Sambatan

Dewi Aichi – Brazil

Tahun kemarin, waktu aku sempat pulang ke Jogja, kaget setengah mati karena begitu nyampe depan rumah orang tuaku, ada banyak sekali bapak-bapak yang sedang duduk-duduk di teras maupun ruang tamu. Mereka semua duduk dilantai yang telah dipasang tikar. Niatnya memberi kejutan, malah terkejut sendiri he he.., mana waktu itu bersama suami yang ingin berlibur di Indonesia selama 3 bulan. Jadi sama-sama kagetnya, mereka kaget karena tiba-tiba kedatanganku tanpa kabar terlebih dahulu, dan aku juga kaget karena banyak orang di rumah.

Seketika itu juga ibu-ibu yang berada di dapur langsung keluar. Ibuku paling depan, melihat anak perempuan satu-satunya pulang kampung, lengkap dengan membawa anak dan suami, kami langsung peluk-pelukan.” Walah ndukk..mulih kok ora ngabari, omah lagi berantakan iki, lagi sambatan!” (walah ndukk..pulang kok ngga ngabari dulu, rumah baru berantakan ini, baru sambatan). Sambil melepas kangen, aku salami semua yang ada di rumah orang tuaku, diikuti oleh suami dan anakku.

Itulah sekelumit cerita yang kualami tahun lalu di kampung. Masyarakat di kampungku masih melaksanakan tradisi sambatan.

Di jaman serba modern ini, tradisi sambatan semakin langka. Sambatan adalah kegiatan gotong royong yang dilakukan oleh masyarakat pedesaan dalam mengerjakan suatu pekerjaan. Atau menggerakkan anggota masyarakat suatu kampung secara masal, untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.

Selanjutnya aku menuju ke dapur untuk sekedar bercakap-cakap dengan ibu-ibu, ada yang metikin sayur, ada yang sedang goreng keripik tempe, ada yang sedang memarut kepala, ada yang sedang mencuci piring, lengkap, semua memegang pekerjaan. Diselingi canda tawa mereka, ada seorang ibu-ibu yang sedang menggoreng keripik tempe kelihatan ngantuk, eh tempe yang mau digoreng bukan masuk wajan penggorengan, malah masuk di samping wajan, akhirnya kotor dan jatuh ke lantai he he..

Dan aku juga jalan ke depan, kulihat suamiku di teras rumah, sedang melihat-lihat saja, kemudian aku suruh ikutan sambatan, estafet dengan bapak-bapak yang sedang mengambil genting yang baru untuk dipasang. Memang sambatan di rumah orang tuaku waktu itu adalah mengganti genting yang usang dengan genting yang baru. Suami setuju saja he he…takut nolak kali ya, karena bukan di tempatnya sendiri, mungkin dalam hati dia berkata, haduh kurang asem banget nih bini, aku disuruh ikut sambatan.

Dalam sambatan ini, bapak-bapak yang akan bekerja, semua datang pagi-pagi, dan minum teh manis hangat dan kue yang disediakan. Barulah mereka mengerjakan tugasnya. Makan siang juga disediakan, biasanya dengan menu soup yang seger, sambal, kerupuk, tempe/tahu bacem. Atau kadang gulai ayam, tapi daging ayamnya sedikit, banyak kol dan kuahnya he he.., begitu menjelang sore, mereka istirahat sejenak, minum teh manis hangat dan kue-kue. Setelah itu baru kembali menuntaskan pekerjaannya.

Tapi ya begitulah tradisi di kampungku, masih ada sambatan. Suami berpikir bahwa mereka menerima upah atas apa yang dikerjakan. aku bilang tidak, masyarakat saling membantu kepada yang sedang membutuhkan tanpa upah, jadi mereka ikhlas meluangkan waktu. Bahkan ada yang ijin tidak masuk kerja, karena ingin mengikuti sambatan tersebut. Atau paling tidak, setiap kepala keluarga ada yang mewakili.

Untuk mengundang mereka tidak diperlukan undangan resmi, cukup dari mulut ke mulut saja. Atau yang berkepentingan menyuruh seseorang untuk mengundang mereka beberapa hari sebelumnya.Sangat mudah dan praktis, tradisi yang seharusnya dipertahankan. Para warga akan dengan senang hati menerima undangan itu, dan tentu saja akan membantunya, tanpa mengharapkan upah.

Tidak hanya sambatan dalam hal bongkar membongkar rumah, tapi juga dalam segala macam peristiwa. Misalnya saja ada kematian tetangga, tanpa disuruh mereka bergotong royong membantu segala urusan yang dibutuhkan. Nah..yang sudah bergeser dari nilai gotong royong adalah dalam bidang pertanian. Sekarang bagi yang membutuhkan jasa membajak sawah maupun menanam padi, harus mengeluarkan upah untuk mereka. Semakin ke sini, biaya itu semakin tinggi. Aku tanya-tanya ingin tau bahwa untuk jasa membajak sawah, adalah Rp.60.000, plus makan. Padahal untuk membajak sawah, diperlukan 2 atau 3 kali, tergantung keadaan tanahnya dan apa yang mau ditanam(pak Handoko barangkali bisa menjelaskan lebih tepat).

Sambatan ini sepertinya sekarang jarang ditemui ya? Apalagi semakin banyak pembangunan perumahan, atau KPR, yang rata-rata di huni oleh pendatang. Mereka adalah tetangga baru, yang mana kita harus saling memperkenalkan diri jika perlu.Jadi sambatan di kampungku ini sampai sekarang masih ada. Kalau ingat waktu itu, kadang aku tertawa tapi terharu juga. Melihat suami yang kupaksa ikut estafet genting, melihat seorang ibu yang ngantuk saat menggoreng tempe, melihat bapak-bapak yang kena paku. Tapi semua itu bukanlah masalah, mereka saling bercanda tawa, sehingga tidak tampak lelah meski seharian bekerja.

Sambil menulis artikel ini kok aku jadi berangan-angan, seandainya tradisi sambatan ini aku kembangkan di negara maju seperti Eropa maupun Jepang. Membayangkan bule-bule Eropa naik-naik genteng , mukulin paku, masang segala macam, he he.., coba di Jepang juga seperti itu, dulu kan pernah menginginkan Indonesia, jadi tradisinya juga sekalian, seperti gotong royong ini.

Kalau di Jepang, membangun rumah hanya dikerjakan beberapa orang saja, pakai alat berat, ngga sampai seminggu.

Tradisi sambatan sepertinya hanya berlaku untuk masyarakat pedesaan dan masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Sedang untuk para elite, atau orang-orang yang hidup di kota besar, tidak mungkin mengadakan sambatan. Mereka kan kebanyakan kaum busy. Dan waktu adalah uang. Jika kelak butuh, mereka ada uang untuk membayar tenaga. Begitulah kira-kira.

Eh…tapi masih ada ding, masayarakat elit berpendidikan tinggi yang masih mempertahankan tradisi sambatan ini. Dan ngga main-main, mereka adalah pejabat. Mereka pasti sambatan dalam melaksanakan program-programnya. Mereka itu sambatan untuk tidak saling membuka rahasia, mereka sambatan untuk membuat cerita fiktif, mereka sambatan untuk menikmati duit rakyat. Bagi mereka, sambatan seperti itu harus dipertahankan, demi keuntungan bersama, iya kan? Keuntungan bersama keluarga masing-masing! Tentrem..! (baca: peace)


Ilustrasi: epress.anu.edu.au

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *