Bekicot, Menu Mewah Paris dari Kediri

Osa Kurniawan Ilham

Kala mengikuti konferensi di Paris sehubungan dengan pekerjaan saya saat ini ada sesuatu yang menggelikan sekaligus membanggakan. Saat itu Jumat sore, dan panitia mengumumkan bahwa hari Sabtu adalah hari bebas dan program akan dimulai lagi hari Minggu. Untuk mengisi hari bebas ini panitia mengumumkan sekaligus menyarankan semua peserta (dari segala penjuru dunia itu) untuk mencoba menu khas Paris yang bernama Escargot.

Menu khas yang mewah dan karenanya mahal itu bahan dasarnya adalah bekicot.Teman-teman dari Afrika bergidik mendengar menu makanan dari bekicot itu. Mereka jijik membayangkan binatang melata yang berlendir itu masuk ke mulut mereka. Dalam hati saya tertawa, kayak mereka makan apa di negerinya sono di Afrika sampai makan bekicot saja jijik seperti itu he..he….Wong paling yang dimakan tidak lebih baik dari yang saya makan di negeri tercinta Indonesia. Saya katakan bahwa bekicot yang dijual di Paris ini diimpor dari negeri saya Indonesia, khususnya dari kampung halaman saya, Kediri di Jawa Timur.

Benar, Sobat pembaca. Bekicot itu berasal dari kampung saya Kediri. Karena sejak saya kecil sudah ada orang-orang yang membuka peternakan bekicot di Kediri. Saat masih SMP, saya termasuk yang tergiur untuk beternak bekicot juga. Karena itulah saya bersemangat membuat kandang bekicot yang hanya terbuat dari tumpukan batu bata diisi dengan daun-daun pepaya dan bekicot yang selanjutnya akan beranak-pinak di situ.

Sayang usaha saya gagal saat itu, karena saya lupa membuatkan atap untuk melindungi kandang bekicot dari genangan air hujan. Akibatnya banyak telur bekicot yang membusuk, termasuk dengan induknya juga. Beberapa teman masih bersemangat beternak bekicot karena ada pengepulnya yang siap membeli panen bekicot untuk kemudian dijual ke pabrik pengolahan bekicot yang cukup besar di Kediri untuk kemudian diekspor ke Perancis. Itulah awalnya kenapa saya yakin bahwa bekicot yang dimakan oleh Monsieur dan Madamme di Paris itu adalah bekicot dari kampung saya he..he…

Jauh sebelum ada peternakan dan pengolahan bekicot, bagi kami orang-orang Kediri bekicot adalah menu alternatif lauk pauk kami selama musim hujan. Masih ingat dalam memori saya saat itu, setiap habis sekolah saya dan teman-teman akan berburu bekicot di kebun-kebun yang bertebaran di kampung saya, apalagi di kebun pisang. Setelah terkumpul banyak, saya menyerahkannya kepada Ibunda. Lalu biasanya Bunda yang akan mencungkil daging bekicot tersebut dari cangkangnya untuk kemudian dicuci. Setelah itu Bunda akan mencari gamping (kapur cair) untuk dipakai merebus daging bekicot untuk menghilangkan racun dan lendirnya. Setelah dirasa cukup matang, terserah Bunda akan memasaknya seperti apa. Kadang digoreng kering, kadang dimasak sebagai sate bekicot. Istilah orang Kediri adalah SATE 02 he..he…

Nah, itulah yang saya lakukan setiap kali saya pulang kampung. Membeli sate bekicot untuk dimakan oleh keluarga atau membeli keripik bekicot yang selain dimakan sendiri juga bisa dijadikan oleh-oleh.

Kalau Anda membelinya di toko oleh-oleh yang tersebar di Kediri, harganya memang sudah lumayan mahal (tapi wajarlah dengan rasa dan citranya). Tapi saya sudah menemukan warung yang lumayan murah. Letaknya di Desa Dandangan Gang 1 no 14, di belakang pabrik lama Gudang Garam. Warung ini kepunyaan seorang nenek yang sudah renta sehingga terkadang Anda harus berteriak untuk berbicara dengan beliau. Tapi nenek ini masih sehat lho, ingatannya masih tajam mengenal saya padahal saya mendatangi warungnya paling setahun sekali kala mudik. Tapi dia selalu ingat saya, dan terkadang menambahi porsi sate bekicot yang saya pesan. Alasannya saja sudah jauh-jauhd ari Kalimantan mau berkunjung ke warungnya yang kecil dan sangat sederhana itu.

Bagi orang Kediri, bekicot memang seperti obat. Waktu saya kecil dulu, setiap kali ada luka karena jatuh atau tersayat pisau, Bunda selalu mencari bekicot lalu mengoleskan lendir sang bekicot ke luka saya tersebut. Ajaibnya, luka saya tidak lama kemudian akan mengering dan sembuh.

Beberapa orang juga mengkonsumsi sate atau bekicot sebagai obat asma atau obat sakit maag. Kalau saya sih mengkonsumsinya sebagai obat lapar dan juga sebagai obat penawar rindu akan kampung halaman.

Karena itu jangan heran setiap kali saya menerima sate atau keripik pesanan di warung sang nenek tersebut (atau Embah, saya memanggilnya) saya akan selalu mendapatkan bonus dari Sang Embah. Bonusnya adalah Sang Embah selalu menyerahkan bungkusan sate atau keripik bekicot dengan memberikan doa supaya bekicot dari Sang Embah tersebut bisa menjadi obat bagi saya, isteri dan anak-anak sambil mendoakan supaya tahun depan saya masih diijinkan Tuhan untuk kembali berkunjung ke warung tersebut dan bertemu kembali dengan Sang Embah. Karena itulah sesudahnya saya selalu mengucapkan, “Tuhan juga memberkahi Embah”. Itulah cara orang Kediri memelihara hubungan.


Foto:

koleksi pribadi.

Balikpapan, 4 April 2010

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.