Ilalang Menusuk Mendung

Jumari HS – Kudus

Maling,maling, maling….. itulah kalimat yang terus terucap dari mulut yang selama ini sebagai sosok yang biasanya santun, lugu, lembut bahkan jarang bicara apapun entah politik, budaya maupun sosial. Kalimat yang diucapkan dengan nada keras penuh semangat dan penuh keyakinan. Suaranya yang lantang itu terus menggema di sepanjang jalan yang dilewatinya dan seakan suara itu menggetarkan dan mau meruntuhkan dinding beton rumah maupun perkantoran yang ada di sekelilingnya.

Setiap orang yang menjumpai sosok tersebut dan mendengarkan suaranya pada terbelalak matanya, karena mereka merasa heran dan bertanya-bertanya pada dirinya sendiri, “ orang itu sedang demo atau stress? “ bisik mereka.dalam hati.

Memang sungguh luar biasa sosok itu, dengan berpakaian ala militer sambil membawa sebatang tombak dan berikatkan serban merah putih di kepalanya, sosok tersebut sepertinya tak punya lelah bahkan tak mempedulikan lingkungan sekitarnya. Bahkan dengan semangatnya sosok tersebut sepertinya tak peduli keselamatan dirinya sendiri dia begitu acuh, dia terus menghentak-hentakkan kemarahannya dengan mimik wajah yang begitu menakutkan.

Terasa sekali dengan kalimat “ maling, maling, maling “ yang dia ucapkan adalah sebuah  pelampisan, pemberontakan yang sangat heroik, tapi pemberontakan sosok tersebut menjadikan sebuah tanda tanya bagi setiap orang yang menjumpainya. Pertanyaan-pertanyaan pun muncul dalam hati setiap orang yang menyaksikan. “ Sedang terjadi apa dengan orang itu. Apakah Ia baru kemalingan atau sedang stress? “ pertanyaan-pertanyaan itu merayap dan menguapkan kegelisahan yang sedemikian dahsyatnya di masyarakat, ibarat ada asap tanpa hujan.

Wiro namanya. Sudah beberapa hari meninggalkan rumah dan anak istrinya dia seperti orang kesurupan, awal mula kejadiannya, setiap ada benda apapun di depannya dia hancurkan tak peduli itu benda berharga seperti TV, Kulkas atau barang-barang elektronik lain di rumahnya. Lalu dia berlari dan berlari menembus kabut bahkan batu-batu terjal perjalanan.

Sebenarnya kejadian itu terjadi pada saat Wiro menyaksikan tayangan TV Swasta yang menyiarkan tayangan langsung tentang kasus Bank Century, tiba-tiba Wiro kesurupan dan spontan mengamuk dan berteriak-teriak. Dan yang lebih memprihatinkan kelurganya terutama istri dan anak-anaknya tak mampu mencegahnya, bahkan tetangga-tetangga tak berani mendekat karena takut kena sasaran brutal yang dialami Wiro yang begitu marah dan kesetanan dengan membawa tombak diacung-acung ke udara.

Dan dari mulut Wiro mengucapkan kalimat  “  maling, maling maling! “ kalimat maling yang ducapkan itu terus berulang-ulang dengan nada yang begitu sangat kuat, seakan mau memecahkan langit sebagaimana suara serine yang tak mau berhenti atau dihentikan. Sungguh kejadian yang sangat menghebohkan dan terduga itu tentu saja menciptakan perbincangan tetangga dan masyarakat di sekelilingnya bahkan tetangganya yang pada saat itu melihat dan mendengarkannya pun merasa ketakutan dan mereka hanya bisa bersembunyi.di dalam rumah sambil mengintip dari dalam.

Surti,  istri Wiro merasa terpukul dengan peristiwa yang dialami suaminya. dia hanya terdiam dalam duka di rumah sambil menatapi nasib kedua anaknya yang masih di bangku SMP dan SD. dia tak bisa berbuat apa-apa. Yang dia lakukan hanya bisa meratapi musibah yang tiba-tiba menimpa keluarganya. Angin di luar terasa lunglai, begitu pun daun-daun yang biasa menari-nari seakan ikut merasakan gundah hati yang sedang dialami Surti yang sejak pagi terduduk diam di emperan rumahnya dengan wajah nglangut.

“ Sur, kenapa suamimu tidak kamu cari? “ celetuk tetangga sebelahnya yang ikut prihatin melihat kondisinya.

“ Aku bingung ?, aku tak tahu keberadaan dan kondisinya sekarang “ jawab Surti sambil neneteskan airmatanya.

“ Dalam kondisi seperti ini, justru kamu harus berpikir jernih dan berusaha mencarinya.”

“ Mencari di mana, dan apakah aku bisa mencegahnya bila ketemu dan dia masih dalam kejiwaannya tidak stabil, aku takut dan benar-benar takut “ .

“ seharusnya kamu lebih tegar dan apapun yang terjadi kamu harus berbuat dan mencarinya,  kasihan anak-anakmu “ tandas tetangganya.

Surti begitu terpojok dan kebingungan menerima masukkan tetangganya itu. Ibarat kaki sakit suruh berjalan di jalanan berbatu yang terjal. Ia hanya bisa mengaduh, mengeluh dan meratap-ratap. Tapi dalam hati kecilnya dia harus berbuat sesuatu dan memang harus mencarinya. Seburuk apapun prilaku suaminya sekarang, tetaplah suaminya dan realitas ini tak bisa dipungkiri atau menolak untuk mencarinya meski di ujung dunia.

***

Jalan raya begitu riuhnya, antara debu, sengatan matahari bahkan hiruk pikuk lalu-lalang pejalan manusia bercampur kendaraan begitu memenatkan pikiran. Wiro dengan gagah perkasanya terus menelusuri gorong-gorong jalan raya sambil mengucung-ngacungkan tangannya dan yang diucapkan bukan sekedar kalimat maling melainkan bertambah dan berbau orasi yang menyengat dan pedas.

“ Koruptor lebih dari maling atau teroris, mereka tak boleh dibiarkan dan harus dihukum mati!, apalagi kalau kita perhatikan benar bahwa koruptor adalah yang menyengsarakan rakyat kecil selama ini. Mereka harus dihukum mati, dihukum mati sampai setuntas-tuntasnya. Agar negara ini rakyatnya bisa merasakan kemerdekaan dan kemakmuran“

Getaran kalimat itu ibarat gelombang yang menggumpal lalu menyisir pasir di pantai dan camar-camar itu seolah tersenyum dan menyanyi dalam kemerdekaan, kebebasan yang benar-benar bebas dalam heroik, sebagamana lintasan-lintasan camar yang begitu anggun di udara di atas lautan. Begitu perasaan Wiro yang terus menyisir jalanan demi jalanan tanpa lelah, Tak peduli lapar, malu atau kejenuhan yang merayap dalam dirinya. dia tak peduli dan tak peduli, meski orang lain yang menjumpainya mencibir, acuh bahkan ada yang mentertawakan dia tak menghiraukan. “ kebenaran adalah kebenaran, meski bisa disalahkan tapi tak bisa dikalahkan “ bisik Wiro dalam hatinya.

Wiro tersandar di sebuah pohon dekat jalan raya, matanya berkunang-kunang, mungkin Ia lelah, atau kelaparan, sehingga dari wajahnya kelihatan pucat dan kurus meski kondisinya yang demikian itu, tapii mulutnya masih terus bergerak, mengucapkan “ maling. maling, maling “ dan kalimat itu seakan seperti zikir para santri di pesantren yang mengalun lirih menerpa daun-daun cinta yang penuh kekhusukan.

Sudah beberapa hari, Surti mencari suaminya yang belum tertemukan. Kesedihan mendalam pun dia berusaha menahan diri dan terus menyisir jalan mencari keberadaan suaminya, tak peduli debu dan asap serta rasa lapar menyelimuti diri Surti. dia begitu gigih dan pantang menyerah “ ini tugas cinta, tugas anak-anak, tugas Tuhan “ bisiknya dalam hati.

Langit seperti tanpa matahari, meski siang begitu terang, itulah yang ada dalam pikiran Surti. dia tersandar di dinding emperan jalan dengan tubuh yang lelah dan tatapan mata yang kosong dan lunglai bahkan kepalanya pun berkunang-kunang. lalu dia tak sadarkan karena setelah melalui perjalanan panjang yang melelahkan dan sangat lapar..

“ Apakah aku masih hidup, dan di mana aku sekarang ? “ Tanya Surti dengan tubuh yang lemah

“ Engkau baru saja tak sadarkan diri “ jawab bardo seorang tukang becak yang menemukan Surti dalam kondisi sekarat di emperan jalan.

“ Kamu siapa? “

“ Aku Bardo, yang menemukanmu di sini.dalam keadaan tak sadarkan diri “Jawab Bardo

“ Lantas, ada apa dengan diriku, dan mana suamiku? “

“ Jangan terlalu banyak berpikir dulu? “

“ Apa? suamiku telah pergi dari rumah, dia ingin menjadi pejuang bangsa yang sejati  dan harus kutemukan “

“ Baik!, nanti aku bantu. Tapi sabar dan ini diminum dulu biar tubuhmu hangat dan kembali segar “ Bardo berusaha membujuk.

Dengan tubuh yang masih lemas Surti mengikuti saran Bardo meminum seteguk teh yang telah disiapkannya. Kedua insan itu saling pandang .seakan mau menyatukan nasib yang sama, kerana merasakan menjadi korban kemarjinalan, pendiskriditkan bahkan pencurian hak-haknya sebagai rakyat lemah yang dilakukan oleh kekuasaan. Cuaca yang begitu panas  terus menyengat kedua wajah itu. Keringat bercampur airmata membasah di tubuhnya dan lelehannya terasa menggetar pori-pori tanah yang menebarkan rintih sakit yang menyembilu.

“ Hidup ini sepertinya penuh pengkhianatan, dan kami yang lemah hanyalah korbannya. Oh, di mana wajah negeri ini, di mana kemerdekaannya, di mana benderanya di mana cinta kasihnya, kami yang resah begini masih baanyak resah-resah yang lain “ gerutu Bardo sambil merenungu nasib Surti yang begitu menyedihkan.

Kedua insan itu sangat meratapi nasibnya dan larut dalam kesedihan yang mendalam sampai-sampai tak mempedulikan ada orang lain melihat atau mengguncingnya mereka acuhkan. Di sisi lain sepertinya dalam hati kecil keduanya  menemukan kebebasan dan keindahan hidup yang sebenarnya. meski masih terasa ada sembilu mengiris-ngiris dadanya.

“ Sebenarnnya ada apa dengan dirimu, dan ada apa dengan suamimu? “ Bardo berusaha bertanya ketika melihat kondisi Surti sudah memulai membaik.

“ Suami telah pergi meninggalkan rumah dengan kemarahan yang besar “

“ Marah tentang apa? “

“ Tentang maling Negara “

“ Apa hubungannya dengan Negara, apakah suami pejabat ? “

“ Bukan, suamiku adalah rakyat seperti kita, tapi entahlah tiba-tiba Ia marah besar dengan mengacung-ngacungkan parang lalu meninggalkan rumah sambil meneriakkan maling, malaing, maling! Dan sekarang aku tak tahu keberadaannya “ jawab Surti dengan mimik sedih.

Bardo sejenak merenungi nasib orang-orang kecil, dalam kepalanya terasa ada beribu semut yang merayap, lalu terngiang bahwa dirinya teringat bahwa pernah melihat sosok laki-laki kurus kerempeng di perempatan  jalan raya yang pada saat itu membuat orang-orang di sekitarnya pada terbelalak matanya dan mengganggu lalu lintas. Anehnya orang yang mungkin suami Surti itu tiba-tiba hilang entah di mana.dan lalu senyap Hanya meninggalkan suara maling, maling, maling yang terus membentur-bentur kepala setiap orang yang melihat seakan seakan mau memecah kebuntuan airmata langit.

“ Sampai kapan kamu mencarinya “ Tanya bardo gagap

“ Sampai ketemu “

“ Maaf, kalau tak tertemukan, langkah apa yang kamu lakukan “

“ Harus kutemukan!, apapun resiko dan adanya “

“ Kalau ternyata suamimu meninggal, gimana? “

“ tak masalah, aku akan menguburnya dengan kafan merah putih dan itu layak untuk suamiku “


Senja pun mulai menampakkan wajahnya dan malam sesegera menyelimuti bumi yang, disambut burung-burung melintas di udara kembali ke sarang peristirahatan. Hening pun tiba-tiba menyekap kedua insan dengan disambut nyanyian gerimis yang menembangkan duka lara pada rumput maupun ilalang yang terusir bahkan teraniaya oleh kehidupan yang serba konsumtif dan glamour. Sehingga budaya cinta kasih antar sesama dari waktu ke waktu luntur dari pergaulan kasih sayang di hati manusia, semuanya itu akibat olah manusia sendri yang terlalu tergiur dengan harta dan kekuasaan.

Wiro sebagai manusia yang lugu dengan ekonomi pas-pasan, semula tak tahu menahu dan menjalani hidupnya pun seadanya. Tiba-tiba jiwanya terguncang, memberontak dan mengalami dispresi setelah tahu bahwa hidupnya selama ini dikhianti dan pecundangi oleh kekuasaan. DIa lari dan lari entah ke mana dan sampai di mana, yang tahu hanya Tuhan.

Kedua insan yang berbeda jenis itu masih dalam senandung duka, mereka begitu akrab dan penuh pengertian, kelihatan tubuh mereka nampak kelelahan dan mulai mengantuk. Dalam kondisi yang demikian tiba-tiba keduanya lamat-lamat mendengar suara yang lantang “ maling, maling, maling “. Suara itu seperti sulit dicari arahnya. Dengan sekuat tenaga mereka berdiri tegap sambil mencari arah suara yang lantang terus menerus menghentak-hentak.

“ Suara siapa itu “ Tanya Bardo

“ Sepertinya suara suamiku, aku yakin dan tidak samar suaranya “ jawab Surti yakin.

“ lalu, di mana sosoknya? “

“ Entah…

Bardo merenung dan benar-benar merenung seakan menyembunyikan sesuatu, dia mau menceritakan sesuatu, tapi dia takut dan benar-benar takut.

“ apa yang harus aku lakukan,, kalau aku ceritakan bahwa suaminya telah meninggal, apa justru tidak menambah beban? “ gerutu Bardo dalam kebingungannya sendiri.

Setajam kata sepertinya tak mampu menghunjam kebuntuan airmata, hanya kesedihan yang terus menari dan menari dan menyebar bayang-bayang di wajah petani, buruh bahkan abang-abang becak.dan maling-maling itu terus menjumawa sambil tertawa-tawa di instansi pemerintah maupun swasta dan tak peduli rumput-rumput mereguki airmatanya sendiri. Sebagaimana Wiro yang hanya bisa berteriak dan menghujatnya seperti ilalang menusuk mendung, lalu menghilang entah di mana… hanya meninggalkan kekecewaan dalam aura kemiskinan yang menyakitkan dan menyakitkan.

“ kebenaran bisa disalahkan, tapi tak bisa dikalahkan “ pekik Surti yang tiba-tiba dan sambil bangkit dengan wajah sinis menebarkan kebencian pada semua kekuasaan ya kekuasaan dan Bardo yang sejak tadi memperhatikan, sepenuhnya hanya membiarkan airmatanya sendiri yang membasahi jiwanya dalam ketertekanan dan penuh rahasia!

***************

Kudus – 2010


Ilustrasi: siagil blogspot, freewebs

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.