Cermin Itu Memantulkan Kulit

Abhisam DM

Sekitar empat bulan lalu, aku bersama bosku pergi naik sepeda motor. Di daerah Daan Mogot kami masuk ke Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU) Shell. Konon, karena bahan bakarnya berkualitas tinggi, harganya pun tinggi pula. Apalagi ini merk internasional pertama di Jakarta setelah lebih dari 40 tahun.

Motor yang kami naiki baru saja berhenti persis di depan tangki pengisian bahan bakar. Kami bahkan belum sempat turun. Petugas di situ langsung menyambut sinis, “Pak, bensinnya satu liter Rp. 6.500,- lho.”

Wow! Sambutan menyenangkan, pikirku. Aku merespon sekenanya saja, “Iya dah tahu pak.” Aku dan bosku saling melepas pandang dan melepas senyum kecil. Mengisi bensin di tempat “elit” ini memang “tidak pantas” bagi kami.

Pertama, kendaraan yang kami naiki. Motor bosku itu adalah merk yang mula-mula paling dikenal di negeri ini, dan itu sudah tahun lama, butut. Jika motor itu diparkir di pinggir jalan, lengkap dengan kunci, STNK dan BPKB, pencuri pun aku rasa belum tentu tertarik.

Kedua, penampilan kami. Kami berdua hanya bersandal jepit. Aku memakai celana jeans dan kaos oblong, sementara bosku lebih “parah” lagi. Ia memakai celana kain abu-abu dan kaos putih yang tipis. Setahuku itu kaos untuk baju dalam –singlet. Ia tidak memakai jaket.

Dengan kendaraan dan penampilan seperti itu si petugas tidak percaya. Mungkin ia takut kami salah masuk SPBU. Mungkin ia takut kami tidak bawa (punya) uang. Entahlah. Yang aku tahu tidak ada larangan bagi motor butut pun orang yang berpakaian “seadanya” untuk masuk ke SPBU Shell.

Andai si petugas tahu, bosku itu adalah engineering consultant di project salah satu BUMN yang gajinya… tak usah disebutlah, tapi kalau hanya dua digit itu pasti. Aku tahu betul keuangan bosku, bahkan sampai ke usahanya di salah satu kota di Jawa Timur yang lumayan maju. Namun  ia memang begitu, sangat bersahaja menurutku. Dalam kesehariannya ia selalu tampil “biasa” saja.

Selesai semuanya. Petugas selesai mengisi, kami selesai membayar. Begitu motor kami meninggalkan SPBU, aku dan bosku melepas tawa sekeras-kerasnya. Tertawa adalah pilihan sikap kami, bukan marah, atau yang lain. Sebab melepas tawa dapat sekaligus melepas marah, tapi tidak bisa berlaku sebaliknya.

Cerita tadi dialami oleh seorang teman. Temanku itu, perempuan, bekerja sebagai staf ahli di project yang sama dengan bosnya. Sudah satu bulan lewat ia ceritakan padaku. Baru belakangan saja aku merasa ingin menuliskannya. Untuk apa, aku tak tahu. Tulis, tulis saja. Itu yang kutahu.

Temanku itu, sebut saja namanya Desta, juga seperti bosnya. Bersahaja. Aku tahu latar belakang ekonomi, sosial dan pendidikannya. Pendeknya begini, ia menyelesaikan S2 di fakultas hukum salah satu dari tiga universitas ternama di negeri ini dengan biaya sendiri. Ia sekarang kos di daerah Tanjung Duren, 1,5 juta per bulan, dan tidak pernah sekalipun nunggak. Namun ia memang tidak suka dibuka “aib”nya. Ia suka merendah. Itu sebabnya mengapa ia berkata, “Andai si petugas tahu, bosku itu adalah…” bukan, “Andai si petugas tahu, kami adalah…”

Pada suatu malam, seingatku masih kemarau jadi dingin sekali, aku, Desta dan beberapa teman lainnya, kumpul di satu tempat di daerah Jalan Panjang. Kami mengambil tempat di luar, smoking area. “Kopi tanpa rokok seperti sayur tanpa garam,” kata salah seorang.

“Ah, itu terlalu umum. Kopi tanpa rokok lebih seperti hidup tanpa seks, apalagi dalam dingin menusuk-nusuk begini,” sahut seorang yang lain.

“Bukan, kopi tanpa rokok itu seperti hidup tanpa ingat mati,” sanggah seorang yang lain lagi, “Setiap seruputan pada kopi adalah hidup, dan setiap hisapan pada rokok adalah ingatan pada mati.”

“Logikanya?”

“Kopi adalah hidup itu sendiri, lalu setiap kali kau hisap rokokmu, semakin pendek, pendek, pendek, dan habis. Itulah umur kehidupan.”

Kira-kira saat malam menjelang ajal, hampir jam dua belas. Desta teringat cerita di SPBU Shell Daan Mogot lalu membaginya dengan kami. Tanggapan mulai muncul, satu per satu, sahut-sahutan, sanggah-sanggahan, dan mengalir terus.

Terus hingga ajal menjemput malam. Jam dua belas lewat. Dini hari…

Masyarakat kita dijuluki Asiaweek sebagai consumer heaven. Dihantam krisis berkali-kali, kegiatan konsumsi tetap tidak pernah sepi. Mobil mewah masih harus inden. Jutaan telepon selular, barang elektronik, sepeda motor terus membanjir. Fashion, kosmetik, parfum, tas, tetap diburu. Mall-mall tidak pernah sepi, begitu pula café, waralaba, dan simbol-simbol budaya konsumer lainnya.

Prinsip filsuf Prancis, Rene Descrates, cogito ergo sum (aku berpikir, maka aku ada) berubah menjadi emo ergo sum (aku belanja, maka aku ada).

Di dalam masyarakat konsumer citra berdiri di atas esensi. Lalu (pen)citra(an) diburu, pun menjadi dasar penilaian orang banyak. Booming blackberry lebih cenderung melahirkan sekte latah yang bermakmum pada tren daripada kemajuan teknologi dan informasi itu sendiri. Konsepsi “putih” menyeret anak-anak adam secara berjamaah mengutuk matahari, lalu memuja kosmetik, alat-alat kecantikan, salon, termasuk tempat-tempat perawatan wajah dan kulit, tanpa pernah sadar sejarah ras dan bangsanya sendiri. Ribuan, bahkan jutaan orang, di negeri ini berlomba meyakini agama-agama impor baru yang disebut merk, tanpa pernah mencari dasar keyakinan mereka.

Istilah Bre Redana, mindless consumer, konsumen yang tidak berotak, pasif dan mudah dibodohi mungkin terdengar terlalu kasar. Tapi mungkin juga tidak. Apapun itu, mereka adalah kehendak yang dikendalikan citra. Citra sendiri adalah hasil konstruksi. Konstruksi modal, industri, atau apalah.

Citra itu kulit belaka, kata seorang pakar…

Pada label “kota” atau “modern” fenomena tersebut makin nyata. Dalam banyak kajian terbukti, semakin “kota” semakin konsumer pula masyarakatnya. Semakin “modern” semakin polutif pula nilai-nilai luhur pada tradisinya. Sebab kota dan modernitas terjebak pada pemaknaan sebatas kulit. Sesuatu yang lebih bersifat fisik. Bukankah sering kita menilai banyaknya mall sebagai tolok ukur “maju”nya suatu daerah? Begitu juga gedung-gedung tinggi? Apartemen mewah? Keberhasilan menarik investor, begitu “government language”nya.

Sekitar jam 01.30 dini hari. Salah seorang dari kami, yang tadi bicara kopi tanpa rokok lebih seperti hidup tanpa seks, menutup pembicaraan dengan kalimat-kalimat yang, entah, seolah itu bukan dari dia. Bijak sekali. Sepertiga malam terakhir adalah waktu bagi inspirasi dan ilham, ia sungguh menyakini itu, dan mungkin itu sebabnya.

“Dalam kajian tasawuf, pantang membenci atau mencela ketika seseorang berlaku buruk kepada kita. Bersyukurlah. Sesungguhnya orang itu adalah cermin, dan kelakuan buruknya pada kita adalah pantulan. Pantulan dari sikap atau sifat buruk kita.”

Kami semua mengeryitkan dahi. Sebagian tak mengerti. Sebagian ragu. Sebagian minta penjelasan lebih.

“Kita sedang diingatkan sebenarnya. Bisa juga khifarat. Jika tidak kedua-duanya, anggap saja ujian menuju kenaikan maqam.”

Kami semua masih mengeryitkan dahi. Sebagian masih tak mengerti. Sebagian masih ragu. Sebagian masih minta penjelasan lebih. “Jadi intinya apa pak kiai?” Tanya yang tak mengerti.

“Tentang si petugas SPBU, anggap saja ia cermin; kita juga sering menilai orang, atau segala sesuatu, hanya berdasar kulit belaka.”

Kami semua diam. Sebagian mungkin masih tak mengerti. Sebagian mungkin masih ragu-ragu. Sebagian mungkin sedang mencerna. Yang dipanggil kiai –bukan sebenarnya, ia terlalu mesum untuk dipanggil kiai- menarik kursi ke belakang sebagai tanda segera pulang. Sudah setengah dua lebih. Pagi nanti kami semua masuk kantor.

Pamulang, Agustus 2009


Note Redaksi:

Satu lagi penulis apik bergabung. Selamat datang Abhisam, make yourself at home, semoga terus berbagi nantinya. Terima kasih kepada Dewi yang memperkenalkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.