Biduren – Kaligata – Urtikaria

Cinde Laras

Pulang sekolah, tiba-tiba saja anakku mengaku gatal-gatal sekujur badan. Ketika disingkap bajunya, barulah terlihat bercak merah timbul di semua permukaan yang tersebar acak. Ini pasti BIDUREN atau KALIGATA atau bahasa medisnya URTIKARIA. Maklum, dengan sejarah keluarga yang sangat akrab dengan riwayat Diabetes, Asthma dan Eksim dari kedua pihak (nenek suamiku dan nenekku), tak diragukan lagi bila penyakit alergis ini sangat akrab dengan kami, terutama di musim pancaroba seperti sekarang. Begitulah, mereka yang lekat dengan riwayat penyakit-penyakit yang tersebut di atas memang biasanya juga akrab dengan alergi.

Sebagaimana definisi medisnya, Kaligata (urtikaria) adalah suatu reaksi alergi yang ditandai oleh bilur-bilur berwarna merah dengan berbagai ukuran di permukaan kulit. Bilur gatal itu sendiri merupakan reaksi anafilaktik yang terbatas pada kulit dan jaringan di bawahnya.

Apa yang menyebabkan penyakit ini hinggap di badan kita ? Penyebabnya adalah adanya alergen atau faktor pencetus alergi. Jenis alergennya macam-macam, mulai dari obat-obatan, makanan (misalnya telur, seafood, kacang-kacangan, dan susu), serbuk sari tanaman, serbuk binatang (terutama kucing), gigitan serangga, air, cahaya matahari, cuaca panas, cuaca dingin, dan stres emosional. Untuk lebih pastinya, kita bisa berkonsultasi dengan dokter untuk mencari sumber alergennya. Prosedur ini bisa sampai pemeriksaan laborat.

Dalam keluarga kami, faktor cuaca adalah alergen yang paling sering memicu timbulnya biduren. Kadang matahari terasa terik di siang hari, sementara badan terasa dingin. Kalau sudah begini, langsung saja kaligatanya keluar. Dalam setahun, setidaknya 2 kali mengalami kaligata. Yang pertama adalah saat perubahan cuaca dari musim penghujan ke musim panas, dan yang kedua dari musim panas menuju musim penghujan.

Saking seringnya, kami jadi hapal dengan pengobatan yang bisa diberikan untuk mengobati penyakit ini. Meskipun, menurut dokter, penyakit ini bisa hilang dengan sendirinya, tapi setidaknya kami bisa memberikan sedikit rasa nyaman bila anak-anak kami sedang didera kaligata. Biasanya kami akan memberikan obat alergi berupa antihistamin. Sebenarnya sih tak cuma antihistamin yang bisa diberikan sebagai penolong penderita biduren, tapi juga obat lain yang mengandung epinephrine, terbutalin, simetidin, kortikosteroid atau obat penenang.

Biasanya, untuk keluargaku, sirup antihistamin merek Celestamine adalah sirup yang paling sering kami sediakan untuk kaligata mereka. Maksudnya sih supaya syaraf mereka bisa tidur, maka tentu saja mereka juga jadi mengantuk setelah meminumnya. Dosisnya sesuai anjuran yang tertera di lembar informasi yang ada dalam kotak bungkusnya. Kalau takut salah penanganan sih memang lebih baik periksa ke dokter dulu. Tapi karena saking seringnya mengalami hal yang sama setiap semesternya, kami jadi hapal bagaimana mengatasinya.

Hal kedua yang sering kami sediakan untuk mempercepat penyembuhan mereka adalah asupan kalsium. Kami memakai CDR sebagai pembantu pemulihan. Kalsium penting karena akan memberikan efek hangat bagi tubuh kita. Bila hangat terasa, niscaya bilur-bilur gatal itu akan segera sirna. Bisa saja digunakan sirup multivitamin lain yang mengandung kalsium semacam Calcidol atau Calcilimo.

Tentu saja dosis yang diberikan tetap harus sesuai anjuran. Tapi saya pernah bertanya pada dokter yang menganjurkan penambahan asupan kalsium ini, katanya pasien diperbolehkan mendapat asupan 2 kali lebih besar dari dosis anjuran hanya hingga penderita sembuh dari kaligata. Jadi selama masih alergi gatal, kalsiumnya 2 kali dosis yang ada. Setelah itu, kembali memakai dosis normal. Dan sesuai pengalaman, biasanya kaligata akan sembuh dengan sendirinya hanya dalam waktu tak lebih dari 3 hari setelah terapi ini.

Kalau menurut sumber informasinya sih kaligata atau biduren ini juga bisa menyebabkan adanya penyumbatan tenggorokan dan kesulitan pernapasan. Waduh, kalau yang sudah seperti ini, langkah paling bijaksana ya harus membawa penderita ke dokter. Karena mereka lebih tau tindakan darurat apa yang harus diberikan.

Begitulah pengalaman kami. Bila ada anggota keluarga anda terkena kaligata, jangan panik. Insya’allah semua bisa diatasi. Yang penting, sebagai pencegahan, kita harus waspada dan menghindari faktor pencetus alerginya.

24 Comments to "Biduren – Kaligata – Urtikaria"

  1. Lintang  12 October, 2012 at 15:35

    Weww..ternyata perubahan musim juga bisa jadi pemicu ya..pantas aja kulitku merah2&gatal kalo musim pancaroba, padahal gak pernah makan aneh2..

  2. rien  2 November, 2011 at 09:56

    salam kenal
    mudah2an pengalaman sy bermanfaat, ini salah satunya…
    tetangga sy seorang tukang sayur,
    dia hrs belanja kepasar setiap hr jam 2 dinihari, sdh bertahun2 punya mslh dgn kaligata
    sdhpuluhan kali jg berobat ke dokter, tp belum jg ada hasilnya
    sewaktu sy tawarkn untuk ikhtiar dgn terapi pengobatn dan mengkonsumsi obat2an herbal
    alhamdulillah, ATAS IZIN ALLAH sdh 2 thn ini tidak kumat lagi,..
    bagi yang ingin ikhtiar.. ga ada salahnya kn di coba… silahkan menghub sy di
    [email protected]

  3. lina  9 March, 2011 at 12:21

    trima kasih atas infonya
    saya juga sering sekali kena kaligata dan batuk kalo cuaca udah dingin. dalam sejarah keluargaku ibu dan nenek buyutku juga kena diabetes. mungkin itu juga faktor pemicunnya.
    kaloada hal baru, tolong bagi2 infonya yaaaa…
    thanks,

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.