The Adventures of Uncle Sam(uel Mulia)

oleh Iwan Satyanegara Kamah & Josh Chen

HA? Bertemu Samuel Mulia? Saya tidak pernah membayangkan bisa bertemu orang ini. Secara fisik saya belum pernah berjumpa di jalan, di mal, di seminar (apalagi seminari) atau berkomunikasi langsung dengannya. Mengenalnya pun secara dekat sambil leha-leha ngobrol, tak terbayang sebelumnya.  Saya sering bertemu dan membaca ide serta pandangannya setiap minggu melalui kolom tulisan parodinya di sebuah edisi Minggu harian terkenal. Mungkin jutaan orang urban di Indonesia sama seperti saya, yang hanya mengenal dia melalui tulisannya.

“Untuk apa Josh ketemu Samuel Mulia?”, tanya saya heran ketika dihubungi sahabat saya, Joseph Chen, melalui surat elektronik.

“Ayo bareng interview dia”, ajak Josh yang sudah membuat janji bertemu untuk wawancara di akhir pekan minggu ketiga bulan April lalu.

Pertanyaan saya pun tidak terjawab dengan balasan Josh itu. Namun dengan sendirinya saya menerima jawaban yang lebih saya inginkan, ketika sudah berbincang santai dengannya di sebuah lobby hotel berbintang di sekitar patung Selamat Datang. Namun saya tetap bingung, mau nanya apa kalau ngobrol sama Samuel Mulia?

Waktu diajak menemani mewawancarai Sam, sapaan akrab Samuel Mulia, saya tak perlu berpikir njelimet menerima ajakan itu. Apalagi saya juga diminta membantu tanya-tanya apa saja yang kira-kira bisa dijawab oleh Sam.

‘Rumah kaca’

Saya sebenarnya lebih mengenal dekat nama Samuel Mulia, daripada membayangkan sosoknya. Selama ini dibenak saya seorang Samuel Mulia seperti Samuel Wattimena, seorang perancang busana asal Indonesia Timur. Kekar, hitam dan macho. Ternyata meleset jauh, saat saya berusaha mencari tahu melalui selancar di internet, seperti apa tampak visual Samuel Mulia, hanya beberapa jam sebelum saya bertemu dengannya.

Bagi sebagian besar orang urban di kota-kota besar, seorang Samuel Mulia bukan nama yang asing lagi. Siapa dia sebenarnya, kami tidak tertarik untuk menjelaskannya secara pengulangan dalam tulisan ini. Sudah terlalu banyak dibahas dalam banyak tulisan tentang facts about siapa Samuel Mulia.

Seorang seperti Sam, ternyata memang sangat terbuka sekali mengungkapkan segala isi hatinya. Kami agak shock dan kagum bila menatap matanya melotot sambil menggerak-gerakan jari telunjuk, bila ada sesuatu hal yang serius ingin dia sampaikan. Kalimat yang keluar dari mulutnya benar-benar telanjang, bugil abis dan terbuka tanpa ada penutup. Ceplas! Ceplos! Plosss… Polos.

Bila ibarat sebuah rumah, semua dinding rumahnya Sam terbuat dari kaca tembus pandang! Tidak ada yang tidak terlihat sedikitpun di dalamnya tentang apa yang  dipikirkan, apa yang dia sembunyikan, apa yang dia sedang lakukan, apa yang telah dia  lakukan dan apa yang dia lihat. Isi kepala Samuel Mulia adalah rumah kaca, seperti judul novel terkenal Pramoedya Ananta Toer.

“Saya terbuka dan terus terang. Untuk apa menyembunyikan sesuatu yang memang sudah kita miliki?”, katanya polos.

Ketika hanya membaca tulisan parodinya yang sangat menarik, saya membayangkan sosok Samuel Mulia adalah orang yang menyebalkan, sombong dan angkuh. Kesan ini tersimpan baik dalam memori saya. Entah orang lain, mungkin sependapat dengan saya.

Dalam industri media, mode dan jurnalistik di Indonesia, nama Samuel Mulia memiliki rumah sendiri yang unik dilihat, dipandang, didatangi, dipuji, disayang dan mungkin juga dicibir bahkan dihina kalau perlu dilempari batu.  Petualangan hidupnya sangat beragama. Mulai dari seorang dokter Med. lulusan sebuah fakultas kedokteran di sebuah universitas negeri di Bali, lalu menemukan dunianya dalam belantara mode dan fesyen, sampai dia berusaha belajar jurnalistik dari ketika bekerja di dapur mode sebuah majalah fesyen ternama di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Ketika sudah benar-benar bersenyawa dengan dunianya, Samuel pergi menetap dua tahun ke Mekkahnya mode di Paris.

“Wooo…senengnya bisa ke Paris”, kenang Samuel yang masih tersisa sangat sedikit kefasihannya berbincang dalam bahasa Prancis.

Selama tinggal di Prancis dia banyak bertemu bahkan mewawancarai perancang busana ternama dunia, seperti Karl Lagerfeld, Dolce Gabbana dan Giorgio Armani. Dia takjub bahwa perancang busana di barat memiliki dan menguasai dunia yang tak semata mode saja.

“Prada itu komunis lho”, menyebut contoh persinggungan dunia mode dan politik. Memang pemilik rumah mode Prada, Miuccia Prada (cucu pendiri Prada) adalah simpatisan (anggota) partai komunis Italia, karena  ketua partainya waktu tahun 1970an yang flamboyan Enrico Berlinguer begitu simpatik dan dijuluki “komunis baik” oleh barat.

Bagi seorang Samuel, perancang mode Indonesia tak pernah dilibatkan dalam hal-hal yang tak hubungannya dengan dunia. Seharusnya diajak, didengar dan diminta pendapatnya tentang dunia lain selain mode.

“Ini labelisasi yang saya tak suka, seolah kalau dunia mode tak ada urusannya dengan dunia lainnya. Saya lupa mengatakan pada Sam, bahwa di barat tak ada labelisasi seperti yang dia bayangkan dalam masyarakat Indonesia. Misalnya pada sebuah edisi tahun 1979, majalah khusus pria yang isinya foto perempuan telanjang, Penthouse, memuat wawancara lengkap dengan pemimpin spiritual Iran Ayatullah Khomeini.

“Kenapa anak yang ranking atas selalu nilai matematikanya 10? Kenapa bukan nilai menggambarnya 10?”, tanya dia yang membuat kami berdua berpikir lelah tak sanggup menjawab. Kayaknya ada yang salah nih sama sistem pendidikan kita, pikir saya. Seorang Samuel Mulia memang tidak menyukai labelisasi yang berlaku di masyarakat kita.

‘Quraish Shihab’

Hmmm…agak bingung saya, mendengar sejak huruf pertama yang keluar dari mulut seorang Samuel Mulia. Tak terbayang dia akan ‘berceramah spiritual’ kepada kami tentang titik balik hidupnya sejak 6 tahun silam. Dia banyak berubah sejak mengalami sebuah peristiwa kritis dan memerlukan perawatan di luar negeri seorang diri tanpa siapapun mendampingi untuk menolongnya.

“Sejak itu saya menemukan Tuhan kembali”, kenangnya. Selama berbincang dengan kami, setiap retorikanya selalu dari sudut pandang Tuhan. Ini yang membuat kami agak takjub dan sedikit gegar.

“Orang yang tidak mempedulikan Tuhan, hidupnya tak akan pernah bahagia”, sambil matanya membelalak dan menunjuk-nunjuk ke atas. Pengalaman hidupnya yang cukup panjang, dari membenci sampai melimpahkan apapun kepada Tuhan, membuat cara pandangnya tentang spiritualitas sangat kaya dan melimpah dengan cara berpikir yang cantik.

“Kenapa kita selalu ingat Tuhan pada saat-saat kritis dan terakhir?”, katanya penuh tanya. Samuel mengumpamakan kebanyakan dari kita (mungkin hampir semua), tak mempedulikan dan menganggap enteng peran Tuhan dalam hidup. Pemahamannya tentang cara bertuhan dan menghargai orang lain membuat bibir saya susah mingkem selama mendengar kucuran setiap kata, yang nyerocos (mengalir deras) dari bibirnya.

“Kenapa kita selalu percaya bahwa pesawat yang akan kita naiki pasti ada pilotnya? Kenapa kita tak selalu percaya bahwa Tuhan itu selalu ada akan menolong kita?”, tanya dia mengambil perumpamaan yang menarik. Percaya aja deh, Tuhan itu ada dan akan selalu menolongmu. Begitu kira-kira kami berdua menyimpulkannya.

Mendengar cara pandang ketuhanannya, saya teringat ceramah-ceramah dari Quraish Shihab, seorang ulama besar Indonesia yang banyak memancarkan kesejukan dan ketentraman. Bagi saya yang berbeda kayakinan dengan Samuel Mulia, mendengar pendapatnya tentang Tuhan, sama seperti yang saya tahu dan yakini. Saya seperti ngobrol sama seorang Quraish Shihab.

“Saya selalu berdoa dan berdialog kepada Tuhan sejak sebelum matahari terbit”, akuinya. Agak kaget saya dengan sistem waktu berdoa Sam yang sama seperti yang dilakukan pemeluk Islam.

“Kamu tahu mengapa orang Islam itu berdoa lima waktu? Karena waktu-waktu saat orang Islam sembahyang itu, adalah waktu terbaik melakukan detoksifikasi jiwa!”, ujar dia berapi-api seperti ‘mengintimidasi’ kami. Woooooooooo….ucapan ini keluar dari mulut seorang Samuel Mulia! Nggak salah nih?, pikir saya.

Samuel Mulia memang beda banget dengan Samuel Mulia yang saya ingin tahu. Dia kadang berpuasa dan pantang menyentuh babi. Setiap ucapan yang dia keluarkan, kadang dia buktikan sesekali dengan membuka ponselnya, untuk mengutip ayat-ayat dari kitab suci.

Ngobrol dengan Samuel Mulia, kami berdua seperti salah pesan makanan di restoran. Berharap mendapat penilaiannya tentang segala sesuatu dari sudut pandang jurnalisme dan dunia fesyen, eeh…malah dapat banyak penyegaran spiritualitas yang kami lahap darinya. Rasanya saya ingin cuci muka ditengah-tengah berbincang dengan Samuel Mulia, untuk menyadarkan diri apakah memang benar saya berhadapan dengan Samuel Mulia? “Nggak salah nih, saya ngobrol sama siapa?”, tanya saya dalam hati.

Yang mengejutkan saya adalah saat dia sesekali dia ‘menganjurkan’ kami untuk mengucapkan salam kepada orang lain dan mendoakan orang dengan ucapan ‘assalamu alaikum’.

“Kamu tahu, kata ‘assalam alaikum’ itu ada dalam bahasa Ibrani, yang bunyinya sama, ‘shalom alaechem’. Seperti kita mengharapkan ‘blessing’ untuk orang lain. Seharusnya kalau kita diberi salam ‘shalom alaichem’, kita jawab dengan ‘aleichem shalom. Bukan ‘shalom’, katanya bersemangat mengejari kami berdua. Saya bener-bener melongo mendengar ucapan seperti ini keluar dari mulut Samuel Mulia!

Bagi seorang Sam, kita harus pandai menyintai orang dan jangan menyimpan dendam kepada siapapun. Dia memberi contoh tentang hubungan dengan ibu tirinya yang tinggal di Bali. Meski dia pernah tak begitu menyukainya (Sam kadang mengkritik kehidupan perkawinan ayahnya), dia tetap hormat dengan sang ibu.

“Biar bagaimanapun juga dia tetap ibu saya dan istri dari ayah saya”, kata memberi contoh bagaimana kita harus mencintai yang pernah kita tak sukai. Bila setiap kesempatan harus ke Bali, Sam lebih memilih berangkat pagi hari. Agar ada waktu lebih lama buat sang ibu, karena hal pertama yang dilakukannya setiap tiba di Bali adalah ke rumah ibunya.

“Saya harus sujud dulu ke ibu saya. Setelah itu baru bebas mau kemana”, katanya sambil tertawa.

Pohon busuk, buahnya pun busuk

Sebelum kami benar-benar mewawancarainya, Samuel lebih banyak memberi ‘siraman rohani’ kepada kami dengan nada tanya jawab yang tak membosankan. Entah apa dibenaknya, apakah ingin memperlihatkan sebuah perubahan besar spiritual terjadi pada dirinya atau memang menganggap kami berdua sedang dahaga rohani. Hahahaha…

Kalau ingin menulis sesuatu, sebaiknya jiwa kita sebagai penulis harus sehat. Tulisan parodinya di surat kabar tiap minggu, memang banyak membuat inspirasi sebagian orang tentang cara memandang kehidupan.

“Saya ini seperti dianggap dewa oleh sebagian orang yang membaca parodi saya”, katanya. Namun banyak juga yang tak menyukai cara pandang dalam tulisannya.

“Saya pernah kok mau dibunuh sama anak jenderal”, kenangnya.

Bagi seorang Samuel Mulia, kalau jiwa kita sakit, ya hasil tulisan kita juga akan membuat orang jadi sakit. Pohon yang busuk akan menghasilkan buah yang busuk juga, dia mengambil sebuah perumpaan. Ide-ide segar tulisannya, sering dia dapat dari mana saja dan diolah dengan kreatifitas berpikir berdasarkan pengalaman hidupnya yang bertualang di banyak dunia bagaikan diorama hidup.

“Mosok ada sebuah blog yang tulisannya ngajarin orang cara bunuh diri?”, katanya penuh keheranan berapi-api.

Samuel mendapatkan teknik menulis jurnalisme dari seorang redaktur senior di majalah mode terkenal tempat dia bekerja dulu. Dari tempatnya bekerja ini, banyak hal penting yang mengubah jalan hidupnya yang zigzag di kemudian hari. Untuk dunia mode Indonesia, agak sulit mencari pengamat mode sekaligus penulis sekaliber Samuel Mulia.

“Saya nggak bisa hidup tanpa menulis”, kata pria berusia 47 tahun dan sudah 5 tahun menulis kolom parodinya yang jenaka dan inspiratif . Sama halnya dalam dunia mode yang dia tekuni, bahwa ‘style is the dress of thought seseorang. Dalam hal menulis pun begitu, bahwa ‘writing is the ultimate expression of who we are.

Seperti apa sosok Samuel Mulia? Ya…baca saja tulisannya tiap hari Minggu dan kita tahu siapa dia sebenarnya. Samuel adalah inspirasi bagi sebagian orang, termasuk saya dan mungkin juga bagi sahabat saya, Josh Chen. Untuk mendapatkan inspirasinya, sahabat saya Josh Chen meminta izin bila tulisannya bisa ambil untuk disajikan di websitenya atau lebih baik lagi dia khusus bisa berbagi pengalaman di Baltyra.

“OK”, katanya singkat.

Dolce Samuel!


***

68 Comments to "The Adventures of Uncle Sam(uel Mulia)"

  1. Faiz Hasiroto  24 December, 2013 at 19:52

    wawancara pada “pohon” yang baik, menghasilkan buah/tulisan yang baik pula. Itu saja kesan itu tersisa pada saya. terimakasih Pak ISK dan Pak JC atas “sesajen” ini.

  2. Reca Ence Ar  27 September, 2011 at 20:54

    Pengalaman yang luarbiasa bermanfaat….
    Saya banyak menemukan hal baru disini
    Terimakasih banyak mas ISK dan mas JC yang memberikan link ini
    Salam bahagia selalu dam tetap semangaat

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.