Menu Mahasiswa

Cinde Laras

Dulu, ketika saya kuliah di Salatiga, uang saku yang diberi ibu saya cuma pas-pasan. Tahun 1987 hanya diberi uang saku sebanyak 32 ribu sebulan, alamak…. Sampai sekarang saya masih terheran-heran bagaimana saya bisa bertahan dengan banyaknya kebutuhan yang harus saya beli selama saya kos di sana. Hmmm…, hitung saja keperluan saya seperti membeli sabun mandi, sabun cuci, shampo, bedak, pembalut, belum lagi beras, sayur-mayur, minyak kelapa, minyak tanah, gula, teh, susu, biaya fotocopy diktat, dan juga jajan selama saya di kampus.

Kok bisa cukup, ya ? Bandingkan dengan uang saku sahabat saya yang asal Jepara, yang tiap bulan menerima tidak kurang dari 75 ribu, bahkan lebih kalau dia kebetulan bertemu kakak-kakaknya yang mampir ke tempat kosnya. Benar-benar bikin iri beraaat !. (Tapi dibalik sedikitnya uang saku yang saya terima itu terdapat hikmah yang akhirnya saya sadari setelah saya lulus kuliah. Ternyata saya bisa ngirit juga ! Yes !, yes !, yes !)

Herannya lagi, dengan uang yang cuma segitu-gitunya itu, saya masih bisa menyisihkan beberapa rupiah untuk sekedar beli obat bebas untuk jaga-jaga kalau saya terkena flu atau sakit kepala. Dan, saya masih bisa menyisihkan sedikit untuk sangu pacaran ! Hebat ‘kan ?! Untungnya, pacar saya tidak pernah punya keinginan jajan yang aneh-aneh. Boro-boro ke rumah makan, itu cuma bisa kami lakukan kalau kami sedang ulang tahun saja.

Biasanya kami makan di Pasar Sayangan. Menu kesukaan saya waktu itu tidak lebih dan tidak kurang ya hanya nasi plus sayur bening bayam ditambah separo telur ikan goreng dan satu sendok kecil sambal bajak (itu lho sambal terasi tomat yang digoreng ala Semarangan). Segitu saja rasanya sudah uenduaaang….

Pokoknya perut kenyang, uang tidak banyak terbuang. Seporsi ? Cuma 500 rupiah saja. Itu pun tidak bisa tiap hari saya lakukan, soalnya ya karena keterbatasan dana itu tadi. 32 ribu per bulan gitu, lho ! Bayangkan kalau saya makan tiga kali porsi yang sama tiap hari, bisa-bisa belum sampai habis bulan saya sudah ngutang sana-sini. Hi…, amit-amit. Saya bayangkan kalau waktu itu uang 500 rupiah di Jakarta bisa dapat menu apa, ya ? Gado-gado ? Bakso ? Tapi yang jelas pasti porsinya nggak sebanyak makanan yang saya dapat di Pasar Sayangan.

Dalam rangka pengiritan, maka saya membuat semacam perencaan menu bulanan yang bagi saya cukup enak dan hemat. Daftar menu saya seperti ini :

1. Senin Nasi + Sarimi

2. Selasa Nasi + Abon

3. Rabu Sarimi + Nasi

4. Kamis Abon + Nasi

5. Jumat Nasi + Sarimi + Abon

6. Sabtu Nasi + Abon + Sarimi

7. Minggu Abon + Sarimi + Nasi

Daftar menu ini saya tulis dengan rapi di sehelai kertas dan saya hias dengan garis-garis indah dalam stabilo warna-warni, lalu saya tempelkan ke dinding tripleks kamar kos saya yang sederhana. Hasilnya ?, sahabat saya yang orang Jepara itu, dengan segala kekurang-ajarannya, tertawa ngakak setelah membaca daftar menu kebanggaan saya…. Gitu deh, akh…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.