Friday, 23 April 2010
GC – Batam
Pagi ini (22 April 2010), sekitar pukul 08.30 WIB saya dikejutkan dengan bunyi sirine yang meraung-raung di depan kantor saya di lantai dua, seperti biasa saya tidak terlalu memperhatikan karena hampir tiap hari sudah menjadi pendengaran umum kalau di daerah Tanjung Uncang yang merupakan lokasi shipyard-shipyard besar sering terjadi kecelakaan kerja baik kebakaran, kapal meledak, ataupun pekerja yang kejatuhan alat berat, sudah jadi hal yang lumrah di bisnis galangan kapal seperti di Batam ini.
Namun tiba-tiba teman satu kantor saya yang baru dari lantai satu menyampaikan kalau di Graha sedang ada kerusuhan, dia mendapat kabar dari Technical Service Representative (TSR) kami, saya yang tadinya tidak sedikitpun menoleh ke belakang jendela untuk melihat jalan, maka saya langsung menoleh dan memperhatikan iring-iringan truck Polisi, mobil Pemadam Kebakaran bahkan sedan-sedan dari pejabat Polisi.
Graha atau nama lengkapanya adalah Drydocks World Graha adalah salah satu perusahaan Drydocks World dari Dubai. Di Batam sendiri Drydocks World ada tiga perusahaan yaitu Drydoks World Pertama, Drydocks World Nanindah dan Drydocks World Graha. Perusahaan ini bergerak dalam bidang shipyard baik pembuatan kapal, perbaikan, maupun konstruksi untuk offshore.
Dari tiga perusahaan di atas, Graha dan Pertama adalah customer perusahaan saya. Maka ketika TSR yang menyampaikan info kalau sedang ada kerusuhan di Graha kami mempercayai 99%, karena dengan menjadi vendor mereka, kami menempatkan TSR-TSR di sana, sehingga mereka tahu apa yang sedang terjadi. Tidak berapa lama Bos saya yang sedang di Jakarta menelepon logistic officer saya untuk tidak melakukan pengiriman ke Graha hari ini, karena suasana yang memanas.
Saya mendegar informasi bahwa kerusuhan tersebut dipicu oleh seorang Supervisor Electrical yang berasal dari India, menyampaikan kata-kata yang kurang enak di dengar oleh sebagian peserta yang mayoritas adalah orang Indonesia. Dia menyebut “dasar orang Indonesia bodoh”, sontak hal ini menimbulkan rasa sakit hati dari mereka yang mendengarnya.
Info dari percakapan telpon yang saya lakukan dengan teman perempuan saya di Graha, jam lima sore tadi Spv. Tersebut memang sering berbicara kasar dan merendahkan anak buahnya, jadi yang dia sampaikan tadi pagi bukan pertama kalinya tapi sudah kesekian kalinya. Karena saya juga yakin kalau hanya sekali dua kali tidak akan menimbulkan kerusuhan seperti ini.
Bisa dibilang kerusuhan tadi adalah klimaksnya. Amuk pekerja sudah tidak dapat dibendung lagi, jam 08.00 pagi mereka mulai melempari dan mendatangi main office yang sebagian besar adalah karyawan perempuan termasuk teman saya tadi. Mereka langsung panik dan naik ke lantai dua, masuk ke dalam ruangan, menguci pintu dan menahannya dengan sebuah meja besar.
Namun tidak berapa lama, pintu mereka diketuk oleh petugas dan mereka diminta meninggalkan main office. Begitu mereka keluar main office tiga lantai tersebut langsung dibakar, teman saya sudah tidak membawa apa-apa, bahkan tas dan dompetnya yang berisi SIM dan KTP dia tinggal. Bukan hanya main office saja yang ludes dibakar, pekerja juga membakar main store dan mobil-mobil karyawan di parkiran.
Untuk korban yang meninggal masih simpang siur beritanya, ada yang menyampaikan kalau yang meninggal 4 – 5 orang tapi dari teman saya tadi hanya diinfokan banyak yang luka-luka parah dan sebagian pekerja asing diungsikan oleh polisi ke kantor polisi baik lewat darat maupun lewat laut dengan menggunakan tug boat.
Jujur saya agak merinding dengan kejadian tadi pagi, walaupun saya tidak berada di sana dan hanya mendengar kesaksian dari teman saya per telepon dan dari info teman-teman kantor saya. Hal seperti ini bisa dihindari kalau kita bisa menempatkan diri, saling meghormati dan menghargai orang lain.
Apalagi pemicu terjadinya kerusuhan adalah seorang warga asing sudah seharusnya dia lebih hati-hati dalam bertutur kata dan bersikap, bagaimana pun juga dia memperoleh penghasilan yang tidak sedikit di Indonesia. Sebagai pribadi ketika saya menginap atau bertamu ke rumah orang pasti dengan orang tua saya selalu di pesen “yang bisa membawa diri”, lha ini bukan masalah rumah orang lagi tapi Negara orang.
Saya tidak tahu mesti menangapi bagaimana ketika reaksi teman-teman kantor saya yang sudah sering berurusan dengan orang India di shipyard-shipyard malah bersyukur karena adanya kejadian seperti tadi pagi. Mereka semua sepakat kalau memang sudah waktunya diberi pelajaran, karena mereka tidak hanya bertutur kata kasar dan merendahkan, namun juga tidak segan-segan main pukul. Saya pribadi belum pernah berurusan dengan orang India, jadi tidak bisa berkomentar banyak, namun pemicu dari kerusuhan tadi pagi karena kata-kata yang kurang sopan dari oknum tersebut tidak bisa saya benarkan juga. Kalau saya akan berhati-hati dalam bersikap dan bertutur kata seandainya saya bekerja di Negara orang, menghormati dan menghargai adat setempat karena kalau kita sudah menyinggung orang setempat bisa-bisa kena batunya atau lebih parahnya nyawa melayang.
Salam
Foto-foto: Tribun Batam, Okezone, Media Indonesia
November 15th, 2011 at 19:25
gan punya profil prusahaan drydock graha,mulai dri berdirinya perusahaan ini sampe struktrur organisasi nya??
tolong ya gan
April 26th, 2010 at 08:09
^^JL, om lumrah soale wis diempet suwi keadaan diskriminatif sing dirasane pekerja lokal karo si empunya janji keling itu..untuk jalan damai dengan dialog aku kurang tau yo wis pernah dicoba durung..tapi menurutku klo pun mereka mengadu ke bagian yg lebih tinggi, paling juga cuman dianggap anjing mengongong..
^^Ki Ageng, hahaha..iyalah martabaknya lebi enak kyknya
^^tanXA, ho’oh te..yg minta maaf di tv itu salah satu senior indiahe di Batam, dan lumayan pinter orangnya…ga kyk indiahe kebanyakan di sini. kasian juga liat dia di tv mpe mbrebes mili (berkaca-kaca)..
April 26th, 2010 at 08:03
^^P. Edy, setau saya WNA tersebut memang ga direkrut langsung, tapi “titipan” dari yg sudah bekerja disitu, entah sodaranya, entah tetangganya, entah punya hub.an apalagi yg jelas ya orang sekampungnya mereka. masalah gaji saya juga kurang paham apa memang harus ada perebedaan yang sangat besar antara ekspat dan orang lokal.
^^EIZT-ZC, untuk jalan damai sy kurang tau, yg sy tau mereka udah memendam lama perilaku diskriminatif ini, klimaksnya ya karena dipicu omongan yg kurang mengenakan tsb.
^^mb. Cindelaras, iya mb., emang bener yg mbk sampaikan…begitulah adanya…
^^Nev, wakakaka..mayak i, sing dibahas opo sing dikomentari opo..tapi setuju dengan istilah jawa itu 100%
April 25th, 2010 at 01:02
Ras…konon Indiahe itu dah minta maaf ya…
April 24th, 2010 at 17:51
Nehi nehi. Namaste Makan martabaknya saja.
April 23rd, 2010 at 20:03
Oalah Dung, mosok kejadian kecelakaan kerja kok lumrah ki piye to, coba kalo menerapkan K3 dengan bener gak mungkin sering kejadian kaya gitu … opo memang nang Batam ki memang ngono yo
April 23rd, 2010 at 19:49
@GC : Gek piye to?Jaman dulu pegawai sdh status tetap aja gajinya diempet-empet, apalagi sekarang modelnya semua pake tenaga out-sourcing yg minim tunjangan. Aku bilang mestinya out-sourcing dibubarin aja! Ngrugekno pegawe iku.