Tidak Tahu = Aman

Hariatni Novitasari – Surabaya

Ketika sempat terdampar seminggu di Washington DC, tiap malam setelah selesai kursus, kalau tidak ada acara dengan rombongan, aku selalu menghirup udara malam dengan menyusuri Connecticut Ave sampai dengan Dupont Circle. Kadang aku mampir di Kramer, kadang juga makan di Subway (sampai bosan!).

Aku selalu melakukannya sendirian. Kadang juga aku menempuh jalan yang berbeda. Ke arah Adam’s Morgan, membeli kebutuhan di 7Eleven atau kadang makan di warung China, milik orang Malaysia, North Sea. Mengenal kehidupan sebuah kota di malam hari, selalu saja menarik bagiku. Seperti kata pepatah Persia, “Ketika gelap, kamu akan dapat melihat bintang.”

Ketika secara tidak sengaja ketemu dengan Agni (kakak kelas jaman kuliah) yang kala itu sedang studi di John Hopkins, dia terperanjat bukan main. “Ya ampun Mon, untung tidak terjadi apa-apa.” Lalu, dari Agni aku mendengarkan sebuah cerita yang membuat bulu kudukku sedikit berdiri.

Kalau Washington DC sebenarnya bukan kota yang aman-aman amat. Termasuk Dupont Circle. Kalau pulang dari kampus di atas jam 10 malam, Agni tidak berani jalan sendirian lewat Dupont Circle. Dia harus naik bis atau naik kendaraan lainnya. Dari tempat Agni, agak sedikit jauh dari stasiun subway. Di daerah Dupont Circle sering sekali terjadi perampokan ataupun penodongan. Padahal, menurutku, penampakan Dupont Circle sungguh tenang dan damai, jalan yang penuh dengan restoran, hehehe.

Belum lagi daerah Adam Morgan’s. Itu daerah yang amat rawan. Sering terjadi adu tembak. Sehari setelah beberapa teman dan aku makan di North Sea, di Mc.D sebelahnya, terjadi baku tembak antar dua orang kulit hitam. Satu orang meninggal. Belum lagi, kejadian di sebuah restauran Somalia (yang aku lupa namanya, meski ditunjukin sama si Agni), ketika seorang lelaki menembak pacarnya sampai tewas lalu menembak dirinya sendiri. Hiiiii….

Dan, di 7-Evelen dimana aku sering beli kebutuhan sehari-hari, telah dua kali dirampok! Professor Agni yang juga tinggal di sekitar daerah situ, dua kali dirampok di depan rumahnya. Terakhir ketika dia membawa hasil pekerjaan mahasiswanya.

Perampokan kertas-kertas mahasiswa inilah yang membuat si professor harus adu man to man dengan si perampok! “Karena itu, banyak orang di daerah sini, kalau jalan malam hari sering bawa anjing!” Aha, dan itu benar. Aku beberapa kali berpapasan dengan orang-orang yang berjalan sambil membawa anjing.

Menurut Agni, banyak faktor yang membuat tingkat kejahatan semakin tinggi. Antara lain, semakin minggirnya atau dipinggirkannya orang-orang kulit hitam dan Hispanik yang dulu menghuni daerah itu ke daerah-daerah pinggiran Washington DC. Daerah-daerah itu kemudian banyak yang menjadi pemukiman orang kulit putih. Tapi, kapokkah aku jalam malam? Ah, tentu saja tidak…

Berbeda dengan kejadian di Washington DC. Beberapa tahun yang lalu, ketika akan berangkat backpacking ke Malay, aku bertemu dengan bapaknya teman yang orang sana. Ditanya, mau menginap di mana di KL. Aku jawab, akan menginap di daerah Bukit Bintang (BB), seorang teman (si Nuts) sudah booking ho(s)tel.

Si Pak Man bilang, daerah BB memang sangat turis, tempat mangkalnya backpakckers dari berbagai penjuru dunia. Di saat yang bersamaan juga pusat peredaran drugs dan daerah prostitusi. Hayo, siapa yang tidak merinding?

Ketika sore hari gerimis, bersama dengan ketiga emak-emak temanku, kami berniat cari makan di Sungai Wang. Tepat di dekat sebuah lapangan yang isinya hanya mobil-mobil rusak dan perempuan-perempuan yang mulai berjajar di depannya, seorang lelaki kulit hitam, dengan agresif mengejarku.

“Hai, kamu siapa?” dia bertanya, sambil menguntitku.

“Fatimah!” jawabku setengah berlari.

“Kamu tinggal dimana? Sampai kapan di sini?”

“Tinggal di rumah teman di Subang Jaya, besok aku pulang”. Dan, kali ini aku benar-benar berlari ke arah Sungai Wang. Ketiga orang temanku ngakak-ngakak sambil pegang perut di belakangku.

Si lelaki berteriak-teriak, “Hai.. tunggu…tunggu..tunggu!”

Yang terakhir, ketika aku tiba-tiba saja mendapati henponku raib dari tas laptop di butik Z**A di Tunjungan Plasa, aku baru sadar kalau tempat itu sangat tidak aman. Waktu aku melaporkan kehilanganku pada sekuriti, dengan enaknya si Embak Security menjawab dengan ringannya, “Wah, kalau blekberi dan henpon kayak punya embak, hampir tiap hari raib di sini. Punya Embak yang nomor empat hari ini”

Aku hanya melongo saja. Mau ngapain? Masak mau marah-marah. Otakku sudah blank, tidak bisa marah-marah lagi. Hanya melongo mendapatkan jawaban si Mbak. Malah temanku yang ngajak kesana, lebih histeris dariku. Merasa berdosa. Karena hari itu, semestinya dia yang sedang bete, makanya ngajak jalan aku.

Dari kejadian ini, yang paling membuatku marah bukan karena si maling ambil henpon. Tetapi, SMS minta pulsa yang dia kirim nomor-nomor kontak di henponku. Kurang ajar sekali. Dan, kasihannya orang-orang itu, pada mengirimkan pulsa ke nomor itu, dengan alasan mungkin aku sedang kondisi emergency.

Duh, jadi benar-benar merasa tidak enak. Karena  maling kurang ajar ini, segera aku menghubungi teman yang redaktur halaman surat pembaca. Esoknya, langsung nampang di koran.

Orang-orang kemudian pada mengingatkan, “Makanya toh, kalau bawa barang hati-hati”. Dalam hati aku berkata, “Ah, mana tahu di TP ternyata banyak malingnya. Di butik Z lagi. Kalau di Pasar Atom atau Pasar Turi, sudah karuan aku aware dengan barang bawaanku…”

Dari tiga kejadian itu, bisa sedikit diambil kesimpulan, kalau kita pergi kemana-mana, kadang tidak tahu itu membuat kita sedikit merasa aman. Meskipun, tetap saja harus waspada. Semakin banyak tahu, semakin kita sering merasa parno. (****)


Ilustrasi: richmondva wp, travelpost

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.