Traktor Itu…

Anastasia Yuliantari – Ambor Ruteng

Sebagai pendamping sebuah kelompok tani di desa terpencil sungguh sangat membanggakan bila memperoleh apresiasi dari pemerintah. Bentuk apresiasinya bisa macam-macam, mulai dari diberikan pelatihan, dibantu ternak untuk dipelihara para petani, diberi kredit pupuk, dan last but not least dibantu alat untuk mekanisasi pertanian.

Berita yang dibawa oleh rekan pendamping lain sungguh merupakan angin surga. Kelompokku yang berada di tengah deretan lembah dan membutuhkan beberapa jam perjalanan dari kota kabupaten memperoleh bantuan traktor. Bayangkan….traktor! Menurut bahasa televisi yang ada di otak kami adalah kalimat, “Mimpi kali, yeee..!” Jangankan memimpikan, membayangkan saja tak pernah!

Setelah sekian lama hanya sebuah wacana, datanglah sebuah kepastian. Petugas penyuluhan bagian teknis datang. Sumbangan itu tidak berupa barangnya, tetapi berupa dana. Menurut Dinas Tanaman Pangan, dananya Rp. 12 juta. Disalurkan langsung ke rekening kelompok tani. Kami sangat senang tentu saja, bayangkan…..sebuah traktor dari merk terkenal…!!!!

Kesenangan itu rupanya tak berumur panjang. Setelah tanya-tanya ke toko alat pertanian ternyata traktor yang disyaratkan oleh Dinas berharga sekitar Rp. 17 juta. Jadi kelompok tani harus mengusahakan dana sebesar Rp. 5 Juta. Setelah dihitung-hitung, disepakati per anggota harus mengeluarkan dana sebesar Rp. 200 ribu. Tapi, disepakati bukan berarti dilaksanakan. Sampai tenggat waktu pengumpulan dana, tak seorangpun merasa sanggup menyediakan uang sebesar itu.

Bukan masalah kesepakatan yang dilanggar, tetapi lebih pada mengapa mereka tak sanggup memenuhi kewajiban? Alasan paling mendasar adalah sangat sulit mengumpulkan uang sebesar itu di desa, terutama karena saat ini adalah masa tanam. Segenap sumber dana pasti dipergunakan untuk proses itu. Sementara penghasilan lain tidak ada. Kedua, banyak kewajiban sosial yang harus dipenuhi, macam-macam undangan sedang musimnya saat-saat sekarang. Pesta nikah, pesta pengumpulan dana untuk anak sekolah, dan kewajiban-kewajiban lainnya. Jadi, traktor pasti prioritas terakhir.

Di sisi lain aku merasa tertampar bila ingat masa lalu, di mana uang segitu hanya habis untuk makan siang di sebuah hotel berbintang, atau hang out di cafe. Kadang-kadang acara menonton film dan supper malah menghabiskan dua kali lipat dari itu. Jangan lupa juga acara window shopping yang berubah jadi mabuk belanja. Namanya mabuk, pasti tidak dengan sadar. Duuhh…..kalau dihitung-hitung entah berapa traktor yang sudah bisa aku beli!

Semua hal memang ada waktunya. Sekarang sepertinya masa refleksi. Tidak selalu menyenangkan, tapi….that’s life. Apapun itu kembali pada kesadaran akan sebuah proses.

Di tengah harapan yang kian menipis, dibebani oleh jargon pemberdayaan masyarakat, aku masih terus membayangkan traktor itu…………………

One Response to "Traktor Itu…"

  1. yus  28 September, 2017 at 15:21

    terima kasih. untuk lebih lengkap mohon di lengkapi dengan alamat tokonya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.