Museum Purna Bhakti Pertiwi

Josh Chen – Global Citizen

December 2009

Liburan anak-anak sekolah kali ini sudah kami rencanakan tidak ke mana-mana, tidak ke luar kota tetapi hanya menikmati seputaran Jakarta saja.

Sudah kami rencanakan beberapa tujuan untuk bepergian menghabiskan liburan anak-anak kami, di antaranya: Taman Safari (batal), Taman Mini Indonesia Indah, Mekarsari dan Bandung (yang juga batal).

Dari 2 tempat itu, Mekarsari dan TMII, ternyata foto-foto yang masih cukup layak di’share di sini adalah yang di TMII, lebih tepatnya di Museum Purna Bhakti Pertiwi, yang masih satu lokasi dengan TMII.

TMII sendiri adalah dari dulu sampai terakhir pergi, masih seperti itu saja. Mungkin pada masanya, TMII termasuk terbaik di Asia (?) atau secara regional Asia Tenggara. Tapi sekarang TMII terkesan berasal dari “abad silam” dan tidak ada yang istimewa, terkecuali bangunan-bangunan tiap daerah/provinsi yang tersebar di sana. Bangunan-bangunan itu masih nampak bagus, eksotis dan apik serta cukup terawat. Selain dari itu, semuanya biasa-biasa saja.

Yang mengesankan adalah justru Museum Purna Bhakti Pertiwi, yang bagiku adalah kunjungan untuk pertama kalinya.

Mengutip dari Wikipedia berbahasa Indonesia:

Museum Purna Bhakti Pertiwi didirikan oleh Yayasan Purna Bhakti Pertiwi atas prakarsa Alm. Ibu Tien Soeharto. Museum yang berada di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) ini berisi koleksi benda-benda dan cindera mata yang bersangkut-paut dengan perjalanan pengabdian Presiden Republik Indonesia Ke-2, Alm. HM Soeharto. Jika berkunjung ke TMII, rasanya kurang lengkap jika tidak mengunjungi museum ini.

Museum ini diresmikan pada tanggal 23 Agustus 1993 oleh Alm. Presiden Soeharto bertepatan dengan hari ulang tahun ke-70 Alm. Ibu Tien Soeharto, penggagas pendirian museum ini. Luas bangunan museum 25.095 meter persegi di atas tanah seluas 19,7 hektar.

Sebelumnya sebagian besar koleksi ini dirawat dan disimpan Alm. Ibu Tien Soeharto sebagai pendamping setia Pak Harto. Kemudian, Ibu Tien menyadari bahwa pengalaman hidup Pak Harto bukanlah hanya milik keluarga. Pak Harto adalah milik bangsa Indonesia. Maka, koleksi barang-barang pribadi dan cinderamata yang dimilikinya harus dinikmati oleh khalayak ramai. Tentu, tempat yang paling baik untuk itu adalah di museum.

Bangunan museum dikelompokkan dalam dua kategori, yakni bangunan utama dan bangunan penunjang. Bangunan utama berfungsi sebagai ruang pamer benda-benda koleksi seluas 18.605 meter persegi terdiri enam lantai dengan tinggi 45 meter sampai puncak ornamen lidah api berwarna keemasan di atas kerucut terbesar, dikelilingi sembilan kerucut kecil.

Ruang Utama diapit empat tumpengan warna kuning. Ruang terdepan adalah Ruang Perjuangan, dikitari Ruang Khusus, Ruang Asthabrata, dan Ruang Perpustakaan. Ruang Perjuangan berbentuk kerucut berukuran sedang seluas 1.215 meter persegi terletak di bagian barat kelompok Ruangan Utama. Ruang Khusus seluas 567 meter persegi terletak di bagian utara. Ruang Asthabrata seluas 1.215 terletak di bagian timur. Dan Ruang Perpustakaan seluas 567 meter persegi di bagian selatan.

Di Ruang Utama tersimpan berbagai ragam cinderamata persembahan Tamu Negara RI, kenalan atau sahabat Presiden Soeharto. Tetapi juga ada cinderamata persembahan tamu-tamu atau pejabat dalam negeri. Semua cinderamata tersimpan dalam kotak kaca.

Di antaranya, cinderamata pemberian PM Kamboja Hun Sen dan PM Malaysia Mahathir Mohamad masing-masing berupa tempat sirih terbuat dari perak. Dari PM Belanda Lubbers berupa patung burung dara terbuat dari perak, Presiden Meksiko Carlos Salinas de Gortari berupa kerajinan perak berbentuk labu, dan Presiden Kazakstan Nursultan Nazarbayev berupa seperangkat piring perak. Masih banyak lagi.

Masih di Ruang Utama berbentuk lingkaran dan luas itu, terdapat replika Peraduan Putri China. Replika ini terbuat dari batu giok-jadeite berwarna hijau dan berasal dari Propinsi Yunnan, China. Konon replika dengan ukuran panjang 2,77 meter, lebar 2,14 meter, dan panjang 3,04 meter itu meniru peraduan putri China pada masa Dinasti Sung (960-1279) dan Dinasti Ming (1384-1644).

Peraduan Giok

Sebenarnya masih banyak sekali koleksi-koleksi museum ini yang tidak akan habis dilihat, dibahas dan difoto.

Kita “keliling” yuk Museum Purna Bhakti Pertiwi ini…

Begitu memasuki lobby museum, sudah disambut sosok tinggi ini

Beberapa sosok Garuda Wisnu Kencana

Beberapa koleksi museum

Buat aku yang paling mengesankan adalah koleksi gading gajah berukir dan koleksi berbagai jenis papan catur serta bidak caturnya yang berasal dari berbagai negeri. Ukiran di gading gajah itu sendiri menurut pengamatanku adalah kisah-kisah epik pewayangan.



About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

56 Comments to "Museum Purna Bhakti Pertiwi"

  1. J C  20 March, 2011 at 21:47

    Hello Maria, salam kenal. Tentu saja boleh foto-foto. Di artikel ini juga saya foto sendiri. Yang perlu dilakukan hanyalah membeli tiket camera seharga Rp. 5000 saja, sudah bisa foto sepuasnya. Terima kasih sudah mampir.

  2. maria  20 March, 2011 at 21:45

    Saya dg beberapa teman mau berkunjung ke museum purna bakti pertiwi, apakah di dalamnya kita boleh foto2..?terima kasih atas infonya.

  3. elnino  17 June, 2010 at 12:36

    Aduh, salah ngomong…hiks…

  4. J C  17 June, 2010 at 11:19

    Yo karepmu, camera yo camera’mu kok…

  5. elnino  17 June, 2010 at 11:17

    Opo dike’i kacamata ireng wae yo, ben modis?

  6. J C  17 June, 2010 at 11:14

    Lhoooo ini lebih violence thoooo…camera wis rusak sithik, tanggung gitu lho… yo wis, cara ke 2 saja, bawa lakban item…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Image (JPEG, max 50KB, please)