Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Ribut-ribut Jupe & Maria Eva di Pilkada

Monday, 26 April 2010

Viewed 4070 times, 1 times today | 101 Comments |

Anoew – SumSel

Ribut-ribut di pilkada Pacitan dan Sidoarjo belakangan ini gara-gara calonnya dianggap nggak layak, kok saya jadi heran ya?! Memangnya mereka itu bukan WNI? Setahu saya setiap warga Negara Indonesia berhak mencalonkan diri jadi pemimpin daerah, lepas dari segala sepak terjangnya di masa lalu. Hanya, tinggal sikap para pemilihnya saja nanti yang akan menentukan, apakah calon tersebut layak atau nggak layak dipilih. Gitu aja kok repot.

Siapa yang nggak tau Julia Perez (Jupe) yang dikenal sangat pemurah karena suka mempertontonkan kelebihan dadanya dan sering berpose seksi? Siapa pula yang nggak kenal Maria Eva yang suka tertawa renyah dan bertingkah jahil sewaktu video mesumnya beredar luas? Tapi apakah dengan begitu, mereka nggak punya hak untuk mencalonkan diri menjadi pemimpin?

Dear Baltyrans,

Menurut saya, adanya revisi aturan daerah yang melarang seseorang pernah berbuat zina atau melakukan perbuatan mesum baik berupa photo maupun video, terkesan buru-buru dan dipaksakan. Pemerintah membungkusnya dengan kemasan manis, yaitu persyaratan mengenai cacat moral yang dicantumkan dalam draf revisi UU 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah dan akan segera diajukan ke DPR pada Juni 2010. Malah Mendagri Gamawan Fauzi memastikan bahwa artis yang senang berfoto seksi-merangsang dan pernah melakukan zinah nggak dapat ikut pilkada.

Mengapa mereka sepanik itu? Apakah para pembuat RUU itu juga bebas dari cacat moral dan bersih dari perzinahan? Apakah mereka-mereka yang sudah jadi pejabat / politikus pun bersih dari zinah dan perselingkuhan?

Saya nggak kenal dengan Julia Perez maupun Maria Eva, apalagi disuruh nulis artikel ini. Tapi ini murni dari rasa keheranan saja mengapa pemerintah atau mereka yang “berkepentingan” kok seperti kebakaran jenggot bila kedua artis ini mencalonkan diri menjadi kepala daerah. Biarkan saja, toh nanti hasil akhir ada di tangan pemilih, kan?! Jangan remehkan rakyat yang sudah cerdas ini, mereka tentu akan memilih calon pemimpin mereka dari sudut mana untuk layak dipilih.

Coba saya berandai-andai kalau Jupe terpilih jadi wakil bupati Pacitan (tempat lahirnya presiden SBY), waaaah… siapa tau nantinya perfilman nasional khususnya genre horor bisa naik daun, mengingat dia pernah membintangi film yang berjudul “Hantu Jamu Gendong”. Atau, malah kemungkinan dunia rekaman jadi booming dan mencetak album-album sejenis “Belah Duren” yang pernah dinyanyikannya..

Klaim dari masing-masing calon di atas adalah bahwa mereka sudah mendapatkan dukungan dari partai-partai dan bahkan, ngakunya malah sudah mengunjungi daerah masing-masing jika kelak terpilih jadi pemimpin bukan jaminan mutlak bahwa yang bersangkutan telah resmi dicalonkan.Hm, jadi ingat dulu Ayu Azhari juga sempat pengen maju jadi calon kepala daerah Sukabumi, tapi gagal karena nggak dapat dukungan dari partai gara-gara latar belakangnya yang suka buka-bukaan. Jupe, Maria Eva dan Ayu Azhari sejauh ini dikenal sebagai artis yang identik dengan pornografi dan pornoaksi, yang sudah berbuat amal tapi nggak semestinya. Lha iya dong, berbuat amal kok dengan cara membiarkan auratnya ditonton sama siapa saja…?!

Mungkin semangat mereka ini termotivasi dari keberhasilan artis lain yang sudah lebih dulu berhasil duduk sebagai birokrat seperti wakil bupati Garut Diky Candra, wakil bupati Tangerang Rano Karno dan DedeYusuf sebagai wakil Gubernur Jawa Barat. Tapi tunggu dulu.., kalau beliau-beliau ini kan sudah terbukti sebelumnya mempunyai pengalaman organisasi dan juga bersih dari skandal. Lebih penting lagi adalah, kharisma dan “harga jual” positif yang mereka tawarkan ke masyarakat bisa diterima secara luas, nggak hanya di kalangan tertentu saja yang menyukai buka-bukaan dan desah erotis.

Tapi ada juga anggapan dari sebagian masyarakat bahwa keikutsertaan Jupe dan Maria Eva ini lebih karena asas manfaat yang dipakai oleh para pengurus partai dan tim sukses di daerah untuk mengangkat popularitas calonnya. Terbukti kemarin di acara dialog metrotv yang menghadirkan Sekjen PAN dan Jupe yang dihubungi via telepon, bahwa Sekjen tersebut membantah bahwa partainya telah merestui Jupe untuk ikut pilkada. Nah…! Lantas dijawab Jupe bahwa, pencalonan dirinya itu adalah berkat dari dukungan DPC yang berada di daerah. Walaaah…., kasihan deh (loe).

Cukup tentang Jupe, sekarang Maria Eva. Buat yang belum tau, dia ini adalah pedangdut yang dikabarkan pernah menjadi pelaku video porno dengan anggota FPG DPR RI sekitar empat tahun yang lalu. Sekarang entah mengapa Maria Eva muncul dengan penuh semangat seolah pengen menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru dengan masuk bursa calon pilkada Sidoarjo. Malah dia membantah kalau pernah melakukan zina atau selingkuh dengan mengakui bahwa saat itu dirinya berstatus istri siri dan itu merupakan masalah pribadi. Okelah kalau begitu, tapi karena rekaman videonya sempat tersebar itulah, cap miring terlanjur melekat.

Meskipun sudah menyelesaikan kuliah S2 dan mengaku punya banyak pengalaman berorganisasi, bukan berarti cap negatif itu bisa hilang begitu saja. Atau mungkin Maria Eva merasa mendapat dukungan dari adiknya yang merupakan pengurus PAN Sidoarjo sedangkan dia sendiri juga AMPI Golkar.

Tapi jangan anggap remeh pandangan masyarakat karena semanis apapun kata mereka ke masyarakat apabila mereka lebih mengerti tentang sisi buruk dari seseorang, maka kemungkinan akan di-cap sebagai sesuatu yang nggak baik. Anehnya dari partai pengusungnya itu, mengapa harus mencari rating yang tinggi dengan hanya menjual tampang dan keartisan saja, bukan dari sisi inteligent dan kepribadian yang baik demi mendukung pembangunan kota ke arah yang lebih baik? Sekali lagi, juga bukan berarti bahwa pemerintah harus menghalang-halangi langkahnya untuk maju sebagi calon pemimpin, kan?!

Lepas dari sisi buruk atau masa lalu atau cap negatif dari masyarakat dan sebagainya dan sebagainya…, kalau saya kok malah beranggapan bahwa Jupe dan Maria Eva ini sebenarnya sudah layak dan pantas jadi pemimpin lhooo. Kenapa? Karena mereka sudah pinter nge-les dengan menyangkal dan berkelit sana-sini untuk menghadapi pertanyaan dan tuduhan dari masyarakat. Dan itu adalah ciri-ciri yang sudah melekat erat pada politikus. Hehehe… lanjutkan!

Salam mentul-mentul.

Share This Post

Posted by Monday, 26 April 2010 on 00:13.

Categories: Ekonomi & Politik. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

101 Responses to “Ribut-ribut Jupe & Maria Eva di Pilkada”

Pages: [11] 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 »

  1. 101
    Kornelya Says:

    Pa Iwan, Demokrasi adalah organ vital kapitalis. Salam!!

Pages: [11] 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)