Mei Mei

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

MENGENANG TRAGEDI MEI 1998

Entah mengapa kejadian itu berulang kembali.

Berulang seperti roda yang berputar.

Ketika itu tahun 1966.

Bulan Maret hingga Mei.


Ketika itu berulang tahun 1998.

Bulan Maret hingga Mei.


Suasana negeri ini mendung kelabu.

Kemarau kemarahan bergema di mana-mana.


Jutaan mulut bersuara berteriak membenci.

Semangat mereka dilambangkan banyak aksi.


Mereka menapak menerjang apa saja.

Membakar memaki mengayun tangan.


Rakyat berteriak berkeringat ingin perubahan.

Menapak di jalan-jalan sambil membakar.


Entah mengapa kejadian 1966 kelak menjadi berulang.

Entah mengapa kejadian 1998 telah menjadi pengulangan.


Di 1966 Soekarno kekuasaannya menurun, Soeharto pamornya naik.

Di 1998 Soeharto kekuasaannya menurun, Soekarno pamornya naik.


Di 1966 pada Maret hari 10,

Ratusan pendemo mahasiswa pelajar datang memaki sebuah perwakilan asing.

Pemerintah marah dan mencela aksi-aksi marak pendemo.

Di 1998 pada Maret hari 5,

Puluhan pendemo mahasiswa datang memaksa parlemen menolak pertanggungjawaban presiden. Pemerintah marah dan mencela aksi-aksi marak pendemo.


Di 1966 pada Maret hari 11,

Soekarno menolak turun dan membagi kekuasaan kepada seorang Soeharto.

Di 1998 pada Maret hari 11,

Soeharto menolak turun dan mempertahankan kekuasaan bersama seorang Habibie.


Di 1966 pada Maret hari 14,

Soekarno tetap mempertahankan kabinet barunya “yang disempurnakan” yang dinilai rakyatnya tak memberi perubahan apapun. Ini kabinet terakhirnya.

Di 1998 pada Maret hari 14,

Soeharto membentuk kabinet barunnya yang dinilai rakyatnya tak membawa perubahan yang diinginkan. Ini kabinet terakhirnya.


Di 1966 pada April hari 15,

Soeharto meminta keberanian semua pihak untuk melawan sisa-sisa kekuatan lama yang membahayakan negara.

Di 1998 pada April hari 15,

Soeharto meminta keberanian mahasiswa melawan kekuasaannya dihentikan.


Di 1966 pada April hari 18,

Soeharto sebagai menteri angkatan daratnya Soekarno, mencoba mengingatkan adanya kekuatan lama yang mengganggu kerjasama tentara dan kaum buruh.

Di 1998 pada April hari 18,

Wiranto sebagai menteri pertahanannya Soeharto mencoba berdialog dengan kekuatan baru yang menggangu pemerintah, yaitu kaum mahasiswa.


Di 1966 pada Mei hari 2,

Ribuan mahasiswa berdemo ke parlemen agar kekuatan dan kekuasaan yang lama dihukum karena menyimpang dari arah kehidupan bernegara.

Soekarno terpaksa melakukan reformasi berlahan-lahan yang akhirnya melenyapkan kekuasaannya.

Di 1998 pada Mei hari 2,

Ribuan mahasiswa berdemo di jalan-jalan agar kekuatan dan kekuatan yang lama diturunkan karena menyimpang dari arah kehidupan bernegara.

Soeharto terpaksa menjanjikan reformasi bertahap mulai tahun ini yang akhirnya menjatuhkan kekuasaannya.


Di 1966 pada Mei hari 5,

Tentara bertekad mengamankan kewibawaan Soekarno dari teriakan mahasiswa yang tak menyukainya.

Di 1998 pada Mei hari 5,

Pihak keamanan bertekad mengaman kewibawaan Soeharto dari teriakan mahasiswa yang tak menyukainya dengan kerusuhan.


Di 1966 pada Mei hari 12,

Organisasi kemahasiswaan mengeluarkan pernyataan yang mendukung langkah pihak militer untuk melaksanakan perubahan sesuai amanat Supersemar. Pernyataan ini dilanjutkan dengan unjuk rasa di jalan-jalan yang ingin segera ada perubahan.

Di 1998 pada Mei hari 12,

Beberapa mahasiswa tewas ditembak dan puluhan terluka oleh pihak keamanan saat menginginkan perubahan sesuai amanat rakyat. Kejadian ini dilanjutkan dengan unjuk rasa besar-besaran di banyak kampus dan di jalan-jalan yang berakhir rusuh.


Di 1966 pada Mei hari 17,

Perhimpunan pelajar Indonesia di Kairo, Mesir mendukung Soeharto untuk segera melakukan perubahan sosial dan politik secepat mungkin sebelum terlambat.

Di 1998 pada Mei hari 15,

Dari Kairo, Mesir, Soeharto datang ke Tanah Air untuk segera melakukan perubahan

sosial dan politik secepat mungkin meski hal itu sudah terlambat.


Di 1966 pada Mei hari 22,

Soeharto menerima rombongan wartawan TV katolik Belanda dan menjelaskan situasi sosial dan politik di Indonesia yang menuju sebuah perubahan besar. Di jalan-jalan rakyat menginginkan Soekarno segera turun dari kekuasaannya.

Di 1998 pada Mei hari 19,

Soeharto menerima rombongan cendikiawan islam dan menjelaskan situasi sosial dan politik di Indonesia yang menginginkan sebuah perubahan besar. Di jalan-jalan rakyat menginginkan Soeharto segera turun dari kekuasaannya.

Di 1968, akhirnya secara resmi Soeharto menjadi presiden.


Di 1998, akhirnya secara resmi Soeharto tak lagi menjadi presiden.


Entah mengapa sejarah selalu berulang setiap terjadi perubahan…

Entah mengapa darah selalu tumpah setiap ada perubahan…

Di bulan Mei setiap tiga puluh tahun…

Selalu ada hujan darah dan topan api…

Mei…

Mei…


Everybody Hurts

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *