Dancing In The Rain

Elizabeth – Zeng Ceng

Hello sobat Baltyra…. bagaimana cuaca di tempat   anda? Semoga ceria sebagaimana musim semi ya, kali ini saya mau sedikit curhat mengenai relationship dengan anggota komunitas tempat saya tinggal, yang terkadang orang sering lupa kalau tindakan yang bersangkutan bisa juga merugikan /membahayakan orang lain dalam komunitas yang sama.

Dering cellphone membangunanku pagi tadi, dan setelah membaca pesan dari suamiku itu, aku menjadi khawatir…. Ada apa ya…kok pesannya itu singkat tapi bikin deg deg an…

Semalam hujan lebat disertai guntur dan petir terus berlangsung sampai menjelang dini hari. Suami dan anakku sempat tertidur lelap selama beberapa jam, tapi perasaan tak enak membuatku gelisah tak bisa tidur, meski jendela tertutup tirai tebal dan dobel pula, sinar dari petir yang terus menyambar – nyambar sedikit banyak tetap masuk ke kamar melalui celah celah tirai, membuatku makin gelisah tak enak hati.

Lalu suamiku terbangun dan bertanya kenapa aku gak bisa tidur, aku bilang yah selain kepanasan tanpa AC (karena listrik mati) juga khawatir sama orang orang diluar. Suamiku bilang, “ it’s 12.30 PM and massive lightning and thunderstorm, if anyone choose to be outside they’re asking to die”.

Kembali ke sms itu tadi, ternyata di property perusahaan yang berlokasi di Guangzhou, telah mengalami longsor dan menimpa satu asrama karyawan. Sampai saat ini beberapa tubuh sudah ditemukan dan 3 orang masih ‘missing’ , salah satu dari mereka adalah staff admin yang dulu banyak membantu suami saya , ketika kami masih di Guangzhou.

Dan korban tersebut masih memiliki anak kecil yang untungnya tinggal di desa bersama orang tua korban.

Setiap tragedy selain menimbulkan rasa sedih juga menimbulkan pertanyaan… why them ? Dan terlebih karena ada satu kejadian semalam yang lumayan bikin shock community( yang baru saya ketahui tadi pagi, setelah salah satu pelaku yang juga teman saya bercerita, dan dengan ‘bangga’ nya pula ).

Setelah menerima sms dari suami saya itu, saya langsung sibuk nelponin orang yang saya kenal terutama yang punya anak kecil dan biasanya pergi jalan jalan pagi dengan anak mereka. Saya beri kabar agar mereka tak berjalan – jalan dekat danau dan bukit – bukit sekitar, selain karena danau meluap juga takut terjadi  tanah longsor juga di tempat kami.

Ealah pas saya keluar buat mengecek keadaan kebun saya, saya ketemu X dan suami dan anaknya sedang duduk santai di tepi danau, lalu X bercerita kalau semalam ia ‘bermain’ di bawah hujan bersama dengan mrs. ‘Y’ dan miss ‘Z’. Awalnya saya bingung,

Saya       :   “ What do you mean? “
Suami X  :   “ She was drunk”

X            :   “ I wasn’t drunk !!, none of us were drunk last  night, we were just having fun”

Saya       :   ( dengan pasang tampang kebingungan ), “ were you going outside last night, when it was thunderstorm? “
X            :   “ Yeah! And it was fun, Y and Z asked me if I wanted to join them under the rain and go to top of the big turtle hill ( nama salah satu bukit ). I never did that before, so I wanted to go too, and it was fun ”.
Saya       :   “ You’re crazy!! it was massive lightning outside….”
X            :   “ It’s okay as long you aren’t wearing anything”.
Saya       :   “ What!! Were you naked?”
X            :   “ No… I just took off my shoes and jewelry, so it’s okay… I won’t get struck by lightning’
Saya      :   “ You’re crazy…”

Sepulangnya, saya langsung cerita ke suami, dan suami bilang sudah tahu karena diceritain oleh office manager, ternyata semalam 3 orang tersebut juga ngetuk apartment si manager dan ngajakin si manager yang langsung shock dan hanya bisa geleng geleng kepala.

Perasaan saya bingung dan gak jelas, soalnya orang – orang yang diam dan tak mencari perkara meninggal karena tanah longsor menimpa rumah mereka, sedangkan ini orang – orang yang mustinya lebih ‘pintar’ karena menikmati jenjang pendidikan jauh lebih tinggi eh justru malah cari perkara dan bisa saja menyebabkan orang lain kesusahan, dengan berdansa di tengah hujan petir dan justru memanjat bukit.

Sedangkan suami saya justru agak marah, karena kompleks kami yang agak jauh dari hospital, dan satu satunya yang punya bekal medis adalah suami saya, jadi jika mereka kena petir, tentunya mau tak mau suami saya harus keluar dan kasih bantuan medis, and it’s mean he’s putting his own life on risk.

Adalah tanggung jawab moral untuk membantu mereka, tapi kan ya orang orang tersebut membuat keputusan bodoh ya ..? masa kita ikut direpotin.

Mungkin mereka bisa berkilah, bahwa mereka sudah dewasa dan bertanggung jawab atas perbuatan mereka sendiri, tapi jika benar misalnya mereka tersambar petir, yang merasakan akibatnya tentunya komunitas juga, dari hal yang kecil sampai yang besar…

Seperti orang yang memberikan bantuan medis dan sopir yang harus ngebut di tengah malam nganterin korban ke rumah sakit (dan di tengah-tengah thunderstorm dan jalanan menuju hospital rawan dan melewati banyak bukit perkebunan pula), belum lagi orang-orang yang harus membagi perhatian pada keluarga korban di saat yang sama harus memberi perhatian dan support pada korban land slide di GZ, serta memberi instruksi sana sini untuk mencegah longsor dan banjir kalau malam ini ramalan cuaca ternyata jitu dan ada thunderstorm lagi.

Suamiku sembari marah, pun ngomel- ngomel “It’s criminal, jika orang – orang dewasa membuat suatu keputusan bodoh dan meletakkan orang lain dalam jeopardy. It might make me sound like an a****** but I have seen too many good people die because someone else chose to do something stupid “.

Orang orang juga bingung, lah itu suaminya kok ya pada diem aja toh, apa ya gak melarang istri 2 mereka berbuat ‘edan’ seperti itu?  Suami X sendiri responnya justru ketawa tawa, menertawakan ‘kebadungan’ istrinya semalam itu. malahan bilang akhirnya ikutan berhujan hujan juga, meski gak ikut manjat bukit.

Dan mereka bilang kalau baru menidurkan anak mereka (yang baru berusia 2 tahun) jam 1 malam. Aku cuma bisa ndlongop, menghirup napas dalam dalam dan enggan bertanya lebih lanjut…apakah mereka berbuat edan membawa pula anak mereka berhujan-hujan atau membiarkan anak mereka nonton tingkah laku orang tua nya melalui jendela?

Soalnya kalau aku bertanya justru takut jawaban mereka membuatku ‘marah’, dan apa pantas aku marah? lah bukan anakku…tetapi ya itu anak mereka senang main ketempatku dan ngelendot (manja) denganku.

Yah selain dari 2 hal tersebut bagaimanapun banjir ternyata membawa berkah tersendiri bagi para pekerja kebersihan, lah pagi pagi  bersih-bersih sambil nangkepin ikan di jalan atau di genangan air di rumput.  Ayi (prt) ku sempat bilang, kalau dulu malah biasanya ngumpulinnya di cikrak hahaha kebayang aneh aneh aja…nyapu kok ikan.

And last but not least… somehow it reminds me of Gene Kelly…..

but  of course try to imagine the dancers are young moms (no raincoat and no umbrella lah ) and the rain is more ‘spectacular’  with thunder and lightning….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.