Beatrix, Ratu Indonesia Yang Gagal

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

TAHUN 1938 menjadi tahun penuh suka cita bagi semua orang yang mendiami sebuah kerajaan mini berdataran rendah di barat benua Eropa, juga semua rakyat di daerah jajahannya nan luas dan jauh dari negeri sang majikan. Mereka siap-siap bergembira menyambut seorang bayi yang tak lama lagi akan lahir dari rahim seorang putri kerajaan dinasti Oranje, penguasa kerajaan Belanda dan jajahannya.

Rakyat Belanda telah mempersiapkan berbagai pernik souvenir regalia yang menarik, seperti peralatan rumah tangga dan lain-lain. Bahkan mereka berani meramalkan sang bayi akan lahir bulan Januari tahun 1938, dengan menuliskan “JANUARI 1938” di semua bentuk souvenir yang dibuat menyambut datangnya sang bayi, calon pemimpin kerajaan mini dengan jajahan maha luas.

Lalu apa yang terjadi? Sang bayi belum lahir-lahir juga menjelang memasuki hari ke 31 di bulan Januari 1938.

“Wah, bisa rugi dong…”, kata para pembuat souvenir yang “takabur” menetapkan sang penerus tahta dinasti Oranje dari kerajaan Belanda akan lahir bulan Januari. Gimana kalau bukan bulan Januari? Wah, masak mau ditarik semua souvenir yang berlabel bulan “JANUARI 1938” itu?…

Beda dengan penyambutan perkawinan agung terbesar abad 20 antara penerus tahta kerajaan Inggrisa, Pangeran Charles dan Lady Diana Spencer, yang jelas bisa ditetapkan tanggal 29 Juli 1981. Jadi semua souvenir berupa koin dan segala mancamnya bisa dicetak langsung pakai tanggal segala. Nah, kalau kelahiran siapa yang bisa tebak…? Mana cara operasi Caesar belum terlalu dipakai untuk proses kelahiran…

Ooh..akhirnya rasa deg-degan rakyat Belanda dan jajahannya, lepas sudah… Tanggal 31 Januari 1938, batas “deadline” para orang “takabur” itu (orang timur agak pantang mendahului sebuah kelahiran dengan sesuatu yang terkesan yang mendahului” kenyataan), terjawab sudah.

Hari itu, tanggal 31 Januari 1938, Putri Juliana yang sepuluh tahun kemudian menjadi ratu Belanda dan jajahannya, melahirkan seorang putri mungil. Namanya Beatrix Wilhelmina Armgard. Hari lahirnya diperingati setiap tanggal 30 April (bukan 31 Januari) sebagai hari libur nasional atau disebut Koninginnedag.

“Perempuan lagi…perempuan lagi…perempuan lagi…”, komentar banyak rakyat Belanda. Mereka kebanyakan suka cita menyambut bayi perempuan penerus tahta, namun garuk-garuk kepala sambil menggerutu, “kapan ya kerajaan ini dipimpin oleh seorang raja lagi?”

Sejak 1890, tahun Ratu Wilhelmina naik tahta, kerajaan Belanda selalu dipimpin oleh seorang ratu hingga detik ini. Wilhelmina lengser tahun 1948 digantikan putrinya Juliana yang kemudian lengser juga 30 April 1980 dan digantikan oleh Beatrix sampai sekarang. Artinya, sudah 110 tahun negeri Belanda “tak puntya raja”. Untunglah tahun 1967, Beatrix melahirkan seorang putra, Pangeran Willem Alexander dan kelak akan menjadi raja Belanda, yang terakhir dipimpin seorang raja pada masa Raja Willem III.

Kelahiran Putri Beatrix disambut gempita di negerinya dan jajahannya terbesar, Hindia Belanda (sekarang bernama Indonesia), Guiana Belanda (sekarang Suriname) di Amerika Selatan bertetangga dengan Brasil dan dijepit antara Guyana (jajahan Inggris) dan Guyana Prancis (tempat peluncuran roket-roket luar angkasa Prancis) serta koloni Belanda Antillen di Karibia sana, tempat kelahiran personil kelompok musik disko 1980an, Boney M.

Kalau Anda melihat film-film dokumenter yang dibuat oleh penguasa Hindia Belanda saat kelahiran Putri Beatrix, terlihat seperti cerita Cinderella. Bagaimana para abdi istana menaiki kuda dengan penunggang berwajah melayu yang dekil hitam, membawa selembar gulungan kertas. Mereka (umumnya bertiga) berkeliling kota Batavia (Jakarta) dan juga ada di kota-kota penting lainnya di seantero Hindia Belanda, mengumumkan kelahiran sang putri di sudut-sudut jalan sambil rakyat melongo mendengarkannya. Mirip sekali abdi dalem istana yang mencari pemilik pasangan sepatu kaca…

“Putri Juliana telah melahirkan seorang putri tanggal 31 Januari 1938. Putri dan bayinya dalam keadaan sehat dan selamat. Hidup Sri Ratu (maksudnya Ratu Wilhelmina). Hip hip huraaa…”, demikian pengumuman penunggang kuda yang berkeliling kota mewartakan kelahiran Putri Beatrix.

Di Batavia, kota terbesar dan termodern di Timur Jauh yang sekarang bernama Jakarta, kelahiran Beatrix disambut gembita. Semua bangunan pemerintahan dihiasi dengan pernak pernik dan lampu warna warni ketika malam hari. Pesta suka cita riang gembira diadakan di mana-mana, sambil dansa-dansi di gedung-gedung societe di kota-kota besar.

Ibu saya pernah bercerita, ketika dia masih duduk di bangku sekolah dasar di kota kecil nun jauh di pelosok, yaitu di Gorontalo (Sulawesi Utara), diperintahkan untuk menyambut kelahiran Putri Beatrix dengan berbagai acara dan kegiatan yang meriah di sekolahnya, mirip kita sekarang mempersiapkan acara 17an.  Ya… ini seperti pemberitahuan kepada seluruh rakyat Hindia Belanda dari Aceh sampai Papua.

“Ini lho Putri Beatrix, calon ratumu nanti. Ayo rayakan kelahirannya biar terbiasa nantinya”.

Andaikan saja, tidak ada Soekarno dan kaum nasionalis lainnya, mungkin negeri Hindia Belanda tidak merdeka penuh dan berada dalam persemakmuran Belanda (bareng Suriname dan Antillen Belanda). Kita mungkin akan punya gubernur jenderal seorang lokal, tetapi kepala negara kita adalah Beatrix. Ya, mirip Kanada, Australia, Selandia Baru, Papua Niugini dan negeri-negeri mini (microstates) di Karibia dan Lautan Pasiifik yang tetap menganggap Ratu Elizabeth II sebagai kepala negara.

Agak lucu juga, bila kita membaca koran yang terbit setelah Indonesia merdeka. Ada berita di harian Pandji Ra’jat edisi tanggal 3 Februari 1948 yang isinya memberi ucapan selamat atas ulang tahun Putri Beatrix, yang kala itu berusia 10 tahun.

Tahun itu adalah tahun kritis negeri baru bernama Indonesia, yang banyak punya pilihan setelah kemerdekaannya tidak banyak diakui (bahkan ditolak) kekuatan kolonialis termasuk Belanda. Bisa merdeka penuh mandiri dengan berbagai pengurangan wilayah seperti dalam perjanjian-perjanjian yang telah dibuat atau merdeka penuh tanpa perlu repot memperjuangkan mengambil Irian Barat, dengan syarat menjadi bagian persemakmuran Belanda.

Kelahiran Putri Beatrix seperti sebuah takdir, bahwa putri mungil yang lucu ini, kelak akan menjadi Ratu Belanda (sudah pasti) dan juga ratu untuk Hindia Belanda (Indonesia), Guyana Belanda (Suriname) dan Antillen Belanda (gugusan pulau di Karibia). Namun sejarah berkata lain. Selama pemerintahan ibunya, Ratu Juliana (1948-1980), justru dua jajahan besar itu merdeka tak mau di bawah pengaruh dan diperintah dari Belanda. Indonesia bebas tanggal 17 Agustus 1945 dan Suriname merdeka 25 November 1975, dengan banyak penduduk Jawa berkarya di sana.

Selama pemerintahan Presiden Soekarno, Beatrix kecil menyaksikan perubahan penting dengan negeri jajahan yang akan diperintahnya kelak. Satu per satu lepas. Mungkin dia terlalu muda untuk paham dengan peristiwa-peristiwa pahit itu, namun setidaknya dia menyadari betapa tidak enaknya menjadi negeri yang dijajah, dikuasai asing juga dirampok sumber alamnya serta disakiti rakyatnya.

Semasa perang dunia kedua, Beatrix dan adik-adiknya yang masih kecil, harus mengungsi ke Kanada, sambil ditenteng dalam tas oleh ibunya seperti membawa ayam jago aduan. Belanda dikuasai Jerman dan diporakporandakan. Dan anehnya, Beatrix kelak mengambil suami justru dari bangsawan Jerman yang sosoknya ditentang banyak oleh rakyat Belanda, karena suaminya itu berbau Nazi Jerman, negeri yang pernah menyakiti Belanda.

Setelah disakiti Jerman, justru Belanda gantian menyakiti Indonesia dengan operasi-operasi militer yang direstui oleh neneknya, Ratu Wilhelmina, selama akhir tahun 1940an yang dikenal dengan perang kemerdekaan berdarah-darah untuk orang Indonesia.

Hubungan keluarga kerajaan Belanda dengan Soekarno sangat tidak harmonis, bahkan mereka membenci sosok pria Jawa ini. Padahal dari semua presiden Indonesia, justru Soekarno yang paling fasih Belanda dan mengerti betul tentang know how Belanda.

Selama pemerintah Soekarno, hubungan Indonesia dan Belanda sangat dingin bahkan tegang. Meski hampir semua negara sudah diinjak kakikan oleh Soekarno, namun Belanda tidak mau dia datangi. Bahkan pernah ketika Sutan Sjahrir sakit dan harus berobat ke luar negeri, Soekarno memberi syarat kepada sahabatnya itu, “silahkan berobat ke ujung dunia manapun, asal jangan ke Belanda”.

Sikap ekstrim Soekarno yang tak menyukai sifat keserakahan Belanda, terjawab oleh pernikahan putrinya Kartina dengan bankir sukses asal Belanda…. Dan juga penggantinya, Presiden Soeharto membuat sebuah rekonsiliasi dengan Belanda.

Soekarno dan Soeharto adalah dua presiden yang secara langsung terlibat memerangi Belanda dan juga membunuhi prajurit-prajuritnya, untuk mempertahankan sebuah negera yang lahir 17 Agustus 1945.

Hari Kamis pagi tanggal 3 September 1970, adalah hari paling bersejarah bagi Indonesia dan Kerajaan Belanda. Hari itu tepatnya pukul 09.45 pagi, Presiden Soeharto dan Ibu Tien menginjakkan kakinya di sebuah negeri yang pernah ratusan tahun menjajah Indonesia.

Dan untuk pertama kalinya Presiden Soeharto dan istri diajak Ratu Juliana dan Pangeran Bernhard, menginap satu atap di Istana Huis ten Bosch di Den Haag, satu dari empat istana milik kerajaan Belanda yang indah. Inilah pertama kali dalam sejarah diplomasi Belanda ada tamu negara asing mendapat kehormatan seperti itu…

Sejak kunjungan itu, Ratu Juliana bersama suaminya membalas datang ke Indonesia selama 10 hari. Pertama kalinya dalam sejarah, ada seorang pemimpin kerajaan Belanda datang menginjakkan kaki di negeri jajahannya terbesar yang telah dikuras oleh Belanda selama ratusan tahun.

Ratu Juliana tiba di Kemayoran tanggal 26 Agustus 1971. Bahkan pada tahun-tahun berikutnya ayah Ratu Beatrix, Pangeran Bernhard, sering sekali datang seorang diri ke Indonesia, entah sebagai anggota kerajaan Belanda atau sebagai ketua pelestarian lingkungan hidup. Dia pernah berenang bertelanjang (pakai celananya maksudnya) di sebuah sungai jernih di pedalaman Aceh mirip anak kampung, bersama Menteri Kehutanan waktu itu Soejarwo.

Selama Ratu Beatrix memerintah telah terjadi banyak perubahan sikap negeranya terhadap Indonesia, negeri yang dijajahnya. Sebuah sikap yang bermaksud menguburkan masa lalu dengan mengakui kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Selama ini Belanda tidak mengakui tanggal itu, tetapi 27 Desember 1949, hari diserahkannya kedaulatan penuh Belanda kepada Indonesia dalam bentuk serikat, dan negara Indonesia yang diproklamasikan 17 Agustus 1945 berada di dalamnya.

Kedatangan Ratu Beatrix ke Indonesia ketika negeri ini merayakan setengah abad kemerdekaan, memicu polemik di negerinya dan di Indonesia. Banyak prajurit yang berperang melawan Indonesia merasa dikhianati bila ratu mereka datang ikut merayakan kemerdekaan musuh mereka. Sedangkan di Indonesia, banyak kalangan menginginkan Ratu Beatrix datang tetapt menghadiri HUT RI sekaligus wujud pengakuan Belanda secara resmi atas kemerdekaan jajahannya.

Akhirnya, Ratu Beatrix tetap datang dan tetap bulan Agustus tahun itu juga. Namun digeser harinya beberapa hari setelah Indonesia merayakan 50 tahun kemerdekaannya. Dia mengajak suami dan anaknya yang kelak akan menjadi raja Belanda setelah lebih 110 tahun diperintah oleh ratu.

Tak banyak kunjungan presiden Indonesia datang ke Belanda sejak kedatangan Presiden Soeharto tahun 1970. Barulah Presiden Abdurahman Wahid menjadi tamu pertama Ratu Beatrix dari Indonesia selama lebih 30 tahun tak ada presiden Indonesia mau datang ke Belanda lagi. Presiden Megawati Soekarnoputri juga datang ke Belanda tahun 2002. Dan mungkin juga, kedatangan Ratu Beatrix tahun 1995 adalah yang pertama dan juga terakhir ke sebuah negeri yang gagal dia menjadi ratunya. (*)

83 Comments to "Beatrix, Ratu Indonesia Yang Gagal"

  1. Aulia  27 October, 2013 at 22:12

    menarik tulisan ini, sampai2 saya pun mencari tahu kemeriahan dari kelahiran putri beatrix di Aceh dan saya pun baru tahu mirip 17-an di Indonesia

    salam

  2. Wal Suparmo  20 October, 2013 at 03:29

    Tidak pernah ada Raja/Ratu Belanda yg pernah berkunjung ke Hindia Belanda.Baru setelah Indoneia merdeka ada Ratu Belanda yg berkunjung ke Indonesia.Dinasti Orangje akan yg tiga generasi dengan seorang Ratu akan berulang lagi setelah Willem Alexander yg juga tidak mempunai putera.

  3. IWAN SATYANEGARA KAMAH  17 January, 2011 at 23:15

    Terima Mas Azan atas apresiasinya… Salam kenal..

  4. azan fauzan almahdi  17 January, 2011 at 22:12

    cerita nya sangat menarik dan jga mmenanbah wawasan……….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *