Woman On Top

Alexa – Jakarta

Sebagai pentulis di komunitas online/dunia maya, aku sering menarik teman-temanku di dunia nyata untuk membaca tulisan-tulisanku di komunitas online. Pernah satu alamat imelku sampai jebol saking aku bersemangat mengundang via imel sekitar 800-900 teman nyataku di komunitas perbankan buat membaca tulisanku.

Tulisanku yang jadi “jagoan” untuk mengusik minat mereka mana lagi kalau bukan trilogyku di rumah biru – biasanya habis itu mereka pasti nanya-nanya lagi  tulisanku yang lain karena rumah biru sudah tidak terupdate nah baru deh aku kasih link2 tulisanku yang terbaru. Trilogyku itu bener-bener relevan dibawa ke dunia luar bahkan aku menyiapkan print outnya buat diberikan ke klien-klienku yang wanita – saking asyiknya mereka baca bisa-bisa habis itu kita cekikikan bareng plus bisik-bisik yang gak jelas….

”Psst jeung, aku belum pernah lho dibolak-balik kayak tempe goreng gini lho.”

Masa sih Bu/ Mbak, ya udah sini pinjemin suaminya semalem- saya ajarin, abis itu saya kembaliin deh. Dijamin suaminya gak mau balik, jawabku.

“Yee. Enak di elu sakit hati di gue donk, dasar sempruuuul,” jawab mereka sambil cekakakan bareng.

Nah kalau ke klien pria, aku gak berani kasih si trilogy; salah-salah dikira mancing. Salah satu teman yang aku forward si trilogy ini adalah Dudi – seorang pengacara kondang, mentorku di kampus dulu. Walaupun dia jauh lebih senior dariku tapi dia sudah seperti kepala suku yang mempersatukan kami dari berbagai angkatan yang hingga sekarang tetap sering keep in touch dan bersama mendiskusikan kajian hukum plus hahahihi bersama.

Dudi ini sendiri selain berprofesi sebagai Pengacara juga merupakan pengamat hukum Militer yang cukup diperhitungkan (nama lengkap cukup diketahui redaksi)  jika kita memasuki ruang kerjanya maka dindingnya sarat dengan foto-fotonya bersama para komandan militer diantaranya dengan SBY saat menjadi pimpinan militer. Dudi memajang foto-foto ini bukan karena narsis tapi memang dia orang yang nasionalis dan sangat concern dengan dunia militer, dari dulu hingga sekarang ringtone HPnya pun berisi lagu-lagu kebangsaan.

Kehidupan profesionalnya bisa dikatakan sukses karena dengan mengusung bendera sendiri – dia memiliki kantor satu lantai di suatu gedung perkantoran kawasan Mega Kuningan dan itu sudah berjalan belasan tahun. Sebagai lawyer yang berhasil bisa dikatakan tingkahnya “down to earth”.

Sehari-hari di kantor hanya berkemeja batik lengan pendek, dalam meeting dengan klien walaupun memakai jas tapi kemeja putih dalamannya adalah kemeja berkerah Shanghai tanpa dasi. Mobil sehari-hari cukup Avanza tidak memakai mobil-mobil built up seri terbaru seperti lawyer-lawyer flamboyan lain. Yang bisa menandakan kemakmurannya ya kantornya yang elit itu komplit dengan lawyer-lawyernya yang selalu berasal dari lulusan terbaik di almamater kami serta beberapa rumahnya yang terletak Menteng maupun Kebayoran Baru.

Merupakan ayah empat anak dan suami seorang isteri yang lempeng-lempeng aja. Kalau ini sudah ditestimonikan oleh beberapa temanku yang bekerja di kantor itu bahkan untuk menghindari masalah yang tidak perlu, sekretarisnyapun seorang pria. Jika Dudi harus meeting di luar kota atau luar negeri maka ia akan berusaha untuk selalu membawa isteri tercintanya, manakala tidak bisa bersama maka dia mengakui terus terang jika timbul kebutuhan biologis cukup menonton BF habis itu swalayan (hehehe).

Saking lempengnya maka suatu saat dia jadi gerah dengan kelakukan partnernya yang sebenarnya sudah bersahabat sejak kuliah dulu (Anton nama partner itu juga temanku). Anton yang datang dari keluarga agamis dan sangat alim jadi berubah manakala kantor mereka  makin berkibar….suatu ungkapan lama jadi terasa masih relevan di sini; Harta, Tahta dan Wanita. Silih berganti Anton menggandeng wanita dan masalahnya adalah Anton sudah beristeri Suzy – teman kami satu almamater juga ( Suzy sendiri adalah tokoh kondang di bidangnya). Peringatan secara baik-baik dari Dudi tidak diindahkan Anton hingga akhirnya Dudi memutuskan untuk berpisah partnershipnya dengan Anton.

Sebagai orang yang baik, dia bahkan tidak pernah menceritakan masalah ini padaku, aku taunya kisah ini waktu suatu hari bertemu dengan Umay (adik Dudi yang bekerja di kantor Dudi juga), tiba-tiba Umay berseru memanggilku, “Kak-kak, pssst….”. Waktu kutanyakan ke Dudi- dia malah bertanya,”Tau darimana?”, Dari adik lo, jawabku. “Yah, orang kawin aja bisa cerai kok “, cukup begitu jawabnya. “Maksudnya, seorang Anton jadi sex machine geetu ya?”, aku mendesak. “Hahaha… u know the answer”, jawabnya.  “Kok Suzy gak minta cerai aja sih”, kukejar. “Dah ada tiga anak geetu, gak bisa sembarangan”, tegasnya.

Aku masih terbengong-bengong, Suzy adalah pejuang kesetaraan gender kelas nasional. Anton semasa kuliah itu derajat ke”Rutam Lubis”annya luar biasa (Rusak Tampang Luar Biasa) dan saat itu kan belum kelihatan potensinya bakalan jadi lawyer papan atas. Tiga kali Anton ditolak Suzy sebelum diterima pada tembakan keempatnya makanya masih terbengong-bengong mendengar “skandal” ini.

“Udah-udah, gue malah gak enaknya ama Benno (adik Anton),” jawabnya. Benno itu juga berteman dengan kami dan kuliah di FE masih pada Universitas yang sama – saat ini Benno jadi eksekutif di suatu perusahaan asset manajemen terkemuka. Ternyata perpisahan mereka benar-benar Big Deal buat orang-orang terdekat sebab suatu hari kemudian aku ketemu Benno di suatu bisnis gathering perusahaan asset manajemen, mengingat kami terakhir bertemu waktu masih kuliah belasan tahun silam maka aku memperkenalkan diri sebagai teman Anton dan Dudi, eh  Benno langsung nyerocos mengungkapkan keprihatinannya atas masalah perceraian bisnis kakaknya dan Dudi.

Begitulah suatu siang aku berkunjung ke kantor Dudi untuk kegiatan fundraising Yayasanku dan ternyata disitu sudah ada seorang pria tinggi dan gemuk beeng. Dudi memperkenalkan si pria gemuk itu,”Xa, ini Boim (panggilan kami ke dia).” Hah, masa sih Boim – gueede amir sekarang, kataku terheran-heran. Boim yang banker di Bank terbesar di Indonesia cuman mesem-mesem. “Iya nih Boim jadi gini gara-gara isterinya meninggal tiga tahun lalu. Pelariannya ke makanan deh, sekarang beratnya 130kg. Coba deh elu cariin isteri buat Boim, kalo gini caranya bisa-bisa dia cepet nyusul bininya, kasihan kan anak-anaknya,”lanjut Dudi. “Emang masih ada perempuan mau ama gue?”, tanya Boim memelas.

“Tenang aja deh lo, laki-laki sejelek apa masih laku kok kalau di Jakarta. Yang susah tuh perempuan, bopak dikit dah gak dilirik,” jawabku. Kata-kata lo tuh ngangkat tapi mbanting, Xa, kata Boim. Aku tidak menjawab hanya menatap kritis penuh penilaian ke Boim. “Si Nay sih sampe sekarang masih single,dia mandiri dan keibuan. Tapi dia langsing banget….well maintain deh,” kataku- Boim jadi semangat.

“Tapi kasihan Nay deh kalau dapet elo,” lanjutku. “Kenapa Xa, takut Boim keburu stroke atawa jantungan?,” tanya Dudi. “Heeem, bukan gitu. Beidowei kalo laki-laki gendut kek gini bukannya anu-nya kecil?,” tanyaku tanpa tedeng aling-aling. Boim mukanya memerah, Dudi ngakak, “Dasar lo, ya enggak lagi kan bentuk anu gak berubah. Malah kalo badan membesar jangan-jangan anunya ikut membesar,” kami ketawa bersama minus Boim. Hoi yang kalian omongin ada di depan kalian, kata Boim masih tersipu-sipu. “Berarti kita teman yang baik, Boim. Bicara di depanmu kalau kita jahat pasti  kita bicara di belakang kamu,”jawabku.

Heeem, seriiius nih. Boim elu kudu nurunin berat badan. Kasihan Nay bisa gepeng di saat malam pertama kalian, kata Dudi membayangkan Nay dan Boim sudah menikah. “Kenapa kudu gepeng khan bisa WOT,” kataku. WOT apaan sih?, tanya Dudi dan Boim barengan. “Whaaat kalian gak tau WOT? Kata lo kadang-kadang suka nonton Bokep kok gak tau WOT seeh. Jadi elo dah beranak empat gini mainnya missionaris mulu ye?”, tanyaku sedikit melecehkan. Keduanya dengan muka polos menggaruk-garuk kepala, “Missionaris itu apaan sih?”. Ya ampyun…ya ampyun teman-temanku yang alim itu ternyata masih poloooos banget ya.

Terpaksa dengan singkat aku menjelaskan dan sembari mengangguk-angguk, Dudi mengeluarkan sebendel kertas dan menyerahkan dengan takzim ke Boim. “Elo baca deh tulisan Alexa yang trilogy ini dan elo bayangkan kalo melakukan ini bersama Nay. Buruan elo daftar ke Gym, turunin dulu tuh berat barang 5 kg trus biar Alexa amprokin elo ama Nay. Xa, elo bilangin Nay tuh Boim sekarang single parent tapi lagi program turunin berat badan sebentar – harap sabar menunggu.” Aku takjub Dudi sampai print out Trilogi itu, akhirnya aku dan Boim mengangguk-angguk setuju dengan komando Dudi.


Ilustrasi: forum kafegaul, kaskus

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *