Susno Duaji Terpeleset Ikan Arwana

Anoew – SumSel

Tahu ikan Arwana? Itu lho yang harganya jutaan, dari yang paling kecil ukuran 12 cm bisa berharga Rp. 3 jutaan sampai ke ukuran lebih gede lagi bisa mencapai Rp. 6 jutaan. Ikan jenis ini sangat digemari kalangan tertentu yang katanya, bisa membawa hoki bagi yang memeliharanya. Ingat ya, bagi yang memeliharanya. Bukan bagi mereka yang menjual-belikan atau malah melakukan tindakan melawan hukum seperti menyelundupkan dan penyuapan.

Nah, gara-gara ikan keramat ini seorang mantan kabareskrim bernama Susno Duaji (berpangkat jendral bintang tiga) terjerat atau tepatnya, terpeleset oleh licinnya ikan ini.. dan ditahan pada hari senin (10/5) sore sekitar jam 17.00 wib  karena dugaan menerima suap sebesar Rp. 500 juta dari Sahril Johan.

Kok bisa? Maksudnya, kok bisa suatu kasus sedang berjalan dan belum selesai, tapi malah jadi memeriksa kasus lain?

Susno Duaji adalah whistleblower  yang menghembuskan pengungkapan praktek bursuk (buruk dan busuk) di lembaga kepolisian dan melibatkan beberapa perwira tinggi. Pertanyaannya adalah, kenapa dia sebagai, katakanlah pahlawan kesiangan juga boleh, bukannya diberi kemudahan atau kesempatan seluas-luasnya untuk melakukan reformasi dengan membongkar borok di lembaganya tapi kok malah dijerat dengan tuduhan yang tampak seperti dipaksakan? Padahal, kasus ikan ajaib yang bernama Arwana itu sebelumnya nggak menjadi prioritas kerja Polri lho, kok sekarang tiba-tiba jadi dirasa perlu oleh penyidik untuk mengangkat kembali kasus suap yang dituduhkan kepada Susno Duaji.

Dear Baltyrans,

Jelas bahwa penetapan Susno sebagi tersangka yang diikuti dengan penangkapan atas dirinya ini bikin kening berkerut, kepala miring dan raut bingung. Kok bisa?

Kalaupun memang beliau bersalah atas (dugaan) penyalahgunaan wewenang atau kasus suap seperti yang dituduhkan, bukankankah seharusnya bisa didulukan mana yang perlu tindak lanjut sebagai prioritas dan mana yang perlu ditindaklanjuti belakangan? Bukankah seharusnya polri menyelidiki lebih intens apa yang telah dilaporkan Susno dan menindaklanjuti temuan-temuan di lapangan maupun melalui pemeriksaan-pemeriksaan? Lha kok, ini malah melakukan penahanan / penangkapan kepada si pemberi info, dan mengabaikan temuan-temuan yang telah ada? Wah, kalau di dunia on-line, ini disebutnya OOT (Out Of Topic)!

Benar juga kalau selama ini ada anggapan bahwa serangkaian pemeriksaan atas Susno Duaji akan berakhir kepada dua hal yaitu, kompromi / kerjasama atau malah penahanan. Kompromi  akan dilakukan oleh polri jika dianggap Susno koorperatif dalam pemeriksaan dan membantu pengembangan kasus permakelaran di pengadilan yang menyeret petinggi polisi ini. Sedangkan penahanan akan dilakukan jika Susno (mungkin) “menyakiti” hati koleganya di kepolisian.

Dan lihatlah sekarang siapa yang tertawa atau paling tidak diam-diam bersyukur… maksudnya mensyukuri Susno. Sukurin loe… Sukurin loe.. Tapi saya yakin ini belum selesai dan nanti akan kita lihat, siapa yang benar-benar bisa tertawa paling akhir.

Jadi inget obrolan iseng dengan kawan-kawan di lapangan bahwa, akan ada suatu keengganan atau malah ketakutan untuk melaporkan tindakan korupsi yang dilakukan para senior mereka.

Kecil-kecilan aja dulu. Seorang Campboss melakukan kegiatan rutin belanja bulanan untuk keperluan operasional di basecamp, mulai dari bama (bahan makanan) sampai ke ATK (alat tulis kantor). Nah, kebetulan sang campboss ini agak cerdik kalau nggak bisa dibilang licik dengan memark-up harga-harga belanjaan dan menuliskannya di bon pembelian dengan nilai yang nggak sesuai.

Eeeeh…, kok kebetulan hal busuk itu diketahui seorang anak buahnya! Lantas serba salah. Si anak buah itu kok merasa kalau mau melaporkan sang campboss kepada bigboss takutnya malah kena tulah?! Mulai dari tuduhan pencemaran nama baik, menjilat bahkan sampai kepada konspirasi. Halah..!! Lantas untuk cari aman, akhirnya si anak buah itu mendiamkan saja praktek kotor yang dilakukan atasannya tersebut.

Seandainya dia berani “meniup peluit”, akankah sang campboss dijadikan tersangka atau malah sebaliknya, melenggang bebas karena sesungguhnya duit haram itu dinikmati pula oleh boss-boss lain? Lalu gimana nasib si whistleblower? Jika seorang jendral yang membongkar kasus kakap bisa jadi tersangka, gimana kalau rakyat jelata?

Kesimpulan yang mudah ditarik adalah sesungguhnya banyak pejabat yang merasa gerah dengan tingkah laku si peniup peluit ini, kalau dibiarkan tentunya berbahaya.

Maka daripada nantinya merambat ke mana-mana dan menyeret sang bigboss, mendingan dibungkam saja dengan mencari-cari kasus jadul yang kira-kira bisa meyumbat dan menghentikan langkahnya, meskipun sebenarnya terasa janggal jika melihat prioritasnya.

Jadi kalau begini, sekarang siapa yang salah dan siapa yang benar?

Salam Bingung.


Sumber:

Kompas.com

Detiknews.com

infokorupsi

About Anoew

Sedari kemunculannya pertama kali beberapa tahun yang lalu, terlihat spesialisasinya memang yang "nganoew" dan "saroe". Namun tidak semata yang "nganoew-nganoew" saja, artikel-artikelnya mewarnai perjalanan BALTYRA selama 6 tahun ini dengan beragam corak. Mulai dari pekerjaanya yang blusukan ke hutan (menurutnya mencari beras) hingga tentang cerita kehidupan sehari-hari. Postingannya di Group Baltyra dan komentar-komentarnya baik di Group ataupun di Baltyra, punya ciri khas yang menggelitik, terkadang keras jika sudah menyenggol kebhinekaan dan ke-Indonesia-annya.

My Facebook Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.