Kidung Yang Belum Usai

Rosda

 

“Kak Ameeeeee…papa Ika dataaang…!! ” kata Ika sambil berlari mamasuki halaman rumahku. Rambutnya yang keriting berpilin, bergoyang-goyang. Panjang melewati bahu, cantik sekali. Kulitnya putih, matanya agak sipit, entah seperti siapa. Mamanya, Kak Tatum nggak sipit. Begitu juga papanya. Mungkin mirip neneknya……halah aku sok tau.

“Mana kak Ame, kak ?” dia bertanya padaku.

“Ada tuh di kamar,…..Ika masuk aja.” kataku. Gadis kecil berusia hampir 5 tahun itu masuk ke rumah dan segera masuk ke kamarku. Adikku Ame, ada disana lagi membaca novel yang sudah selesai kubaca. Akupun ikut menuju kemana Ika masuk. Berdiri di ambang pintu memperhatikan mereka. Ame yang tadi nya berbaring, langsung duduk begitu mengetahui Ika datang.

“Ada apa Ka ?” katanya.

“Papa Ika datang, kak.”

“Ahh, masak ?”

“Iyaa.. !! Ayo lah ke rumah Ika. Tengok !!” Ika meyakinkan Ame.

“Papa kakak nggak datang kan ?? hehehehee….” kata Ika, seakan mengejek Ame dan merasa menang karena papanya sudah datang.

“Papa kakak datangnya nanti malam.” kata Ame nggak mau kalah.

“Yuuuk kak ke rumah Ika….lihat papa.” Ika menarik tanganku sambil menuju pintu depan.

“Nanti kakak datang..” kataku.

Bergegas mereka berdua menuju ke rumah Ika. Aku hanya memandangi saja dari pintu rumah. Kami tinggal di komplek ini belum terlalu lama. Rumah Ika berada di seberang jalan rumah ku.Rumah dengan type yang sama dengan rumahku. Bedanya, di depan rumah Ika ditanami dengan penuh rerumputan, berpagar teh-teh-an. Sudah direnovasi dengan menambah ruangan di sayap kiri bangunan untuk garasi dan ruang keluarga. Pun masih ada sisa tanah untuk menuju ke belakang rumah.

Kira-kira sepuluh meter dari pakarangan belakang rumah itu, terbentang luas ladang-ladang penduduk sekitar. Mereka menanaminya dengan terong biru, kacang panjang, singkong, kacang hijau, pepaya, pisang dan entah apa lagi. Banyak, bahkan ada pohon melinjo dan sedikit tanaman karet.

Terkadang kami bertemu dengan pemilik ladang dan saling sapa. Lama-lama jadi kenal dengan beberapa orang di antara mereka.

Aku dan Ame sering ke rumah Ika, wira-wiri kayak setrikaan. Begitu juga Ika beserta abang dan kakak-kakaknya, sering ke rumahku. Bisa dikatakan hampir tiap hari. Hubungan kami memang dekat, walau hanya tetangga. Setelah urusan rumah beres, aku ke rumah Bang Ricky, papanya Ika. Langsung menuju ruang keluarga di mana semua lagi nonton tivi sambil ngobrol. Suara Ame terdengar paling kencang.

“Hai Ros, apa kabar ?” Bang Ricky mengulurkan tangan.

“Kabar baik Bang…”.Kami bersalaman. Mendengar suaraku, Kak Tatum muncul…tersenyum. Aku juga tersenyum.

“Duduk…duduk…bagaimana kuliahmu ?”

“Biasa-biasa aja Bang….”

Bang Ricky menyuruh Kak Tatum bikin teh untukku. Aku menolak, aku bisa bikin sendiri ke dapur, rumah ini sudah seperti rumahku. Akhirnya Kak Tatum hanya membuatkah teh untuk suaminya. Kami ngobrol rame-rame, ngalor ngidul. Kadang diselingi tawa canda. Kak Tatum lebih banyak mendengar sambil sesekali menimpali. Selanjutnya dia kembali ke dapur meneruskan kerjaannya yang belum selesai. Sesekali dia muncul ke ruangan di mana kami berkumpul.

Sebulan lebih Bang Ricky nggak pulang. Wajar jika anak-anaknya kangen. Di saat kami ngobrol, keempat anak mereka datang dan pergi menghampiri. Ada yang memeluk leher papanya dari belakang, ada yang sebentar duduk di pangkuan dan ada yang bolak-balik tanya ini dan itu. Semua diladeninya dengan senang. Apalagi terhadap Toni, anak laki-laki satu-satunya, abang Ika.

“Mana Bang Jerry….kok dari tadi nggak nampak ?” Aku bertanya.

“Ada tuh di kamarnya, lagi mojok. Ada cewek yang lagi dikejarnya. Pintu kamar di kuncinya biar nggak diganggu anak-anak….” kata Kak Tatum.

Jerry, adik Bang Ricky, tinggal bersama mereka. Duda cerai beranak satu. Anaknya ikut sang ibu. Dia sering cerita padaku tentang bekas istri dan anak mereka yang semata wayang. Sekarang dia lagi nganggur. Sewaktu dia cerita tentang ‘permainannya’ di satu perusahaan asuransi, kadang membuat aku geleng-geleng kepala. Wajar saja kena pecat. Tapi dia tenang-tenang saja dengan apa yang sudah dilakukannya. Bahkan kadang-kadang kalau dia cerita tentang itu lagi, dia juga ketawa membayangkan kegilaannya pada saat itu.

Walau pengangguran, dia punya ‘stang bulat’….untuk modal menggaet cewek, katanya. Tidak ada niat untuk mencari istri, hanya untuk bersenang-senang. Pernah dia bercerita, suatu kali dia mengunjungi satu keluarga yang anak gadisnya ditaksir olehnya.Karena dia datang jalan kaki, dia tak diterge (tak dianggap). Begitu bawa stang bulat, langsung ibu gadis itu bersikap ramah. Menyediakan cemilan segala macan. Katanya itu bikinan si gadis.

“Padahal cemilan kayak gitu banyak dijual di mana-mana. Dan lucunya, sewaktu Abang pulang, nggak sengaja Abang nabrak tembok rumah mereka. Herannya si ibu itu nggak marah” kata Bang Jerrry sambil tertawa-tawa.

“Tum, tolong cucikan mobil Abang, kotor kali tuh…” Kata Bang Ricky pada istrinya.

Kak Tatum mengerjakannya, aku ikut membantu. Anak-anak juga nggak mau kalah. Jadi lah acara mencuci mobil sebagai ajang permainan air. Saling semprot air. Jadinya semua basah.

Sebenarnya ada sesuatu di keluarga itu. Tapi aku nggak pasti kebenarannya.

Bang Ricky pernah mengatakan padaku bahwa istrinya berpacaran dengan adiknya sendiri.

“Kau lihat, betapa mesranya mereka. Mereka saling menyintai. Dari dulu, Tatum lebih dekat kepada Jerry daripada kepada Abang.” katanya suatu kali padaku.

“Ahh…itu kan perasaan Abang aja…Kalau Kak Tatum meladeni Bang Jerry makan, ya wajar-wajar aja lah Bang, namanya juga adik ipar…bukan orang lain.” kataku.

” Ahh…kau masih kecil, belum tau apa artinya cinta….apalagi yang berurusan dengan rumah tangga, kajimu belum sampek situ !!” katanya lagi.

Lain lagi dengan apa yang dikatakan Bang Jerry padaku.

” Kau tau nggak Ros,….Ricky itu dari dulu nggak pernah berubah. Kerjanya pacaran melulu di luar sana. Anak istrinya nggak pernah di pedulikan. Abang lah yang mengurus keluarga ini dari dulu. Mana pernah dia nungguin istrinya melahirkan. Abang lah yang nungguin anak-anak ini lahir. Mulai dari Dita (si sulung) sampai si Ika. Kadang Abang kasian lihat Tatum” katanya. Bang Jerry memang nggak pernah manggil kakak kepada Tatum. Dia selalu manggil nama.

“Emangnya dari dulu Bang Jerry tinggal ama keluarga ini ?? “

“Enggak lahh…dulukan mereka belum punya rumah sendiri. Jadi mereka tinggal di rumah orang tua kami. Abang kan waktu itu belum berkeluarga. Kebetulan, Abang sebaya sama Tatum. Jadi kalau ngobrol, kami cocok. Kami pun kompak jadinya.”

Kak Tatum sendiri nggak pernah cerita apa- apa tentang ke dua pria itu padaku. Aku juga nggak punya rasa ingin tau lebih jauh. Dia juga nggak pernah mengeluh walaupun suaminya jarang pulang. Dan kalau pulang, jarang sekali menginap. Datang pagi, sore pergi lagi dan entah kapan kembali lagi…. Itulah sebabnya Ika sampai datang ke rumahku melapor bahwa papanya datang. Dia ingin berbagi kebahagiaan.

Di mataku, Kak Tatum adalah ibu yang baik. Dia mengurus sendiri anak-anaknya. Sangat jarang keluar rumah, kecuali untuk keperluan rumah tangga. Dia tak pernah menjelek-jelekkan suaminya pada anak-anak mereka. Walau kadang aku lihat matanya sembab dan bengkak seperti habis menangis.

Tapi kalau soal mengerjakan PR anak-anaknya, dia sering minta bantuanku atau Ame. Bukan karena nggak sabar, tapi dia suka geli bila mendengar jawaban anak-anaknya saat mengerjakan PR. Ntar jadinya bukan malah belajar, dia malah nanyain anak-anaknya dengan pertanyaan yang konyol dan lucu.

Pernah suatu ketika, Kak Tatum bertanya padaku.

“Ros, menurut adat orang Batak, kalau kakak ipar dan adik ipar tinggal serumah, pantang ya ??”

“Maksud kakak ?”

“Ya, seperti aku dan Jerry lah….kami kan serumah”

“Ohhh gitu….ya nggak pa pa lah Kak. Udah pas itu. Kalau dalam adat kami, Bang Jerry itu memang ‘ban serap’ kakak…..hahahahahaaaa…..”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.