Lambaian Nyiur dan Senyum Biji Kakao Nusa Nipa (Part 1)

Handoko Widagdo – Solo

Aku mendapat kesempatan kembali mengunjungi Flores. Kunjungan terakhirku ke Nusa Nipa adalah 3 tahun yang lalu, tepatnya pada akhir Maret 2007. Kunjunganku kali ini tak berhubungan dengan kakao, tapi ketertarikanku pada kakao tetap saja membara. Jika kunjunganku tiga tahun lalu diwarnai duka karena kakao yang gagal panen, kini sebaliknya. Setiap rumah menjemur biji kakao. Setiap pohon kakao berbuah lebat. Baiklah akan aku ceritakan juga tentang kondisi kakao Flores nanti.

Pada tulisan saya sebelumnya saya mengatakan bahwa nama asli Pulau Flores adalah Nusa Nipa. Nama Flores tersebut aku dapat dari teman dan sopirnya. Sekarang saya dapat informasi yang lebih sahih tentang asal nama Flores.  Dalam bukunya yang berjudul Raran Tonu Wujo, Karl-Heinz Kohl mencatat bahwa: ketika para pelaut Portugis pada abad ke 16 (1512) melihat tanjung yang berbentuk kepala burung, yang adalah bagian timur laut Pulau Flores, mereka demikian terkesan dengan tanaman yang subur, sehingga menamakannya Cabo des f lores atau ‘Tanjung Bunga’. Baru kemudian Belanda menggunakan nama Flores untuk seluruh pulau sejak tahun 1636.

Mestinya aku tak perlu lewat Maumere. Sebab rencananya aku akan terbang dari Jogja ke Denpasar, Kupang dan dari Kupang terbang langsung ke Bajawa. Namun karena pesawat yang aku pesan dari Kupang ke Bajawa tidak terbang, maka aku terbang lewat Maumere. Seperti biasa, Merpati menggendongku menuju Maumere dari Ngurah Rai. Kami menggunakan pesawat jet Fokker 100 yang terpelihara dengan baik. Dalam penerbangan ke Maumere, kami singgah di Waingapu.

Bandara Waingapu kini telah berbenah. Namanyapun telah berganti. Sejak November 2009, Bandara Waingapu tidak lagi bernama Mau Hau. Kini berganti menjadi Bandara Umbu Mehang Kunda. Nama mantan almarhum mantan Bupati Sumba Timur, yang juga adalah salah satu raja di sana. Saya bangga dengan penggunaan nama beliau sebagai nama bandara di Waingapu. Beliau adalah tokoh Sumba Timur yang layak mendapat penghargaan ini. Sebab beliau begitu cinta akan Sumba Timur. Kemajuan Sumba Timur adalah hasil kepemimpinannya.

Saya teringat saat bertemu beliau di 2002 untuk mendiskusikan serangan belalang di Sumba. Meski saat itu beliau adalah seorang bupati, tetapi penampilannya tetap saja dengan pakaian tradisional. Beliau memakai sarung Sumba dan ikat kepala. Bibirnya memerah karena berkinang. Disodorinya saya sirih kinang yang berada di meja kerjanya. Saya mencomot buah sirih, mencolek kapur dan mengambil secuil buah pinang. Tiba-tiba beliau mengulurkan tangan untuk mengurangi kapur yang menempel di buah sirih saya. ”Ini terlalu banyak, nanti mulut terbakar”, demikian beliau berkata sambil tersenyum. Saya sungguh terkesan dengan keramah-tamahannya.

Di ruang transit Bandara Umbu Mehang Kunda kita bisa berbelanja kain Sumba yang etnik. Kain dengan motif tradisional dan beberapa lembar menggunakan pewarna tradisional. Harganya? Mahal, tapi sesuai dengan kualitasnya. Ada juga terpasang poster burung-burung endemik Sumba, seperti kakatua putih berjambul kuning dan beberapa jenis burung nuri.

Nyiur melambai mengucapkan selamat datang kepada pesawat kami yang timbul-tenggelam di antara awan. Barisan pohon kelapa memenuhi wilayah pantai Maumere. Pemandangan ini sungguh kontras dibanding dengan Waingapu yang gersang.  Tiupan angin membuat daun-daun nyiur bergerak bagai tarian kegembiraan rakyat Flores.

Bandara Wai Oti juga semakin cantik. Wai = air/sungai; Oti = buaya, menunjukkan bahwa muara di mana bandara ini berada dulunya adalah muara sungai yang penuh buaya. Namun kini kita tak akan bertemu lagi dengan buaya di Wai Oti. Saya berangan, akankah nama Bandara Wai Oti juga akan diganti, misalnya dengan nama almarhum Frans Seda? Semoga. Sebab Frans Seda memang berasal dari Sikka dan namanya layak diabadikan.

Baiklah kini aku ceritakan tentang kakao. Jika tiga tahun yang lalu aku berkunjung untuk meneliti kondisi kakao Flores yang sedang dirundung hama, kini aku menyaksikan bahwa kebun kakao telah pulih kembali. Di sepanjang perjalanan dari Maumere ke Ende kutemukan biji-biji kakao yang dijemur di tepi jalan.

Di setiap rumah, selain menjemur biji kakao, mereka juga menjemur kopra. Hamparan biji kakao dan kopra adalah senyuman bagi petani Flores. Buah-buah kakao muda bergelantungan manja di batang-batang pohon. Kulit buah mulus menandakan bahwa tak ada hama dan penyakit yang mengganggunya. Koloni semut-semut predator menjaga buah kakao dari serangan hama. Semoga keberhasilan kebun kakao dan kelapa ini membuat anak-anak mahasiswa yang dulu harus pulang karena kebun gagal panen, bisa kembali ke kampus di Kupang dan di Jogja.

Salah satu tempat yang perlu disinggahi dalam perjalanan darat dari Maumere ke Ende adalah Pantai Paga. Biru Pantai Paga ditemani suara desir angin yang mencari sahabat dan gemericik ombak membuat  terik mentari tak terasa. Hanya sukacita dalam kesunyian saja yang ada.

Tentu saja aku tak membiarkan kesempatan mengunjungi Kelimutu terlewat. Meski sudah beberapa kali berkunjung ke danau tiga warna ini, aku tak bosan untuk menyalaminya lagi. Warna danau telah berubah. Danau pertama yang dulu hijau kemerahan, kini berubah menjadi biru gelap. Danau kedua, yang dulu berwarna biru, sekarang menjadi lebih terang. Demikian pula dengan danau hitam yang dulu berwarna pekat, kini agak jernih, meski masih tetap berwarna hitam.

Di Ende aku mampir ke rumah Sukarno. Syukurlah kini rumah ini sudah dicat ulang. Jendela yang dulu rusak kini telah diperbaiki. Halamannya pun kini terawat. Di rumah inilah konon Sukarno merancang tanggal kemerdekaan Indonesia.

Bajawa masih tetap dingin. Rumah Retret Kemah Tabur milik Gereja Katholik menjadi tempat persinggahanku. Gedungnya besar bergaya gothic, halaman luas dan bersih. Udara pegunungan Mataloko membuat ruangan-ruangan kelas tak memerlukan AC.

Bersambung

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

4 Comments to "Lambaian Nyiur dan Senyum Biji Kakao Nusa Nipa (Part 1)"

  1. Handoko Widagdo  14 June, 2012 at 10:43

    Pak Peter Hagul, saya memang jatuh cinta dengan Flores.

  2. Peter Hagul  14 June, 2012 at 10:20

    Pak Han

    Terimakasih untuk membantu orang Flores seperti saya untuk menghargai tanah tumpah darahnya.

    Peter Hagul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.