Museum Sampoerna dan Surabaya Heritage Track

Hariatni Novitasari – Surabaya

Ketika Putra Sampoerna menjual saham PT HM Sampoerna kepada Phillips Morris banyak pihak berspekulasi mengenainya. Sampai dengan saat ini, tidak pernah ada yang tahu alasan Putra Sampoerna untuk menjual saham perusahaan keluarga itu.

Dari semua aset yang dimiliki, museum Sampoerna merupakan salah satu aset yang tidak ikut dijual. Terletak di Jalan Taman Sampoerna, musem ini menjadi salah satu tempat yang layak dikunjungi ketika berada di Surabaya.

Museum ini menyajikan banyak hal. Begitu masuk ke dalam museum, di ruang depan, kita bisa melihat berbagai jenis tembakau yang ada di Nusantara ini. Antara lain tembakau Temanggung, tembakau Madura, dan sebagainya. Tidak ketinggalan, cengkeh yang diletakkan di lantai. Di sini, bau tembakau bercampur dengan cengkeh.

Harum sekali (tapi heran, kenapa ya kalau tembakau dan cengkeh dibakar jadi sesak ya?). Di ruang depan ini, ada perjalanan hidup, keluarga Sampoerna mulai dari membangun bisnis keluarga ini sampai dengan sekarang. Semuanya dirangkum dalam cerita di dalam komputer. Pengunjung bisa melihat semua dengan perjalanan hidup keluarga ini.

Memasuki ruang selanjutnya, kita akan melihat banyak foto-foto di sana. Baik dari kalangan keluarga HM Sampoerna ataupun dari direksi. Termasuk juga tokoh-tokoh di negeri ini yang merokok Sampoerna. Salah satunya Sang Ngarso Dalem. Menurutku, ini adalah ruang foto-foto.

Di ruang belakang, lebih banyak foto-foto lagi di sana. Ada juga peta yang menunjukkan produksi tembakau yang ada di Indonesia. Di sini, ada juga berbagai jenis timbangan (scaling) dan ada juga kereta kuda (dokar). Juga, berbagai jenis perlengkapan dan foto marching band. Marching Band milik Sampoerna ini sering meramaikan karnaval internasional, termasuk Karnaval Bunga di Pasadena.

Mereka berpartisipasi di sana selama beberapa tahun berturut-turut. Band ini dikomandani Katty Sampoerna yang sangat terkenal sangat perfectionist. Para anggota marching band ini diseleksi dengan sangat dari kalangan karyawan. Mereka umumnya memiliki wajah khas Indonesia.

Di ruang belakang ini, ada dua buat tangga di sisi kanan dan sisi kiri untuk naik ke lantai 2. Dari lantai 2 ini, kita bisa menyaksikan orang para buruh rokok sedang melinting rokok, memotong dan mengepres-nya dengan cara yang tradisional. Para wanita ini mampu melinting 325 batang per jam.

Sayangnya, kalau hari Minggu, kita tidak bisa menjumpai aktivitas ini. Karena mereka libur. Dari lantai 2 ini, kita tidak bisa mendengarkan suara mereka, karena ruangan di lantai 2 ini kedap suara. Kata temanku, Rey yang sangat sering mengantarkan turis ke sana, di bawah itu riuh sekali para buruh melinting rokok.

Suaranya musik dangdut booo! Konon, kalau diganti dengan musik lainnya, para buruh ini akan mengantuk. Makanya, musiknya dangdut. Biar mereka goyang semua. Ruangan juga hanya menggunakan kipas angin, tetapi ventilasi tinggi, dan kelihatan sejuk. Kalau dipasang AC, banyak diantara mereka tidak tahan karena masuk angin. Di lantai 2 ini, juga bisa dibeli beberapa buah suvenir di sana. Ada kaos, ada gantungan kunci, dan sebagainya.

Bangunan yang digunakan sebagai museum ini dulunya adalah panti asuhan yang dikelola oleh pemerintah Belanda. Didirikan pada tahun 1862, bangunan ini pada saat ini merupakan salah satu situs bersejarah yang dilestarikan. Pada 1932, Liem Seeng Tee, pendiri Sampoerna membeli tempat ini. Dijadikan tempat tinggal sekaligus pabrik oleh Sampoerna.

Nah, setelah lelah keliling museum, para pengunjung juga bisa mengunjungi Cafe Sampoerna yang berada di sebelahnya. Cafe ini menyajikan berbagai jenis makanan. Mulai dari makanan Barat, Chinese sampai dengan Nusantara. Kalau menu Nusantara, menurutku biasa saja. Tapi, menurut Suhu JC, masakan Barat-nya ciamik. Kucoba steak salmon-nya. Enak. Dimakan dengan kentang tumbuk. Temanku, si Lala coba chicken cordon blue. Enak pisan…

Selain itu, snack-nya juga okay. Antara lain black forrest builder. Jadi, kita bisa membuat kue black forest sendiri. Semua kelengkapan black forest mulai dari cake-nya, coklat-nya, rum-nya, cherry-nya sampai dengan taburan gula halusnya dipisahkan. Kita bisa menyusunkan sendiri. Makanya dinamakan black forest builder. Bagi yang suka bereksperimen jadi bakery, sangat menyenangkan menyusunnya.

Lha, kalau aku malas untuk menyusunnya. Begitu melihat bahan-bahannya langsung saja aku ramu ke sendok, dan masuk ke mulut. Makanya, memoto makanan sering lupa. Keingat untuk memfoto makanan, kalau piringnya sudah kosong…. hehehehe. Tapi, rasanya selangit deh black forest-nya.

Yang menarik lagi dari cafe ini adalah gelas kristalnya yang berwarna biru. Gelas itu sebenarnya hanya gelas air minum biasa. Pas kebetulan kesana dengan beberapa kawan, kami bikin sedikit bikin gara-gara di sana. Terinspirasi film Sandra Bullock, Miss Congeneality 1 yang membunyikan gelas kristal waktu di panggung, kami ramai-ramai membunyikan gelas-gelas itu.

Tidak lama kemudian, kami seperti sedang memainkan sebuah simfoni… hehehehe. Si mas pelayan memandang kami. Kami sok cuek seperti biasa. Untunglah, cafe sudah sepi, sehingga tidak seorang pengunjung pun merasa terganggu dengan permaian kami.

Surabaya Heritage Track (SHT)

Surabaya Heritage Track (SHT) melengkapi kunjungan ke Musem Sampoerna ini. Berawal dari promosi seorang teman, jadi tertarik untuk ikut tour ini. SHT merupakan  tur dengan bis wisata keliling ke situs-situs bersejarah (kota tua) di Surabaya. Tur semacam ini memang biasa sih di luar negeri. Seperti Washington DC ataupun London dengan bus sight seeing.

Tapi, karena ini Surabaya, jadinya aku excited banget. Beberapa saat yang lalu, sempat ikut tur ini di satu Minggu dengan mata masih lengket. Kalau ingin ikut tur ini, harus reservasi terlebih dahulu. Bisa juga go show. Akan tetapi, kalau sudah penuh seat-nya harus menunggu jam berikutnya, atau lain waktu. Sekali trip, seat yang disediakan 20.

SHT ini merupakan “persembahan” dari Sampoerna Foundation untuk Surabaya. Dioperasikan sejak Juni 2009. Beberapa saat setelah ulang tahun Kota Surabaya pada 31 Mei. SHT ini bertujuan agar masyarakat banyak lebih mengenal historis “Surabaya”.

Banyak di antara kita sering melintas di situs-situs ini, tetapi tidak pernah tahu kejadian sejarah apa yang pernah terjadi di sana. Barangkali yang terkenal hanya Jembatan Merah dan Hotel Majapahit saja. Karena tidak mengenal ini, banyak diantara bangunan-bangunan bersejarah di Surabaya dipugar dan dibangun dengan gedung-gedung yang baru.

Ada dua jenis trip yang diselenggarakan oleh House of Sampoerna (HOS) ini. Yaitu trip pendek dan trip panjang. Durasi masing-masing trip ini sama-sama satu jam. Hanya berbeda saja rute dan harinya. Untuk trip jarak pendek, biasanya dilakukan pada weekdays (Selasa sampai dengan Kamis). Sedangkan long trip, dilakukan pada saat weekend (Jum’at sampai dengan Minggu). Hari Senin tidak ada trip alias sedang libur.

Dari duat trip ini, aku hanya pernah mencoba long trip. Perjalanan dimulai dari House of Sampoerna (HOS) dan berakhir di sana pula. Rute yang dilewati adalah Penjara Kalisosok, Tugu Pahlawan, Jalan Kramat Gantung, Jalan Tunjungan, Jalan Pemuda, kemudian menuju ke Jalan Gentengkali.

Lewat Jalan Blauran dan Jalan Bubutan bis kembali ke HOS. Bis dua kali berhenti, yaitu di Balai Pemuda dan Gedung Cak Durasim (Gedung Kesenian Jawa Timur). Kalau hari Minggu, di Balai Pemuda akan ada pertunjukan reog, dan di Gedung Cak Durasim banyak anak-anak kecil berlatih menari. Gedung Balai Pemuda dulunya adalah ruang bola (societet) ketika jaman Belanda. Sedangkan Gedung Cak Durasim dulunya adalah istana Kanoman Surabaya.

Kalau trip pendek rutenya tidak terlalu jauh dari HOS. Tapi sebenarnya tidak kalah menarik dengan trip panjang. Objeknya, adalah masuk ke dalam bunker milik PTPN XII. Sayangnya, aku belum mencoba yang masuk ke dalam bunker ini. Menurutku, sepertinya memang lebih menarik trip pendek ini.

Dengan adanya Surabaya Heritage Track ini, kita menjadi tahu situs-situs bersejarah di Surabaya. Kadang, kita hanya melewatinya saja, tanpa kita tahu bahwa bangunan-bangunan itu turut mewarnai sejarah kota ini. Seperti misalnya, kita menjadi tahu kalau di Surabaya dulu ada dua jenis keraton (Kasepuhan dan Kanoman).

Istana Kasepuhan tepatnya masuk ke dalam sebuah gang dari Jalan Kramat Gantung. Lalu, kemudian kita juga tahu, sebelum Tugu Pahlawan dibangun pada jaman Presiden Soekarno, dulunya adalah markas Kempetai semasa Perang Dunia II. Dan, kita juga baru tahu, dulunya di Surabaya ada sebuah aloon-aloon bernama Aloon Aloon Contong. Mesipun sekarang hanya berwujud sebidang tanah kecil di pojokan Jalan Kramat Gantung.

Sayangnya, bis ini tidak berhenti di setiap objek ataupun situs yang dilewatinya. Mungkin, kalau berhenti di tiap titik, waktu sejam tidak akan cukup untuk berkeliling ke banyak tempat-tempat bersejarah di Surabaya.

4 Comments to "Museum Sampoerna dan Surabaya Heritage Track"

  1. yuni wijayanti  15 July, 2012 at 14:39

    Banyak sekali crita saat ikut SHT,tp ª∂ª yg paling terkesan,saat ΐŧΰ kita kbagian mengunjungi balai kato… Dan ini sesuatu yg langka kata ♍ϐάK guideny ,kita d jamu kr btepatan d balai kota ª∂ª tamu, yg tak kalah menarikny yg tdk akan terlupakan,ª∂ª bu RISMA walikota surabaya… Kesempatan bg $ªƔά̲̣ yg narsis habis,bfoto ama b.Risma tp sayang kr peserta lain pd mau ikut bfoto sy tdk bs memberikan kartunama siapa tau b.risma bkenan jahitin baju k Roemah Djahit YnO…. Tp… Sy tetep terimakasih untuk SHT… Kapan lg sy pasti ikut lg trip nya

  2. jane  22 November, 2011 at 12:42

    bagaimana caranya untuk ikut free tripnya….kebetulan des ini saya dan teman2 mau ke surabaya.

  3. Lilla  14 October, 2011 at 21:11

    Aq lama di surabaya,tp msh byk tmt2 bersejarah yg blm aq ketahui. Setelah menengok website ini, aq lgsg tertarik dan sepertinya akan mencoba SHT.

  4. ndelz  21 May, 2011 at 10:13

    caranya gmn klo mau ikut

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *