Dalam Diam Aku Menyayangimu (Part 1)

Rosda

Melewati gang itu, di ujung sana..aku tau, ku kan bertemu denganmu. Dengan seragammu, dengan rokok di antara jari telunjuk dan jari tengahmu……dengan rambutmu yang selalu basah, dengan postur tubuhmu yang tinggi dan atletik. Rahangmu terlihat kokoh….dan bila kau tersenyum, gigi rapimu akan menambah daya tarik tersendiri.

Jarak sepuluh meter sebelum aku sampai di ujung gang, jantungku berdebar-debar…..

Aku berusaha sekuat tenaga agar terlihat wajar. Tenang…tenang…kataku dalam hati pada diri sendiri.

“Hai..kok sendirian ? Mana yang lain ?”

Aku hanya tersenyum. Meneruskan langkahku. Linda hari ini nggak muncul. Ratih, aku nggak tau keberadaannya, entah sudah berangkat deluan atau justru belum muncul.

“Duh sombongnya…kok nggak mau njawab sih ?”

Ehem…ehem…terdengar suara-suara teman-temanmu yang juga temanku. Ada Bang Iyal, Yetno, Adi, Kak Ida, Kak Sri dan entah siapa lagi. Semua kita akan berangkat ke sekolah masing-masing.

Sekolah kalian lebih jauh dari sekolahku, so kalian harus naik angkot. Beda denganku, angkot ogah dinaiki anak SMP karena ongkosnya murah. Mending mereka ambil anak SMA atau pekerja kantoran, ongkosnya lebih mahal.

Aku berjalan menyusuri pinggir jalan….tak lama aku bertemu denga Lely, teman ku sejak kelas 1 SD. Melangkah bersama Lely sangat menyenangkan. Dia rajin bicara. Membicarakan apa saja sepanjang perjalanan kami menuju sekolah. Dia juga akrab dengan guru-guru kami. Hari ini dia membicarakan tentang kegiatannya di PRAMUKA (Praja Muda Karana). Dia akan ikut Jambore di Cibubur.

Aku juga ikut Pramuka, tapi hanya di lingkungan asrama kami. Ayahku seorang tentara, yang juga seorang kakak pembina. Sedangkan Lely ikut Pramuka di sekolah kami.

Semakin dekat kami ke sekolah, semakin banyak teman-teman yang muncul…ada yang tiga orang jalan beriringan, ada yang empat orang, semua penuh semangat.

Kelasku terletak pas di pinggir jalan raya. Walaupun berpagar tembok tinggi, karena letak badan jalan lebih tinggi daripada sekolahku maka aku bisa melihat dengan jelas orang lalu lalang di jalanan itu. Kebetulan aku duduk di pinggir dekat jendela.

Dan…

Kira-kira jam sepuluh, aku melihatmu. Aku kaget karena engkau juga sedang melihat ke arahku, tersenyum. Ya ampunnn…pasti anak itu cabut. Betapa bandelnya dia. Seharusnya dia ada di dalam kelas pada jam-jam segini. Ku kerutkan keningku menatapmu. Tapi engkau tetap tersenyum. Kugerakkan kepalaku menyuruhmu pergi. Sesaat kau tetap saja di sana sambil tetap tersenyum…dan setelah aku mendelikkan mataku, engkaupun berlalu.

Sepulang sekolah, sebelum melewati rumahmu, aku melihat engkau dan Ratih bercanda-cindi. Andai saja bisa, aku ingin menghindar….tak ingin melihat Ratih tertawa-tawa manja. Tapi tak ada jalan lain, mau tak mau aku harus menuju tempat dimana kalian bercanda. Yang membuat aku heran, kenapa kalian berdiri di situ ? Di gang yang merupakan sarana satu-satunya menuju rumahku ? Bukankah kalian bisa nongkrong di warung Wak Lamrik dekat situ ?? Sehingga aku bisa pura-pura tak melihat kalian ??

Aku yang terbiasa jalan menunduk menghindari sinar matahari, semakin menundukkan wajahku. Semakin dekat, aku bisa mendengar suara Ratih. Dia ingin kau ikut dengannya menghadiri pesta ulang tahun temannya. Tapi engkau tak bisa memastikannya apakah bisa ikut atau tidak. Ratih merengek-rengek meminta agar kau mau menemaninya.

“Sudah pulang ? Aku antar sampai rumah ya ?” Engkau menjajari langkahku.

“Nggak usah ahh..”

“Ros, ikut ulang tahun ke rumah teman yuk nanti sore ” Ratih mengajakku.

“Nggak ahh Rat….aku mau main volley nanti ” kataku

“Oh ya Rat…aku juga nggak bisa ikut, aku juga mau main volley nanti sore ” katamu pada Ratih.

“Ahhh..payah lah kalian…nggak bisa diajak bersenang-senang ” Ratih tampak kecewa.

Bertiga kita jalan beriringan, engkau di tengah, aku dan Ratih dikiri kananmu. Aku mencoba memperlambat langkahku atau mempercepatnya tapi engkau selalu berusaha agar kita tetap seiring sejalan. Sungguh keadaan yang aku tidak suka. Cemburukah aku pada Ratih ??

Tak lama, Ratih belok ke arah kiri menuju rumahnya. Tapi kenapa engkau tak belok juga ?? Bukankah rumahmu searah dengan rumah Ratih ??

“Kok nggak belok ?”

“Aku ingin menemanimu”

“Aku bisa pulang sendirian…kenapa tadi cabut ?” Aku tak dapat menahan rasa ingin tau ku.

“Nggak ada guru, jadi ngapain kami di kelas. Ada kawan ngajak cabut, ya solider ama teman lah…ikut cabut juga”

“Ohh..gitu ? Hebat juga ya ? Jadi kalau teman kita ke laut, kita ikut ke laut juga ?”

Engkau tertawa…mungkin sesuatu yang membahagiakan bagimu melihat aku seperti itu.


(bersambung)

Ilustrasi: aynithing wordpress


Note Redaksi:

Selamat datang, Rosda. Terima kasih kesediaannya berbagi di sini…semoga berikutnya akan ada terus tulisan-tulisan indah untuk berbagi di sini…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.