Friday, 23 April 2010
Handoko Widagdo – Solo
Bajawa masih tetap dingin. Rumah Retret Kemah Tabur milik Gereja Katholik menjadi tempat persinggahanku. Gedungnya besar bergaya gothic, halaman luas dan bersih. Udara pegunungan Mataloko membuat ruangan-ruangan kelas tak memerlukan AC.


Rumah retret ini dibangun sejak tahun 1923. Bangunan utama belum pernah diubah. Bangunan ini berada tepat berseberangan dengan Gereja dan Seminari, tempat para calon pastur belajar.

Kunjungan selanjutnya adalah ke sebuah SD di puncak Gunung Ebu Lobo. Ebu berarti kakek/nenek dan Lobo artinya puncak. Memang layak gunung ini diberi nama Ebu Lobo, sebab berkah alam memang diberikan oleh gunung ini kepada masyarakat di kota kecil Boawae.

Perjalanan mendaki harus dilalui melewati tanjakan-tanjakan terjal. Di beberapa tempat mobil kami harus memasang double gardan. Diperlukan dua setengah jam untuk mencapai lokasi sekolah yang kami kunjungi.

Namun upaya kami tak sia-sia. Ketika kami tiba, kami disambut luar biasa. Sekelompok anak SMP dengan seragam tari menunggu kami diujung desa. Mereka menari JAI (tarian selamat datang) didepan kami menyeberangi lapangan menuju sekolah yang akan kami kunjungi. Sementara Kepala Sekolah dan tokoh masyarakat mendampingi kami dengan senyum.

Selain tarian Jai, mereka juga menyuguhi kami dengan tarian BEGU. Jika tarian Jai diiringi dengan gong-gong kecil, tarian Begu diiringi dengan alat musik yang terbuat dari bambu.

Kami sedih karena sekolah ini rusak. Bangku-bangkunya banyak yang patah. Atapnya sudah jebol dibeberapa tempat. Perpustakaannya pun lebih mirip gudang. Bahkan beberapa minggu sebelumnya, rumah Kepala Sekolah roboh diterjang angin. Sehingga Kepala Sekolah harus tinggal di ruang kerjanya bersama istrinya. Dia tidur disitu, memasak di situ dan beribadah juga di ruang seukuran ruang kelas.




Namun semangat masyarakat untuk mendukung anak-anaknya bersekolah sungguh luar biasa. Anak-anak kelas V dan kelas VI yang rumahnya jauh dari sekolah (2-4 km dan harus menyeberang sungai) diinapkan di rumah-rumah warga sekitar sekolah. Warga iuran untuk membeli solar supaya anak-anak bisa diberi jam tambahan belajar di sekolah saat malam hari.
Dalam segala kesusahan tersebut, semangat kebersamaan sungguh membangun senyuman.



Flores, si Nusa Nipa, engkau telah merebut hatiku. Keindahan dan keramahanmu membuatku selalu merindukanmu. Ajak daku ke Larantuka dan Labuhan Bajo. Dua ujungmu yang belum pernah aku belai. Suatu saat kau pasti menginjinkanku berkunjung ke sana.
Jogja-Denpasar-Maumere-Bajawa April 2010
May 6th, 2010 at 17:21
Begitulah Cik Dhe, masih banyak orang yang bisa tersenyum dalam kesulitan hidup.
May 6th, 2010 at 17:07
Nyeesss……trims Pak Han, miris hati ini, wajah2 yang tersenyum dibalik kesulitan hidup, mereka adalah saudara2 kita.
April 30th, 2010 at 16:37
tidak adakah dari penerbit2 besar di Indonesia yang bersedia menyumbangkan buku buat anak2 manis ini? coba kalau bisa artikel ini di-link (atau apalah) ke media lain biar makin rame yg baca.. (sori, terlalu sentimentil dan merasa berdosa belum dapat membantu)