Weifang Tanpa Layang-layang (Part 1)

Meazza – China

Pernah merasa jengkel saat suatu yang ditunggu-tunggu ternyata terlewatkan? Ya, kejadian ini baru saja kualami beberapa waktu ketika mengunjungi Weifang yang terkenal karena festival layang-layang yang diadakan di sana setiap tahunnya.

Maksud hati bermesraan dengan layang-layang, tapi apa daya ternyata tak berjodoh. Festival layang-layang yang kunantikan itu ternyata baru saja selesai sehari sebelum aku menginjakkan kaki di kota itu.

Informasi di internet menyebutkan bahwa festival layang-layang tahunan di kota Weifang- Shandong diselenggarakan pada 21-24 April 2010. Aku dan teman-teman antusias sekali. Sudah terbayang di benak ini untuk beraksi ala fotografer di kota layang-layang yang indah dan asri itu. Apalagi bunga-bunga sedang bermekaran dengan indahnya.

Ditambah ramalan cuaca yang menuliskan bahwa Weifang akan terang benderang dengan suhu 12-18 derajat sampai beberapa hari ke depan, hati ini makin tak sabar untuk segera sampai di sana. Jadilah kami bertujuh memesan tiket kereta ke Weifang yang tak seberapa jauh dari kota Jinan tempat kami belajar sekarang. Dengan buku panduan, peta serta kamera yang sudah siap buat klik sana-sini, kami berangkat.

Sesampainya di Weifang, kami langsung menuju Kite Square tempat festival layang-layang diselenggarakan. Tapi heran juga ketika melihat Kite Square ternyata sepi-sepi saja. Aku memutuskan untuk bertanya pada petugas keamanan di sana. Dan hati ini langsung luluh lantak ketika petugas dengan santainya mengatakan,”Festivalnya ditutup kemarin sore. Meriah sekali acaranya, tapi sayangnya hari ini tak ada kegiatan apa-apa lagi di sini.”

Ajang Pemotretan

Kecewa karena melewatkan salah satu festival bergengsi membuatku jadi kesal bukan kepalang. Teman-teman yang tahu betul betapa inginnya aku menyaksikan serta memotret ragam layang-layang dari seluruh penjuru China mencoba menghiburku. Ah, benar-benar sedih, sampai tak bergairah buat sekedar mengitari Kite Square yang bersih dan penuh bunga itu.

Teman-teman yang memang para narsis itu sudah terhanyut dengan aksi foto-foto. Dan aku yang memang sedang keranjingan memotret jadi terbawa juga. Awalnya hanya memotret beberapa saja. Tapi semakin kami berjalan meninggalkan Kite Square, semakin aku menemukan keasrian kota Weifang, dan semakin seru juga aku memotret.

Bunga memang menjadi favoritku. Tapi koleksi foto bunga sudah tak terhitung banyaknya di komputerku. Ingin juga mencoba sesuatu yang berbeda. Dan karena kupikir teman-temanku cukup manis dan suka berpose saat difoto, ya sudah, kuajak teman-teman buat iseng-iseng bikin pemotretan model, hahaha. Dengan kameraku yang ‘seadanya’ ini, aku mencoba buat membidik wajah-wajah polos teman-temanku.

Memotret model (manusia) ternyata tak semudah yang aku bayangkan. Selama ini aku hanya konsentrasi dengan bunga dan ber-candid ria. Jadi kali ini bisa dibilang pengalaman pertamaku. Kami bergantian menjadi model. Karena memang ide ini hanya dadakan, jadi kami tak menentukan tema macam-macam, tak ada alat bantu selain barang-barang yang kami bawa, dan tentunya dengan kamera yang biasa-biasa saja.

Temanku Alin yang dapat giliran pertama difoto. Dia yang tak suka difoto hanya bisa tersenyum kaku saat aku mengambil gambarnya secara close up. Valerie lebih luwes saat difoto. Dan jujur saja dia menipuku dengan hasil fotonya kali ini. Dia yang jago bercanda tiba-tiba terlihat sangat feminin di foto. Begitu juga dengan Vicky dan roomateku Anya yang dari Rusia. Keren juga mereka berpose bak model, hahaha.

Walau mereka suka difoto dan tergolong pengikut aliran narsis, tapi jujur saja mereka jadi puyeng ketika aku dan teman-teman lain yang jadi “fotografer” mencoba mengarahkan pose mereka. “Ah, kalian jangan aneh-aneh, capek nih!” teriak Vicky yang kuminta berlama-lama memandang ke atas. Yah, namanya juga fotografer asal-asalan, jadi belum begitu mahir bikin setingan kamera, jadinya si model sudah beraksi, kamera masih sedang dalam tahap pengaturan, hahahaha…

Ini aku tampilkan beberapa foto teman-teman hasil jepretanku yang aku anggap lumayan. Masih perlu belajar lebih banyak lagi agar bisa memotret dengan hasil yang lebih baik.

Seharian di Weifang membuat aku kelelahan hingga keenakan tertidur di kereta. Walau tak melihat festival layang-layang, tapi aku puas dengan perjalanan kali ini. Mungkin tahun berikutnya aku akan ke kota ini lagi untuk kembali memburu festival layang-layang.

Bersemi, April 2010

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.