Bye Sri Mulyani, SBY – Ical Hanimun

Alexa & Josh Chen

Ternyata Bu Sri tidak Happy ke World Bank

Sewaktu tulisanku Congrats, Bu Sri! ditayangkan di Baltyra tgl. 07 Mei 2010 bersamaan dengan munculnya berita-berita di surat kabar, “Golkar bersedia kasus Bank Century di PetiEskan,” whaat, statement ini rasanya membuat semua jadi begitu terang benderang. Di lain pihak ada seorang teman yang menyapa via japri…”nih ada info dari Kafi Kurnia and you will know what happens behind the scene.”

Analisa selanjutnya dari seorang pakar intelijen – Bp. Prayitno Ramelan yang saya hormati makin memperkuat dugaan bahwa ada campur tangan Golkar disini.  Pak Pray menyamakan posisi  Ical dengan U.S. Marine Corps (USMC) yang mempergunakan bendera warna hitam dengan  symbol tengkorak bertopi hijau dan hiasan senjata M16 bersilang dengan jargon “MESS WITH THE BEST, DIE LIKE THE REST”. And we all know bagaimana tingkat “permusuhan” antara SMI dengan Abu Rizal Bakrie…so Bu Sri mungkin dianggap sudah Mess with The Best and should Die Like the Rest ?

Nonton berita siang itu (07 Mei 2010)…Sri Mulyani usai diperiksa KPK masalah Bank Century mempertanyakan di mana kepastian hukum terhadap pejabat negara yang bekerja dalam koridor tanggung jawab dan SOP (Standar Operating  Procedure)nya. Sepertinya pertanyaan itu mewakili kegusaran hatinya manakala dirinya terus menerus digugat untuk masalah Bank Century ini berdasarkan fakta-fakta yang dihimpun secara politis.

Akhirnya sebagaimana mengutip the Jakarta Post – seorang pengamat politik Burhanuddin Murtadi mengatakan, Jum’at minggu lalu SBY menghubungi Robert B. Zoellick – President Bank Dunia menanyakan apakah tawaran jabatan Managing Director Bank Dunia kepada Sri Mulyani tahun lalu (usai KIB I ) masih berlaku? Dan pada esok Senin-nya barulah Sri Mulyani tahu kalau dia mendapat jabatan sebagai  sebagai Managing Director Bank Dunia.

Anggota DPR Fraksi Golkar Agun Gunandjar yakin bahwa Sri Mulyani tidak bahagia dengan pinangan World Bank ini. Menurutnya, Sri Mulyani lebih bangga sebagai Menteri Keuangan ketimbang jabatannya di World Bank karena SMI memiliki integritas moral dan kebanggaan tersendiri sebagai Menteri Keuangan.

Ada Apa?

Kafi Kurnia sendiri mendapatkan informasi dari seorang kuli tinta senior bahwa masalah Bank Century itu cuman asapnya saja. Api yang sesungguhnya adalah kasus Pajak, dan bukan kasus Gayus atau pegawai pajak di Surabaya…itu cuman kulitnya saja.

Indikasi menunjukkan bahwa kasus ini bisa merembet dan meledak menjadi kebakaran yang sangat besar. Kalau ini terjadi maka posisi Sri Mulyani bisa sangat dan serba sulit. Bila ia maju terus dan melakukan reformasi besar-besaran maka akan  ada tembok besar menghadang sementara kita tahu kualitas seorang Sri Mulyani adalah kualitas seorang Menteri Keuangan yang tidak akan berpangku tangan menghadapi ledakan kasus pajak, apalagi agenda utama beliau adalah melakukan reformasi dalam birokrasi fiskal.

Perkembangan selanjutnya adalah terbentuknya Sekretariat Bersama  partai-partai anggota koalisi Pemerintahan di mana Ical Bakrie menjadi Ketua Harian makin menguatkan bahwa terjadi politik transaksional yang saling menguntungkan dan menyelamatkan antara Pemerintah (terutama Partai Demokrat) dengan  Partai Golkar. Ical terselamatkan dari pengusutan Pajak yang mungkin saja terjadi sementara Pemerintah dengan koalisi partai besar ini (setelah PDIP menolak bergabung) merasa yakin bisa melanjutkan agenda pembangunan yang selama ini terhambat.

Banyak yang memuji langkah SBY ini sebagai permainan yang cantik dan menghasilkan Win-Win Solution, betulkah ini Win-Win Solution? Berapa nilai kasus pajak yang dibarter dengan hengkangnya Sri Mulyani. Tentunya sangat besar sebab yang kita bicarakan disini adalah “kepala” dari Menteri Keuangan yang sudah meraup penghargaan internasional sebagai Menteri Keuangan terbaik di dunia.

Saya membayangkan nilai pajak itu seharusnya bisa membantu menguras lumpur Lapindo di Sidoarjo, bisa dibuat membangun fasilitas infrastruktur di daerah-daerah tertinggal hingga roda perekonomian bisa bergerak cepat, bisa memberikan penghasilan lebih kepada guru dan kepala sekolah sehingga mereka tidak perlu menyambi jadi pemulung sampah di Bantar Gebang dan cukup berkonsentrasi mentransfer ilmu kepada para muridnya dan kelak terlahir putra-putra bangsa yang bermutu dalam membangun negaranya, serta bisa-bisa yang lain lagi.

Sebenarnya banyak yang mengharapkan kasus Century itu bisa jadi momentum tuk bersih-bersih negeri dan saya kok yakin jika segala kasus KKN dibuka, pengaruhnya malah positif pada perekonomian Indonesia. Buktinya sudah ada, angka pertumbuhan ekonomi kita yang 5.8% tahun 2009 itu merupakan fakta…bahwa bagaimanapun pemeriksaan Century itu tak membawa pengaruh apa-apa. Dan rontoknya bursa serta kurs Rupiah  saat SMI turun juga membuktikan bahwa  banyak pihak yang sebenarnya kecewa dengan turunnya SMI dan  mengharapkan langkah reaksi  yang lain dibandingkan dengan yang diambil saat ini.

Maka tak berlebihan kartun Oom Pasikom di Kompas saat SMI digambarkan pergi sembari mengatakan Farewell Politicking dilatarbelakangi gambar politisi yang menjulurkan lidah dan melambaikan tangan di hidungnya.

What’s Next…?

Dikabarkan bahwa calon pengganti Sri Mulyani diambil dari kalangan professional, lucunya saya malah jadi kasihan membaca statement ini. Bisa dibayangkan pasti cepat atau lambat orang ini akan menghadapi masalah dan beban yang sama….tanpa akar yang kokoh dalam suatu partai politik besar, Menteri Keuangan yang akan datang pasti akan menghadapi tekanan yang berat juga. Tapi jika Menteri Keuangan ini diangkat dari Partai Politik bisa dibayangkan bagaimana dia harus bergerak dalam agenda titipan-titipan Partainya. Belum lagi adakah dari partai politik itu terlahir seorang professional sekaliber Sri Mulyani?

Dalam mengemban tugasnyapun Menteri Keuangan baru ini akan selalu  diperbandingkan dengan kualitas seorang Sri Mulyani….kerja salah dikit pasti dibilang kok begini sih, kok begitu sih. Dan tentunya sulit mencari putra/putri  Indonesia yang memiliki kualitas sebanding dengan seorang Sri Mulyani.

Masih ada harapan bahwa kasus pajak raksasa itu bisa terbuka saat di lain pihak saya mendengar bahwa Susno Duaji akan membuka kasus pajak yang lebih besar lagi – Rp. 250 trilyun tepatnya. So dalam hal ini saya sangat berharap bahwa Susno Duaji bisa menuntaskan permainan buka kartunya. Sebagai seorang petinggi di bidang keamanan dan intelijen tentunya dia sudah paham benar bagaimana memainkan kartunya…

Dan terbukti sampai dengan detik ini, Susno Duaji masih tak tersentuh oleh seluruh petinggi Polri, dan seluruh tangan dan komponen hukum negeri ini, dia masih dengan bebas ke sana kemari. Kartu truf yang di tangan Susno Duaji memang luar biasa mematikan…permainan “poker”, “truf”, “blackjack” yang sungguh tingkat tinggi.

Di Baltyra sudah pernah diturunkan tulisan: Ada apa di balik Pansus Century? dengan pembahasan mendalam dan sorotan hubungan antara gencarnya Pansus Century dengan sentimen serta perseteruan Ical Bakrie dengan Sri Mulyani. Sebenarnya dari pihak Sri Mulyani dalam kapasitas beliau sebagai Menteri Keuangan adalah untuk menggebrak dan mendobrak kebobrokan negeri yang sudah menahun dan berkarat, sementara dari Ical Bakrie dianggap jadi persoalan pribadi dan diperhitungkan sebagai serangan terhadap dirinya sekaligus partainya.

Manuver Pansus Century hanyalah kendaraan untuk menggebrak balik dengan segala daya upaya, mulai dari sisi politis sekaligus show-off bahwa Golkar masih memiliki taring serta sumber daya yang masih harus diperhitungkan. AT ALL COST, Sri Mulyani Indrawati should go!!

Rupanya tulisan di bulan December 2009 tsb menjadi kenyataan dengan akurasi mendekati 100%!

Kita lihat lagi:

Dan ternyata sosok diam Sri Mulyani sudah tidak tahan lagi dan mengeluarkan pernyataan di The Wall Street Journal, 10 December bahwa ada maksud dan tujuan politik Bakrie dalam Kasus Century ini. Mungkin saja Sri Mulyani impulsive dan mengeluarkan pernyataan tsb, tapi kemudian sesaat saya berpikir, sekelas dan selevel Sri Mulyani rasanya tidak mungkin mengeluarkan pernyataan sembarangan, apalagi di international media seperti The Wall Street Journal.

Dengan keluarnya pernyataan keras Sri Mulyani seperti itu, mengundang reaksi keras dari jajaran Partai Golkar. Beramai-ramai mereka mengeluarkan pernyataan dan pembelaan untuk Ical. Ketua Pansus Century dari Partai Golkar menggelegar dan menggebu untuk membela Sang Ketua Umum baru, menyatakan bahwa sangat mengecilkan Golkar untuk hal seperti itu, karena Golkar menargetkan si Ical nanti run for president di 2014…HAAAHH?? Tidak salah dengar? Tidak salah baca?

Jelas sekali sekarang langkah dan manuver politik Golkar dengan Ical Bakrie sebagai ketua umum yang memang mengincar posisi RI-1 untuk 2014 ! Di beberapa media sudah dikutip berbagai pernyataan partai tsb karena menganggap SBY tidak memiliki kader yang cocok untuk Run for President 2014.

Temuan lebih lanjut cukup mengejutkan juga, dugaan cukup kuat adanya masalah pajak senilai Rp. 2 triliun di group usaha Bakrie. Di antaranya adalah: Bumi Resources Tbk, Kaltim Prima Coal dan Arutmin Indonesia. Belum lagi jika Bakrie Group harus mengeluarkan duit untuk membayar seluruh ganti rugi atas kecerobohan operasional di Lapindo, yang mencapai triliunan rupiah, tapi entah dengan bagaimana caranya, jadi dinyatakan bahwa Lumpur Lapindo adalah bencana alam, padahal jelas-jelas human error…

Dugaan penggelapan pajak dalam jumlah yang luar biasa besar ditengarai akan “membakar” Ical Bakrie sampai menjadi abu jika diharuskan membayar semua tunggakan pajak beserta dendanya, akan mencapai Rp. 10.5 triliun belum lagi jika kasus Lapindo berlanjut terus.

Diakui atau tidak, pengaruh dan tekanan politik Golkar masih sangat kuat dan mendominasi koalisi pemerintahan SBY sekarang ini. Salah satu partai politik tertua dan tersolid di masanya, ternyata masih memiliki sisa-sisa gigi dan taring yang tertinggal. Itupun masih dengan incaran RI-1 untuk 2014.

Menelisik dan mengamati dinamika politik Indonesia, sejak jaman reformasi 1998, belum pernah ada lagi partai politik dari masa lalu yang berkibar serta sukses menduduki RI-1 dan sukses mendulang kemenangan dalam pemilu.

Kemenangan PDIP dalam pemilu dadakan 1999 adalah bentuk euphoria semata dari rakyat yang tertekan selama tiga dasawarsa. Aspirasi politik mereka seperti menemukan saluran dan ambrol seperti dam dhadhal (jebol). Ternyata para kader dadakan dan tiban PDIP ketika itu bersikap seperti “kere munggah bale” alih-alih mengayomi rakyat, dengan posisi politis saat itu, korupsi merajalela luar biasa.

PDIP sendiri dengan Megawati bisa menduduki jabatan RI-1 karena hanya “kebetulan” saja, menggantikan Gus Dur yang diseret turun oleh DPR. Sejak itu, belum pernah ada lagi partai politik produk jadul yang sukses mendulang kemenangan sekaligus menduduki RI-1.

Belum pernah dalam ingatan sejarah dunia struktur pemerintahan yang lucu, wagu, aneh dan nyeleneh seperti sekarang ini:  Presiden – Wakil Presiden – Ketua Harian Koalisi….hopo tumon?

Semua pakem tata kelola pemerintahan, pakem demokrasi, pakem tata negara dan pakem politik sudah diobrak-abrik di negeri ini. Yang mengherankan, terus terang saya kecewa dengan SBY yang terkesan – sekali lagi TERKESAN MANDAH ditekuk-tekuk oleh Ical Bakrie…sekali lagi ADA APA?

Golkar sudah kehilangan momentum dan tidak ada regenerasi, sehingga para bangkotan gaek mereka melakukan manuver politik busuk terus menerus untuk mengamankan posisi mereka di panggung politik Indonesia.

Kembali lagi sebenarnya ada apakah di balik kejadian ini semua? Masih di Baltyra, The Truth is out there di bulan November 2009, sudah pernah membahas:

TIDAK ADA SATUPUN lawan politik SBY, TIDAK SEPATAH KATAPUN dari lawan politik SBY yang biasanya sangat bersemangat ngepruki SBY dan semua kebijakan serta semua tingkah laku SBY pasti dicerca, dikritik habis…

Sebut saja Si Mbok…ini adalah paling juara kalau sudah masalah SBY, kritikannya, plerokannya, cerocosannya, dan prengutannya…kali ini?? Angkrem-mingkem-ndekem-bungkem total, satu patah kata juga tidak ada….

Prabowo…mana ada komentar…

Wiranto…lenyap bagai ditelan bumi…

Amien Rais…tak terucap sehurufpun…

Bahkan mantan wapres, JK juga tak ada suaranya sama sekali…

The question is: W H Y?? Atau W H O?? Atau W H A T??

Apakah ada sesuatu atau seseorang di luar sana yang begitu sangar-angker-serem-medeni segitunya kah? Sampai-sampai sanggup membungkam seluruh komponen politik negeri ini? Dari SBY sendiri sampai dengan lawan politik terfanatik untuk mencerca beliau juga dibuat bungkam total kali ini?

Bisa jadi ada sesuatu yang jauh lebih besar kepentingan yang tersenggol dan terganggu akan bergulirnya ini semua…siapa? Apa? Kenapa? Silakan pembaca menyusun sendiri dan berimajinasi apa hubungan, pertalian, benang merah dari semua keping di atas…karena saya pun tidak tahu dan tidak bisa menebak jawabnya…

Wallahualam bishawab…

Yang jelas dengan “hengkang”nya Sri Mulyani ke World Bank, bola panas reformasi birokrasi, gebrakan dan dobrakan menggulung mafia perpajakan, pengejaran pengemplang pajak terbesar dalam sejarah negeri ini, seluruh kasus makelar kasus, makelar pajak, dan seluruh kasus KORUPSI akan segera padam geloranya di negeri tercinta ini…

Kepada bu Sri Mulyani sendiri, mungkin saya hanya bisa menyampaikan perkataan seorang Winston Churcill:

Never give in–never, never, never, never, in nothing great or small, large or petty, never give in except to convictions of honour and good sense. Never yield to force; never yield to the apparently overwhelming might of the enemy. Sir Winston Churchill, Speech, 1941, Harrow School,British politician (1874 – 1965)

Selamat berkarya di tempat baru Bu….yakin lah Bu…di manapun tempatnya, Ibu pasti bisa menunjukkan karya terbaikmu.


Bahan tulisan:

  1. http://ekonomi.kompasiana.com/20101/05/07/sri-mulyani-predictable-surprise-2010
  2. http://polhukam.kompasiana.com/2010/05/09/antara-ical-dan-us-marines-corps
  3. http://tempointeraktif.com/hg/politik/2010/06/08/brk,20100508-246524,id.html
  4. http://primaironline.com/berita/politik/sri-tak-happy

Ilustrasi: Koran Tempo

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *