Congrats, Bu Sri!

Alexa – Jakarta

Along the Great Power comes the Great Responsibility – ucapan Toby McQuire dalam film SpiderMan.

Kalimat ini sering disitir Sri Mulyani (mantan) Menteri Keuangan jika ditanya mengenai perasaannya sebagai Menteri Keuangan wanita pertama di Indonesia.

Beberapa waktu lalu aku pernah menuliskan tentang Lu Jual Rp. 6.7 T, Gue Beli Rp. 25 M. Dalam tulisanku itu berdasarkan informasi yang terkumpulkan sudah jelas bahwa posisi Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan merupakan Target Operation (TO) oleh para politisi. Posisi strategis ditambah kondisinya sebagai professional non partai membuat dia dan Budiono menjadi sasaran empuk.

Dalam tulisan saya terdahulu itu…apa yang terjadi sekarang seperti peradilan bagi-bagi amplop kepada anggota DPR saat pemilihan Miranda Goeltom sebagai Deputi Senior Bank Indonesia yang ternyata mayoritas amplop itu jatuh pada anggota DPR dari fraksi PDIP, penangkapan Misbakhun (anggota DPR dari PKS) atas permasalahan LC Fiktif di Bank Century merupakan langkah-langkah SBY untuk menunjukkan bahwa orang-orang tersebut dan tentunya partai yang bersangkutan tidak bersih.

Sayangnya “perang” tidak berakhir di situ, beberapa kasus muncul bersamaan seperti masalah Gayus dan rentetan makelar kasus membuat Indonesia sepertinya sedang dilanda berbagai masalah yang tidak selesai-selesai. Belum lagi masalah kekerasan di Koja…makin membuat Indonesia kacau balau.

Betulkah semua carut marut itu menjadikan Indonesia kacau balau? Ternyata fakta ekonomi menunjukkan bahwa sejuta hujan dan badai tidak menggoyahkan keperkasaan Indonesia. Baru juga mencapai kwartal pertama 2010, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) nyaris menembus angka 3000, hal ini disebabkan karena optimisme pelaku pasar termasuk investor asing atas pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mengkilat. Bayangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2009 mencapai 5.5% termasuk yang tertinggi di dunia selain China, India, Brazil. Untuk itu Direktur Utama World Bank memuji Sri Mulyani sebagai orang yang mengemudikan arah perkembangan ekonomi Indonesia.

Beberapa gebrakannya yang perlu dicatat adalah reformasi organisasi pemerintahan terutama yang berkaitan dengan perpajakan dan keuangan lain serta reformasi kebijakan fiskal. Belakangan kebijakannya mendapat kritik dari pihak yang tidak senang dengan dalih  walaupun gaji pegawai negeri di Imigrasi dan Pajak dinaikkan tapi ternyata kebobolan itu masih ada.

Sebenarnya Sri Mulyani selain memberikan insentif yang baik bagi PNS di kedua bagian itu juga memperbaiki sistim kontrol yang ada. Masalahnya kebobolan itu yang hingga sekarang masih terjadi merupakan masalah yang diakui oleh Sri Mulyani dengan mengatakan…”Bagaimana lagi…mereka diberi gaji hingga Rp.9 juta/bulan tapi di lain pihak mereka disodori amplop RP.200juta,” sungguh sulit tugas seorang Menteri Keuangan.

Walaupun Indonesia mencapai perkembangan ekonomi yang signifikan patut dicatat bahwa angka pertumbuhan yang tinggi itu akibat banyaknya jumlah rakyat Indonesia yang pada gilirannya meningkatkan juga tingkat konsumsi mereka sehingga inilah yang menggerakan perekonomian Indonesia. Karena hanya ditunjang oleh sektor konsumsi tak heran jika kesejahteraan tak merata karena pembangunan sektor riil jalan di tempat, sehingga roda perekonomian belum bergerak optimal, akibatnya kesempatan kerja belum terbuka lebar dan kesejahteraan tentunya belum merata.

Salah satu kunci dari memajukan sektor riil adalah dengan membangun infrastruktur dan jelas perlu dana yang besar. Kebijaksanaan pendanaan dan anggaran negara harus dinegosiasikan dan dibahas bersama antara kementerian keuangan dengan  DPR. Dan sebagaimana kita tahu, beberapa jadwal rapat mereka akhir-akhir ini sering batal karena para anggota dewan memilih walkout meninggalkan sidang saat Sri Mulyani tiba dengan alasan Sri Mulyani sudah dicap bersalah akibat masalah Century.

Waktu membaca hal itu  terus terang saya merasa terenyuh…anggota dewan yang dipilih dan mewakili rakyat tidak bersikap memihak pada rakyat malah sibuk memenangkan ego dan agenda politiknya. Dengan tidak adanya rapat antara Menkeu dengan DPR, maka kapan anggaran pembangunan bisa realisasikan?

Sewaktu Pansus Century dibentuk itu bukankah dalam rangka DPR mempergunakan Hak Angketnya…yakni hak bertanya mengenai kebijakan yang diterapkan Pemerintah. Setelah itu bukankah ada tahap yang lain yang seharusnya dilalui yakni proses hukum yang meliputi pemeriksaan, penyidikan dan akhirnya jika dianggap perlu masuk ke Pengadilan untuk pembuktian selanjutnya. Jika memang DPR konsekwen bahwa yang dipergunakan adalah Hak Angket maka seharusnya para anggota dewan yang terhormat itu tidak melakukan sikap walk out.

Pada akhirnya saya juga ingat ucapan bude Ratih dan mbak Aniku dalam tulisan tentang Di Antara Shadow Play & Bakti Ani Pada Negeri– bahwa mereka tidak pernah iri dengan kedudukan Ani yang Sri Mulyani dan Menteri Keuangan itu karena mereka tahu betapa beratnya beban yang disandang. Selain tugasnya sebagai Menteri Keuangan – dia juga harus meniti buih diantara terjal-terjalnya karang yang menghalang.

Dan akhirnya Sri Mulyani menyerah…she’s fed up dengan apa yang dialaminya…secara organisasi memang dia yang paling bertanggung jawab pada bail out Bank Century tapi untuk mengetahui seberapa besar kesalahannya seharusnya proses hukum yang dijalankan bukan proses politisasi sebagaimana yang terjadi. Dan kelambanan bertindak Presiden SBY yang seharusnya secara tegas mengakomodir tanggung jawab atas anak buahnya membuat bola politik bergerak liar…ada suatu ketidakpastian dan kelelahan yang dihadapi seorang Sri Mulyani.

Aku ingat nasehat dari Bp. Prayitno Ramelan – Bapak blogger Kompasiana: seorang pensiunan jenderal – seorang old soldier yang hingga sekarang masih berkibar dalam karya kepadaku….”Camkan baik-baik Nak, yang perlu kau lakukan adalah berkarya. Jika karyamu bagus…maka karyamu itu bak bunga yang akan dikerumuni oleh lebah dan menghasilkan madu yang manis….lebah akan mendatangimu di manapun kau berada.”

Sri Mulyani dengan serangkaian prestasinya merupakan bunga yang didatangi lebah darimanapun termasuk dari Washington. Hingga akhirnya dia menerima pinangan untuk menjadi Managing Director World Bank. Keputusan yang sangat mengejutkan…dan saat ditayangkan maka beberapa analis seperti Purbaya Sadewa dari Danareksa dan Drajat Wibowo yang juga anggota DPR dari PAN menganggap keputusan Sri Mulyani ini sebagai keputusan yang tepat dan Win-Win Solution, selain karena Sri Mulyani mendapatkan posisi terhormat secara internasional, diharapkan hubungan antara Depkeu dan DPR bisa menjadi lancar kembali dan pada gilirannya agenda-agenda pembangunan bisa segera dijalankan.

Ke depannya Sri Mulyani akan banyak berkecimpung dalam pembangunan negara-negara yang belum maju yang ada di Benua Afrika…perlu konsentrasi dan tangan dingin untuk membantu mengangkat roda perekonomian mereka, dan disanalah Sri Mulyani akan menuangkan kepiawaian dan dedikasinya…membangun perekonomian dunia daripada membangun istana pasir perekonomian Indonesia.

Keputusan Sri Mulyani yang sudah disetujui SBY ternyata masih membuat gusar para inisiator hak angket Century…mereka berteriak-teriak supaya Sri Mulyani dicekal. Aku makin merasa aroma ketidak warasan…apakah mungkin dari seorang Menteri Keuangan  sekelas SMI akan muncul jiwa pengecut dan tidak muncul jika dipanggil untuk diperiksa?

Maka aku setuju banget saat para pengamat seperti Ichsanudin Noorsy dan Fauzi Ichsan serta seorang ahli hukum tata negara menyatakan tidak ada masalah Sri Mulyani segera ke Washington karena mereka sama yakinnya denganku…Sri Mulyani dengan kesatria akan datang saat diperlukan.

Ibu Sri Muyani Indrawati…selamat atas penugasan barunya, hujan batu di negeri sendiri – hujan emas di negeri orang.


Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *