Membentuk Anak Cerdas dan Berempati

Nuni – Australia

Setiap saat mendengar kabar gembira ada sahabat atau kerabat yang baru saja dianugerahi buah hati, saya ikut senang dan mendoakan agar si kecil bisa menjadi anak yang tumbuh sehat dan bisa seperti harapan orangtuanya di kemudian hari. Harapan setiap orangtua pada anak-anaknya memang selalu ingin yang lebih baik, sepertinya ini sudah menjadi hukum alam. Seperti halnya yang dilakukan setiap orangtua saat memberi nama kepada anaknya yang mengandung doa dan harapan untuk kebaikan anaknya di masa depan.

Namun ternyata sekadar nama yang baik dan juga doa tidaklah cukup untuk membekali anak-anak tersebut tumbuh sehat, kuat dan sukses di lingkungannya. Selain seleksi alam yang ikut berperan, cara dan pola pendidikan yang diberikan orangtua pun ikut menjadi point penting di luar faktor lingkungan dan nasib baik yang dibawa sejak lahir.

Konon untuk mencetak generasi yang hebat butuh kesabaran, keuletan dan ketrampilan khusus yang melalui proses trial dan error (proses belajar terus menerus) dan tidak takut untuk bangkit memperbaiki. Karena itulah sebagai orangtua memang selalu dituntut untuk selalu belajar ketika mendidik anak-anaknya dan tentunya mampu menjadi pendengar yang baik.

Di sekolah (kindergarten) tempat saya bekerja, para guru sangat kaget ketika mendengar ada beberapa anak yang ketika kesal dan marah mudah sekali meluncurkan kata F word. Kami pun berpikir, mungkinkah sang anak mendengar dari orang tuanya, dari TV atau dari lingkungan. Karena dari pengalaman yang saya tahu, memang hal-hal tersebutlah yang memungkinkan anak belajar mengenal hal-hal baru.

Maka sebagai staf yang bertugas mendidik anak-anak tersebut, kami pun harus strict melakukan pendekatan agar anak tersebut tidak lagi mengucapkan kata-kata tak sopan yang tak sepatutnya diucapkan apalagi di usia sangat dini. Dan mirisnya, anak-anak itu tidak tahu arti sesungguhnya dari kata-kata kasar tersebut yang bisa ‘meracuni’ anak-anak lain.

Dari banyak pengalaman tersebut jelas pendekatan kepada orangtua sangat diperlukan bila kita ingin membangun anak yang cerdas, mandiri dan bertanggungjawab. Sayangnya tidak semua orangtua memiliki ‘pikiran’ yang sama, karena menganggap mereka lah yang paling berhak dan bertanggung jawab kepada anak-anaknya. Padahal ketika anak-anak di sekolah guru adalah pihak yang bertanggung jawab terhadap perilaku anak-anak tersebut.

Seperti halnya teman-teman guru kindi lainnya saya pun mendukung kurikulum pendidikan baru yang dirilis pemerintah Victoria untuk pendidikan awal (early childhood education) anak-anak di Australia. Beberapa point-nya menekankan bahwa learning outcomes akan lebih berguna untuk mengembangkan minat, bakat dan skill yang dimiliki anak-anak untuk masa depan mereka.

Kalau sebelumnya check list (kemampuan setiap anak terhadap skill yang dinilai) menjadi hal yang penting, kini check list menjadi acuan untuk mendukung keberhasilan anak dalam proses belajar lewat bermain di kindergarten.

Berdasarkan proses observasi, ternyata pola pemikiran seperti ini memang lebih membantu anak siap dalam melalui proses pendidikan. Karena setiap anak adalah individu yang berbeda, yang spesial dan memiliki bakat termasuk segala kelebihan dan kekurangan yang melengkapi hidup mereka sebagai individu. Maka pendekatan seperti ini –melalui learning outcomes –diharapkan bisa mengarahkan mereka menjadi pribadi yang unggul berdasarkan minat, bakat (skill), intelligence dan kesempatan yang ada.

Saya pun jadi teringat dengan buku bagus yang pernah saya baca karya motivator ulung Reynald Kasali, Re-code Your Change DNA. Intinya memberi petunjuk agar lebih berani menatap hari esok yang lebih cerah, sekaligus berani menghancurkan belenggu-belenggu –yang kadang kita buat sendiri—untuk menembus kebuntuan yang menghambat di depan mata demi meraih keberhasilan dalam pembaharuan. Karena sesuatu yang sulit belum tentu tidak bisa diubah.

Untuk berani melakukan perubahan bisa melalui beberapa cara, seperti mau membuka hati dan telinga, terbuka terhadap orang lain (untuk proses kebaikan), termasuk keterbukaan terhadap aneka tekanan yang datang kepada kita. Dikatakan Reynald, mereka yang unggul akan berani melalui berbagai hambatan dengan memulai dari hal-hal yang kecil. Dia juga menyarankan kita berani melihat dengan pikiran untuk masa depan.

Sudah pasti melihat dengan pikiran ini memiliki arti yang dalam, semua harus dengan planning dan kerja keras menghadapi realita di lapangan. Namun semua itu tidak akan membawa hasil tanpa memperhatikan umpan balik yang positif, tetap fokus pada proses berpikir, termasuk solution based thinking. Semoga upaya yang kita upayakan tersebut bisa menghasilkan anak-anak yang cerdas baik IQ dan EQ, bermental baja dan tahan banting dengan lingkungan, seperti halnya Einstein dan ilmuwan lainnya yang sukses melampaui masa-masa sulit untuk menjadi manusia yang berguna bagi dunia!

Ozip May’10


Ilustrasi: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.