Batavia Nan Pengecut

Osa Kurniawan Ilham

Anda pernah menonton film Troy ? Film kolosal yang berkisah tentang pertempuran di negeri Yunani ini menampilkan jalannya pertempuran terkenal di Troya itu dengan megahnya. Dalam film itu diperlihatkan bagaimana besarnya armada penyerbu dengan kapal perang yang berjumlah ribuan bak akan menyapu daratan Troya.

Pantai dan lautan pesisir Troya hampir tidak menyisakan ruang sedikitpun karena dipenuhi dengan kapal-kapal perang yang berjejer untuk mendaratkan prajuritnya. Kisah selanjutnya sudah menjadi suratan sejarah ala Homer, para prajurit itu bertempur dengan gagah berani penuh dengan kebanggaan akan harga diri mereka sebagai seorang petarung, walau untuk itu Archilles, sang petarung unggul harus menemui ajalnya.

Nah, percayakah Anda bahwa situasi yang kurang lebih sama di atas juga pernah terjadi di negara kita ? Tepatnya 2 bulan setelah kepergian Daendels di tahun 1811, tiba-tiba muncul sebuah armada perang Inggris di muka benteng Batavia. Armada Inggris berkekuatan 100 kapal perang ini dipimpin oleh Lord Minto, gubernur jenderal Inggris dari India dengan membawa staf, pegawai sipil dan komandan perang lengkap dengan 15.000 orang tentara dan pelaut lengkap dengan persenjataannya.

Kebangkitan Napoleon Bonaparte di Perancis membawa dunia pada perang besar antara Perancis melawan Inggris. Walaupun pertempuran langsung pasukan Grandee Armee-nya Napoleon Bonaparte melawan kerajaan Inggris, Prusia dan Rusia terjadi di benua Eropa (sehingga perangnya dinamakan Perang Continental), tapi perang besar ini juga melibatkan koloni masing-masing negara.

Pertempuran besar yang dicatat sejarah adalah pertempuran di Austerlitz, di laut Trafalgar Spanyol dan pertempuran besar di delta Sungai Nil Mesir. Sedangkan pertempuran terbesar di luar Eropa akhirnya terjadi di Jawa, tepatnya di Batavia melibatkan 15.000 pasukan Inggris melawan 12.000 serdadu gabungan Belanda, Perancis dan Jawa. Inilah pertempuran besar yang sering dilupakan oleh orang-orang Indonesia, padahal sudah tercatat dalam sejarah versi Perancis (L’ile de Java Sous la Domination Francaise karya Octave JA Collet yang diterbitkan di Brussel, Belgia, tahun 1910) maupun versi Inggris (salah satunya memoar Mayor William Thorn dengan judul The Conquest of Java, diterbitkan di London 1815).

Sejak tahun 1807, Lord Minto memang sudah merencanakan untuk menyerbu dan mengambilalih Jawa dan Nusantara dari kekuasaan Belanda-Perancis. Inilah yang sudah diantisipasi oleh Daendels dengan menambah jumlah pasukan sampai 10.000 prajurit dan membangun benteng Meester Cornelis di Jatinegara lengkap dengan saluran air sedalam 3 meter dan selebar 4 meter yang membentang di belakang Jalan Matraman sepanjang Jalan Palmeriam (Jakarta Pusat, sekarang) lalu ke arah selatan dekat Jalan Kemuning dekat Stasiun Jatinegara dan Jatinegara Timur.

Konon karena dulunya dipenuhi aneka macam meriam, makanya lokasi tersebut dinamai Palmeriam, Daendels juga mendirikan pabrik senjata di Semarang dan Surabaya serta memperbaiki Jalan Raya Pos Anyer – Panarukan untuk mempercepat mobilitas pasukannya. Sayang persiapan Daendels yang begitu baik ini tidak dilanjutkan oleh penerus Daendels, Gubernur Jenderal Janseens sehingga pertempuran besar ini akan berakhir memalukan.

Armada Inggris berangkat dari Calcutta dan Madras di pantai timur India menuju Penang. Sebelumnya mereka sempat transit di Pulau Bangka. Konon, oleh Inggris pulau ini dinamakan St. York Island dan ibu kotanya dinamakan Minto untuk menghormati Lord Minto. Dari kata Minto ini kemudian berkembang menjadi kota Muntok, seperti yang kita kenal sekarang ini. Dari Penang, armada Inggris ini kemudian berlabuh di lepas pantai Sunda Kelapa. Mayor William Thorn dari Angkatan Darat Inggris melaporkan dalam memoarnya (berjudul Conquest of Java) bahwa armada Inggris terdiri dari 4 kapal perang battleship, 14 fregat, 7 sloop, 8 penjelajah (cruiser) serta 57 kapal transpor pengangkut pasukan. Inilah armada invasi Inggris terbesar sebelum Perang Dunia ke 2.

Sebelum mendaratkan marinirnya Lord Minto mengirimkan utusan yang meminta Belanda-Perancis menyerah tanpa syarat. Janssens menolak permintaan ini. Tapi sayangnya, Janssens beserta Jenderal Jean Marie Jumel (komandan tempur yang dibantu 150 Perwira Perancis dan ribuan prajurit) tidak melakukan tindakan apapun untuk menghalau Inggris dari pantai Batavia. Alih-alih menyerang armada Inggris dengan tembakan meriam pertahanan pantai, pasukan Perancis – Belanda malah membakar gudang logistik milik pemerintah dan merusak beberapa sarana umum seperti jembatan. Tentu saja penduduk lokal memandang tindakan pemerintah ini sebagai tindakan sia-sia.

Mereka lalu menjarah dan merampok gudang-gudang yang belum sempat dibakar. Di jalan-jalan saat itu banyak berceceran kopi, teh dan rempah-rempah berikut peti dan karung-karungnya. Sejarah memang berulang, penjarahan ini terjadi lagi pada tahun 1998 yang lalu, suatu kebodohan dan kejahatan massal yang terus berulang kembali.

Tanggal 4 Agustus 1811, pasukan Inggris di bawah komando Letnan Jenderal Samuel Auchmuty akhirnya mendarat di Cilincing. Pendaratan ini sesuai dengan estimasi Daendels dulu bahwa Inggris pasti akan mendarat di Cilincing karena daratannya agak menjorok ke laut dan tiada penghalang di sini.

Tanggal 6 Agustus 1811 Inggris mencoba menyerang langsung Meester Cornelis melalui Serani dan Pulo Gadung, tapi serangan ini dibatalkan karena banyak prajurit Inggris yang pingsan akibat kepanasan bergerak di tengah persawahan.

Tanggal 7 Agustus 1811, serangan akhirnya dialihkan melalui Tanjung Priok langsung ke Ancol melalui jembatan Kali Slokkan (kelak “selokan” adalah istilah untuk saluran air) yang telah dihancurkan Belanda. Pertempuran sengit tidak terjadi karena 2 batalyon Perancis-Belanda yang berada di sana sudah mengundurkan diri.

Tanggal 8 Agustus 1811, Inggris memasuki kota Batavia yang sudah ditinggal kosong oleh pasukan Perancis-Belanda. Alih-alih menemukan perlawanan dari pasukan Janssens dan Jumel, marinir Inggris malah menemukan penduduk yang tengah menjarah gudang-gudang logistik. Karuan saja penjarahan ini sontak berhenti ketika penduduk melihat kedatangan pasukan Inggris itu.

Kemudian pasukan Inggris melalui Molenvliet (sekarang Jalan Gajah Mada) dan Noordwijk (sekarang Jalan Juanda), bergerak menuju asrama tentara di Weltevreden (sekarang Hotel Borobudur) yang ternyata sudah kosong melompong.

Baru tanggal 12 Agustus 1811 pasukan Inggris mendapatkan perlawanan pasukan Perancis – Belanda dan Bugis di Struiswijk (sekarang Jalan Paseban) selama sehari penuh. Gabungan pasukan Perancis – Belanda – Bugis akhirnya mundur ke pertahanan terakhir di Meester Cornelis.

Inilah yang kemudian tampak aneh. Selama 10 hari berikutnya pasukan Perancis – Belanda benar-benar tidak melakukan sesuatu untuk menghadapi musuh. Mereka hanya menjalankan pertahanan pasif dengan sesekali membombardir pertahanan tentara Inggris. Hari-hari pun dijalani secara normal, bukan dalam kondisi siaga tempur. Bahkan malam hari pun mereka tidur seperti biasa, seakan-akan berharap musuh akan begitu baiknya pada mereka sehingga hanya menyerang kalau mereka sudah bangun, mandi dan sarapan dulu.

Demikianlah akhirnya menjelang tengah malam tanggal 25 – 26 Agustus 1811, Auchmuty mengadakan serangan mendadak ke Meester Cornelis, tepatnya ke pertahanan Perancis di dekat Jalan Kayumanis 10. Pasukan Belanda pun kocar-kacir tidak karuan. Pada serangan pertama, benteng di sisi timur Slokkan dapat direbut. Bahkan menjelang matahari terbit pertempuran sudah selesai.

Menyadari garis pertahanan sudah dijebol pihak lawan, beberapa perwira Perancis meledakkan gudang amunisi di dekat Kompleks TNI AD Urip Sumoharjo. Konon, karena itulah di dekat situ ada gang bernama Gang Solitude (kesunyian), karena ketika prajurit Inggris sudah sampai di situ, mereka hanya menemukan kesunyian berupa puing-puing bangunan dan mayat yang berserakan. Kemudian pasukan berkuda Inggris melakukan pengejaran pasukan Perancis – Belanda yang melarikan diri ke arah Buitenzorg (Bogor).

Inilah akhir dari pertempuran Batavia yang sangat memalukan. Pasukan Perancis – Belanda ternyata bertempur sebagai pengecut. 5.000 prajurit berhasil ditawan, termasuk di dalamnya ada 250 perwira. 300 pucuk meriam jatuh ke tangan Inggris lengkap dengan amunisinya.

Bagaimana dengan Janssens ? Dia berhasil mencapai Bogor lalu melalui jalan darat bergerak ke Semarang. Dia mengumpat-umpat nggak karuan karena pasukan cadangan dari kraton Jawa tidak kunjung datang. Tapi akhirnya dia berhasil menempatkan pasukan cadangannya itu di kaki Gunung Ungaran. Tapi apa yang terjadi ? Dengan satu kali tembakan meriam saja pasukan cadangan itu bubar melarikan diri, padahal pasukan Inggris yang mengejar di Jawa Tengah hanya berjumlah 1.000 orang serdadu saja. Janssens akhirnya menyerah di Kali Tuntang, di utara Salatiga dengan ditandatanganinya Kapitulasi Tuntang tanggal 18 September 1811. Isi Kapitulasi Tuntang adalah bahwa Jawa dan sekitarnya dikuasai Inggris, semua tentara Belanda menjadi tawanan Inggris dan orang Belanda boleh dijadikan pegawai Inggris. Janssens kemudian dijadikan tawanan Inggris.

Inilah akhir hikayat Batavia nan pengecut. Berbeda dengan pertempuran Troya yang menghasilkan pahlawan, pertempuran Batavia hanya menghasilkan para pengecut.

Tapi apakah ini kepengecutan terakhir dari Batavia ? Ternyata tidak. Sejarah mencatat bahwa tiada perlawanan terhadap serbuan Jepang di Jakarta karena Belanda memilih mundur ke arah Kalijati, berujung pada penyerahan kalah Belanda kepada bala tentara Nippon tanggal 8 Maret 1942.

Jakarta yang pengecut itu juga dicatat dalam memoar Bung Tomo yang berjudul Pertempuran 10 November 1945. Pada awal Oktober 1945, Bung Tomo berkunjung ke Jakarta dengan perkiraan bahwa sebagai tempat proklamasi kemerdekaan pastilah rakyat Jakarta sedang dilanda semangat revolusi.

Alangkah kecewanya dia saat melihat bahwa berbeda dengan Surabaya yang sedang berkobar dalam suasana revolusioner, Jakarta ternyata malah adem ayem saja setelah proklamasi kemerdekaan. Bendera Belanda yang sudah tidak laku di Surabaya malah masih berkibar di tangsi Angkatan Laut di pusat kota. Penduduk Jakarta malah takluk oleh aturan jam malam oleh tentara sekutu. Bahkan di beberapa tempat masih sering dijumpai beberapa pemuda Jakarta ditampar oleh serdadu Belanda yang lewat, sesuatu yang tidak mungkin dijumpai di Surabaya saat itu.

Sejarah masih terulang sampai sekarang. Jakarta ternyata juga masih sama saat Batavia dulu, kala begitu beringas menggusur rumah orang-orang miskin dan pedagang kaki lima tapi tiada bernyali menghadapi penguasa dan pengusaha yang terlibat korupsi.


Referensi:

  1. Peperangan Kerajaan di Nusantara, Capt. RP Suyono, Grasindo, Jakarta, 2003
  2. http://jakarta45.wordpress.com/2010/01/03/historia-pertempuran-belanda-vs-perancis-di-matraman-batavia/
  3. http://www.kompas.com/kompas-cetak/0605/18/teropong/2659491.htm
  4. http://megapolitan.kompas.com/read/2009/12/14/07491814/Situs.Perang.Napoleon.di.Asia.Terbengkalai
  5. Pertempuran 10 November 1945, Bung Tomo, VisiMedia, Jakarta, 2008
  6. http://openlibrary.org/b/OL7842243M/The_Conquest_of_Java
  7. http://kota-jakarta.info/category/sejarah-jakarta/page/3/

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.