Sensus Penduduk 2010

Adhe Mirza Hakim – Bandar Lampung

“Bu…, ada petugas sensus datang, sudah saya suruh tunggu di depan,” kata khadimatku.

“Lho..bukannya kemarin sudah datang, koq hari ini datang lagi? Memang harus berapa kali di sensus?” gumamku agak heran.

“Udah temui aja dulu mereka,” saran bapake, yang pagi itu sudah siap-siap ke kantor, padahal aku juga mau berangkat ke kantor.

Pintu ruang tamu kami di ketok dari luar, mereka pikir kami tidak tahu mereka sudah menunggu di depan.

“Duuh…sabar dikit pak,” bathinku dalam hati.

“Selamat pagi bu…, kami mau mengadakan sensus,” jelas si Petugas sensus, seorang pria muda umur 30-an tahun.

“Bukannya seminggu yang lalu sudah melakukan sensus disini?”

“Benar bu, tapi ini sensus model B, yang kemarin itu model A,”

“Lalu apa bedanya model A dan B?” tanyaku agak meyelidik.

“Kalau yang A hanya menyangkut data awal dari setiap keluarga, sedang model B ini sensusnya lebih detail dan kurun waktu pelaksanaannya berulang 10 tahun sekali,” jelas si Petugas sensus.

Mau model A atau model B tetep aja judulnya sama di Sensus, aku sebenarnya termasuk orang yang paling sungkan di sensus atau di survey, apalagi yang menyangkut data-data pribadi. Tetapi karena ini sifatnya wajib, mau nggak mau sebagai warga Negara yang baik, aku harus mengikuti apa yang dicanangkan Pemerintah. Jika melihat petugas sensus yang wajahnya agak sedikit memelas, hehehe….

Maklum deh, hari gini emang mudah mau nyensus orang??? Apalagi kalau rumah penduduk yang mau disensus berada di pemukiman elit, boro-boro mau dibukain pintu, di muka pintu gerbang rumahnya aja sudah ada peringatan “Awas ada anjing galak!”, yang mengindikasikan “Hey…kamu jangan berani macem-macem sama penghuni rumah ini kalau nggak mau digigit anjing herder kami!”.

Teringat beberapa waktu yang lalu aku membaca di situs Koran online, bahwa para petugas sensus menemui kesulitan pada saat mau mendata para penghuni yang tinggal di satu komplek Apartemen, yang ada di bilangan Jakarta Utara, di mana banyak bermukim “wanita-wanita muda usia” yang kabarnya berprofesi sebagai “Istri simpanan”, hmm……wajar mereka kuatir ketahuan ‘belang’ nya, kalau keberadaan mereka terdeteksi ‘Istri Tua’ bisa kacau balau urusan dapur mereka yang selama ini di sokong oleh ‘IMF’ para Lakor (Laki Orang).

Kalau sudah gini, si petugas sensus hanya bisa berhubungan dengan pihak security apartemen, yang menjadi ‘Pihak Penghubung’ antara petugas sensus dengan para penghuni apartemen, yang jadi pertanyaan….apakah lembar kertas data sensus itu bisa dipertanggung jawabkan isinya??? Wallahu’alam.

Kembali lagi ke petugas sensus yang mendata keluargaku, seperti kebiasaan standart operasional prosedur (SOP sensus, kalo Sop Iga sapi mah enak…hihihi), pertanyaan awal selalu mengenai data identitas dari para penghuni rumah yang disensus. Nama, tempat dan tanggal lahir, jenjang pendidikan, pekerjaan, suku/etnis, pokoknya semua orang yang ada dalam satu rumah itu didata semua. Hanya untuk sensus yang kedua ini, ada hal-hal baru yang aku ketahui, misalnya:

– Apa yang dilakukan anda seminggu yang lalu ? jawabnya “Bekerjalah”….emang mau jawab apalagi, “Oh…ya, saya sedang liburan ke Eropa, minggu lalu,” hehehe….just kidding!

– Bahasa yang dipakai dalam percakapan sehari-hari ? bahasa Indonesia tentunya, mungkin ada yang jawab pakai bahasa etnis tertentu atau bahasa asing lainnya.

– Rumahnya luas berapa dan bagaimana status kepemilikannya? Maksudnya rumah kalian type berapa 21, 36, 45, 70 atau lebih dari itu, lalu apa itu rumah sendiri, sewa, kontrak atau PMI (Pondok Mertua Indah, hihihi…alias nebeng.com!).

– Masak pakai apa ? Jawabnya bisa macem-macem nih, pakai gas, minyak tanah, kayu bakar atau arang briket, kalau di rumahku, standar aja lah pakai gas.

– Jenis jamban/wc dirumah model apa ? hehe….asli buat aku senyum-senyum sama pilihan bergandanya: a. jamban duduk, b. jamban jongkok, c. jamban cemplung, d. jamban umum.

Aku pikir pertanyaan mengenai jamban ini erat kaitannya dengan faktor ‘Kesejahteraan’ para responden sensus. Terbayang olehku para penghuni rumah kardus yang banyak bermukim di sepanjang bantaran kali Ciliwung, atau para penduduk yang bermukim di perkampungan air di seluruh Nusantara, tentunya pakai sarana jamban cemplung kan? Hehehe…. Manusiawi banget pertanyaan ini buat rakyat Indonesia kebanyakan.

– Pertanyaan terakhir….apakah ibu atau bapak memakai internet dalam 3 bulan terakhir ? oh..tentu! hari gini nggak nge-net sehari kek mati kutu rasanya hehehe….

Setelah semua jawaban sudah kujawab, pak petugas sensus kupersilahkan minum secangkir teh manis anget.

“Pak, sudah berapa rumah yang disensus?” tanyaku.

“Saya ditugasi untuk mensensus warga di 4 RT, sampai hari ini saya sudah mendapat 12 lembar blanko sensus, lumayan bu,” jawabnya.

“Lho…apa terkejar target sensus penduduk di seluruh Indonesia, sampai akhir bulan ini?”

“Bu, petugas sensus nya banyak lho.”

“Ngomong-ngomong saya belum tau nama bapak?”

“Nama saya Mirza,”

“Wah…mirip sama nama anak saya ya…”

“Sejarahnya dulu saat saya lahir, kata ibu saya, dokter yang menangani kelahiran saya, seorang dokter keturunan India, yang namanya Mirza,” jelas si petugas sambil tersenyum,

“Oh begitu ceritanya, memang banyak orang-orang keturunan Pakistan dan India yang memakai nama Mirza,” sahutku sekenanya.

“Bu, trimakasih saya mau permisi dulu, melanjutkan sensus ke komplek perumahan lain,”

“Ya, semoga lancar urusannya,” aku melihat si petugas sensus keluar dari rumah, sambil menutup pintu rumah aku kembali membathin.

“Tidak mudah mendata orang saat ini, kecuali yang bersangkutan bersikap kooperatif untuk mensukseskan sensus penduduk ini, selain itu semoga bukan data manipulative yang diberikan oleh responden, agar sensus penduduk yang telah dibiayai oleh APBN ini tidak sia-sia!”.

BDL, 12052010.

About Adhe Mirza Hakim

Berkarir sebagai notaris dan PPAT yang tinggal dan berkeluarga di Bandar Lampung. Berbagai belahan dunia sudah ditapakinya bersama suami dan anak-anak tercintanya. Alumnus Universitas Sriwijaya dan melanjutkan spesialisasi kenotariatan di Universitas Padjadjaran. Salah satu hobinya adalah menuliskan dengan detail (hampir) seluruh perjalanannya baik dalam maupun luar negeri lengkap dengan foto-foto indah, yang memerkaya khasanah BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.