Ryu & Yuka: Kenekadan Si Bungsu

Ryu & Yuka-chan no mama – Jepang

Dear pembaca Baltyra,

Kalau jadoel saya sering cerita tentang anak-anak. Maka kali inipun saya ingin sharing tentang anakku yang bungsu, Yuka. Kebetulan dikaruniai 2 anak, sepasang pula. Ryu (8 tahun 11 bulan) sebagai anak pertama, laki-laki. Sedangkan Yuka (6 tahun 12 hari), anak bungsu, perempuan.

Kalau jadoel saya sering kewalahan menghadapi Ryu. Sekarang pun bertambah lagi dengan adanya Yuka. Memang inilah dunia anak-anak. Kebetulan Yuka ini merupakan  anak yang periang, pemberani (saking beraninya sering nekat). Yuka ini merupakan”buntut” Ryu, pokoknya semua ikut kakaknya Ryu.

2 hari yang lalu Yuka seperti biasanya pulang dari sekolah. Tahun ini (2010) Yuka masuk SD (Sekolah Dasar) kelas 1. Oleh karena merupakan murid baru maka untuk 1 minggu pertama pulang lebih awal daripada kelas senior lainnya. Ini berarti tidak ada acara makan siang di sekolah. Jadilah Yuka pulang lebih awal sekitar 11:30 siang.

Tentu saja saya sebagai ibunya menyiapkan makanan siang buat putri tercinta. Selesai makan siang, saya ada satu keperluan kerja di ”warung”. Saya bujuk Yuka untuk ikut ke”warung”sekalian antar makan siang buat Papa-nya. Yuka tetap ngotot tidak mau ikut ke ”warung”. Jadilah saya yang ketar-ketir apalagi  jamnya  sudah mepet. Kebetulan ada janji dengan konsumen setelah jam makan siang. Mulanya kupikir mudah untuk membujuk Yuka  ikut ke ”warung”.

Walaupun jarak ”warung” dan rumah dekat tetap saja butuh waktu. Yuka ngotot sembari berkata,”Mama, jangan kuatir, Aku bisa di rumah sendiri koq. Aku tunggu Mama pulang. Mama pergi ke warung sendiri saja, Yuka capek tadi jalan kaki. Sekarang mau istirahat di rumah saja”. Akhirnya saya pikir, tokh hanya 30 menit meninggalkan Yuka. Jadilah saya tinggal Yuka seorang diri dalam rumah. Kalau ada kakaknya, Ryu, tentu saja saya akan lebih tenang pergi mengurus ”warung”.

Kira-kira selang 45  menit (terlambat 15 menit dari janjiku dengan Yuka)  saya segera pulang ke rumah. Dalam perjalanan pulang, jantung serasa copot melihat pemandangan di depan mataku. Spontan langsung aku rem dan menghentikan mobil dengan segera.

Tahukah apa yang bikin saya shock berat?  Saya lihat Yuka, anak 6 tahun 12 hari sedang jalan kaki dengan santainya. Hah?  Mau kemana anakku ini?  Langsung aku cegat Yuka. Kutanya,”Yuka, mau kemana?  Tadi Yuka sudah janji dengan Mama, akan tetap tinggal di dalam rumah dan tunggu Mama bukan? ”.

Jawab Yuka,”Ma, aku barusan telepon dan sudah bikin janji dengan  Mana-chan untuk pergi main ke rumahnya”. Hah?  Darimana Yuka belajar telepon. Seingatku Yuka tidak pernah pencet nomor telepon sendiri. Biasanya saya yang pencet nomor telepon dan barulah Yuka berbicara dengan teman-temannya. Bagaimana Yuka bisa tahu nomor telepon Mana-chan.

Akhirnya kuajak Yuka masuk kedalam mobil karena bagaimanapun berbicara di jalanan kurang bagus dilihat orang. Jadilah Yuka kuinterogasi dalam mobil. Bagaimanapun aku”salut”dengan kenekatan Yuka, hanya saja sebagai Mamanya tidak aku ungkapkan, bisa tambah nekat Yuka.

Beginilah kisahnya hingga Yuka bisa jalan sendiri menuju rumah temannya, Mana-chan :

Saat saya pergi  ke ”warung”, Yuka masih  asyik menonton televisi. Akan tetapi setelah serial kesukaannya habis tayang, Yuka mulai jenuh. Tiba-tiba Yuka  teringat teman sekelasnya, Mana-chan yang kebetulan masih tetangga (jalan kaki kira-kira 10 menit).  Mulailah Yuka mencari nomor telepon.

Untuk nomor telepon semua teman anak-anak bahkan guru sekalian memang semuanya selalu saya simpan dan tulis dengan lengkap. Daftar telepon ini lengkap dengan tahun saat perkenalan dan kelas saat TK maupun SD. Jadilah Yuka mencari daftar telepon tersebut. Karena Yuka akrab dengan Mana-chan maka cukup mudah bagi Yuka untuk mencari nomor telepon temannya, yang penting ingat marga keluarganya dan bisa baca bahasa Jepang.

Kebetulan Yuka memang bisa baca hiragana (yang belum di pelajari adalah huruf kanji dan huruf katagana). Sampai di sini, aku hanya membatin,”Cerdik juga anakku ini. Bisa mikir sampai sejauh ini”. Sebersit rasa bangga sebagai ibunya, hanya tidak saya ungkapkan di depan Yuka.

Tentu saja saya tidak langsung mencerca cerita Yuka. Bagaimanapun saya ingin tahu kelanjutan ceritanya. Jadilah saya dengarkan cerita Yuka. Setelah ketemu nomor telepon Mana-chan, barulah Yuka pencet nomor telepon itu seperti yang biasanya Mama-Papa lakukan. Gubrakkk, dengar ini langsung saya pusing tujuh keliling. Jadi saya tanpa sengaja mengajarkan anak-anakku.

Waktu telepon Mana-chan, yang pertama kali angkat telepon dan jawab tentu saja ibunya Mana-chan. Lucunya, Yuka pun langsung bilang ke ibunya Mana-chan,”Bisa tolong bicara dengan Mana-chan? ”. Hah?  Ternyata kali ini cara Yuka menjawab justru belajar dari Ryu yang kadang kala telepon ke teman akrabnya dan janjian lewat telpon untuk main bersama. Setelah Mana-chan terima telepon, Yuka dengan segera mengadakan janji untuk main ke rumahnya.”Mana-chan, tunggu aku segera main kerumahmu ya”.

Jadilah Yuka segera ambil tas yang diisi dengan mainan kesukaannya dan segera ambil sepatu untuk berangkat ke rumah Mana-chan. Wuih, sampai di sini ceritanya Yuka sudah bikin aku pening. Anak – anak jaman sekarang memang lebih pintar dari orang tuanya. Memang berulangkali saya sebagai ortu selalu menekankan anak-anak untuk mandiri, jangan pernah tergantung dengan orang lain dan jangan menyusahkan orang lain. Inilah salah satu hasilnya, apa boleh buat.

Karena kita berbicara dalam mobil dan sudah dekat dengan rumah Mana-chan. Maka akhirnya saya antar Yuka ke rumah Mana-chan sembari  sedikit beramahtamah dengan ibunya Mana-chan. Saat berkunjung ke rumah teman biasanya anak-anak Jepang membawa sedikit makanan kecil / cemilan untuk dimakan bersama. Intinya ya supaya tidak bikin repot sang tuan rumah  misalnya menyiapkan suguhan segala macam.

Yuka tidak tahu dengan kebiasaan ini.  Jadilah saya sewaktu pulang menjemput Yuka pulang dari rumah teman, saya membawa”buah tangan”alakadarnya seperti strawberry dan sedikit cemilan. Bagaimanapun saya ada rasa sungkan dengan ibu Mana-chan. Saya cukup yakin Yuka akan cerita bahwa Mamanya tidak ada di rumah saat Yuka berangkat ke rumah Mana-chan. Namanya juga anak-anak, apapun akan di ceritakan ke temannya bukan?

Sepulangnya suami ke rumah. Langsung saya ceritakan kejadian hari ini. Langsung Papanya ketawa ngakak sekeras-kerasnya, komentarnya,”Benar-benar adik -kakak sama semua. Kalau sudah ada kemauan susah dibendung”. Memang kedua anak ini termasuk kategori”keras kepala”begitu niat dan ingin pasti harus terlaksana, salah satunya seperti kejadian Yuka  nekat pergi ke rumah teman sendiri.

Begitulah, saya nasehati Yuka bahwa pergi ke rumah teman boleh-boleh saja tetapi harus tunggu Mama pulang. Tidak boleh model grusa -grusu seperti ini. Apalagi meninggalkan rumah tanpa di kunci (Memang Jepang aman tapi bagaimanapun tetap harus jaga keamanan bukan? ) Kalau Yuka mau pergi ke rumah teman, Mama bisa antar apalagi jarak rumah teman hanya dekat cukup jalan kaki. Hanya saja saya sebagai ibunya rada kuatir selain Yuka baru 6 tahun 12 hari, SD kelas 1 pula. Apalagi perjalanan ke rumah teman pasti melewati jalan raya yang lumayan banyak mobil  lalu lalang. Eh, Yuka langsung berdalih,”Aku bosan di rumah sendiri, Ryu belum pulang dari sekolah, Mama pun pergi ke warung”.

Sejak kejadian ini, saya sebagai ibunya lebih hati-hati dalam menghadapi anak-anak. Tak terasa anak-anak semakin besar, memang harus banyak komunikasi dengan anak-anak sehingga saya akan selalu tahu dan  paham pikiran, pandangan anak-anak. Saya ajarkan Yuka tatacara telepon, tatacara bertamu ke rumah teman. Bagaimanapun saya tidak akan mungkin mengikuti 100% langkahnya.

Anak pun mempunyai dunianya sendiri. Hal terpenting saya tahu teman-temannya. Kadangkala pun teman anak-anak  bermain ke rumah (biasanya bergantian). Kalau biasanya hanya teman -teman Ryu yang datang ke rumah, kali ini Yuka pun mulai mengundang dan membawa teman -temannya untuk dolan ke rumah. Seingatku,  saat TK, kalau mau main bersama hanya di TK ataupun janjian dengan ibu temannya untuk bermain bersama di taman. Senang rasanya lihat anak-anak bisa punya teman dan bersosialisasi. Tokh saya juga kadangkala mengundang teman-teman main ke rumah. Mungkin anak-anak belajar dari saya  yang  ajak teman-teman main ke rumah. Namanya manusia memang butuh teman dan sosialisasi.

Akhir kata, cukup sekian kisah Ryu & Yuka, lain kali akan saya sambung dengan cerita yang lain. Siapa tahu di antara pembaca Baltyra ada juga pengalaman yang sama denganku. Ditunggu sharingnya. Kisah anak-anak ini merupakan momen yang indah untuk dikenang sehingga saya tuangkan dalam artikel. Terimakasih buat semuanya yang telah membaca dan menulis komen.

Salam hangat dari Jepang,

Ryu & Yuka-chan no mama


Ilustrasi: journeydevctr.org



About Hani Yamashita

Berasal dari Jogja. Melanglang buana menempuh studi dan bertemu dengan tambatan hatinya dari Jepang. Menikah dan berkeluarga dengan dua orang anak, tinggal di Jepang. Salah satu hobinya adalah menulis dan sudah menerbitkan beberapa buku.

Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.