak saya foto soalnya takut hahaha… terus terang saya rada sensitive dan percaya kalau di tempat-tempat tertentu gak bisa sembarangan, nah kebetulan pas melongok masuk rumah-rumah nelayan tersebut ada serrr serrr yang berbeda.

Desain tiap rumah nelayan tersebut umumnya dimulai dari pintu masuk langsung ke hall kecil dan terbuka, dan di sebelah kanan pintu masuk ada tempat  dupa, ujung hall adalah dapur kecil, sedangkan sebelah tempat dupa adalah  frame pintu besar menuju  ruang tengah/ ruang duduk dan biasanya ada altar pemujaaan juga.

Sisi kanan dan kiri ruang duduk masing masing ada tangga curam menuju kamar tidur di lantai 2.  Dan kalau ada altar seperti itu, entah itu altar untuk pemujaan dewa sesuai yang dipercaya penghuni rumah tersebut dulunya, atau mungkin dulunya altar tempat  menyembayangi leluhur penghuni rumah, biasanya saya ‘soja’ untuk menghormati, kan  kita masuk rumah orang gitu, jadi kulanuwun lah, kalau di Jawa juga gitu kan,  kalau lewat tempat yang rada ‘sakral’ atau angker ya kulanuwun.

Jadi selain rumah rumah kuno yang bisa bikin merinding, tempat lain yang menurutku ‘sakral’ adalah kuil kuil tempat sembahyang dan ada satu rumah tempat sembahyang dan latihan barongsai. Setahu saya, Barongsai itu gak bisa buat sembarangan juga, ini kebetulan juga pas ambil foto ( saya selalu ngejepret 3 kali di lokasi yg sama, kebiasaan aja). Dari 3 foto yang saya ambil foto yg ketiga bersih, dan 2 foto pertama ada kabut lewat…ga ngerti juga soalnya perasaan pas ambil foto gak ada orang  ngerokok atau dupa, dan gak ada orang di sekitarku.

Foto T

Cuma ya itu deh kalau ngomong sama suami, dia ga percaya yang gituan, justru nyengir-nyengir. Eh ini kok malah jadi nggomongin yg serem2 yak… kembali ke topic deh.

Foto-foto lain :

U , V & W

Oh ya di Museum ini banyak toko yang menjual cendera mata yang khas dan tiap toko berbeda, harganya juga kurasa jauh lebih murah daripada di toko museum lainnya, misalnya seperti Chen Clan Ancestry Temple (pasang harganya mahal sekali bo).

Adapula toko kipas dan  payung dengan lukisan khas Ling Nan. Untuk kipas ada yang dari kertas atau kayu yang wangi sekali. Untuk anak anak ada stall pembuat permen tradisional juga. Dan yang patut di coba adalah  susu khas Guangzhou, Shuang Pi Nai (double skin milk).

Bagi yang ingin mengunjungi museum ini, saran saya gunakan sepatu/sandal yang nyaman dan bawa stroller jika memiliki anak kecil, karena awal tahun 2009, pas saya mengunjungi,  transportasi menuju museum ini agak repot, dari  kota bisa menggunakan taksi (itupun sopirnya harus dikasih catatan yang jelas dalam aksara cina) atau melalui metro.

Untuk pulang ya kalau gak bawa mobil sendiri harus jalan kaki dulu ke stasiun metro, sekitar 20 menit jalan kaki, jarang sekali ada taksi yang masuk ke university city ini ( judul tempatnya kok kayak judul ‘Sims’ ya..hehe) eh ya wes lah ntar jadi tambah ngalor ngidul lagi nih.

Have a nice day everyone…. :)

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.