[Exclusive] Samuel Mulia: Up Close & Personal

Interviewers: Emon, ISK, JC

“Pak Samuel, kenalkan, saya dari Baltyra.com”

“Opo iki Baltyra.com?” (apa ini Baltyra.com?)

Itu sepotong percakapan pembuka di sore hari itu, di penghujung acara launching buku Aimee Dawis di Thamrin Nine Ballroom. Herannya, Samuel Mulia kok langsung pakai boso Jowo.

“Kami adalah website yang mengusung citizen journalism, Pak Samuel, ini kartu nama saya. Mampir ya”.

“Gampang iku, kowe asline ngendi? Pasti Jawa Tengah yo, Jawa Tengah’e ngendi?” (gampang itu, kamu aslinya mana? Pasti Jawa Tengah ya, Jawa Tengahnya mana?)

Lah, ini dia, tambah heran saja, kok seorang Samuel Mulia langsung blukuthuk-blukuthuk berbahasa kebangsaan, yaitu boso Jowo!

“Aku asline Semarang, Pak. Sampeyan ngendi?” (saya aslinya Semarang, Pak. Anda mana?)

“Oooo…Semarang. Nek aku, mamahku Solo, papahku mBangsri. Paling kowe ora ngerti mBangsri” (Oh, Semarang, kalau saya, mama Solo, papa Bangsri. Paling kamu tidak tahu Bangsri)

“mBangsri kuwi Jeporo kono. Tepatnya Jeporo coret, adoh mrono” (Bangsri itu Jepara sana. Tepatnya Jepara coret, jauh sana)

Itulah perkenalan pertama dengan seorang Samuel Mulia. Setelahnya? Silent! Tiba-tiba tersirat keinginan untuk nekad coba kontak beliau dan coba mengajukan usul untuk wawancara.

“Selamat pagi. Piye kabar’e? Ingat saya? Kita ketemu di acara launching buku tempo hari. Sekedar say hi saja sekaligus menyambung perkoncoan yang sama-sama dari Jawa Tengah. Sudah sempat mampir ke BALTYRA.COM? Make yourself at home ya. Sukur-sukur kalo Pak Samuel berkenan nimbrung oret-oret dikiiiittt saja.“

“Inget mas, tenane inget…sudah saya lihat apik tenane. mengguyu tapi serius juga. aku suka tu yang “Menyontek“…dan “Suara Adzan dan Ave Maria“

Wow! Sungguh jawaban yang tak terduga dan membanggakan!

“Btw, keberatan gak kalo Redaksi Baltyra interview Panjenengan? Atau boleh saya meminta Panjenengan memberikan warna lain di Baltyra?“

“Dgn senang hati mas ktrmu nang ngendi?“

“Ora ono kantor Pak Samuel…Kantor virtual…Sek, sek, dengan senang hati ini interview atau nulis? hehehe…bingung saya…kalo Panjenengan bersedia dan tidak keberatan, biar saya yang datang ke kantor Panjenengan…“

“Interview ya oke, nulis ya oke, wis ketemu di mana saja lah, aku juga ora ono kantor“

Akhirnya ditentukan Jumat minggu lalu, tanggal 23 April 2010 jam 2 siang di Fountain Lounge Hyatt.

Lha ini dia…bingung…mau nanya apa ya? Materi interview juga tidak ada dan tidak ada persiapan. Emon yang pernah interview Amron-Paul Yuwono segera aku kontak, demikian juga Mas Iwan Kamah. Untuk Mas Iwan, karena sama-sama di Jakarta, ada tambahan embel-embel: “ayo ikutan”, dan misalnya Emon juga ada di Jakarta, tentu sudah terseret juga…haha…

Tenggat waktu 2 hari ternyata masih sangat oke. Di hari H, aku kontak Samuel Mulia dan beliau reconfirmed hari itu ok, demikian juga Mas Iwan juga siap untuk interview hari itu. Perjalanan ke Hyatt tidak begitu menggembirakan, tapi masih ok, dan hasilnya sedikit telat sekitar 15 menit.

Fountain Lounge Hyatt

Beberapa sandwich dan segelas jus terhidang di depan Samuel Mulia, yang sedang menghadapi netbook warna putih dan BlackBerry 9700 plus handphone tergeletak di samping netbook.

Setelah bertegur sapa, aku memesan capuccino dan Mas Iwan memesan black coffee untuk menemani pembicaraan kami.

Tak berbasa-basi, Samuel Mulia menunjukkan “kegarangannya” dalam berbicara dan bercerita. Dengan bahasa yang terkadang mak-blukuthuk dan mak-jedheeerrr…yang membuat kami berdua ngakak lepas, cerita tak henti mengalir dari mulut Samuel Mulia. Mulai dari kisah hidup, perjalanan hidup, karir, teman, dengan fokus utama adalah perjalanan spiritual beliau dalam 6 tahun belakangan.

Titik balik dalam hidup Pak Sam yang mana yang membuat Pak Sam menjadi seperti hari ini, dikenal luas sebagai penulis handal?

Titik balik dalam hidupku terjadi ketika aku mengalami gagal ginjal dan terbaring hampir mati di rumah sakit di China. Di situ aku berteriak kepada Tuhan dan meminta ampun atas segala dosa dan kesalahan selama ini.

Aku adalah manusia yang super pahit dan memiliki sejarah yang cukup dahsyat di masa lalu. Aku tinggalkan semua itu, aku bersimpuh di depannya dan berjanji untuk mengikuti Tuhan Yesus kembali, setelah sekian lama aku meninggalkanNYA.

Pernah kalian memaki Tuhan kalian? Aku ini saking mengalami banyak kepahitan dalam hidup, pernah aku maki Tuhan di dalam gereja dengan kata-kata yang paling kasar yang pernah kalian bayangkan.

Tapi jika kita surrender dan kembali ke Tuhan – apapun agama kalian – kalian akan merasakan betapa besar kuasa dan karunia Tuhan atas hidup kita.

Tanggal berapa kalian harus bayar telepon dan listrik setiap bulannya?

Tanggal 20 Pak Sam…(belum tutup mulut, sudah disambar)

Nah itu dia!! Itulah manusia, selalu mengingat yang terakhir…selalu datang kepadaNYA jika sudah kepepet – seperti aku waktu itu – tapi kalian lupa, bahwa Tuhan lah yang menyediakan hidup kita setiap harinya, setiap paginya, Tuhan lah yang menghembuskan kehidupan baru pertama kali kita membuka mata, tapi justru kita selalu mengingat Sang Pemberi Hidup itu di list yang terakhir…

Cerita mengenai spiritualisme Samuel Mulia sangat-sangat panjang, asik, segar, dan tidak membosankan sama sekali. Sambil sesekali membuka handphone atau BlackBerry menunjukkan kutipan ayat Al Quran atau Injil…

Apa reaksi Pak Sam ketika banyak orang memuji tulisan ringannya?

Senang sih jelas, manusiawi itu, tapi lebih dari itu biasa-biasa saja. Malah ada yang katanya tulisan-tulisanku bisa mengubah hidupnya…ya sukur lah…

Perlu diingat lho, jangan sampai kita itu diamit-amiti sama orang lain, maksudnya gini, jangan sampai ada orang bilang: “amit-amit ah, ojo ngasi aku koyok Samuel Mulia” atau “amit-amit jangan sampai hidupku kayak Mas Iwan”. Itu sudah paling gawat lah dalam hidup kita. Didoakan orang jadi jelek selamanya. Dengan diamit-amiti orang begitu, artinya adalah orang lain bertobat, berubah dan menjadi baik karena kejelekan kita…waduuuhhh itu kegagalan terbesar dalam hidup lho…

Apa pesan yang ingin disampaikan dalam setiap tulisan?

Lihatlah segala sesuatu dalam hidup kita ini dengan comprehensive.

Maksudnya?

Maksudnya ya kita harus melihat semuanya itu dari multi dimensi, dari semua sisi, bukan dari satu sisi atau berdasarkan pelabelan saja. Manusia memang dari sononya sudah melabeli diri: Kristen, Katholik, Islam, laki, perempuan, kaya, miskin dan masih banyak lagi lah…Karena labelisasi inilah, manusia tidak akan pernah damai di dunia ini.

Bagaimana pandangan Pak Sam tentang Citizen Journalism? (belum selesai bertanya sudah dipotong)

Sek, sek to, opo tho sa’jan’e citizen journalism itu, makin canggih wae, istilah-istilah baru bermunculan…

Maksudnya ya, semua orang, di mana pun mereka berada dapat jadi penulis warta tentang apa saja, bisa tentang sekolah anaknya, bisa tentang kuliner di tempat dia liburan bersama keluarga, pokoknya apa saja lah, intinya adalah seseorang yang bukan jurnalis, menulis berita, ya contohnya di website kami BALTYRA.COM inilah…

Oooo…walaupun aku yo wis ngerti karep’e, tapi aku ingin tahu pandangan kalian tentang citizen journalism itu… Dengan adanya citizen journalism, orang dituntut untuk jadi kreatif dan mengasah kreativitas mereka dalam menyajikan berita. Persoalan sederhana di sekitar kita bisa menjadi sesuatu yang asik untuk dibaca di tangan orang yang tepat!

Dan yang penting, buat aku citizen journalism adalah about the truth, jurnalisme hati nurani…memang sangat relatif dan subjektif, tapi yang namanya hati nurani dan the truth itu sifatnya universal…

Kebebasan berpendapat, terutama dalam citizen journalism, apakah mungkin dan bisa kebebasan yang seluas-luasnya?

Mana bisa!! Kebebasan kita itu dibatasi oleh kebebasan orang lain. Emang bisa kita sa’enak’e dhewe nulis gitu. Contohnya duluuuu sekali, aku bener-bener kejam…pernah aku nulis di satu media “Fashion Show si A benar-benar membosankan”

Lha aku malah dapat kiriman bunga segede bagong dari Si A, dengan tulisan: “Kepada Yth. Samuel Mulia, terima kasih atas artikel Anda di harian X atas fashion show saya yang membosankan”

Mak-pleeennngg rasa’ne…kayak ditampar lho aku…to make the story short, itulah salah satu contoh kegilaanku di masa lalu. Dan sekarang aku sama si A malah berteman baik kayak sedulur (saudara).

Bagaimana Pak Sam mendapatkan ide-ide dalam menulis Parodi itu? Bagaimana bisa menulis dengan baik?

(agak lama pandangan Samuel Mulia menerawang jauh…kemudian nampak matanya berkaca-kaca…)

Jiwa yang tak terluka…(suaranya sempat tersendat), jiwa yang bersih, tak terluka adalah syarat mutlak untuk menulis! Maafkanlah diri sendiri lebih dulu, maafkanlah orang lain, maafkanlah orang-orang yang melukaimu. Memang susahnya luar biasa, lebih gampang mendendam ketimbang memaafkan mereka! Dan memaafkan bukan hanya sekedar memaafkan, tapi lupakanlah luka batin itu. Jangan sekedar memaafkan tapi terus mengingat luka itu…

Yang kedua adalah brand positioning. Harus tahu kita menulis di mana. Menulis di Kompas ya harus ikut aturan main Kompas, di media lain lagi ya ikut di media itu, ndak bisa dong, seenak-enak sendiri…kalau orang bilang, tidak mau ikut aturan ya ke hutan sana…lha di hutan saja ada yang namanya “hukum rimba”…

Yang terpenting buatku: tulisanku itu tidak menyakiti orang lain, membahagiakan baik diri sendiri ataupun orang lain yang membacanya. Lha buat apa menulis supaya orang lain senang, kita sendiri malah merasa tidak senang, sebaliknya nulis hanya menyenangkan diri sendiri, tapi malah menyakiti orang lain…wah, jangan sampai seperti itu…

Bagaimana bisa menjadi penulis dalam dunia mode?

Dari dulu saya sudah senang mode, fashion…di tahun 1981 ikutan lomba yang diadakan Femina-Gadis, lha kok jadi juara 5. Sejak saat itu, aku terjun beneran di dunia mode itu lah.

Siapa yang paling berjasa pada diri Pak Sam sehingga menjadi penulis kayak hari ini?

Setelah ikut Poppy Dharsono 2.5 tahun, kemudian ikut Majalah Dewi di sekitar tahun 91-92. Di situlah kemampuan menulisku diasah dan dilatih dengan baik oleh Mbak Retno. Malah kemudian dapat kesempatan wawancara dengan para maestro dunia, Karl Lagerfeld, Dolce & Gabana, Armani, Prada dan masih banyak lagi…sungguh pengalaman yang mengesankan dan luar biasa…

Orang bingung, lha wong aku ini dokter, kok larinya ke jurnalisme dan dunia mode…

Lho, Pak Sam dulu kuliah kedokteran?

Aku iki dokter. Iya, di Udayana, tahun 1968 aku sudah lengkap semua dari kandungan, THT, mata, serta dokter kehakiman…tinggal diurus saja, mau buka praktek juga bisa waktu itu…tapi malah jatuh cinta dengan dunia mode…

Bisa diceritakan episode kehidupan di Perancis?

Nah ini…aku di Perancis gak lama kok, 1986-1988, tapi sebelum aku berangkat, yang paling membekas dan aku ingat sampai sekarang, nyanthol di kepala sampe njero gusi (nyangkut di kepala sampai ke dalam gusi) adalah kata-kata bapakku waktu aku mau berangkat. Aku ini sekolah tidak pernah tetap, selalu ingin pindah. Bapakku bilang: “Sam, kowe iki seneng’e pindah-pindah, bosenan, aku kasi tau kali ini, ini yang terakhir aku harapkan, kowe selalu mengeluh masalah ini dan itu. Tidak ada di dalam hidup manusia lepas dari masalah, tapi memang beda, kalau mengerjakan sesuatu yang kita sukai dan cintai, masalah yang ada bukanlah serasa masalah, tapi lebih merupakan tantangan”.

Di Paris aku menemukan duniaku…luar biasa…

Tadi Pak Sam bilang sudah sering wawancara dengan tokoh desainer papan atas kelas dunia, apa yang membedakan mereka dengan yang orang kebanyakan?

Mereka itu adalah pribadi-pribadi yang sangat terbuka, berpandangan luas dan tidak terkungkung dengan labelisasi seperti di awal perbincangan kita tadi, jadi mereka itu betul-betul pribadi yang luar biasa. Mereka mengerti apa yang mereka kerjakan, mereka memiliki pengetahuan yang luas. Jangan dianggap “hanya” desainer, terus dunia mereka hanya itu. Contohnya si Prada, itu dia anggota partai komunis di negaranya, menguasai perpolitikan dengan mendalam dan saat yang sama menguasai dunia mode juga…

Lah mana sekarang ada yang kayak gitu di negeri ini. Mana pernah yang namanya para perancang busana diwawancara, ditanya mengenai pandangan mereka dalam dunia politik, seolah terabaikan…terkotakkan dan terlabelisasi…

Bagaimana pandangan Pak Sam mengenai fenomena “fashion” kalau bisa dibilang fashion, contohnya seperti antrean yang gila-gilaan beli sandal Crocs?

Hahaha…itulah lihainya para marketer, memanfaatkan psikologis manusia yang sifatnya cenderung ikut-ikutan. Indonesia memang jawara untuk hal-hal semacam ini, sandal, BB, teknologi canggih, Indonesia memang paling top. Hedonisme memang sudah sangat hebat secara umum…

Apakah Pak Sam melihat adanya perubahan lifestyle dari era 80’an sampai sekarang? Bagaimana arah fashion dan lifestyle kita?

Ndak punya arah! Emang kita punya arah to? Eh gak ding ya…tapi jujur ngomong, susah memang, kita ini ditakdirkan hanya menjadi follower, bukan trendsetter atau pencipta sesuatu…

Aku percaya tentang destiny of a country atau destiny of a nation…aku tanya kalian sekarang, petinju terbesar sepanjang sejarah orang apa?

Orang hitam, Pak Sam…

Nah, kenapa bukan orang Cina? Bukan orang India? Kenapa harus dan musti orang hitam? Memangnya di China ndak ada orang hebat yang bisa tinju? Ya menurut aku memang harus demikian…takdir satu bangsa, takdir satu ras itu sudah digariskan dari sononya demikian adanya…tiap bangsa dan tiap ras manusia memang sudah digariskan menempati posisi dan porsinya masing-masing…

Demikian juga halnya dengan Indonesia…kita ini hanyalah pengguna…

Sampai kapan mau menulis?

Sampai mati!

Pembicaraan berakhir di situ, hari menjelang senja, di kejauhan matahari mulai mendekati peraduannya, kontras warna di Jl. Thamrin – Sudirman, dengan air mancur HI ditambah kemacetan mengular sore itu sungguh indah dipandang dari jendela Fountain Lounge sore itu…

Sebenarnya masih banyak sekali materi dan perbincangan luar biasa dari seorang Samuel Mulia. Salah satu contohnya adalah topik kesetaraan gender, penghormatan kepada wanita, karena kebetulan Hari Kartini baru lewat. Dan banyak juga pandangan-pandangan spiritualitas yang sangat dalam dan menarik.

Mungkin Mas Iwan yang akan menuangkannya?

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

2 Comments to "[Exclusive] Samuel Mulia: Up Close & Personal"

  1. titik setyowati  15 December, 2017 at 16:51

    Ini ta pak Samuel, saya selalu tunggu tulisannya di Kompas Minggu.

  2. sisca  19 December, 2013 at 17:49

    mas, boleh minta kontaknya Samuel Mulia? saya dari stasiun tv swasta hendak mewawancarai beliau. urgent. makasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *