Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

RSBI atau CIBI atau Reguler Plus? Yang mana neh?

Saturday, 24 April 2010

Viewed 2702 times, 1 times today | 57 Comments |

Cinde Laras


Itulah pertanyaan yang dilempar seorang kerabat dalam statusnya di fb. Mula-mula gak ngeh, meski agak-agak bisa meraba kalau yang dibicarakan pasti soal sekolah. Rupanya RSBI itu (seperti yang sudah kuduga) kependekan dari Rintisan Sekolah Berstandard Internasional. CIBI itu (ternyata) istilah untuk kelas akselerasi (kepanjangannya apa gak taw neh). Dan Reguler Plus untuk sekolah berstandard nasional yang ditambah dengan program unggulan lain hingga waktu belajarnya bertambah beberapa jam setiap harinya (5 hari sekolah, Sabtu libur).

Hmm…. Seorang kerabat lain mengutarakan bagaimana diskriminatifnya program RSBI itu bagi siswa tak mampu. Itu betul. Dalam sekolah yang memiliki program RSBI, memang biaya yang lumayan bunyi itu sangat diperlukan, demi terpenuhinya kelengkapan fasilitas sekolah sesuai standard internasional pada umumnya. Pasalnya, standard internasional itu belum umum dipakai semua sekolah. Maka terengah-engahlah beberapa sekolah yang ditunjuk menjadi media pelaksanaan program RSBI di banyak daerah. Terkesan memaksa, karena sangat minimnya kesiapan SDM di sekolah-sekolah tertunjuk itu, yang pastinya para pengajarnya lebih memahami cara mengajar dengan Bahasa Indonesia sebagai pengantar pelajaran (bukan Bahasa Inggris sebagaimana disyaratkan dalam kurikulum internasional).

Apa yang diusahakan DIKNAS agar para guru itu siap memakai media Bahasa Inggris dalam menghantar pelajaran di kelas ? Sepertinya cara-cara kayak perolehan sertifikasi dan pembekalan sudah mulai banyak diberikan. Tapi cukupkah upaya itu untuk membuat semua guru sekolah RSBI siap memberikan pelajaran dengan bahasa asing ? Untuk fakta bahwa otak seseorang hanya dapat dengan mudah menyerap kemampuan bahasa ibu dan bahasa asing sebelum usianya mencapai 11 tahun, kayaknya usaha membekali para guru, yang barangkali banyak yang usianya sudah melebihi angka 40 itu, akan sia-sia. Kan otak mereka sudah tak lagi fleksibel menerima bahasa asing to?

*
Ini contoh Pak S, seorang guru matematika yang notabene orang Jogja, di sebuah sekolah menengah pertama yang lumayan terkenal di Jakarta Selatan. Si guru diharuskan memakai Bahasa Inggris dalam memberikan pelajaran. Yang terjadi adalah perintah semacam ini :

“OK (dibaca= o – ke , bukan= ow – khay). Let’s open page (dibaca= pek, bukan=peij)…(mikir)…selikur ! (bs. jawa = duapuluh satu)”

Kasian betul. Gara-gara lupa angka 21 itu sebutan Inggrisnya apa, yang keluar malah Bahasa Jawa. Pasti hal itu tidak akan terjadi terlalu parah kalau memakai Bahasa Indonesia yang kian lama kian banyak menggeser fungsi bahasa daerah dalam komunikasi sehari-hari. Padahal kejadian waktu itu, terjadi ketika di sekolah itu masih berlaku program kelas bilingual, bukan kelas murni Internasional. Apa jadinya kalau sekarang si Bapak pinter yang ahli matematika ini mengajar pakai Bahasa Inggris saban harinya di kelas yang sudah RSBI ? Bisa-bisa malah mogok bicara dia. Atau malah pilih pakai bahasa tarzan ya ?

Jadi ingat sama cerita seorang kerabat yang mengatakan kalau sebuah pondok pesantren terkenal di Jawa Timur sana, di pertengahan tahun 1980-an, selalu memberi hukuman untuk setiap murid yang ketahuan memakai Bahasa Indonesia saat bicara, padahal diharuskan berbahasa Inggris. Hukumannya dengan cara disuruh ngemut daun kelapa kering (blarak) seharian. Wkekekek….. Apa iya kita mesti nyuruh si Bapak ahli matematika itu ngemut blarak juga biar Bahasa Inggrisnya lancar ? Ada-ada saja…..

Itu baru soal SDM. Ada juga kelatahan guru untuk menggunakan fasilitas sekolah. Namanya juga sekolah unggul, maka orangtua murid sampai ada yang menuntut kalau sebisa mungkin semua fasilitas yang ada harus dimanfaatkan sebesar-besarnya. Lalu terjadilah sebuah insiden ketika seorang guru Tata Boga masuk ke dalam kelas, dan menyuruh 2 orang anak lelaki untuk mengambil OHP dari ruang penyimpanan. Sampai berkeringat betul ke 2 anak itu, mendorong OHP yang rodanya seret ke dalam kelas. Begitu dipasang, ternyata OHP itu cuma mau digunakan untuk menyorot sebuah gambar….

“Anak-anak…. INI…TEKO…!”

Seluruh anak dalam kelas sampai hening. Lalu beberapa anak perempuan yang duduk di depan bereaksi dengan mulut membundar sambil berbunyi….

“OOOooo…….. “

Sementara anak-anak lelaki dalam kelas tetap bengong.

*
OK. Stop bicara soal SDM dan fasilitas sekolah. Sekarang mari kita bicara soal program CIBI atau akselerasi. Program ini sebenarnya disiapkan oleh pemerintah untuk mewadahi anak-anak jenius yang menginginkan bisa melalui masa 3 tahun pendidikan, hanya dengan menempuh 2 tahun masa belajar saja. Kurikulumnya dibuat sedemikian rupa sehingga mata pelajaran itu dipadatkan sepadat mungkin. Ada beberapa syarat yang harus dipatuhi seorang murid supaya bisa masuk ke program ini. Misalnya syarat yang mengharuskan nilai si calon murid akselerasi tak boleh kurang dari sekian-sekian, dan harus memiliki IQ serendahnya sekian-sekian.

Ada sih kemungkinan anak yang punya kriteria di bawah itu bisa masuk juga ke program akselerasi. Tapi biasanya yang begini ini akan dihantam dengan biaya yang lebih tinggi dari anak-anak lainnya. Betul-betul butuh tenaga dan pikiran (dan duit), karena si anak akan dituntut untuk bisa menyelesaikan tugas yang luar biasa berat selama menempuh pendidikan yang dipadatkan ini. Kalau yang bisa konsentrasi dan tak suka main sih gak papa. Tapi kalau anaknya masih suka santai dan main-main ya sebaiknya dipertimbangkan lagi. Karena akselerasi bukan kelas yang bisa untuk main-main. Ini kelas dengan tegangan tinggi. Tugas hariannya saja bejibun abiss… Belum makalah dan laporan ini-itu.

Ada cerita soal program akselerasi ini yang ditawarkan guru walikelas anakku waktu itu. Ketika si anak aku tawari masuk ke kelas akselerasi, si anak memberikan jawaban seperti ini :

“Ibu…. Sekolahku itu sekolah bagus…”
“Lalu ?”, tanyaku.
“Guru-guru disana itu semua bagus…”
“Lalu ?”, tanyaku lagi.
“Kalau sekolahnya bagus, guru-gurunya bagus, artinya aku akan menyia-nyiakan sisa waktu 1 tahun untuk bisa bersekolah disana kalau aku ambil kelas akselerasi. Aku mau matang dalam semua pelajaran. Aku mau menguasai apapun yang guru-guru bisa ajarkan. Kalau cuma 2 tahun, artinya belum semua ilmu bisa aku serap habis dari mereka, meski itu dipadatkan. Aku gak suka belajar pake dikejar-kejar deadline, Bu. Masak belajar pake lari ?”, jawab anakku.

Dengan pendapat penuh pertimbangan seperti ini, apa yang bisa aku perbuat kecuali memberinya kebebasan ? Alhamdulillah, anakku selesai dari SMP dengan nilai tertinggi dari seluruh 360 siswa yang ada dalam satu angkatan. Sungguh pilihan yang tepat untuknya. Dengar-dengar, setelah anak-anak seangkatan yang mengambil program akselerasi lulus dari sekolah itu, banyak yang lulusnya cuma dengan nilai pas-pasan. Bahkan ada yang harus dikatrol, karena program itu tidak boleh gagal, semua harus lulus. Jadi yang kurang pun harus diluluskan. Tapi itu yang terjadi di tahun 2007. Mungkin sekarang keadaannya sudah berbeda.

OK, ambil positifnya aja. Baik untuk pilihan kelas RSBI dan akselerasi, pertimbangan orangtua merupakan faktor kesekian dari keberhasilan anak. Yang paling penting untuk bisa sukses dari kedua program itu hanyalah niat dan semangat si anak. Kalau si anak mampu dan bersemangat untuk menempuh program itu, ya apa salahnya disupport sepenuhnya oleh orangtua. Karena bagaimana pun yang akan mengalami enak atau tidaknya ya cuma si anak itu sendiri. Bukan orangtuanya. Si orangtua paling-paling cuma kebagian “menjerit” kalau diharuskan membayar biaya sekolah yang tinggi, hehehe.

Yang jelas, lulusan RSBI diharapkan bisa berkomunikasi lebih baik dalam bahasa asing. Dan lulusan akselerasi bisa lebih cepat lulus dari kelas RSBI maupun reguler.

*
Lalu bagaimana dengan program Reguler Plus. Hehehe…, kayak mau milih french fries di resto aja. Mau pilih regular ?, apa large ? Ya..ya..ya… Kelas reguler maksudnya ya kelas biasa dengan kurikulum biasa. Yang dimaksud dengan plus disini adalah plus tambahan pelajaran unggulan seperti les bahasa dan semacamnya. Jadi jam belajarnya molor sampai beberapa waktu. Buat orangtua yang sibuk bekerja kantoran sih kayaknya program ini OK banget. Karena satu paket dengan kurikulum sekolah, artinya si anak sudah gak perlu repot-repot lagi ikutan les macam-macam di luaran. Lumayan ngirit. Apalagi beban kurikulum sekolahnya tak begitu padat seperti RSBI dan akselerasi. Kalau si anak termasuk yang suka menikmati hidup sih sebaiknya pakai program ini. Bisa lebih santai sedikit.

Masalahnya akan kembali pada kata “Plus” yang menempel di belakang kata reguler. “Plus” disini sangat berkaitan erat dengan biaya (lagi-lagi). Karena tak mungkin sekolah akan memberikan tambahan program di luar kurikulum bila tak ada biaya. Sejauh biayanya tidak tinggi sih tidak masalah. Yang menjadi persoalan adalah apabila akhirnya dengan pemberian pelajaran “Plus” ini lalu membuat orangtua siswa terbebani dengan biaya tinggi. Padahal kalau sudah niat masuk ke sekolah reguler “Plus” pasti harus menyetujui untuk juga ikut serta dalam kegiatan “Plus”. Dan itu bisa menimbulkan konflik bagi si anak murid, bila orangtuanya tidak mampu mambayar. Hanya saja, dibandingkan dengan kedua program terdahulu, sepertinya program reguler “Plus” ini agak lebih aman. Si anak akan tetap bisa mendapat pengajaran dengan jelas dalam bahasa nasional, dan tak terlalu dikekang oleh waktu.

Tapi bagaimana pun juga, semua kembali pada kemauan dan kemampuan si anak. Selebihnya, kita hanya bisa mendoakan.


Ilustrasi: isnschool, moveoneinc, eurekalert

Share This Post

Posted by Saturday, 24 April 2010 on 00:35.

Categories: Opini. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

57 Responses to “RSBI atau CIBI atau Reguler Plus? Yang mana neh?”

Pages: [6] 5 4 3 2 1 »

  1. 57
    Cindelaras Says:

    @Abdul Napudin : Thanks sudah mampir ke Baltyra, Pak. Ya, betul, CIBI adalah kependekan dari Cerdas Istimewa, Bakat Istimewa. Lepas dari keinginan para “PAKAR” di Diknas yang menyediakan wahana untuk pengembangan anak-anak berkepandaian dan berbakat istimewa, keberadaan CIBI memang cukup banyak dipertanyakan. Kasus yang terjadi di sebuah SMP negeri terbaik di kawasan Jakarta Selatan untuk kelas ‘akselerasi’ memberikan pengalaman yang lumayan membuat dahi berkerut. Memang secara persyaratan (karena saat itu merupakan program baru – belum dinyatakan menjadi program CIBI), sekolah hanya akan memberikan kesempatan pada murid untuk bergabung dengan kelas akselerasi ini dengan kondisi tertentu seperti minimum memiliki nilai sekian-sekian dan IQ sekian-sekian. Barangkali secara ‘teknis’ menurut psikolog, si anak akan dapat mengampu mata pelajaran yang jumlahnya lebih banyak daripada anak-anak reguler. Tapi kita jangan hanya bertumpu pada kemampuan anak untuk menyerap pelajaran lebih banyak, sebagai orangtua, kita harus menyadari bahwa setiap anak seharusnya juga dilatih untuk bersosialisasi dengan anak-anak lain dengan environment yang normal. Dengan banyaknya muatan yang harus mereka pelajari, sangat mungkin waktu mereka untuk bersosialisasi itu berkurang. Sedangkan mata pelajaran yang dipadatkan akan sangat memungkinkan si anak mengalami stress dengan gejala anti sosial dan sensitif (mudah marah, mudah murung, uring-uringan, dsb).
    Memang sudah seharusnya tidak boleh dipaksakan juga bukan untuk ajang gagah-gagahan, peran orangtua haruslah bisa memberi ruang bagi si anak untuk menentukan apa yang diinginkannya, karena si anaklah yang nantinya akan menjalani dan menerima hasil dari keputusannya mengambil program CIBI.
    Masalahnya, tentunya sekolah yang menjalankan program ini pasti mempunyai batasan jumlah minimum murid dalam kelas, setahu saya jumlah minimumnya 20 anak. Dengan hanya 20 anak di program CIBI, pastinya perlu sangat banyak biaya (karena pasti memakai buku dan guru yang khusus, tidak sama dengan kelas reguler, apalagi pelajarannya dipadatkan). Bila di sekolah negeri saja akhirnya diperlukan biaya yang luar-biasa banyak (untuk ukuran masyarakat menengah ke bawah), bagaimana dengan sekolah swasta yang tidak mendapatkan subsidi dari negara ? Pasti jumlah biaya yang harus ditanggung orangtua akan jauh lebih banyak. Nyatanya, sejauh ini program ini hanya dipilih oleh anak-anak yang orangtuanya mampu secara finansial, tidak menyentuh siswa miskin. Ini yang tidak disetujui banyak orang. Pendidikan yang memihak.
    Pertanyaannya : “Apakah program CIBI hanya untuk anak-anak cerdas dari kalangan yang berpunya ?”.
    Kalau program ini cuma untuk menjaring anak-anak orang kaya, mendingan program ini dibubarin aja. Pendidikan sudah dijamin oleh negara untuk bisa diberikan pada semua orang, bukan dari satu kalangan tertentu.
    Itu baru soal biaya, belum lagi soal mutu ajar guru dan jaminan keberhasilan program CIBI ini bagi si anak. Bukan tidak mungkin, dengan alasan jumlah minimum siswa kelas yang harus ada, sekolah lalu lebih banyak memberikan kelonggaran pada anak dengan mentolerir kekurangannya (seharusnya yang nilainya tidak stabil hingga berada di bawah syarat minimum kelas akselerasi segera dipindahkan ke kelas reguler).

  2. 56
    abdul napudin Says:

    CIBI singkatan dari Cerdas istimewa dan Berbakat Istimewa, hanya merupakan suatu program pelayanan, tidak untuk dipaksakan atau untuk gagahan sekolah maupun orangtua, guru dan psikolog harus benar-benar sesuai dalam penentuan siswa aksel.

  3. 55
    ilhampst Says:

    Jaman kuliah dulu nyambi bantu2 jadi programmer n teknisi benerin komputer. Lumayan juga duitnya buat jajan atau beli buku2 yang diincar. Maklum anak kosan, rekening masih dikontrol, kalo overbudget bakal kena semprot hihi.
    Sekarang mau kuliah aja mahal banget ya? Kampus2 bagus makin tak terjangkau. Mau ambil S2 dengan biaya sendiri belum sanggup. Ngejar beasiswa juga perlu modal gak sedikit buat test TOEFL/IELTS, akomodasi, transportasi dan lain sebagainya. Mangkel jadinya sama orang yang udah punya kesempatan kuliah di univ2 bagus tanpa harus mikir biaya tapi disia2kan.

  4. 54
    Cindelaras Says:

    @All : Zzzzz……. Pokoke kalo mau segala keadaan berubah, ayo siapa yang mau daftar jadi Capres/Cawapres/menteri/anggota DPR ? Kalo berani ayo maju ! Aku dukung sejauh sesuai dengan hati nuraniku wis…. Siapapun sampeyan kalo ada yang mau ikutan makili kita-kita supaya negeri ini berubah, ayo aja Jadi tukang ndelok (kedel alok) di pinggiran gak ada yang rewes. Ayo majuuuu……!

  5. 53
    nevergiveupyo Says:

    tante CL : untung jaman saya dulu belum disuruh milih2 ya…. cb klo disuruh milih… (tetep aja entahlah…hihihihi. tapi sepertinya pilihan saya ga beda dengan anak tante, hanya saja reson-nya yg beda -biar bisa lbh banyak dolan2 hahaha)

  6. 52
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    Elnino, Tuh ‘khan… betul ‘khan apa kata Rudy?

  7. 51
    J C Says:

    Elnino: itulah contoh yang gak perlu sekolah nganeh-nganehi, tapi bisa menelincitkan diri sendiri…

Pages: [6] 5 4 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)