Dalam Diam Aku Menyayangimu (Part 2 – tamat)

Rosda

“Kalau kau marah, tambah manis “

“Hei..aku nggak marah bung…apa hak ku marah padamu ? Family bukan, sodara bukan…!!”

“Iya…tapi kita kan…”

“Kita kan apa ?”

“Teman baik…”

Halah…kirain dia mau bilang apa !! Kalau cuma mau bilang teman baik ya nggak usah diomongin. Aku juga punya banyak teman baik yang lain. Hahahahaaa…apakah aku mengharapkan bahwa dia akan mengatakan ” kita kan pacaran ” ??

Setelah hampir sampai rumahku, kami mampir sebentar di garasi meriam dekat tanah lapang. Kami naik ke atas meriam yang berjejer di situ. Duduk di atas meriam seakan-akan kami mau melepas kan bom ke satu arah tertentu. Kalau ada om yang lagi piket, pasti kami kena tegur dan disuruh turun. Biasanya, kalau kami melihat om piket mendekati kearah garasi, kami akan turun dan pura-pura mencari undur-undur yang banyak hidup di sela-sela pasir di bawah meriam.

“Jam berapa nanti datang ke lapangan volley ?”

“Jam empat…kau datang jam berapa ?”

“Sebelum kau datang, aku akan sudah ada di sana”

Kamai ngobrol ngalur ngidul. Membicarakan tentang John yang agresip mendekatiku. Aku nggak suka John dan kukatakan padanya jangan datang bersamanya ke rumahku.

“Aku nggak bisa melarangnya….apalagi dia teman akrabku”

“Bilanglah ama dia, bahwa….” Aku tak berani meneruskan kata-kataku.

“Bahwa apa ?” katanya.

“Pulang yukk…aku dah lapar” kataku mengalihkan pembicaraan.

“Hei jawab dulu pertanyaanku…”

“Nanti di lapangan volley ” kataku dengan asal-asalan, sambil turun dari meriam.

“Betul ya…awas kalau nggak” katanya sambil turun dari meriam juga.

Aku melangkah menuju arah rumahku, dia berbalik ke arah semula tadi kami datang. Hatiku berbunga-bunga. Apalagi nanti sore kami akan bertemu.

Dia adalah pemain volley yang handal. Tubuhnya yang tinggi memudahkannya untuk melakukan smash tajam ke arah lawan. Di sekolahnya dia juga juara umum. Itu yang membuatku kesengsem padanya. Di samping sifatnya yang calm, dia juga asistent guru karate kami. Anak-anak di asrama kami, disarankan ikut latihan berbagai olah raga dan karate, agar menjadi manusia yang sportif, begitu katanya.

Dia juga sangat mengerti aku. Aku merasa, aku adalah anak yang kuper…kurang gaul. Kalau belum dekat dengan seseorang, biasanya aku susah untuk diajak bicara. Kalaupun diajak bicara, biasanya aku akan merespon seperlunya saja, takut salah omong.

Kalau aku ada PR, jika aku mengalami kesulitan, aku sering minta tolong bantuannya. Dengan sabar dan senang hati dia akan membantuku. Hasilnya ? Aku juga menjadi juara umum di sekolahku.Terkadang, aku memanfaatkan keadaan…memintanya menterjemahkan banyak arti kata bahasa Inggris di buku yang kupinjam dari perpustakaan.

Permainan volley sore ini cukup seru. Tak ada waktu untuk kami bicara. Untuk sementara, aku bebas dari kewajiban menjawab pertanyannya. Heheheeee…

Walaupun dia sering ke rumahku, tapi malam minggu adalah wajib hukumnya dia mengunjungiku. Tapi dia datang nggak pernah sendirian, selalu bersama teman-teman kami yang lain. Dan kami akan ngobrol di teras rumah.

Papaku cukup baik juga ya…anaknya yang masih bocah diijinkan menerima teman-teman cowoknya di malam minggu. Tapi papaku udah kasi batasan waktu pada mereka, jam 9 malam harus meninggalkan rumahku. Dan mereka….teman-temanku itu, selalu konsekwen dengan hal itu. Kalau suara Tuty Adhitama sudah terdengar mengantarkan Dunia Dalam Berita, maka teman-temanku akan pamit pada ortuku.

Tanpa terasa, hari berganti, bulan bergeser dan tahun sampai pada penghujungnya. Dia sudah tamat SMA….dan aku duduk dibangku klas 3 SMP.

Suatu hari, dia mengajakku bicara.

“Aku akan pergi..”

“Ke mana ?” Aku heran…nggak ada angin, nggak ada hujan kok tiba2 bilang mau pergi ?

“Aku harus ikut pendidikan “

“Pendidikan apa ?”

“Aku lulus jadi tentara”

“Apa ??? Jadi tentara ?? Apa-apaan ?? Gimana ceritanya kok bisa masuk tentara?”

“Aku menemani John mendaftar, iseng-iseng aku ikutan…eh nggak taunya aku lulus, si John malah nggak lulus”

“Ya ampunnn….apa-apaan sih ? Kau kan pinter, kenapa nggak kuliah aja ? Kau bilang hari itu mau kuliah…kok malah ikut-ikutan si John.”

“Aku tau, kau pasti nggak suka aku jadi tentara kan ?”

“Sudah tau begitu kok malah dilakukan. Aku bosan tinggal di asrama, aku ingin melihat dunia di luar asrama kita. Kalau jadi tentara ya balik-balik ke asrama lagi…” kataku kecewa.

Dia terdiam sejenak, memandangku dengan rasa kasihan. Uhhhh…aku paling nggak suka dikasihani.

“Minggu depan aku berangkat, jadi biar kau nggak kecarian kalau nggak ketemu aku”

Rasanya aku ingin menangis…tapi kutahan. Dia akan pergi, tinggal lah aku sendiri nanti di sini memandangi semua tempat di mana kami sering bersama-sama. Di lapangan volley, aku tak akan menemuinya lagi. Di gang menuju jalan raya ke sekolahku, aku tak akan melihatnya lagi. Aku tak akan mendengar suara dan candanya lagi. Alangkah sepinyaaaa…


“Berapa lama pendidikannya ?”

“Aku belum tau”

“Kirim surat padaku jika kau tlah sampai disana..ke alamat sekolahku aja, aku di klas III F”

“Mudah-mudahan.”

“Jangan mudah-mudahan tapi harus. Setelah kau pergi nanati, aku akan sedih, sendirian melihat semua tempat-tempat ini. Menyakitkan…”

“Tapi lebih menyakitkan bagi orang yang tak bisa melihat tempat yang penuh kenangan ini” katanya.


Seminggu kemudian, dia berangkat. Aku tidak melihatnya. Tapi dia sempat memberi alamat di mana dia menjalani pendidikan. Suratnya tak kunjung datang, jadi aku lah yang menyuratinya.

Akhirnya dia menikah dengan gadis yang dikenalnya di sana. Sebelum menikah, dia pamitan padaku. Sebelumnya dia telah memperkenalkan calon istrinya.

Hubungan persahabatan kami tetap terjaga. Sewaktu dia bertugas di perbatasan Irian Jaya dan Papua Nugini, dia juga mengabariku. Terakhir dia bertugas di Aceh Utara, Lhoksmawe. Sewaktu tsunami terjadi, dia masih bertugas di sana. Sejak saat itu sampai sekarang, aku tak pernah mendapat kabarnya lagi.

Di manakah engkau wahai sahabat ??

Kiranya engkau dalam keadaan baik-baik saja.


Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.