Balon & Piknik

Josh Chen – Global Citizen

Lho apa hubungannya balon sama piknik?

“Ada balon show di Sentul City”. Itu yang dibilang salah satu tetangga satu malam waktu ngobrol di depan rumah. First International Hot Air Balloon in Sentul City! Itu bunyi pengumuman yang aku baca waktu itu. Segera mencari info lebih lengkap dari berbagai media dan merencanakan untuk ke Sentul City di hari Minggu’nya.

Aku dan istri sudah merencanakan untuk sekalian piknik, walaupun tidak tahu sama sekali Sentul City tempatnya kayak apa, tapi mendengar dan membaca mengenai Sentul City, rasanya cukup asik juga.

Malamnya kami belanja, minuman, roti, kacang, biskuit dan segala macam yang terpikir untuk piknik.

Pagi-pagi, aku bangun dan memasak curry tuna fusilli untuk dibawa bekal sarapan di Sentul City. Setelah semua siap, barang-barang bawaan dimasukkan ke mobil – termasuk tikar – berangkatlah kami menuju arah Tol Jagorawi. Perjalanan lancar saja, karena hari Minggu dan masih pagi. Mendekati exit Sentul City, kami sudah melihat sebuah balon udara yang sedang melayang pelahan di kejauhan.

Setelah memasuki kawasan Sentul City, langsung disambut mobil yang sudah berjajar penuh di kanan kiri boulevard utama Sentul City. Parkir dialirkan terus menjauhi tempat di mana balon-balon udara berada. Event Organizer menyediakan bus yang terus berputar dari titik penjemputan yang sudah diatur ke tempat di mana balon-balon itu berada.

Kami mendapatkan parkir agak jauh ke depan. Tepat ketika mobil sudah terparkir dengan rapi, bus jemputan pas datang. Naiklah kami ke bus yang sudah penuh sesak. Tak berapa lama, sampailah kami di lapangan tempat balon-balon itu “diparkir”. Dari kejauhan sudah nampak 3 balon yang mengambang di udara.

Ternyata lapangan tsb sudah penuh sesak manusia yang kebanyakan menonton dan mengambil foto-foto dengan latar belakang balon-balon udara itu yang merupakan kesempatan langka. Informasi yang sebelumnya aku dapat, untuk ikut terbang dengan balon udara tsb, biayanya adalah Rp. 5juta untuk terbang keliling selama 1 jam (entah Rp. 5juta itu per orang atau per terbang, aku juga kurang jelas). Sementara untuk 10 menit di udara (di tempat, tidak terbang ke mana-mana) tarifnya Rp. 100ribu per orang.

Bukan menjadi pilihan kami sama sekali untuk terbang baik yang 1 jam atau yang 10 menit, karena jelas terlalu mahal dan untuk yang 10 menit antreannya sudah dari malam sebelumnya.

Aku hanya menjepret beberapa jepretan foto balon-balon tsb, juga istri dan anak-anak dengan latar belakang balon-balon itu. Tidak menunggu lama, segera kami berjalan mencari bus jemputan yang akan menghantarkan ke tempat di mana kami parkir mobil. Sungguh singkat kunjungan untuk melihat balon-balon udara ini.

Dari tempat parkir, aku menyetir mencari lokasi yang enak untuk berpiknik. Di kanan kiri jalan utama Sentul City kontur tanahnya naik turun, sedikit berbukit di beberapa tempat dengan hamparan rumput yang kelihatannya enak sekali untuk berpiknik. Dan memang di beberapa titik sudah kelihatan beberapa keluarga atau pasangan yang bersantai duduk-duduk, lesehan baik di rumput ataupun yang persiapan dengan membawa tikar seperti kami.

Dapatlah tempat yang kelihatannya asik. Mobil aku tepikan dan segera unload bawaan kami semua. Tikar digelar, bekal dihamparkan, dan pertama kali kami lakukan adalah makan! Karena jam yang tanggung, jadilah curry tuna fusilli itu brunch kami. Anak-anak makan dengan lebih lahap daripada biasanya, yang aku yakini adalah karena suasana dan tempat yang unusual di sana. Keteduhan, kehijauan sejauh mata memandang serta angin sepoi sungguh sangat mendukung suasana.

Mengobrol, bersantai dan bertukar cerita mengiringi piknik asik siang itu. Anak-anak bermain dengan mainan bawaan dari rumah, kemudian dilanjut membaca-baca.

Namun sungguh sayang, mendekati tengah hari, tiba-tiba mendung berarak dari kejauhan. Menyadari bahwa tempat itu masih masuk kawasan Kota Hujan yang bisa saja hujan setiap saat datang in any minute (pengalaman 2 bulan penuh di daerah Cimanggis kerja praktek), kami segera berkemas dan bersiap pulang. Benar saja, waktu kami mengusung barang-barang, rintik hujan sudah menyambut. Tepat memasuki mobil, turunlah hujan bagai tumpah dari langit…

Usailah sudah acara nonton balon udara dan piknik hari itu…

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.