<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: RSBI atau CIBI atau Reguler Plus? Yang mana neh?</title>
	<atom:link href="http://baltyra.com/2010/04/24/rsbi-atau-cibi-atau-reguler-plus-yang-mana-neh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://baltyra.com/2010/04/24/rsbi-atau-cibi-atau-reguler-plus-yang-mana-neh/</link>
	<description>gloBAL communiTY nusantaRA</description>
	<lastBuildDate>Sun, 12 Feb 2012 14:04:49 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<item>
		<title>By: Cindelaras</title>
		<link>http://baltyra.com/2010/04/24/rsbi-atau-cibi-atau-reguler-plus-yang-mana-neh/comment-page-6/#comment-59986</link>
		<dc:creator>Cindelaras</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Jun 2010 00:13:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://baltyra.com/?p=19841#comment-59986</guid>
		<description>@Abdul Napudin : Thanks sudah mampir ke Baltyra, Pak. Ya, betul, CIBI adalah kependekan dari Cerdas Istimewa, Bakat Istimewa. Lepas dari keinginan para &quot;PAKAR&quot; di Diknas yang menyediakan wahana untuk pengembangan anak-anak berkepandaian dan berbakat istimewa, keberadaan CIBI memang cukup banyak dipertanyakan. Kasus yang terjadi di sebuah SMP negeri terbaik di kawasan Jakarta Selatan untuk kelas &#039;akselerasi&#039; memberikan pengalaman yang lumayan membuat dahi berkerut. Memang secara persyaratan (karena saat itu merupakan program baru - belum dinyatakan menjadi program CIBI), sekolah hanya akan memberikan kesempatan pada murid untuk bergabung dengan kelas akselerasi ini dengan kondisi tertentu seperti minimum memiliki nilai sekian-sekian dan IQ sekian-sekian. Barangkali secara &#039;teknis&#039; menurut psikolog, si anak akan dapat mengampu mata pelajaran yang jumlahnya lebih banyak daripada anak-anak reguler. Tapi kita jangan hanya bertumpu pada kemampuan anak untuk menyerap pelajaran lebih banyak, sebagai orangtua, kita harus menyadari bahwa setiap anak seharusnya juga dilatih untuk bersosialisasi dengan anak-anak lain dengan environment yang normal. Dengan banyaknya muatan yang harus mereka pelajari, sangat mungkin waktu mereka untuk bersosialisasi itu berkurang. Sedangkan mata pelajaran yang dipadatkan akan sangat memungkinkan si anak mengalami stress dengan gejala anti sosial dan sensitif (mudah marah, mudah murung, uring-uringan, dsb).
Memang sudah seharusnya tidak boleh dipaksakan juga bukan untuk ajang gagah-gagahan, peran orangtua haruslah bisa memberi ruang bagi si anak untuk menentukan apa yang diinginkannya, karena si anaklah yang nantinya akan menjalani dan menerima hasil dari keputusannya mengambil program CIBI. 
Masalahnya, tentunya sekolah yang menjalankan program ini pasti mempunyai batasan jumlah minimum murid dalam kelas, setahu saya jumlah minimumnya 20 anak. Dengan hanya 20 anak di program CIBI, pastinya perlu sangat banyak biaya (karena pasti memakai buku dan guru yang khusus, tidak sama dengan kelas reguler, apalagi pelajarannya dipadatkan). Bila di sekolah negeri saja akhirnya diperlukan biaya yang luar-biasa banyak (untuk ukuran masyarakat menengah ke bawah), bagaimana dengan sekolah swasta yang tidak mendapatkan subsidi dari negara ? Pasti jumlah biaya yang harus ditanggung orangtua akan jauh lebih banyak. Nyatanya, sejauh ini program ini hanya dipilih oleh anak-anak yang orangtuanya mampu secara finansial, tidak menyentuh siswa miskin. Ini yang tidak disetujui banyak orang. Pendidikan yang memihak.
Pertanyaannya : &quot;Apakah program CIBI hanya untuk anak-anak cerdas dari kalangan yang berpunya ?&quot;. 
Kalau program ini cuma untuk menjaring anak-anak orang kaya, mendingan program ini dibubarin aja. Pendidikan sudah dijamin oleh negara untuk bisa diberikan pada semua orang, bukan dari satu kalangan tertentu.
Itu baru soal biaya, belum lagi soal mutu ajar guru dan jaminan keberhasilan program CIBI ini bagi si anak. Bukan tidak mungkin, dengan alasan jumlah minimum siswa kelas yang harus ada, sekolah lalu lebih banyak memberikan kelonggaran pada anak dengan mentolerir kekurangannya (seharusnya yang nilainya tidak stabil hingga berada di bawah syarat minimum kelas akselerasi segera dipindahkan ke kelas reguler).</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@Abdul Napudin : Thanks sudah mampir ke Baltyra, Pak. Ya, betul, CIBI adalah kependekan dari Cerdas Istimewa, Bakat Istimewa. Lepas dari keinginan para &#8220;PAKAR&#8221; di Diknas yang menyediakan wahana untuk pengembangan anak-anak berkepandaian dan berbakat istimewa, keberadaan CIBI memang cukup banyak dipertanyakan. Kasus yang terjadi di sebuah SMP negeri terbaik di kawasan Jakarta Selatan untuk kelas &#8216;akselerasi&#8217; memberikan pengalaman yang lumayan membuat dahi berkerut. Memang secara persyaratan (karena saat itu merupakan program baru &#8211; belum dinyatakan menjadi program CIBI), sekolah hanya akan memberikan kesempatan pada murid untuk bergabung dengan kelas akselerasi ini dengan kondisi tertentu seperti minimum memiliki nilai sekian-sekian dan IQ sekian-sekian. Barangkali secara &#8216;teknis&#8217; menurut psikolog, si anak akan dapat mengampu mata pelajaran yang jumlahnya lebih banyak daripada anak-anak reguler. Tapi kita jangan hanya bertumpu pada kemampuan anak untuk menyerap pelajaran lebih banyak, sebagai orangtua, kita harus menyadari bahwa setiap anak seharusnya juga dilatih untuk bersosialisasi dengan anak-anak lain dengan environment yang normal. Dengan banyaknya muatan yang harus mereka pelajari, sangat mungkin waktu mereka untuk bersosialisasi itu berkurang. Sedangkan mata pelajaran yang dipadatkan akan sangat memungkinkan si anak mengalami stress dengan gejala anti sosial dan sensitif (mudah marah, mudah murung, uring-uringan, dsb).<br />
Memang sudah seharusnya tidak boleh dipaksakan juga bukan untuk ajang gagah-gagahan, peran orangtua haruslah bisa memberi ruang bagi si anak untuk menentukan apa yang diinginkannya, karena si anaklah yang nantinya akan menjalani dan menerima hasil dari keputusannya mengambil program CIBI.<br />
Masalahnya, tentunya sekolah yang menjalankan program ini pasti mempunyai batasan jumlah minimum murid dalam kelas, setahu saya jumlah minimumnya 20 anak. Dengan hanya 20 anak di program CIBI, pastinya perlu sangat banyak biaya (karena pasti memakai buku dan guru yang khusus, tidak sama dengan kelas reguler, apalagi pelajarannya dipadatkan). Bila di sekolah negeri saja akhirnya diperlukan biaya yang luar-biasa banyak (untuk ukuran masyarakat menengah ke bawah), bagaimana dengan sekolah swasta yang tidak mendapatkan subsidi dari negara ? Pasti jumlah biaya yang harus ditanggung orangtua akan jauh lebih banyak. Nyatanya, sejauh ini program ini hanya dipilih oleh anak-anak yang orangtuanya mampu secara finansial, tidak menyentuh siswa miskin. Ini yang tidak disetujui banyak orang. Pendidikan yang memihak.<br />
Pertanyaannya : &#8220;Apakah program CIBI hanya untuk anak-anak cerdas dari kalangan yang berpunya ?&#8221;.<br />
Kalau program ini cuma untuk menjaring anak-anak orang kaya, mendingan program ini dibubarin aja. Pendidikan sudah dijamin oleh negara untuk bisa diberikan pada semua orang, bukan dari satu kalangan tertentu.<br />
Itu baru soal biaya, belum lagi soal mutu ajar guru dan jaminan keberhasilan program CIBI ini bagi si anak. Bukan tidak mungkin, dengan alasan jumlah minimum siswa kelas yang harus ada, sekolah lalu lebih banyak memberikan kelonggaran pada anak dengan mentolerir kekurangannya (seharusnya yang nilainya tidak stabil hingga berada di bawah syarat minimum kelas akselerasi segera dipindahkan ke kelas reguler).</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: abdul napudin</title>
		<link>http://baltyra.com/2010/04/24/rsbi-atau-cibi-atau-reguler-plus-yang-mana-neh/comment-page-6/#comment-59745</link>
		<dc:creator>abdul napudin</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Jun 2010 06:50:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://baltyra.com/?p=19841#comment-59745</guid>
		<description>CIBI singkatan dari Cerdas istimewa dan Berbakat Istimewa, hanya merupakan suatu program pelayanan, tidak untuk dipaksakan atau untuk gagahan sekolah maupun orangtua, guru dan psikolog harus benar-benar sesuai dalam penentuan siswa aksel.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>CIBI singkatan dari Cerdas istimewa dan Berbakat Istimewa, hanya merupakan suatu program pelayanan, tidak untuk dipaksakan atau untuk gagahan sekolah maupun orangtua, guru dan psikolog harus benar-benar sesuai dalam penentuan siswa aksel.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ilhampst</title>
		<link>http://baltyra.com/2010/04/24/rsbi-atau-cibi-atau-reguler-plus-yang-mana-neh/comment-page-5/#comment-43341</link>
		<dc:creator>ilhampst</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Apr 2010 08:56:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://baltyra.com/?p=19841#comment-43341</guid>
		<description>Jaman kuliah dulu nyambi bantu2 jadi programmer n teknisi benerin komputer. Lumayan juga duitnya buat jajan atau beli buku2 yang diincar. Maklum anak kosan, rekening masih dikontrol, kalo overbudget bakal kena semprot hihi.
Sekarang mau kuliah aja mahal banget ya? Kampus2 bagus makin tak terjangkau. Mau ambil S2 dengan biaya sendiri belum sanggup. Ngejar beasiswa juga perlu modal gak sedikit buat test TOEFL/IELTS, akomodasi, transportasi dan lain sebagainya. Mangkel jadinya sama orang yang udah punya kesempatan kuliah di univ2 bagus tanpa harus mikir biaya tapi disia2kan. :(</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Jaman kuliah dulu nyambi bantu2 jadi programmer n teknisi benerin komputer. Lumayan juga duitnya buat jajan atau beli buku2 yang diincar. Maklum anak kosan, rekening masih dikontrol, kalo overbudget bakal kena semprot hihi.<br />
Sekarang mau kuliah aja mahal banget ya? Kampus2 bagus makin tak terjangkau. Mau ambil S2 dengan biaya sendiri belum sanggup. Ngejar beasiswa juga perlu modal gak sedikit buat test TOEFL/IELTS, akomodasi, transportasi dan lain sebagainya. Mangkel jadinya sama orang yang udah punya kesempatan kuliah di univ2 bagus tanpa harus mikir biaya tapi disia2kan. <img src="http://baltyra.com/wp-content/plugins/wp-smiley-switcher/noktahhitam/icon_sad.gif" alt="" /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Cindelaras</title>
		<link>http://baltyra.com/2010/04/24/rsbi-atau-cibi-atau-reguler-plus-yang-mana-neh/comment-page-5/#comment-43339</link>
		<dc:creator>Cindelaras</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Apr 2010 08:49:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://baltyra.com/?p=19841#comment-43339</guid>
		<description>@All : Zzzzz....... Pokoke kalo mau segala keadaan berubah, ayo siapa yang mau daftar jadi Capres/Cawapres/menteri/anggota DPR ? Kalo berani ayo maju ! Aku dukung sejauh sesuai dengan hati nuraniku wis.... Siapapun sampeyan kalo ada yang mau ikutan makili kita-kita supaya negeri ini berubah, ayo aja :D Jadi tukang ndelok (kedel alok) di pinggiran gak ada yang rewes. Ayo majuuuu......!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@All : Zzzzz&#8230;&#8230;. Pokoke kalo mau segala keadaan berubah, ayo siapa yang mau daftar jadi Capres/Cawapres/menteri/anggota DPR ? Kalo berani ayo maju ! Aku dukung sejauh sesuai dengan hati nuraniku wis&#8230;. Siapapun sampeyan kalo ada yang mau ikutan makili kita-kita supaya negeri ini berubah, ayo aja <img src="http://baltyra.com/wp-content/plugins/wp-smiley-switcher/noktahhitam/icon_biggrin.gif" alt="" /> Jadi tukang ndelok (kedel alok) di pinggiran gak ada yang rewes. Ayo majuuuu&#8230;&#8230;!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: nevergiveupyo</title>
		<link>http://baltyra.com/2010/04/24/rsbi-atau-cibi-atau-reguler-plus-yang-mana-neh/comment-page-5/#comment-43328</link>
		<dc:creator>nevergiveupyo</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Apr 2010 08:21:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://baltyra.com/?p=19841#comment-43328</guid>
		<description>tante CL : untung jaman saya dulu belum disuruh milih2 ya.... cb klo disuruh milih... (tetep aja entahlah...hihihihi. tapi sepertinya pilihan saya ga beda dengan anak tante, hanya saja reson-nya yg beda -biar bisa lbh banyak dolan2 hahaha)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>tante CL : untung jaman saya dulu belum disuruh milih2 ya&#8230;. cb klo disuruh milih&#8230; (tetep aja entahlah&#8230;hihihihi. tapi sepertinya pilihan saya ga beda dengan anak tante, hanya saja reson-nya yg beda -biar bisa lbh banyak dolan2 hahaha)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

