Jadul Yang Bikin Kangen

Dewi Aichi – Brazil

Masa lalu ketika aku masih kecil, sangat lain dengan anak-anak jaman milenium. Kalau diumpamakan foto, foto masa kecilku itu seperti foto usang yang berwarna hitam putih. Sedang untuk anak-anak sekarang ini, kelak jika diceritakan kembali, pasti sudah penuh warna warni dan sentuhan-sentuhan modern.

Dulu waktu aku SD kelas 2, punya gank, tiap pulang sekolah, ngga langsung pulang, tapi mandi bareng-bareng di kali. Kita main lompat dan terjun bebas dari jembatan…byurrrrrrrr..bareng-bareng slulum (menyelam). Waktu itu belum punya malu. Mandi bareng-bareng dan nudis he he. Anak laki dan perempuan semua campur. Wah asik sekali waktu kecilku dulu. Mandi di kali sekalian cari ikan cethul atau ikan wader.

Tapi bapakku dulu ngga membiarkan begitu saja, kalau ketauan , bapak langsung mencariku dan diacungi sandal lili dari kejauhan buat nabokin bokongku kalau aku ngga segera pulang. Waduh..alamat nih he he. Tapi cerita sandal lili bapak cuma untuk nakutin saja, tidak pernah mendarat di bokongku. Masa, anak perempuan satu-satunya mau ditabokin pakai sandal lili(sampai kelas 3 SD, aku belum punya adik).

Sama teman-teman dulu ngga cuma mandi di kali, ada lagi cerita sangat memalukan nih. Waktu itu berempat, cewek semua, dan masih di kelas 2 SD. Sering banget nyolong tebu ha ha ha, dan sering ketauan mandor tebu. Begitu pak mandor tau, kami lari secepatnya..dengan membawa tebu hasil nyolong sedapatnya. Langsung kami makan bareng-bareng. Padahal orang tua mau saja membelikan tebu di warung, tapi dasar anak-anak ya, tetep saja nekad. Mungkin tebu hasil nyolong lebih enak kali, karena cara mendapatkannya yang penuh tantangan.

Diantara ke tiga temanku yang nyolong tebu itu, salah satunya sekarang menjadi guru SMU di Bogor. Satu lagi bekerja di sebuah kantor advertising di Kebayoran Baru, dan satu lagi perawat, masih tetap di kampung.

Pengalaman-pengalaman menggelikan dan memalukan kalau diingat sekarang bikin senyum senyum sendirian. Pernah suatu siang, saat menjemput anakku sekolah, aku bercerita dengan guruku ketika di SD, yang waktu itu menjemput cucunya, kebetulan satu sekolahan dengan anakku. Namanya pak Narto. Pas ketika itu anakku dan cucunya pak Narto ini masih jam makan siang.

Pak Narto komentar begini: “wah anak-anak sekolah jaman sekarang enak sekali, pulang jam 1 siang saja, pakai acara makan siang di sekolah, dengan lauk yang enak pula”. “Dulu waktu aku masih di sekolah rakyat kelas 3, simbok sering melarang aku untuk tidak makan daging, “nanti dagingnya buat bapakmu yang tiap hari nyari duit!”, kata simbokku.

Sekarang giliran aku sudah punya cucu, istriku melarangku makan daging, nanti dagingnya buat cucunya. “Piye le arep iso lemu” (gimana mau bisa gemuk), kata pak Narto. Aku yang dengerin cerita pak Narto ngga bisa menahan ketawa. (Pak Narto adalah pegawai negeri golongan III A), sama seperti Gayus, tapi pak Narto masih tetap memakai sepeda motor.

Pernah juga teman sekolahku dulu dipukul oleh penjual dawet di pasar Sleman. Ceritanya tuh temenku bersama rombongannya beli dawet seperti biasa deket pasar Sleman. Penjual dawetnya sedang sibuk melayani teman-temannya yang ada di depan. Penjual dawet jaman dulu kan pakai keranjang pikulan, yang diisi lodong (toples) berisi santan, larutan gula jawa, dan tumpukan mangkok. Samping kanan belakang adalah pengaron isi cendol.

Kembali ke cerita temanku tadi. Pas hampir mendapat giliran dapat dawet, duit koin temanku tadi nyemplung(masuk) ke pengaron isi cendol, namanya juga bocah ya, langsung tangan temanku itu ngubek-ubek mencari duitnya di pengaron.

Tiba-tiba plethakkkkk…dua kali di kepala temanku! Tingkahnya dalam mencari duit di pengaron konangan bakule dawet(ketauan oleh penjual dawet). Kata temanku:

“lamat-lamat aku krungu bakule dawet nesu..! (samar-samar aku dengar penjual dawetnya marah)

“Bocah, ra urus… cendol diobok-obok….! (Anak kurang aj**, cendol di obok-obok).

“Aku tambah ra krungu….peteng, ilatku koyo ketarik mlebu terus… semaput”!..(makin lama makin hilang kesadaran dan..pingsan).

Geger sak pasar (orang di pasar jadi gempar)…..

Tangi-tangi awakku mambu (setelah sadar, badanku bau) ppo (minyak angin).

Dirubung wong pasar (dikerumuni orang pasar)!”….

Ha ha….hampir mati ketawa aku diceritain temanku itu, istrinyapun kemekelen sama-sama dengar cerita suaminya itu.

Jaman dulu juga sering ada sesajen, entah itu di kali, di bawah pohon, atau di tugu gerbang masuk kampung. Ada temanku yang sering membujukku untuk mengambil duit sesajen, aku malah semangat menemaninya ha ha..dasar anak-anak! Terus sebelum buat jajan, duit itu kita tancapkan dulu semalaman di pohon pisang, biar ngga sakit perut. Dan sebelum makan makanan yang dibeli dari duit sajen tadi, berdoa juga.

Ada cerita yang bikin panik orang sekampung. Sepupuku waktu itu sudah SMP, cowok. Mengajak adiknya yang masih SD , 2 orang cewek, mandi di kali. Tiba-tiba, adiknya yang lebih besar, lari-lari sambil teriak-teriak:”mas Pur dibacuk arit! Mas Pur dibacuk arit!” Keras sekali teriakannya. Aku ingat betul, waktu itu aku sedang makan siang, karena pas pulang sekolah.

Budheku langsung panik, dan tanya-tanya, akhirnya sepupuku yang teriak-teriak tadi cerita kalau pak Barjo(mantan tentara yang gila), ngamuk, kumat. Mas Pur sepupuku, dan adiknya yang paling kecil kena sasaran, banyak luka-luka, dan masuk rumah sakit.

Dan sekarang, sepupuku yang tadi teriak-teriak, sudah menjadi dokter di salah satu puskesmas di kota Semarang. Budheku ikut tinggal di Semarang, menunggu cucunya. Kalau mas Pur tetap tinggal di Jogja, sedang yang paling kecil, tinggal di Kalimantan.

Hmmm….nostalgia di otakku ini sungguh mengasikkan untuk dikenang. Kangen sekali sama teman-temanku di waktu kecil. Tapi aku senang, masih banyak yang saling kirim kabar. Jadi bisa mengenang bersama-sama masa kecil dulu, meski tidak secara langsung.

Biarpun kami melewatkan masa kecil di kampung seperti itu, tapi setiap Maghrib sampai Isa, kami selalu di masjid, mengaji bareng-bareng, dan selalu mendongeng kisah nabi-nabi. Jadi SD kelas 5 aku juga sudah bisa selesai membaca Alquran.

Itu baru cerita masa anak-anak jaman dulu, wah kalau di ingat-ingat, kelakuanku dulu hi hi…wajah-wajah polos tak berdosa.

Bapak ibuku dulu pernah cerita, pertama kali ingin mencabut gigiku, ngga dibawa ke dokter. Jadi waktu itu bapak ibuku pergi ke pasar Bulu Semarang, eh oleh-olehnya kue jaman dulu tuh namanya “Ganjel Rel”, kue warna coklat, kerasnya minta ampun. Mungkin bentuknya seperti ganjel rel kali ya, aku sendiri belum pernah melihat ganjel rel itu seperti apa. Nah kesempatan itulah aku disuruh makan kue ganjel rel sampai gigiku lepas.

Sebenarnya makanan jaman sekarang sih hampir sama dengan jaman dulu, cuma agak sedikit dimodifikasi biar kelihatan modern, keren,canggih. Dulu namanya ganjel rel, sekarang brownies coklat. Dulu namanya slondok, sekarang namanya casava snack. Kalau deket kampus UI itu ada namanya es pocong, itu mirip es jaman dulu, namanya es agogo.

Aku akhiri sampai di sini cerita jaman dulu, terlalu indah untuk dilupakan begitu saja.


Ilustrasi: nirmalamagazine, alonrider wp, Klinik Fotografi Kompas

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.