Refleksi

Non sibi – Midwest USA

Kemarin sore, di kantor, salah seorang managerku tiba-tiba bilang ‘Do you know that Mr. X just passed away last week?’  ‘No, I do not know’.  ‘His office is on same floor at center area, first bay on right!’  ‘Ok, but I do not know him, although I often go to center hallway to get color copies’.

Lanjutnya ‘It is sad, he was just reached his 58 years of age, nice guy, live right, exercise, but died after he fainted while in treadmill’.  Memang aneh rasanya, satu lantai tetapi tidak saling mengenal padahal sudah bertahun-tahun aku kerja di kantor ini.  Memang begitu, jangan bingung, karena beda departemen, jadi kalau tidak ada proyek yang pernah atau sedang dikerjakan bersama, ya tidak ada urusan, jadi tidak saling mengenal.

Kemungkinan besar pernah berpapasan di koridor kantor, saling melepas senyum dan menyapa basa basi, sesama pegawai mengenal dari ID badge yang harus selalu dipakai, tetapi tidak lebih dari itu.

Selepas pembicaraan itu, aku pergi menuju ke kantor Mr. X dan aku lihat dari pintu ada seorang wanita yang sedang merapikan file-file di dalamnya, aku batal masuk. Kemudian aku pergi ke kantor di seberangnya, seorang manager yang kebetulan aku kenal, Mr. Y, aku tanya mengenai Mr. X, dan dia bilang dia sedih sekali karena setiap mereka berpapasan, bertahun-tahun, selalu saling menyapa dan berbagi cerita mengenai keadaan keluarga masing-masing.

Mr. Y bilang, Mr. X posturnya proposional, tidak gemuk, menjaga kesehatannya dengan berolah raga, rutin check-up ke dokter, tetapi dia toh meninggal mendadak akhirnya. Terusnya, sedih sekali melihat kenyataan ini, kita tidak tahu kapan waktu kita, meskipun kita sudah berusaha hidup sehat sebaik-baiknya.

Rasanya mau pulang saja ke rumah supaya bisa selalu bersama dengan isteri dan anak-anakku katanya.  Aku bilang, kita perlu mengalami hal-hal demikian untuk mengingatkan kita kembali ke prinsip hidup mendasar supaya kita tidak terbuai melambung oleh kenyamanan dan harta duniawi yang kita miliki.  Komentarku ini sih dari pengalaman sendiri dan diiyakan juga oleh Mr. Y.

Tadi malam, buka akaun FB, terima berita dari seorang teman yang memberitahukan bahwa teman anak gadisnya yang sesama usia SMU, wrong place wrong time,  tertembak di kepala, on life support, tidak punya asuransi kesehatan, dan kemarin keluarga memutuskan untuk mencabut life support itu.

Dua minggu lalu ayahku pergi menghadiri pemakaman suami dari salah seorang adiknya.  Pamanku itu juga meninggal mendadak.  Aku ingat pengalaman dulu sewaktu masih kanak-kanak, pamanku orangnya lucu, jadi setiap ada pertemuan pasti dominan dengan ketawa kecakakan yang riuh rendah.  Kenangan indah tak kan terlupa…

Aku sedang membaca drama Jepang ‘Beautiful Life’ yang aku cetak dari link, http://reocities.com/tokyo/market/5324/ di halaman CJ Morikai’s.  Beberapa minggu lalu aku baru selesai menonton drama lama produksi tahun 2000 itu di mysoju dan juga di youtube.  Di bagian akhir, di situ ada tertulis:

if there is a world after death, it could be in someone’s heart..

you are in my heart, living in there forever..

Kyoko.. did I.. love you like I should have..?

………….

‘Hey.. where are these places?’

Shuji smiles ‘where I wonder.. in my heart..

So friends, remember to always say ‘I love you’ anytime when time permits to the people that you love…

Salam manis dari tempat yang mulai menghangat, di mana bunga tulip bermekaran di mana-mana.

Catatan kaki:

Redaksi, mohon dipasang lagunya Rod Stewart dong ‘Have I Told You Lately’ http://www.youtube.com/watch?v=AQ4NAZPi2js&feature=related

Kalau lagu lain yang dipilih silakan aja ya.  Terima kasih.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.