Becak

Adhe Mirza Hakim – Bandar Lampung

Palembang, Sabtu, 3 April 2010

Udara siang itu cukup terik terasa, niat untuk bersilaturahim sepertinya diuji apakah ingin dilanjutkan atau lebih memilih ngadem di rumah. Aku pernah merasa sangat menyesal saat telat bersilaturahim, ternyata saat aku datang ke rumah yang bersangkutan, beliau telah berpulang kepadaNYA, jika ingat kejadian ini, aku berusaha untuk tidak menunda silaturahim terutama menemui kerabat yang usianya sudah sepuh.

Seperti hari ini yang sudah aku tentukan untuk mengunjungi ke dua nenekku, yang sudah sepuh. Terakhir aku ketemu kurang lebih 3 bulan yang lalu, jadi kangen mau ketemu apalagi aku berbeda kota, kesempatan pulkam selalu disisipi acara silaturahim ke rumah keluarga, walaupun kunjunganku hanya 2 hari. Jarak rumah orang tua ku dengan rumah nenek sekitar 20 Km. Kalau naik kendaraan cukup 30 menit, sukur itu nggak macet. Aku naik kendaraan umum kesana, berhubung sudah lama nggak merasakan naik angkot di Palembang, ternyata tarifnya nggak beda dengan tarif angkot di kotaku.

Naik angkot selalu mendatangkan kesan tersendiri, merasakan denyut keseharian orang kebanyakan, dengan segala macam persoalan mereka, memperhatikan wajah-wajah orang di jalan serta riuh rendah suara-suara yang berteriak satu sama lain di terminal yang dilalui, untuk menarik penumpang menaiki kendaraannya. Setelah melalui jalanan kota yang agak sedikit macet, sampai juga aku di tempat pemberhentian menuju rumah nenekku, turun dari angkot, masih harus disambung naik becak lagi, disini masih banyak ditemui becak dari pada tukang ojek.

Daerah seberang Ulu Palembang, bisa dibilang Kota Tua karena masih banyak ditemui bangunan-bangunan tua berupa rumah-rumah tua milik keluarga yang terbuat dari kayu dan berciri rumah panggung, termasuk rumah nenekku yang dibangun pada tahun 1932 (masih jaman penjajahan nih), walau kini rumah nenek sudah mengalami 3 kali renovasi.

Aku melihat ke barisan tukang becak yang berjejer ngantri untuk dipilih, mataku tertuju pada seorang abang becak yang usianya kelihatan masih remaja, sengaja milih yang muda biar cukup kuat narik becak di udara yang terik siang itu, aku nggak tega milih tukang becak yang tua. Seperti biasa kalau naik becak, aku suka bertanya berapa tarifnya (biasalah…basa basi dikit);

“Berapo bang, ke lorong Tembok?”

“Dak tau yuk, biasonyo berapo?” dia balik nanya, lha…aneh ini koq abang becak nggak ngerti tarif becak?

“Sudahlah, anter dulu bae,” kataku langsung naik ke becak,

Jarak yang harus ditempuh sebenarnya hanya berkisar 2 kilo, kalau mau jalan kaki sebenarnya bisa, tapi capeeek deh! Hehe. Setibanya di rumah nenekku, aku sengaja menahan si abang becak untuk menunggu, karena kalau sekali jalan, kuatirnya aku sulit nemu tukang becak untuk pulang. Aku memang tidak bisa terlalu lama di rumah nenek karena ada satu rumah lagi yang harus aku kunjungi yaitu rumah tanteku, masih di seberang ulu juga, kalau rumah nenek ada di daerah 4 Ulu, sedang tanteku di 14 Ulu, kurang lebih 7 km jaraknya.

Di rumah nenek waktuku tidak terlalu lama, mengingat ke dua nenekku sudah agak pikun, jadi paling ngomongnya sedikit trus sambil makan kue dan minum sari buah yang dibawa sebagai oleh-oleh saat menemui mereka berdua. Beliau-beliau ini adalah adik dari ibunya mamaku, sedang nenekku yang paling tua (ibunya mama) sudah meninggal th 2007 yang lalu, beliau meninggalkan 2 adiknya yang masih “Perawan” sampai usia 78 th dan 80 th, nah… 2 nini-nini ini dulu memiliki jasa yang besar saat aku kecil, mereka berdua pernah mengasuhku saat usiaku masih balita. Mereka masih mengingatku dan memiliki panggilan khusus buatku, kadang aku suka menggoda mereka, selintas mereka ketawa, lalu diam kembali, hihihi….

Mengingat si abang becak yang masih menunggu di luar aku bilang harus segera pulang, kedua nenekku ini diurus oleh salah seorang tanteku. Kembali urusan dengan si abang becak, awalnya aku ingin naik becak separuh jalan lalu melanjutkan perjalanan dengan naik angkot ke rumah tanteku yang lainnya. Tapi sejurus aku merubah rencana, aku ingin naik becak aja karena bisa mengenang sebagian memori masa kecilku, semacam napak tilas, melalui kampung-kampung tua yang dulu biasa aku lalui di masa kecilku.

“Bang, tau lorong Naga Suidak arah ke Plaju?”

“Idak tau Yuk, dak biaso aku ke sano,”

“Cakmano kau ni, masa’ idak tau Plaju?” sahutku sambil bertanya, si abang becak diam tidak menjawab.

“Sudahlah kage aku njuk tau jalannyo, ongkosnyo sekalian bae,” jelasku sama si abang yang nggak mudeng arah maupun ongkosnya, duuuh…ini tukang becak baru kali ya? tapi kalo dia tinggal di Palembang koq nggak ngerti sama daerah yang aku sebut.

Sambil meyakinkan dia bahwa aku akan bantu menunjukkan jalan, si abang becak ini mengayuh becaknya dengan semangat. Aku begitu menikmati jalan-jalan di kampung tua, suasananya serta orang-orang yang kulihat sepanjang jalan, ada klinik/puskesmas di daerah 7 Ulu, dimana aku dulu sering mampir kesana saat usiaku masih 6 th, karena tanteku bertugas sebagai bidan disana. Becak yang aku tumpangi melalui jalan di bawah jembatan Ampera, suasananya masih tidak berubah, tetap terlihat semrawut.

Aku juga bisa mencium bau aroma pempek goreng, karena banyak warung-warung pempek yang tersebar di setiap tempat yang kulalui. Saat melalui Pasar 10 Ulu, aku mencium bau Hio/Dupa yang dibakar, pasti udah dekat sama Klenteng nih, perlu di ketahui daerah 10 Ulu Palembang, adalah daerah Pecinan Tua dan banyak tukang jualan pempek dan krupuk di sini, sudah pasti enak dan harganya lumayan murah.

“Bang, belok kanan jalan ini, masuk ke lorong Tembok Baru,” kataku

“Yuk, ini tembus ke jalan raya ?” tanyanya

“Iyo, kenapo?”

“Yuk, becakku ini idak punyo plat nomor nyo, takut gek dirazia polisi,” jelasnya

Aku langsung mau ketawa, jadi becak juga ada plat nomornya, seperti mobil atau motor layaknya,

“Tenang bae, kalu ado polisi, aku yang tanggung jawab,” kataku menenangkan si abang becak yang masih lugu ini,

“Sejak kapan kau narik becak?” tanyaku

“Baru yuk, aku narik kalu siang bae, pagi aku sekolah, pulang sekolah baru narik becak,” jelasnya

“Kau sekolah di mano dan berapo setoran becak ini?”

“Aku sekolah di STM Seberang Ulu, aku idak nyetor buat becak ini, masih punyo paman,”

“Wong tuo kau ado di mano?”

“Ado di Belitang, aku di sini tinggal samo Paman,”

Ternyata anak ini baru jadi tukang becak, dan dia bukan warga Palembang, dia merantau dari desa di Belitang untuk sekolah di kota Palembang, tinggal di rumah Pamannya, untuk tambahan uang saku sekolah, sang paman memberi dia kesempatan untuk bawa becaknya.

Aku menduga pamannya juga seorang tukang becak. Mendengar kisahnya yang mau sekolah dan mengisi waktu siangnya untuk dapat tambahan uang saku dengan menarik becak, sungguh begitu menyentuh, terbayang kedua orang tuanya yang hanya petani kecil, sang anak yang punya keinginan untuk sekolah harus ke kota, apakah si anak ini dicukupi uang sekolahnya, Wallahu’alam… karena buktinya dia masih narik becak, berarti dia harus berjuang untuk tambahan uang sekolahnya.

Rasanya Tuhan sudah memperkenalkanku sama anak ini dengan “Becak” nya. Bisa kubayangkan, bagaimana sebagian remaja yang memiliki nasib lebih beruntung sedang tertidur nyaman di kamarnya, sedang anak ini harus berpeluh keringat menarik becaknya.

“Ayuk, kuliah di mano?”

“Aku idak kuliah lagi, sudah begawe, tinggal di Lampung,” jelasku

“Ngapo tau jalan-jalan di sini?”

“Aku dulu lahir dan besar di Plembang ,”

“Pantes bae tau daerah sini.” Sahutnya.

Kami sempat melalui jalan raya sebentar, kemudian berbelok ke kiri masuk ke jalan perumahan. Lalu anak ini bicara kembali:

“Yuk, kage baliknyo cakmano?”

“Tenang bae, kage samo ayuk lagi, sampe di bawah Jempatan Ampera,” jawabku,

Terlihat dia agak tenang kembali, rupanya menarik becak ke tempat tanteku ini, baru pengalaman pertamanya, sebelumnya dia paling jauh hanya sampai di bawah Jembatan Ampera di daerah 7 Ulu. Aku berjanji untuk pulang dengan becaknya lagi sampai di pangkal Jembatan Ampera, selanjutnya aku akan meneruskan naik angkot menuju ke rumah orang tuaku di seberang Ilir, becak di larang melalui jembatan Ampera, kalau jaman dulu becak masih suka seliweran di atas jembatan, kini tidak boleh lagi sejak banyaknya kendaraan umum yang melintas disana.

Tiba di rumah tanteku, si abang becak kusuruh menunggu lagi, tanteku bertanya kenapa si becak harus menunggu, bukankah masih banyak becak yang lain. Aku bilang, si abang becak ini baru sekali ini pergi ke daerah 14 Ulu, selama ini dia paling jauh narik becak sampai 7 Ulu. Jadi aku akan naik becak dia kembali sampai di 7 Ulu, selanjutnya si abang becak sudah faham jalan kembali ke rumahnya. Tanteku geleng-geleng kepala, koq mau-maunya aku naik becak lagi, padahal kalau mau pulang ke rumah ortuku bisa langsung naik mobil aja. Tanteku memberi air minum dingin buat si abang becak.

Aku ngobrol cukup banyak dengan tante, kisah seputar keluarga saja. Tak terasa waktu sudah bergerak sore, aku harus cepat pulang, ada janji mau mengantar mamaku ke suatu tempat.

Kembali aku naik becak, menyusuri jalan yang sudah kulalui sebelumnya, tetapi kali ini hanya separuh jalan. Dalam perjalanan pulang aku menunjukkan kampus universitas dan rumah sakit Muhammadiyah, jalan, klenteng dan nama daerah yang di lalui, jadi biar si abang becak faham dengan tempat-tempat tersebut, jika lain kali ada penumpang yang menyebutkan nama-nama tersebut dia nggak asing lagi, termasuk memberi tahu acuan standart ongkos becak yang harus diambil, jadi geli koq aku ngajarin tukan becak ini soal standart harga, karena dia ini masih lugu banget, kuatir aja dia malah minta di bawah standart harga untuk jarak yang cukup jauh ini.

Terakhir, ketika sampai di pangkal Jembatan Ampera, aku minta turun dan memberi selembar uang, lantas ngeloyor pergi, terdengar dia bicara “Ayuk, uang sosokannyo?”, sambil menoleh sebentar aku jawab “Ambillah buat sekolahmu,” lantas terdengar suara “Trimokasih Yuk,” aku melihat raut wajah gembira campur bingung. Tetapi aku segera harus naik angkot yang sudah menungguku, dari dalam angkot kulihat, si abang becak masih berdiri memandang angkotku yang menghilang di tengah keramaian kota Palembang. Ya Rabb….Alhamdulillah, sore ini aku merasa ‘sangat cukup’ dengan semua rahmat dan karuniaMU.

Glossary:

– Bae ………….= Aja

– Ayuk/Yuk…..= Kakak Perempuan

– Kage/Gek….= Nanti

– Dak/Idak…..= Tidak

– Njuk Tau….= Beri Tahu

– Wong Tuo..= Orang Tua

– Begawe…..= Kerja

– Cakmano…..= Bagaimana

– Sosokannyo= Kembaliannya


BDL, 18042010.

About Adhe Mirza Hakim

Berkarir sebagai notaris dan PPAT yang tinggal dan berkeluarga di Bandar Lampung. Berbagai belahan dunia sudah ditapakinya bersama suami dan anak-anak tercintanya. Alumnus Universitas Sriwijaya dan melanjutkan spesialisasi kenotariatan di Universitas Padjadjaran. Salah satu hobinya adalah menuliskan dengan detail (hampir) seluruh perjalanannya baik dalam maupun luar negeri lengkap dengan foto-foto indah, yang memerkaya khasanah BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.