Tatkala Bintang Berjatuhan

Sumonggo – Sleman

(Menunggu nyanyian para pelupa berat)

Dalam sebuah persidangan, seorang saksi yang dipanggil berulangkali tidak hadir karena alasan sakit pelupa berat. Untuk meyakinkan majelis maka hal tersebut dikuatkan dengan surat keterangan dokter pribadi. Semoga saja sang dokter belum ikut ketularan pelupa berat sehingga tetap ingat bagaimana menjaga profesionalisme sebagai dokter. Sepertinya di musim makelar kasus, sakit pelupa berat ini bakalan mudah menular.

Den Kendar mengomentari, “Asal jangan lupa bernapas saja ….”

Lanjut Kang Koclok, “Wah kalau sampeyan sakit pelupa berat, saya akan sering-sering pinjam motor atau ngutang sampeyan”

Balas Denmas Kemplu, “Halah, sampeyan ini kalau ditagih berlagak lupa. Waktunya dapat angpao kok langsung sembuh ya pelupanya…”

“Coba taruh uang milyaran di depan orang-orang yang mengaku pelupa berat itu. Lupa tidak mereka caranya menghitung uang?”, timpuk Den Kendar.

“Situasi darurat seperti ini perlu kita panggil Uya-kuya”, saran Kang Koclok menyebut acara televisi kegemaran istrinya saban sore.

Kang Koclok ketawa guling-guling sampai sakit perut, mendengar seorang petinggi menyatakan tidak adanya budaya setoran pada atasan. Benarlah bila sebuah media sampai menyindirnya sebagai April Mop.

“Wah apakah beliau ini dulu itu mak-tlepok jadi petinggi begitu saja tanpa meniti karir dari bawah, kok sampai tidak tahunya ada hal-hal begituan?”, sangsi Den Kendar.

“Hal begituan opo tho?”, Denmas Kemplu belum mafhum.

“Ya tahu sendirilah oknum yang suka nganu-nganu alias berperilaku menyimpang. Cobalah beliau ini sekali-kali main ke jalan raya. Bukan rahasia umum jika kita sedang sial kena “palak” oknum, di belakang sudah ada komandan yang siap menerima “laporan”, tentu saja lengkap dengan ubo-rampe-nya.

“Wah ingat lalu lintas jadi teringat aturan baru. Saya tidak bakal bisa meminjamkan motor lagi ke sampeyan”, ungkap Denmas Kemplu pada Kang Koclok.

“Lho, mengapa? Takut dihabisin bensinnya ya”, tanya Kang Koclok.

“Bukan itu. Helm saya belum standar SNI, kecuali sampeyan bawa helm sendiri”, jawab Denmas Kemplu.

“Iya juga, tapi sebenarnya helmnya Denmas Kemplu juga sudah SNI, SNI Standar Ndhas Indonesia, ha ha ha ….”, Den Kendar ikut nimbrung. (Ndhas=kepala).

Sudah ada jaksa, pengacara, sekarang giliran hakim yang tertangkap KPK. Seorang hakim tertangkap basah menerima suap ratusan juta. Apakah beliau lupa pada komitmennya sebagai hakim? Semoga berbagai masalah yang menimpa KPK belakangan ini, termasuk kisruh internalnya, tidak membuatnya lupa dalam memberantas mafia peradilan.

Ada juga contoh lainnya yang pelupa berat. Sudah lupa bagaimana mengabaikan nasib para pengungsi korban lumpur, dengan dalih perusahaan sedang kesulitan keuangan, tapi tak lupa menyelenggarakan pernikahan anggota keluarganya secara mewah dan konon menelan biaya ratusan milyar. Semoga saja para pengungsi lumpur itu tak sempat menonton infotainment (maklum yang nikah artis), karena kabar itu bisa menyesakkan hati mereka yang sampai hari ini nasibnya masih terkatung-katung. Semoga juga mereka tak mendengar berita siapa wakil Indonesia yang masuk barisan orang terkaya di dunia.

“Serius nih, yang mau bermain merekayakasa kasus akan dilempar ke tempat sampah”, kata Den Kendar.

“Kalau begitu, nanti akan marak makelar tempat sampah”, balas Kang Koclok.

“Serius nih, koruptor akan dijatuhi hukuman mati”, kata Den Kendar.

“Kalau begitu, nanti akan marak makelar hukuman mati”, balas Kang Koclok.

“Lho kalau action sebentar sudah mengundang makelar, terus kapan dapat ‘the big fish’-nya”, potong Denmas Kemplu.

Tangkis Kang Koclok, “Ngimpi dapat ikan besar. Paling banter juga cethul.”

Gayus sudah mulai bernyanyi. Kita tunggu siapa lagi yang akan ikut koor. Kepolisian mulai bergerak meski baru sebatas kompol yang ditahan. Mungkin yang lainnya yang khawatir terjerat sudah mulai ngompol. Kejaksaan sepertinya masih sakit gigi. Kalau hanya bisa menindak dengan mutasi, tak perlulah dikasih remunerasi. Publik sudah jengah diberikan “pemanis mulut” semacam mutasi dan penurunan jabatan, untuk mereka yang patut diduga menyediakan diri dengan kesadaran penuh untuk menjadi bagian dari mafia kebusukan.

Sanksi? Ah, sangsi. Moga-moga tidak seperti ini skenario pemeriksaan internal yang terjadi:

Pemeriksa (kepada wartawan): “Kami akan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, semua yang terlibat pasti akan ditindak dengan tegas.”

Pemeriksa (suasana pemeriksaan): “Anda tidak terlibat makelar kasus, kan?”

Yang diperiksa: “Tidak, Pak.”

Pemeriksa: “Bagus. Pemeriksaan selesai.”

Pemeriksa (konperensi pers): “Setelah melakukan investigasi secara mendalam, sungguh-sungguh dan profesional, kami tidak menemukan adanya keterlibatan aparat di institusi kami dengan makelar kasus. Kasus ditutup.”

Penonton kecewa: “Huuuuuuu………”

Denmas Kemplu beranjak pergi, ditanya Kang Koclok, “Mau kemana? Hayo, mau kabur ke Singapura ya?” “Gundulmu, memang bisa ke Singapur naik odong-odong? Mau cari helm SNI dulu, biar kalau ada apa-apa kepalaku aman tidak jadi pelupa berat….”

Para pembaca Baltyra yang berbahagia, kita ikuti lagu dari grup musik Kuburan, maaf dengan syair hasil April Mop:

Lupa … lupa …lupa…lupa… lupa lagi tugasnya…

Ingat …. ingat ..ingat … hanya ingat duitnya ……

Lupa … lupa …lupa…lupa… lupa lagi sumpahnya…

Ingat …. ingat ..ingat … hanya ingat suapnya ……

Nuwun.

Ilustrasi: vivanews, Buto


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.