Nti: Brain-Beauty-Behaviour

Alexa – Jakarta

Pengantar:

Ternyata sedikit ceritaku tentang Nti dalam http://baltyra.com/2010/04/11/rasa-yang-getir/ mendapat response dari teman-teman Baltyran sekalian sehingga membuatku  mengenang interaksi selama ini dengan Nti. Nti itu panggilan asli di rumahnya – adapun namanya bisa saja Tanti, Santi, Panti, Danti, Meranti, dll (silahkan ditebak sendiri), marganya sama dengan marga Redaksi Serpong.

Perkenalan Pertama

Kami  sama-sama baru lulus dari MDP Bank itu (beda angkatan), ditempatkan sebagai AO pada branch yang berbeda di Region Selatan. Sebagaimana aku pernah singgung sedikit, Nti itu keturunan Cina-Betawi, lulusan suatu Business School di Filipina.

Orangnya kalem banget, sosoknya tinggi, langsing berkulit putih dan bermata bulat. Rambutnya yang bertekstur sangat halus dan cenderung tipis dipotong model bob berponi kek Dora itu. Mukanya yang bulat dengan pipi yang halus dan cenderung chubby membuat aku terkadang mencolek pipinya, secara keseluruhan dia cantik – bukan cantik yang spektakuler tapi cantik yang menghanyutkan.

Begitu menghanyutkan sehingga sang BM (yang keturunan China Semarang dan biasa dipanggil Bambit)  di mana Nti ditempatkan juga jadi naksir, BM ini termasuk kategori bujang lapuk – menjelang 40 tahun belum juga punya gandengan.

Dan karena waktu itu aku jadi Pjs BM, gara-gara BMku cuti hamil tiga bulan lebih maka aku jadi sering mengikuti proses PeDeKaTe sang BM. Tiap seminggu sekali ada meeting BM di Region Selatan di mana di region ini Bambit jadi satu-satunya BM yang keturunan Cina. Nah tiap miting itu pasti semua BM menanyakan perkembangan PDKT Bambit, tapi dasarnya Bambit itu bener-bener tersepona ama Nti maka dia malah gak action apa-apa – lidahnya kelu tiap di depan Nti hingga dia cuman bisa memendam rasa. Lucu juga melihat kekompakan para BM, soalnya semua urun rembuk mengajari Bambit.

Proses no progress ini berakhir saat Nti dipindahkan ke branch lain yang dipimpin Togar si Teger (keturunan Batak sih). Bang Togar langsung mengambil alih pendekatan demi kepentingan Bambit, nyaris tiap sore Nti diajak ketemu klien dan sengaja selesai agak malem trus diajak makan malam ama Bang Togar di mana ternyata udah ada Bambit disitu. Pulangnya Bang Togar berdalih rumahnya beda jurusan dengan Nti maka Bambit diminta mengantar Nti. Berkali-kali begitu hingga dirasa cukup pengenalan, akhirnya Bang Togar juga yang nembak Nti atas nama Bambit. Singkat kata akhirnya Nti dan Bambit menikah.

Sama-sama Menjadi BM

Tak lama kemudian aku dan Nti diangkat jadi BM – aku di Kebayoran Lama, Nti di Permata Hijau, dekat banget khan… Kedekatan lokasi itu akhirnya yang membuat kami rajin saling mengunjungi, mo rapat ke Region Office bareng, mo bikin Anggaran bareng, saling meminjamkan anak buah jika anak buah yang lain enggak masuk, saling  setor atau ngebon uang cabang daripada ke Region Office.

Nah disitu aku amati Nti itu sangat halus unggah-ungguhnya dan benar-benar nguwongke uwong (memanusiawikan manusia).  Dia selalu membantu menangani  kerjaan bagian operasional – padahal khan sudah ada yang ngerjain tho. Yang lebih “parah” dia juga mengerjakan pengisian ATM…lah gara-gara gitu, aku juga jadi penasaran dan belajar ngisi ATM. Ngisi ATM itu ribet banget…pertama-tama nyiapin uangnya dulu, masukin ke kotak, biasanya kotak uang ATM berkisar antara 2 s/d 5 lapis.

Habis itu masuk ke ruang ATM dan buka mesin ATM –hati-hati salah putar nomor kombinasi maka prosedure putar harus diulang (nomor kombinasi diganti tiap bulan), trus kita harus mengakhiri lembar rekam transaksi, mengambil kotak lama dan uang-uang yang mental2 dan gagal tarik. Baru deh kita masukin kotak-kotak baru, ganti gulungan struk, setup posisi dan aktivasi kembali. Penderitaan akan bertambah jika AC di ruangan ATM mati.

Dia selalu memanggil para Ka.Bagnya dengan panggilan Mbak/ Mas (sementara aku dan teman-teman biasanya cukup memanggil nama) dan memang sudah adatnya para Ka.Bag dibawah BM memanggil atasannya dengan kata Mbak/Mas…Makanya Nti suka digodaiin sama yang lain,” Kamu manggil dia Mbak, dia manggil kamu Mbak…trus yang dipanggil Dhe siapa? Cape deh…”, Nti thak bergeming dengan kebiasaannya.

Gara-gara Nti aku jadi rajin belajar transaksi operasional tapi aku enggak bisa seintense dia terjun ke operasional bank karena cabang yang kutangani masih kecil dan aku harus giat marketing (giting), sementara cabang yang ditangani Nti merupakan cabang lama yang berada di kawasan elite sehingga outstanding performancenya sudah bagus.

Bambit sendiri sudah naik pangkat jadi Regional Manager di luar Jakarta, jadi Nti dan Bambit menjalani Perkawinan Akhir Pekan karena ketemunya pas wiken. Lha ternyata kok beberapa omonganku disampaikan ke Bambit dan jadi becandaan mereka, salah satunya adalah saat kukatakan dengan serius kalau gurame goreng dengan dagingnya yang membentuk kipas dan lazim dihidangkan di rumah makan Sunda itu disebabkan ikan saat masih hidup disayat-sayat daging terus dimasukkin dipenggorengan dengan minyak yang panas. Aku sempet lho gak pernah mau makan gurame goreng itu. Makanya pas ketemu Bambit, sempet bingung juga dia mesem-mesem terus nerangin proses penggorengan ikan gurame.

Kesamaan bahwa kami berasal dari anak yang bersaudara perempuan semua membuat hubunganku makin dekat dengan Nti, apalagi setelah saling cerita ternyata kebiasaan-kebiasaan kami yang dekat dengan ortu nyaris sama.

Akhirnya dua tahun berselang, aku dan Nti dipindahkan ke Region Head Office – aku di kawasan Timur Jakarta, Nti di suatu Mall Jakarta Barat yang atasnya ada apartemen itu. Berbeda dengan di Selatan maka di Pusat ini sebagian besar BM adalah keturunan Cina, termasuk RM dan koordinator wilayah (dibawah RM).

Malapetaka, Persahabatan dan Sikap Sumeleh

Baru dua minggu kami di sana sudah mendengar musibah di branch –nya Nti. Branch ini terletak di Banking Area yang menyatu dengan beberapa bank lain serta Money Changer, nah selama ini keunggulan bank kami adalah ratenya yang kompetitif (waktu itu rate bank biasanya lebih mahal dari rate money changer). Sebagai bank yang berada di Mall maka bank kami tiap Sabtu dan Minggu tetap buka tapi tidak ada transaksi valas karena biasanya posisi transaksi valas itu harus square dengan HO, lha HOnya Sabtu-Minggu tutup.

Nti giliran masuk hari Minggu dan Sabtu itu PICnya adalah si Kuasa Kas, siang itu nasabah sedang antri di counter teller. Lha kok satpamnya main transaksi valas sendiri dengan nasabah, padahal ternyata salah satu nasabah yang antri adalah salah satu Direktur kami yang habis main basket (masih dengan pakaian basket plus topi yang terbenam….langsung deh Pak Direktur mencokok si Satpam. Dan biasa deh hukum yang berlaku di suatu organisasi…anak buah salah, pimpinan harus tanggung jawab, Nti ditarik ke HO dengan keputusan yang tidak jelas.

Kami sesama BM sempet sedikit menyalahkan BM terdahulu sebelum Nti sebab dia sudah bertugas dua tahun di sana, tapi BM terdahulu berdalih bahwa tiap kali dia mau tangkep tangan tuh Satpam pasti bisa berkelit dengan licin. Dan memang BM itu mengalami kemunduran kesehatan akibat ritme dan hawa di Mall yang berbeda dengan ritme di kantor biasa.

Dua bulan telah berjalan, tiap kali kami para BM menanyakan kejelasan nasib Nti ke RM maupun Korwil selalu dijawab sedang dibicarakan dan belum ada keputusan apa-apa. Nti sudah memutuskan untuk resign aja, tapi kami sesama BM pada Region HO itu mencegahnya sebab jika Nti menyerah ini akan menjadi preseden buruk dan kami BM-BM yang lain juga bisa kapan saja jadi bulan-bulanan keputusan Management.

Kami akhirnya memutuskan untuk menghadap Pak Direktur yang gantengnya persis kek Lee Hom itu, dia kaget juga waktu tahu Nti baru dua minggu tugas disitu dan lebih kaget pas tau kalau Nti isterinya Bambit – teman satu MDP Pak Direktur. Dia kaget, kami juga kaget karena ternyata selama ini Nti dan Bambit tidak pernah mempergunakan kedekatannya dengan Pak Direktur untuk membersihkan nama Nti.

Begitulah Pak Direktur menyatakan akan mengambil keputusan masalah ini, eh gak lama setelah meninggalkan HO- kami dihubungi RM dan Korwil dan ditanyakan koq enggak nanya ke mereka tapi motong kompas geetu…..yes right, this is because we understand  that both of you just want to save your own ass. Nti cerita kalau kemudian Bambit ditelpon Pak Direktur dan malah sedikit dicela…”Kok kamu enggak telpon n kasih tau kalau Nti itu isterimu.”

Besokannya dah keluar SK kalau Nti ditugaskan jadi BM lagi tapi dipindahkan ke kawasan Industri di luar Jakarta (masih nempel), kami menghibur Nti dan membujuknya untuk mengambil penugasan itu. Walaupun kelihatannya wilayah itu sulit , akhirnya Nti mau mengambil penugasan itu. Dan ternyata wilayah itu wilayah blessing in disguise – karena saat itu belum banyak bank yang menyerbu ke wilayah itu, bank kami jadi leading.

Sebab klien di situ adalah pemain dalam industri besar, cabang yang ditangani Nti jadi leading karena tingginya dana murah (mayoritas dalam rekening koran) dan tingginya transaksi valas. Dia yang sudah sempat dijatuhkan, akhirnya dengan kesabarannya bisa bangkit kembali… Nti memang pantas dijuluki sosok yang cantik paras, hati dan pikiran seperti motto miss-miss’an yang ada…Beauty, Brain and Behaviour. Sekaligus aku dan dia juga merasakan indahnya persahabatan kami dan persahabatan dengan para BM di HO padahal baru dua minggu kami bergabung di sana.

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *