Bukan Cuma Anak Sekolah (yang menyontek)

Sumonggo – Sleman


Bagaimana bila terdapat peribahasa baru, “Guru nyontek berdiri murid nyontek berlari”. Umumnya yang sering dituduh menyontek adalah anak sekolah. Mungkin persepsi kita akan berubah setelah melihat tayangan berita berikut ini (semoga redaksi bisa memasangnya):

1. Guru Mencontek Saat Tes Kepala Sekolah

2. Ayo Bu Guru Nyontek! Ketika Guru ikut-ikutan menyontek pada saat ujian Universitas Terbuka

More Videos & Games at Earth Vista Video

3. Calon-calon Kepala Desa Menyontek

Tayangan nomor satu, adalah suasana pada saat tes calon kepala sekolah. Para guru yang menjadi peserta terlihat saling bertanya dengan bebas layaknya suasana arisan saja. Yang membuka buku juga kelihatan tenang-tenang saja tanpa rasa bersalah. Semoga saja, putra-putri anda tidak ada yang bersekolah di tempat mereka menjadi kepala sekolah. Jangan pernah membayangkan bagaimana mereka akan menegakkan peraturan dan disiplin pada guru maupun siswa.

Tayangan nomor dua, adalah suasana ujian semester di universitas terbuka. Nampak para peserta (yang adalah para guru sekolah) dengan nyamannya berjalan kesana kemari sambil mencocokkan jawaban. Bahkan ada yang berpindah-pindah tempat duduk. Apakah mereka juga nantinya bisa punya wibawa untuk memerintahkan muridnya agar jangan menyontek?

Tayangan nomor tiga, adalah suasana tes calon kepala desa. Para peserta bukan hanya saling bertanya, bahkan saling kirim pesan SMS, dan dengan tenangnya telpon-telponan layaknya sedang di warung kopi saja. Inikah potret calon pemimpin desa kita? Makin besar pohon makin besar godaannya. Jika akar yang ditanam saja sudah mengandung kecurangan, entah apakah mereka bisa menahan diri untuk tak mencurangi rakyat yang dipimpinnya.

Anak-anak sekolah bila melihat ketiga tayangan di atas mungkin bisa mentertawakan perilaku Bapak-bapak dan Ibu-ibu, yang semestinya bisa menjadi figur yang patut diteladani. Guru, kepala sekolah, dan kepala desa, ketiganya adalah sosok yang kerap menjadi panutan. Hmmm… apa jadinya kalau mereka gemar “curi-curi kesempatan”.

Terlihat pengawas ujian pun sepertinya tak berdaya atau malah takut untuk menegur. Mungkin lain kali ujian semacam itu perlu dijaga oleh Densus atau Armed. Mumpung sedang musim bikin fatwa, sekalian saja ormas yang ada membuat fatwa haram menyontek.

Di sebuah forum di internet, muncul pendapat, menyontek adalah embrio korupsi. Bila korupsi = kecurangan untuk mendapat uang yang lebih besar dari haknya yang seharusnya diperoleh. Maka menyontek = kecurangan untuk mendapat nilai yang lebih besar dari haknya yang seharusnya diperoleh.

Setelah beberapa bulan lalu seorang guru besar yang karirnya sedang mengkilap, tersandung kasus plagiat. Minggu lalu, muncul berita seorang calon doktor dari sebuah perguruan tinggi terkemuka, kedapatan menyontek untuk penelitiannya (dan diduga juga disertasinya). Kehebohan yang cukup luar biasa, para alumni di semua jenjang pun merasa malu.

Beginilah fenomena yang umum terjadi. Ada yang ijazahnya benar-benar palsu. Ada yang ijazahnya asli tetapi lulusnya hasil menyontek. Ikut tes seleksi juga nyontek (+ nyogok?). Setelah diterima, untuk kenaikan pangkat, melanjutkan studi lagi, lulus dengan tesis/disertasi pesanan atau hasil nyontek.

Jadi harap dimaklumi saja, bila ijazahnya bodong, profesionalismenya bodong, kinerjanya bodong, sumpahnya juga bodong.

Semoga tak banyak aparatur bodong yang membuat jalannya pemerintahan seperti odong-odong. Nuwun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.