Kartini Tidak Pernah Cuti Haid

Vicky Laurentina


Jika Kartini masih hidup sekarang, pertanyaan yang mungkin keluar dari mulut dos-q adalah, “Kenapa ya, ulang tahun saya selalu disambut dengan pawai anak-anak pakai baju daerah? Padahal perasaan dulu saya cuman nyuruh cewek-cewek belajar baca dan nulis, bukan nyuruh anak-anak laki pake blangkon dengan muka dikumis-kumisin..”

Waktu jaman gw masih sekolah dulu, hari Kartini barangkali adalah hari paling males buat gw dateng ke sekolah. Soalnya guru-guru pasti nyuruh kita pakai kebaya dan kondean, lalu nanti kita dipasang-pasangin antara murid laki-laki dan murid perempuan, terus disuruh jalan a la fashion show di teras sekolah.

Gw nggak merasa matching dengan acara itu, soalnya:

1) Gw merasa tampang gw konyol banget kalau gw pakai kebaya dan muka gw dilipstikin pakai lipstiknya nyokap,

2) Gw nggak mau dipasangin sama anak cowok yang mukanya jelek, sedangkan kita kan nggak bisa minta request gitu sama Bu Guru kalau gw kepinginnya dipasangin sama temen yang cakep, hihihi.. Di lain pihak, gw merasa lomba fashion show baju daerah itu buang-buang duit aja, toh nggak dapet hadiah. Mbok juaranya dapet hadiah apa gitu kek, kan udah capek-capek morotin nyokapnya buat dandan di salon. Minimal hadiahnya tuh kredit nilai raportnya dinaikin satu poin gitu, hahaha..

Gw nggak ngerti kenapa sekolah-sekolah pada ribut ngedandanin murid-muridnya pakai baju daerah. Emangnya kalau nggak pakai baju daerah, kepala sekolahnya nanti ditegor sama kepala Dinas Pendidikan ya? Atau jangan-jangan ini akal-akalannya asosiasi salon se-Indonesia supaya ibu-ibu membawa anak-anak mereka ke salon buat dipakein konde?

Oke, lupain dulu. Kali ini gw mau cerita tentang kerjaan gw. Jadi pada awal-awal gw kerja jadi dokter di klinik perusahaan tuh, gw belajar bahwa ternyata kerjaan gw nggak cuman meriksa orang sakit terus nulis resep. Tapi juga ternyata salah satu tugas gw adalah menulis surat cuti haid.

Dan itu bikin gw terheran-heran. Menstruasi perlu cuti? Kenapa?

Karena klinik yang jadi tempat kerja gw waktu itu klinik milik sebuah perusahaan tekstil, maka mau nggak mau gw belajar juga tentang sistem kerja perburuhan. Ternyata, salah satu peraturan perburuhan itu mewajibkan bahwa seorang pekerja wanita berhak mendapatkan cuti haid selama satu hari. Dan untuk menguatkan bukti bahwa dia itu haid, harus ada surat keterangan oleh dokter. Gw mengerutkan kening. Maksudnya apa sih? Jadi buat bikin surat keterangan itu, gw harus nyuruh perempuan yang bersangkutan buat buka celananya dan lihat bahwa dia pakai pembalut dan pembalut itu ada darahnya, gitu?

Well, maafkan gw, tapi ide itu bikin gw mual. Bukan ide lihat pembalut darahnya. Tapi ide cuti haidnya.

Haid itu kodrat cewek kan? Cewek kalau nggak haid, dia pasti bingung setengah mati. Kalau haidnya telat seminggu, pasti dia rada panik. Jangankan cewek yang masih muda binti ranum kayak gw. Bahkan ibu-ibu yang udah menopause pun pasti kepingin sekali bisa menstruasi lagi. Jadi kenapa seorang perempuan harus libur dari kerjanya cuman gara-gara dia haid?

Orang-orang perburuhan itu bilang, cuti haid buat seorang buruh wanita adalah manifestasi dari hak seorang wanita bahwa dia berhak beristirahat jika sedang haid. Yang gw pikirkan, itu maksudnya beristirahat dari apa? Memangnya beban kerjanya akan semakin berat kalau dia haid? Ya udah, kalau gitu nggak usah kerja aja sekalian toh, biar nggak capek?

Kalau kita melihat jaman dulu, pas Kartini masih hidup, tugas perempuan itu cuman tiga: sumur, dapur, kasur. Artinya, tugas perempuan itu cuman ngurus rumah, masak, dan melayani keperluan seks suami. Gw bertanya-tanya, apakah kalau lagi haid maka tugas sumur-dapur-kasur itu juga ikutan libur? Apa ada sejarahnya Kartini mengajukan ke Adipati Rembang, minta cuti haid?

Menurut gw, cuti haid itu nggak perlu. Karena haid nggak menghalangi pekerjaan perempuan sama sekali, kecuali kalau profesi dia adalah guru renang (atau mungkin profesi dia adalah WTS. Iya, WTS itu adalah profesi!). Masalah apa sih yang dihadapin seorang perempuan kalau lagi haid? Paling-paling takut darahnya nembus ke baju. Kan sekarang pembalut sudah banyak yang tebal dan panjang. Atau mood jadi nggak keruan dan perempuannya jadi tukang ngomel? Lha apa hubungannya ngomel dengan mengacaukan pekerjaan? Paling-paling haid bikin sakit perut. Ah, kan bisa minum obat dari dokter dan nggak usah sampek libur segala.

Kartini berjuang bukan supaya perempuan bisa minta libur dari kewajibannya cuman gara-gara lagi dapet. Bukan berjuang juga hanya supaya ulangtahunnya dirayain dengan pawai karnaval yang nyuruh-nyuruh anak sekolah pakai konde dan beskap dan di-make-up menor. Tapi ada hal lain yang diamanatkan dari hari Kartini, yaitu supaya perempuan bisa mendapatkan hak yang setara dengan pria, karena perempuan juga punya kewajiban yang sama seperti pria.

Ilustrasi: modernhealtinfo

4 Comments to "Kartini Tidak Pernah Cuti Haid"

  1. Nisa  6 October, 2018 at 07:13

    Ngomong nya sembarangan sekali ini. Karena memang di hari pertama haid saya merasakan nyeri yg luar biasa hinga tdk bs beraktivitas hrs ijin kuliah dan bekerja.
    Itu nyata yg dihadapi kaum perempuan tdk hanya satu dua orang. Saya sbgai prempuan ga trima lah. Orang sakit bneran kok rasanya. Anda mrasakan juga baru tau rasa !

  2. mila  23 March, 2014 at 22:39

    Anda tak tahu y,,,,sesakit apa saat menjelang dan hari pertama haid.Jadi jangan sinis dunk….Apalagi bagi pekerja pabrik yang kerjanya standby ditempat,Terlalu banyak berdiri atau terlalu lama duduk semakin membuat darah beku dan semakin buat perut mulas.Lagipun…obat2an yang dijual dipasaran/di dokter terkadang gak mempan juga.Jadi cuti haid itu wajib diberikan barang sehari dua hari.
    Saya juga pernah mencemooh teman yang merintih nyeri haid saat masa sekolah dulu.Hingga diusia 20-an akhirnya saya merasakan betapa sakit dan tak nyamannya hari pertama haid itu.

  3. perempuan  26 November, 2013 at 13:25

    sebagai perempuan,
    terus terang saya terusik dengan pendapat dari penulis artikel.
    mungkin cara penyampaiannya yang terkesan sinis dan nyinyir.
    sebagai perempuan, tentunya saya juga tidak mau merasakan nyeri haid.
    tidak bisa produktif, tidak bisa konsentrasi karena terganggu oleh nyeri.

    sebagai seorang dokter, seharusnya penulis artikel dapat memberikan masukan/saran, apa yang harus dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri.
    bukan hanya komplain dan menyerang perempuan yang merasakan kesakitan itu.

  4. perempuan  26 November, 2013 at 13:17

    terus terang saya terusik dengan pendapat dari Vicky.
    mungkin cara penyampaiannya yang terkesan sinis dan nyinyir.
    sebagai perempuan, tentunya saya juga tidak mau merasakan nyeri haid.
    tidak bisa produktif, tidak bisa konsentrasi karena terganggu oleh nyeri.

    sebagai seorang dokter, seharusnya penulis artikel dapat memberikan masukan/saran, apa yang harus dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri.
    bukan hanya komplain dan menyerang perempuan yang merasakan kesakitan itu.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.