Aksi Konvoi dan Corat-coret

Dewi Aichi – Brazil


Aksi corat-coret baju seragam dan konvoi masih saja mewarnai perayaan kelulusan siswa SMA dan SMK! Begitu pengumuman kelulusan diterima, kontan ratusan siswa dari sejumlah SMA , langsung berteriak kegirangan sembari menyemprotkan cat ke seluruh baju dan celana seragamnya. Tak puas sampai di situ. Beberapa siswa tampak menyemprot rambut dan wajahnya dengan cat aneka warna.

Ahh..wajar saja, cuma setahun sekali ini. Para pelajar berhak merayakan kelulusan mereka. Untuk memeriahkan pesta kelulusan, aksi corat-coret baju seragam dan melakukan konvoi memang tidak boleh dilewatkan. Konvoi para pelajar ini disertai dengan aksi ganti knalpot dengan blombong yang suaranya memekakkan telinga siapapun yang kebetulan bertemu dengan rombongan konvoi ini. Ironisnya, para siswa ini menggelar konvoi keliling kota tanpa mengenakan helm.

Sebenarnya aksi corat-coret baju sebagai wujud kegembiraan atas kelulusan siswa dalam menempuh ujian sudah marak sejak dulu. Di tahun 80-an saat saya SMP dan SMA aksi seperti ini sudah ada dan beruntung waktu itu saya tidak melakukannya. Aksi ini kian berkembang dari tahun ke tahun. Semula aksi corat-coret hanya sekedar menulis tanda tangan dengan spidol di baju yang kelak katanya akan disimpan sebagai kenangan di waktu nanti.

Kini tidak hanya menggunakan spidol tetapi bahkan menggunakan cat semprot, bukan hanya baju yang dicoret warna-warni tetapi tas, rambut atau apa saja bisa mereka coreti dengan spidol dan cat semprot. Bangunan seperti dinding rumah, pagar, jembatan kadang kala mereka jadikan objek corat-coret juga.

Seringkali luapan kegembiraan kelulusan sekolah juga diikuti aksi lainya seperti konvoi kendaraan bermotor keliling kota. Dengan baju seragam warna-warni penuh coretan, kadang tanpa perlengkapan keamanan kendaran bermotor mereka menggeber motor tanpa menghiraukan keselamatan diri dan pengguna jalan yang lain. Mereka berpikir bahwa sebuah keberhasilan harus dirayakan, adapun apa yang akan dilakukan setelah lulus kemudian itu urusan nanti. Bagi guru dan orang tua jelas bahwa aksi itu adalah sebuah kesia-sian belaka, namun bagaimana dengan pandangan mereka anak-anak remaja yang baru mencari jati diri?

Perlu antisipasi dari berbagai pihak terkait untuk meminimalisir aksi corat-coret pelajar saat pengumuman kelulusan nanti. Pihak sekolah biasanya sudah memberikan himbauan kepada para siswanya untuk tidak melaksanakan aksi corat-coret ini, namun dalam kenyataannya himbauan banyak yang tidak diindahkan oleh siswa. Agar himbauan lebih efektif pihak sekolah seharusnya berkoordinasi dengan orang tua siswa.

Akhirnya bagi para siswa yang berhasil menempuh ujian nasional dan dinyatakan lulus ada baiknya merenung dan mempertimbangkan apa manfaat aksi corat-coret, apa resiko meluapkan kegembiraan kelulusan dengan konvoi di jalan. Ingatlah diantara teman kalian ada beberapa siswa yang gagal dalam menempuh ujian ini, pantaskah kalian bergembira ria sementara teman kalian bersedih hati. Teman kalian yang gagal ujian nasional kali ini perlu dorongan semangat dari kalian yang berhasil untuk maju lagi pada ujian lain yang ditentukan oleh pemerintah.

Adapun hal-hal yang dapat diupayakan untuk meminimalkan aksi corat-coret siswa menyambut kelulusan adalah :

  • Pengumuman kelulusan hendaknya diambil langsung oleh orangtua siswa diliburkan, atau alternatif lain dengan memanfaatkan pihak ketiga misalnya jasa layanan pos untuk mengantar surat pengumuman kelulusan.
  • Adanya sangsi dari sekolah bagi siswa yang terbukti melakukan corat-coret.
  • OSIS proaktif untuk menggalang pengumpulan baju seragam bekas untuk bisa di sumbangkan ke pihak-pihak yang memerlukan, mengingat tidak semua siswa mempunyai nasib baik dengan fasilitas yang tercukupi.
  • Memberi ruang untuk mengekspresikan kegembiraan kelulusan siswa misalnya aksi corat-coret diganti dengan aksi penulisan kesan pesan serta tanda tangan pada bentangan kain putih atau kertas berbingkai yang nantinya bisa diabadikan dalam format album lengkap dengan data-data siswa yang bisa copy oleh siswa yang menghendaki.
  • Perlu kesigapan pihak keamanan terhadap aksi konvoi di jalan. Bagi siswa yang melakukan konvoi disertai pelanggaran lalu lintas hendaknya polisi tidak segan-segan untuk menindaknya.
  • Perlu dukungan orang tua untuk senantiasa mengawasi aksi corat-coret yang dilakukan para putra-putrinya. Orang tua agar menasihati putra-puttrinya untuk tidak melakukan aksi corat-coret. Ungkapan kegembiraan bisa di ekspresikan dengan kegiatan lain yang bermanfaat.

Dikutip dari tulisan bapak Sunardi, guru IPA-fisika, dan TIK SMP Negeri 1 Banjarmasin.

Aksi konvoi para pelajar ini ada juga yang brutal hingga melakukan penjarahan di pedagang kaki lima. Ini harus di tindak tegas. Paling benci jika sudah terjadi tawuran, pelajar bisa begitu beringas. beberapa media online memberitakan bahwa aksi konvoi ini ada yang di kawal polisi, bahkan sampai dibubarkan oleh polisi.

Untuk mengurangi konvoi, salah satu SMU di Pondok Labu, Cilandak, meliburkan siswanya, dan pengumuman kelulusan dapat di lihat di situs resmi sekolah mereka.

Menurutku, sayang sekali baju seragam sekolah di corat coret seperti itu, dan setelahnya hanya di buang atau buat lap. Padalah, calon adik kelas bisa saja membutuhkan seragam tersebut, daripada membeli yang baru, yang harganya membebani orang tua, ditambah lagi uang pangkal, uang yang lain-lain.

Bayangkan, banyak orang tua yang berpenghasilan rendah berjuang untuk menyekolahkan anak mereka ke SMA bahkan kalo mungkin sampai kuliah. Buat yang baru daftar di SMA saja udah berapa uang yang harus dibayar, untuk seragam saja harus beli kain 3 stel (putih & abu-abu, pramuka, dan khas), trus menjahitkan kain itu sampai beli sepatu, tas, buku yang mungkin sudah expired. Kalau, setiap anak yang lulus dan tidak memerlukan seragamnya lagi  menyumbangkan ke adik kelasnya, aku yakin 100% siswa yang kurang mampu pasti akan sangat terbantu.

Sekian dulu dan terima kasih atas perhatiannya.


Ilustrasi: media indonesia, vivanews, kaskus

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *