Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Muka Badak

Thursday, 15 April 2010

Viewed 1795 times, 1 times today | 33 Comments |

Cinde Laras

Gak salah kalau negeri kita ini disebut satu dari beberapa negara yang punya ciri khas memiliki kekayaan alam berupa badak. Kayaknya makin hari makin banyak saja sosok-sosok baru bermuka badak yang muncul baik di layar tv maupun koran. Prestasinya sederet, begitu gencar diberitakan kayak artis kacangan mewarnai semua media pemberitaan. Jangankan malu disorot kamera, tiap kali wajahnya tertangkap lensa malah senyam-senyum ketawa. Jangan-jangan mereka malah sedang geli mentertawai kita, orang-orang sial yang gak doyan kemplangan duit negara.

Mau sebal ? Silakan. Mereka gak peduli. Jangankan punya rasa segan karena sudah berhasil malak duit haram. Kayaknya mikir kesebalan kita pun enggak. Salah sendiri kenapa gak ikutan jadi garong, mungkin pikir mereka begitu. Padahal mereka-mereka ini aparat yang telah dipercaya menjadi ujung tombak lembaga negara. Kalau tidak mau kena kemplang, jangan sekali-sekali berurusan dengan mereka. Sialnya, kita memang mau-tak-mau harus bersinggungan dengan lembaga-lembaga itu. Yang isinya banyak muka badaknya itu. Mulai dari kepolisian, kejaksaan, kehakiman, lembaga pemasyarakatan,… dll.,… dll.

Ini contoh ketika lelakiku kehilangan laptop kantornya yang sudah dengan sukses dimaling oleh rampok bermotor di pagi hari saat berangkat kerja. Dengan cara menusuk ban mobil dengan sangkur, maling yang lain membuka pintu belakang lalu nekat kabur ke seberang jalan yang sedang macet. Seorang maling lainnya sudah setia menunggu di seberang. Blass ! Tak lama mereka menghilang dalam keramaian kota.

Lelakiku yang sadar harus melapor ke kantor polisi sebagai syarat membuat laporan kehilangan property kantor itu mendapati sang petugas yang menawari harga “pencarian barang yang hilang”.

“Kalau mau diproses sampai ketemu harganya 5 juta, Pak !”, kata petugas dengan sigap. Wheits !, kok pake 5 juta ?
“Gak mau ah, pokoknya saya sudah lapor kalo barangnya dimaling…”, jawab lelakiku kukuh.
“Cuma 5 juta kok, Pak. Nanti kalau ketemu kan bisa Bapak pakai sendiri laptopnya”, bujuk petugas dengan enteng. Wheits ! Apa kata boss-nya kalo tau laptop itu ketemu terus dia pakai kerja di rumah ? Bisa-bisa malah lelakiku yang dikira nyolong !

“Gak ah, gak usah. Pokoknya saya sudah lapor. Yang penting saya dapat surat keterangan kehilangan barang dari polisi. Ini kan buat laporan ke kantor”, jawab lelakiku. Si petugas cuma terdiam dengan bibir manyun. Gagal hari itu mendapat duit perkara….

Itu baru contoh kecil. Cuma kasus kemalingan. Contoh besar kayak kasus mafia pajak yang melibatkan Gayus, Cs. yang ramai dibicarakan orang dimana-mana itu seperti puncak dari gunung es. Jangankan menghamba pada negara dengan gaji luar biasa (setelah renumerasi dilaksanakan), ternyata bertobat pun tidak. Jadi bengong membayangkan duit 3,6 milyar belanja bulanan istri Gayus. Berapa sekolah yang dapat diperbaiki fasilitas kantin dan toiletnya dengan dana sebesar itu setiap bulannya, ya ? Busyeeet……

Aku jadi terkenang beberapa kenalan yang saat ini masih bekerja di Instansi Bea dan Cukai. Sempat minder bukan main ketika melihat mobil Mercy dan Moge HD berderet di garasi rumah mereka. Jangankan Mercy atau HD, sepeda motor aja aku belinya pake nyicil. Mana ati gak ciut berteman dengan orang begini ?

Ternyata…oh…ternyata…. Jabatan para kenalan itu bukan siapa-siapa. Belum sampai jabatan leher, apalagi kepala. Cuma staf biasa. Malah ada yang cuma jadi penjaga pintu portal di pelabuhan karena ijasahnya cuma SMA. Kok ? (beribu kok timbul kayak jerawat di muka). Orang bilang sih, yang penting banyak doanya, pasti rejekinya ngalir juga…. Hahaha…, memang kebanyakan sudah pada naik haji sih, tapi pakenya duit dari mana ? Bluehh…. Hebat juga ada petugas portal punya mobil mewah. Jadi mau membandingkan pendapatan tukang buka portal di mal dengan yang ada di instansi bea-cukai itu. Negeri ini memang negeri ajaib. Ah…sudahlah. barangkali memang orang-orang itu termasuk jenis badak juga.

“Dalam hidup ini memang banyak orang yang kayak gitu, kalau kita sudah sering lihat kan jadi biasa…”, celetuk seorang teman sesama alumni di perguruan tinggi. Ya…ya…ya…. Kita mungkin harus membiasakan diri melihat muka para badak. Biar gak kaget kalau bersinggungan dengan mereka. Susahnya…, kok jadi takut ketularan punya muka kayak mereka, ya ?

Share This Post

Posted by Thursday, 15 April 2010 on 00:18.

Categories: Nusantara. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

33 Responses to “Muka Badak”

Pages: [4] 3 2 1 »

  1. 33
    Cindelaras Says:

    @Handoko W: Hehehe, daripada diasosiasikan manusia, Pak Han. Untungnya gak ada badak yg protes

  2. 32
    Handoko Widagdo Says:

    Oooh kasihan dikau Badak. Wajahmu yang imut dan sensitif diasosiasikan dengan para penjahat yang tak tahu malu. Padahal dikau pemalu oooh badak.

  3. 31
    Cindelaras Says:

    @Syanti : Huhuhuhu….jadi pengen pindah negara. Indonesia sudah bukan lagi negeri impian gw…… Hiks.

    @Imeii : Kali enak punya muke tebel, bisa banyak duitnye, Mpok.

Pages: [4] 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)