Jatuh Cinta Lagi Setelah Menikah

Budiman Hakim – Jakarta

Pernah ga kalian jatuh cinta lagi sama perempuan padahal kamu udah menikah. Saya pernah loh. Karena semakin dewasa kita jadi semakin tau cewe seperti apa yang kita mau. Waktu masih muda dulu, saya selalu nyari cewe yang cantik fisik. Soal dia rewel atau kepribadiannya kurang menarik, itu soal belakangan. Pokoknya pacarin dulu, kalo ke depannya ga cocok ya baru kita putusin lalu cari yang lain lagi.

Seiring dengan perjalanan waktu, saya makin matang dalam pemikiran. Saya ga lagi nyari perempuan yang cantik tapi saya butuh perempuan yang membuat saya nyaman. Nah setelah menikah 10 tahun, tiba-tiba saya menemukan wanita idaman itu. Dia begitu menawan dan terus terang saya jatuh cinta lagi.

Meski sudah punya dua anak, perempuan itu masih terlihat sangat cantik. Dia udah mempunyai dua anak laki-laki. Yang sulung berusia 8 tahun, sedangkan yang bungsu masih bayi. Saya selalu mengagumi cara perempuan itu mengucurkan kasih sayangnya. Kesungguhannya dalam merawat kedua anak sungguh membuat hati ini sejuk.

Sering saya perhatikan, anaknya yang masih bayi begitu rewel tapi perempuan ini tidak terlihat kesal sama sekali. Baginya jeritan bayi yang kencang itu terasa seperti musik yang merdu. Lebih merdu daripada suara Rihhana. Gerakan memberontak si bayi buatnya adalah tarian yang indah, lebih indah dari langkah kaki Fred Astair.

E’e si bayi sama sekali tidak membuatnya jijik. Sering saya melihat si perempuan membenamkan muka di pantat anaknya hanya sekedar untuk memeriksa apakah si bayi sedang buang hajat atau bukan. Kalo iya, dengan tangkas ia akan segera menceboki anaknya dan memberinya popok yang baru.

Malam hari si bayi juga sering mengamuk ga keruan. Setiap jam dia bangun dan menjerit-jerit. Jeritannya begitu kenceng sampai terdengar ke Pos Satpam di dalam komplek kami. Kadang si ibu hanya menggendong sampai si bayi terlelap kembali. Atau dibuatkan susu hangat sebelom kembali diletakkan di dalam box. Kalau kedua cara itu belom berhasil juga, maka ke luarlah jurus pamungkas pembuat diam. Caranya adalah dengan menyumpalkan teteknya ke mulut si bayi. Bayangkan, ibu ini hanya tidur beberapa jam sehari hanya untuk mengurus anaknya yang tidak berdaya itu.

Pagi hari, dia mandi dan menyiapkan sarapan untuk seluruh keluarga. Jam 7 dia mengantarkan anak pertamanya ke sekolah. Setelah itu barulah dia pergi ke kantor, kadang anak bayinya dibawa, kadang ditinggal bersama baby sitter.

Pulang kantor yang dicari pertama kali, lagi-lagi anak bayinya. Dengan penuh perasaan dipeluknya si bayi erat sekali. Caranya memeluk membuat saya terharu. Matanya melihat dengan tatapan rindu yang teramat sangat. Seakan-akan dia dan si bayi sudah berpisah berbulan-bulan padahal cuma beberapa jam.

Saya menatap perempuan itu tanpa bosan-bosannya. Tanpa disadari hubungan ibu dan anak itu telah memberikan penjelasan yang gamblang pada saya tentang makna kasih sayang. Ketidakpedulian si bayi justru membuat dirinya lebih mencintai. ketidakberdayaan si bayi justru membuatnya lebih berarti. Begitulah seharusnya hakikat cinta. Memberi dan memberi…

Dan untuk pertama kali setelah menikah….saya jatuh cinta lagi. Inilah cinta pertama saya setelah menikah.

I love you my wife.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.