Kritik Untuk Produsen Honda Megapro

Octavero – Kudus

Mega -pro…..produk Honda yang satu ini memang dirancang untuk satu kelas di bawah Tiger, motor keren empat tak ini memiliki lima percepatan yang dirasa cukup untuk melaju kencang jarak jauh pada setingan standar service resmi Honda di manapun itu berada.

Kebetulan pula saya memiliki megapro yang saya beli bulan april tahun 2008 kemarin. Dari berbagai sudut pandang saya masih menganggap motor ini lebih dari sekedar lumayan, beberapa alasan saya antara lain :

  • Irit, Rp. 18.000,00 untuk perjalanan sepanjang 110 KM non stop
  • Akselerasi yang lumayan meski tidak se galak produk milik yamaha….
  • Top speed yang stabil… meski menuju ke top speed stabil itu diperlukan tenaga dorong yang ngeden
  • Karburasi yang tidak banyak masalah
  • Mudah bongkar pasang untuk keperluan modifikasi
  • Desain yang ga ketinggalan jaman

Selama saya menjadi rider megapro ini, belum pernah sekalipun saya mengalami macet secara tiba-tiba di tengah jalan atau masalah masalah lainnya. mungkin dikarenakan saya merawat motor sesuai anjuran dari Honda yang membuat megapro saya fine fine aja sampai sekarang.

Perlu diketahui juga, untuk kampas rem belakang juga saya ganti setelah melewati jangka waktu 1,5 tahun pemakaian nonstop, maklum, rem roda belakang masih menggunakan tromol. Selain itu ban belakang  juga saya ganti setelah 1,6 tahun pemakaian dan tidak termasuk ban dalamnya, jadi ban belakang saya ganti ban luarnya saja dan belum pernah masuk tambal ban sekalipun, itupun juga dengan keadaan ban luar masih bisa dipakai tapi tidak layak jalan, karena surface yang paling sering menapak pada jalan sudah aus dan halus hehehehe

Sebelum saya lanjutkan ke paragraph selanjutnya perlu diketahui bahwa pemakaian megapro saya pakai untuk trayek Solo – Kudus maupun Kudus – Solo yang rutin dengan rata rata dua minggu sekali sejak pertama beli hingga sekarang.

Kecepatan berkendara saya rata-rata 80 KM/H dengan kecepatan putar mesin tiap ganti gigi selalu di 6000 r/m. Solo – Kudus dengan jalur yang melewati Solo – Gemolong – Gundhi – Purwodadi – Brati – Undakan – Kudus, kadang bila jalan antara Purwodadi – Kudus sedang rusak parah, saya lewat jalur lain yakni Purwodadi – Sukolilo – Kudus. Sebagai informasi saja bahwa perjalanan Solo – Kudus adalah perjalanan yang menurut saya luar biasa, trayeknya keren, banyak tikungan tajam, naik turun perbukitan, melewati hutan gundhi, berpacu dengan Rela si raja jalanan (bis Solo – Purwodadi), scenery untuk sekedar sight seeing di perjalanan juga oke punya… terutama pas musim kemarau, meski terasa gerah dan panas hehehe…

Oke deh… langsung ke inti permasalahan. paragraf di atas sudah menceritakan plus – nya…. kini sudah saatnya untuk si minus beraksi.. karena ada yin pasti ada yang, ada awal ada akhir, ada positif ada negatif,  secara pemikiran tetua tetua jaman akhir adalah agar semuanya seimbang.  deal!

Kali ini akan saya kritik mengenai berbagai kekurangan dan kelemahan yang menonjol based on my megapro, saya katakan menonjol karena PARAHH bro!!

  • Rasakanlah komstir bekerja, ketika anda melaju dengan kecepatan 110KM/H lalu anda loss gass untuk menukik tajam dengan bilangan perlambatan tertentu pada suatu tikungan, gerakan kemudi sangat tidak stabil dan cenderung membuat was-was si rider, istilah dalam bahasa jawanya nggliyer yang sangat terasa sekali. Dan hal ini tidak hanya terjadi pada megapro saya saja, beberapa milik rekan rekan saya juga mengalami hal tersebut. Bila dibiarkan dan tidak ada improvement bisa membahayakan keselamatan pengemudi maupun penumpangnya
  • Plastic part penyusun megapro ini ga se kuat yang saya kira, jauh berbeda dengan milik Yamaha maupun Suzuki, Plastic part yang ada pada Honda megapro terbuat dari resin ABS (Acrylonitrile Butadiene Styrene) secara spesifikasi resin bisa dibilang oke lah itu sudah cukup kuat untuk bahan body motor yang notabene berbeda dengan HIPS (High-impact Polystyrene) yang lebih murah tetapi juga lebih lemah daripada ABS. Yang menjadi permasalahan adalah desain yang kurang maksimal, beberapa saya sertakan foto sebagai gambaran problem Crack, Patah dan positioning locking plug yang kurang tepat, serta positioning antara elbow’s end dengan selebor depan yang mengakibatkan saking enaknya shock breaker depan sehingga membuat selebor bisa meluncur bebas bertabrakan dengan elbow’s end ketika melewati gundukan yang cukup tinggi dengan kecepatan tinggi…..pertanyaannya adalah…. Mengapa tidak ada stopper untuk shock breaker untuk mengantisipasi bertabraknya elbow’s end dengan selebor bagian tengah, dan itu terjadi pada motor saya.
  • Tangki yang konturnya sangat susah untuk ditutup secara full face dengan sticker tambahan (maklum, saya ga puas dengan sticker resmi megapro hehehe) sehingga sangat tidak mungkin untuk ditutup fullface dengan satu lembar sticker tanpa harus memotongnya, dikarenakan saya nafsu banget untuk ganti sticker akhirnya saya terpaksa memotong lembaran sticker dan tahukah anda apa yang terjadi??? Sticker mengkerut dan posisi sambungan menjadi kelihatan… andai konturnya smooth dan ga banyak lekukannya… pasti dah no comment.
  • Untuk roda standar (bukan cast wheel type) yang masih memakai ruji banyak material logam penyusunnya kurang solid sehingga dengan medan perjalanan Solo – Kudus yang secara annually dua minggu sekali dipake nglajo, berakibat pelek bengkong maupun oling yang harus musti segera di normal kan lagi ( di kentheng – dalam bahasa jawa) dan itu saya alami berulang kali.
  • Desain kurang sip!, cos saya tidak dapat menemukan lokasi praktis untuk menempatkan mantol/ jas hujan dan peralatan repair praktis untuk jaga jaga bilamana musin hujan datang, maupun motor tiba-tiba macet di jalan… maka terpaksa musti membawa tas ke manapun saya pergi…


Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung Octavero! Terima kasih kepada Lembayung yang sudah “menyeret” dan memperkenalkan Baltyra kepada Octavero…semoga kerasan ya…

94 Comments to "Kritik Untuk Produsen Honda Megapro"

  1. motivasi  17 December, 2013 at 10:50

    satu kekurangan lagi, coba deh dibuka antara ger dan tromol bagian belakang .. ternyata tidak menyatu…karena setelah saya cek, bautnya tidak menggigit antara ger dan tromol.. dan itu yang menyebabkan ger bagian belakang sering oblak .. ga ada kekuatan sama sekali .. kekuatannya hanya dibagian lingkaran tromol yang mengaitkan ger aja.. caranya gimana neh ..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.