Pengumuman Ujian Akhir

Anastasia Yuliantari – Ambor Ruteng

Hasil ujian sekolah di segala tingkatan telah selesai diumumkan. Hasilnya??…..well, tidak begitu bagus. Yah kalau dilihat dari prosentasi kelulusan di daerahku yang antara 60%-70%. Mungkin dibandingkan beberapa wilayah lain itu termasuk lumayan, tapiiii….maunya lulus semua!!! itu jeritan hati siswa-siswi yang tak berhasil lolos dari ujian.

Apalagi kalau dilihat per sekolah, waduuuhh…ada yang 10% saja tingkat kelulusannya. Kalau sudah begitu tudingan pertama pasti ditujukan pada pihak sekolah. Lalu tertuduh pertama, ya gurunya. Pasti gurunya berkwalitas rendah, pasti mereka bolos melulu, pasti sibuk kuliah sehingga siswanya terlantar, pasti….., pasti…..!!

Padahal kalau menurut pendapat para pakar, proses belajar seseorang tidak bisa digantungkan sepenuhnya pada satu pilar saja. Ada empat pilar lagi yang menyokongnya, orang tua, lingkungan, dan pemerintah. Tanpa itu, hasilnya tak seoptimal yang diharapkan.

Waktu aku masih mengajar di kota pelajar, teman-teman dosen dan aku, tentu saja, selalu merasa agak jengkel bila mengajar mahasiswa dari bagian timur negeri ini. Pertanyaan yang selalu muncul, “Masa, sih begini aja ngga ngerti. Keterlaluan, masa di SMU belum diajarin!” Lalu bila mengerjakan tugas standar yang ditetapkan pengampu tak bisa dipenuhi, entah masalah bahasa, isi, maupun bibiografinya yang asal-asalan. Bahkan ada anggapan, etos kerjanya rendah!…Nah…ini juga masih dikatakan oleh salah seorang rekanku yang masih tinggal di kota pelajar.

Aku sekarang masih tetap menjadi pengajar. Namun aku tahu lebih banyak dari sebelumnya setelah tinggal di tempat yang termasuk kawasan timur Indonesia. Ternyata masalahnya bukan per individu, tetapi kondisi wilayah, lingkungan sosial, dan lingkungan keluarga juga memberikan andil.

Sebagai ilustrasi, tetangga sebelah rumahku mempunyai anak yang tak berhasil lulus dalam UAN SMP. Dia menangis berguling-guling di lantai, orang tuanya marah besar karena kecewa dan malu. Sebagai tetangga aku ikut kasihan, tetapi secara logika aku bisa meramalkan kalau dia tak bakal lulus bahkan sebelum gadis itu mengikuti ujian. Bagaimana tidak? Setiap hari tak pernah belajar, orang tuanya juga tak mengingatkan untuk belajar, menonton TV sepanjang hari, dan last but not least, tak punya buku untuk dibaca! Plus, setelah ditelusuri, masuk sekolah juga sesuka hati, wahh…!

Di kampung lain lagi kasusnya, para keponakanku tinggal di sebuah tempat seperti ceruk diantara bukit-bukit. Kampung itu dihadang oleh sebuah sungai deras untuk mencapai desa lain yang kebetulan ada sekolah. Tak ada listrik, tak ada sarana penghubung selain jembatan gantung, dan jalan mendaki yang membuatku butuh waktu 1 jam jalan kaki untuk mencapainya (itu ukuran sekarang setelah terbiasa hiking di daerah ini, dulu entah berapa lama tak pernah kuhitung).

Saat musim kemarau halangan utama adalah menghilang di tengah jalan untuk mencari udang atau buah-buahan. Musim penghujan adalah……..ya…hujan itu sendiri! Jalan berlumpur sudah ada sejak jaman nenek moyang, tetapi dinginnya hujan lebih berpengaruh sehingga tak ada seorang pun yang pergi ke sekolah. Orang tua yang sibuk pergi ke kebun tak terlalu menghiraukan mereka pergi ke sekolah atau tidak, bahkan mereka tak terlalu bereaksi kalau anaknya tak naik kelas, bahkan keluar dari sekolah!

Jadilah aku tante yang paling menyebalkan di seantero kampung, dan agaknya mereka senang aku tak terlalu sering datang karena setiap kali muncul yang kutanyakan adalah,”Kau tadi pergi ke sekolah atau tidak?” Jawaban mereka hanya senyum kecut yang berarti bolos atau teriakan lantang,”Sekolah, Tanta!” yang seakan itu keberuntungan karena pas aku datang mereka pas tak bolos. Apalagi kalau aku menginap, para keponakan itu akan waspada bangun pagi-pagi dan pergi ke sekolah cepat-cepat daripada menghadapi hardikan, “Kenapa belum berangkat juga, kamu mau bolos kah?”

Dalam hati aku trenyuh juga sebenarnya melihat anak-anak itu tak memperoleh fasilitas untuk menunjang pendidikannya. Aku tak bisa membayangkan belajar dengan lampu ublik dari kaleng cat tanpa memikirkan mata rusak. Penghasilan orang tua yang sangat pas-pasan membuat mereka tak mungkin punya buku cetak yang diwajibkan sekolah. Apalagi untuk ke kota mereka harus naik truk yang membutuhkan ongkos tak sedikit. Jadilah para keponakanku itu hanya punya beberapa buku tulis dan kelihatannya(ini yang kulihat selala beberapa kali menginap di kampung mereka) tak pernah belajar maupun mengerjakan PR.

Sekarang aku tahu mengapa anak-anak yang kuajar matakuliah Sejarah Sastra belum tahu angkatan-angkatan dalam Sastra Indonesia atau tak pernah mendengar apalagi melihat wujudnya karya monumental Sastra Indonesia seperti Layar Terkembang atau Salah Asuhan. Sekarang aku menyadari mereka bukannya tak cerdas cemerlang seperti anak-anak yang berasal dari Pulau asalku. Masalahnya begitu kompleks untuk sekedar menghakimi. Itu setelah aku mengerti dan mengalaminya sendiri.


Ilustrasi: beritajakarta


Note Redaksi:

Masih dalam rangka dan seputar Hari Pendidikan Nasional, satu lagi tulisan tentang kepedulian kita dalam bidang pendidikan di negeri ini. Selamat datang dan selamat bergabung Anastasia Yuliantari! Sekali lagi terima kasih kepada Dewi Aichi yang berhasil “mengusiknya” mengirimkan tulisan ini…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.