Wednesday, 28 April 2010
Dewi Aichi – Brazil
Aksi corat-coret baju seragam dan konvoi masih saja mewarnai perayaan kelulusan siswa SMA dan SMK! Begitu pengumuman kelulusan diterima, kontan ratusan siswa dari sejumlah SMA , langsung berteriak kegirangan sembari menyemprotkan cat ke seluruh baju dan celana seragamnya. Tak puas sampai di situ. Beberapa siswa tampak menyemprot rambut dan wajahnya dengan cat aneka warna.
Ahh..wajar saja, cuma setahun sekali ini. Para pelajar berhak merayakan kelulusan mereka. Untuk memeriahkan pesta kelulusan, aksi corat-coret baju seragam dan melakukan konvoi memang tidak boleh dilewatkan. Konvoi para pelajar ini disertai dengan aksi ganti knalpot dengan blombong yang suaranya memekakkan telinga siapapun yang kebetulan bertemu dengan rombongan konvoi ini. Ironisnya, para siswa ini menggelar konvoi keliling kota tanpa mengenakan helm.
Sebenarnya aksi corat-coret baju sebagai wujud kegembiraan atas kelulusan siswa dalam menempuh ujian sudah marak sejak dulu. Di tahun 80-an saat saya SMP dan SMA aksi seperti ini sudah ada dan beruntung waktu itu saya tidak melakukannya. Aksi ini kian berkembang dari tahun ke tahun. Semula aksi corat-coret hanya sekedar menulis tanda tangan dengan spidol di baju yang kelak katanya akan disimpan sebagai kenangan di waktu nanti.
Kini tidak hanya menggunakan spidol tetapi bahkan menggunakan cat semprot, bukan hanya baju yang dicoret warna-warni tetapi tas, rambut atau apa saja bisa mereka coreti dengan spidol dan cat semprot. Bangunan seperti dinding rumah, pagar, jembatan kadang kala mereka jadikan objek corat-coret juga.
Seringkali luapan kegembiraan kelulusan sekolah juga diikuti aksi lainya seperti konvoi kendaraan bermotor keliling kota. Dengan baju seragam warna-warni penuh coretan, kadang tanpa perlengkapan keamanan kendaran bermotor mereka menggeber motor tanpa menghiraukan keselamatan diri dan pengguna jalan yang lain. Mereka berpikir bahwa sebuah keberhasilan harus dirayakan, adapun apa yang akan dilakukan setelah lulus kemudian itu urusan nanti. Bagi guru dan orang tua jelas bahwa aksi itu adalah sebuah kesia-sian belaka, namun bagaimana dengan pandangan mereka anak-anak remaja yang baru mencari jati diri?
Perlu antisipasi dari berbagai pihak terkait untuk meminimalisir aksi corat-coret pelajar saat pengumuman kelulusan nanti. Pihak sekolah biasanya sudah memberikan himbauan kepada para siswanya untuk tidak melaksanakan aksi corat-coret ini, namun dalam kenyataannya himbauan banyak yang tidak diindahkan oleh siswa. Agar himbauan lebih efektif pihak sekolah seharusnya berkoordinasi dengan orang tua siswa.
Akhirnya bagi para siswa yang berhasil menempuh ujian nasional dan dinyatakan lulus ada baiknya merenung dan mempertimbangkan apa manfaat aksi corat-coret, apa resiko meluapkan kegembiraan kelulusan dengan konvoi di jalan. Ingatlah diantara teman kalian ada beberapa siswa yang gagal dalam menempuh ujian ini, pantaskah kalian bergembira ria sementara teman kalian bersedih hati. Teman kalian yang gagal ujian nasional kali ini perlu dorongan semangat dari kalian yang berhasil untuk maju lagi pada ujian lain yang ditentukan oleh pemerintah.
Adapun hal-hal yang dapat diupayakan untuk meminimalkan aksi corat-coret siswa menyambut kelulusan adalah :
Dikutip dari tulisan bapak Sunardi, guru IPA-fisika, dan TIK SMP Negeri 1 Banjarmasin.
Aksi konvoi para pelajar ini ada juga yang brutal hingga melakukan penjarahan di pedagang kaki lima. Ini harus di tindak tegas. Paling benci jika sudah terjadi tawuran, pelajar bisa begitu beringas. beberapa media online memberitakan bahwa aksi konvoi ini ada yang di kawal polisi, bahkan sampai dibubarkan oleh polisi.
Untuk mengurangi konvoi, salah satu SMU di Pondok Labu, Cilandak, meliburkan siswanya, dan pengumuman kelulusan dapat di lihat di situs resmi sekolah mereka.
Menurutku, sayang sekali baju seragam sekolah di corat coret seperti itu, dan setelahnya hanya di buang atau buat lap. Padalah, calon adik kelas bisa saja membutuhkan seragam tersebut, daripada membeli yang baru, yang harganya membebani orang tua, ditambah lagi uang pangkal, uang yang lain-lain.
Bayangkan, banyak orang tua yang berpenghasilan rendah berjuang untuk menyekolahkan anak mereka ke SMA bahkan kalo mungkin sampai kuliah. Buat yang baru daftar di SMA saja udah berapa uang yang harus dibayar, untuk seragam saja harus beli kain 3 stel (putih & abu-abu, pramuka, dan khas), trus menjahitkan kain itu sampai beli sepatu, tas, buku yang mungkin sudah expired. Kalau, setiap anak yang lulus dan tidak memerlukan seragamnya lagi menyumbangkan ke adik kelasnya, aku yakin 100% siswa yang kurang mampu pasti akan sangat terbantu.
Sekian dulu dan terima kasih atas perhatiannya.
Ilustrasi: media indonesia, vivanews, kaskus
April 30th, 2010 at 16:09
corat-coret dan konvoi, asal teratur n ga merugikan org lain, menurutku sih sah saja… asal jangan bikin macet aja… coba pegi rame2 secara tertib ke pantai atau di mana gitu, nah di sana baru konvoi beneran…. tentunya ga salah juga kalau mau menyumbangkan pakaian itu.. aku sendiri pas acara lulusan pakai seragam yg paling ‘tua’ dan tidak ikut coret2, cuma tetep kena, karena temen2 sembarang semprot…. dengan sulitnya meraih kelulusan, aku rasa sah saja kalau anak2 itu bersenang2, dan setiap org toh punya cara buat bersenang2, misalnya ada yg syukuran, ada yg ke diskotik, ada yg lgsg hiking, dan tentunya ada yg konvoi+coret2….
April 29th, 2010 at 10:58
Tan DA : cuma snack yang ditilep, cukuplah. Daripada nilep dana pendidikan


Kang Anu : gak kepikiran mau ngembat kibod, pikirannya malah gimana caranya biar dapat giliran make komputer yang ada sambungan internetnya
Nev : dulu aku kuyus nev, berimbang antara yang masuk sama yang keluar. Sekarang kan njomplang, makanya mbul
April 28th, 2010 at 21:27
@Nev & DA: hakakak.. jebul ra isa diapusi tho.. Sega Sepincuk kuy tak kiro komunitas juga kekeke..
April 28th, 2010 at 21:15
Nev: oraaaaaaaaaaaa…wong le pit-pit-an karo anakku kok hi hi……tekan Kaliurang…biasa muterin ringroad ha ha…menikmati teriknya Jogja…
April 28th, 2010 at 21:11
Alexa: podo, aku juga menggowes kok..kadang2 tapi he he…enakan jalan kaki rame-rame…lewat depan STM, banyak yang suit suit…
Anoew: nek sego sepincuk kui bagianmu, karo sego kucing modern ki….ala Jepang..