Apa Yang Kau Cari Kawan?

Ki Ageng Similikithi – Manila

Hari ini pulang terlambat. Jam tujuh malam baru bisa meninggalkan kantor. Seharian ada pertemuan dari pagi sampai sore. Tak bisa meninggalkan pertemuan walau tak langsung berkaitan dengan program saya. Lewat jam 5 baru bisa mengerjakan pekerjaan sehari-hari. Jalanan tak begitu padat lagi. Saya menyusur United Nations Avenue terus ke Del Pillar. Agak memutar. Tetapi tak apa. Pengin mampir makan di Red Sea restaurant. Rumah makan Timur Tengah.

Hampir tiap akhir pekan makan di sana. Biasanya bersama Nyi. Sabtu kemarin bersama tamu dari Korea. Si pelayan langsung tanya “Where is mom?”. Mungkin ragu-ragu dia, saya datang dengan orang lain. “My wife is in Oman”. Hari ini saya datang sendirian. Pertanyaannya sama juga “Where is your wife?”. “I told you she is in Oman. Give me egg plant saluna with lamb and ice tea”. Jawab saya singkat. Egg plant saluna with lamb, kesukaan saya, kesukaan Nyi, kesukaan bersama.

Jam setengah sembilan baru sampai rumah. Petugas jaga Datoin, giliran jaga malam. Dia memberi tahu kalau salah satu tutup lubang dongkrak mobil hilang. Dia memeriksanya sejenak dan kami bicara sebentar di lantai parkir. Tiba tiba terdengar langkah ringan menuruni tangga. Cynthia ternyata mau berangkat pergi.

Terlalu dini, biasanya menjelang tengah malam baru berangkat. Berpakaian rok tipis setengah mini. Pakaian pesta. Agak menyolok. Celah dadanya begitu rendah menantang. Gaun bawahnya setengah paha. Masih nampak seksi. Kulitnya halus bersih warna sawo matang. Namun tak terkesan sudah lewat usia empat puluh. Masih menawan. Tak kelihatan letih kurang tidur seperti biasanya. Biasanya saya ketemu pagi hari. Terlihat kuyu kurang tidur karena dini hari dia baru pulang.

Malam ini wajahnya nampak segar berseri dengan make up tipis. “ Hi Ki, come home late?”. “ Having a long meeting in the office”jawab saya. “No ballroom tonite KI “. “ No ballroom. You have party ?”. Jawab saya sambil memancing. “Having a date. Life music ”. Jawabnya bisa ditebak. Dia pasti ke club Blue Moon. Punya hubungan khusus dengan salah satu penyanyi pria di sana. Masih muda, sekitar awal tiga puluhan. Saya sering melihatnya datang ke apartemen. Pria ganteng. Nampak maskulin dengan bangunan tubuh kokoh berotot. Tidak begitu lajim untuk pria Filipina yang selalu nampak lembut dan feminine.

Seperti yang saya ungkapkan sebelumnya. Cynthia baru saja resmi berpisah dengan suaminya Efren. Efren dapat pasangan baru. Gadis cantik umur 26 tahun. Nggak tahu apa alasannya, tetapi Efren dan pasangan barunya sering datang ke apartemen. Hanya bicara sebentar sama penjaga di lantai bawah. Tak mungkin masuk ke apartemennya dulu.

Sudah resmi pisah sama Cynthia. Mungkin hanya pengin bikin panas sang mantan isteri, Cynthia. Efren dan pasangan barunya sering ke karaoke di ujung jalan. Mungkin bernyanyi ria, lagu tentang cinta, tentang burung. Burung Kakak Tua, Burung Dalam Sangkar, Burung Nuri, Burung Camar. Pokoknya nyanyian burung. Nyanyian kebebasan. Kebebasan burung. Pernah menawari basa basi. “ Ki lets go karaoke”. “ Go ahead, Nyi is not around”. Mereka juga tak peduli. Ngapain saya ikut. Mereka baru in the mood. Pas panas-panasnya, pasangan baru. Salah salah malah mengganggu mereka berdua atau jadi ingin meniru. Lebih baik menjaga jarak. Kalau perlu mengintip saja.

Pas hari perpisahan mereka disahkan pengadilan, penasehat hukum Cynthia datang malam malam. Pulang pagi hari. Biasa, konsultasi dengan penasehat hukum tak bisa cepat selesai. Bisa selesai setengah jam atau kurang, kalau kliennya wanita lanjut usia. Jika kliennya masih muda dan cantik, seperti Cynthia, apa lagi pas kesepian, konsultasi bisa berjalan semalam suntuk. Bisa dipahami, cuma susah ditiru. Alasan bisa dibikin. Menyelesaikan semua transaksi hukum. Menelaah kembali adakah kekeliruan dalam proses pengadilan. Apapun alasannya mereka juga nggak peduli. Yang penting semalam suntuk, titik.

Pacar baru Cynthia, si penyanyi tampan, hanya datang teratur sampai tiga minggu. Biasanya datang dini hari sampai tengah hari. Jarang saya bertemu kecuali di akhir pekan. Cynthia kadang kadang bertemu di lantai parkir pagi hari. Mengantar anak gadisnya turun untuk selanjutnya dijemput mobil sekolah. Seperti yang saya katakan, pagi-pagi biasanya nampak kuyu dan lusuh. Hanya terbangun sebentar.

Jadi kalau mau lihat Cynhia dalam keadaan segar dan cantik ya pilih malam hari. Mungkin saat dia turun ke lantai bawah. Tetapi saya tak punya nyali. Paling kalau dengar dia buka pintu atau berjalan di koridor, saya hanya terbatuk ringan. Suaranya terdengar nyaring di koridor “Hi KI”. Perbedaan penampilan antara pagi dan malam ini tak sesuai dengan cerita guru saya waktu SMP di Ambarawa. Pak Ebi bilang, wanita yang benar-benar cantik akan terlihat lebih anggun dan cantik saat bangun tidur pagi hari. Tak bisa mengerti saya. Gimana kalau pas ngiler, mau kelihatan anggun dari mana?

Lewat tiga minggu, teman Cynthia berganti-ganti. Semuanya hanya teman. Paling tidak teman kencan. Kadang-kadang anak muda, kadang-kadang pria setengah baya atau lanjut usia. Tak begitu mengejutkan. Mungkin berkaitan dengan pergantian konsepsi atau pandangan pribadi. Memperluas cakrawala pertemanan dan perkencanan, menjelajah umur, dari yang muda sampai tua.

Dalam dunia tinju ini masuk kelas penjelajah, cruiser. Dalam dunia asmara tak tahu namanya. Mungkin kencan lintas usia. Yang mengherankan pria-pria ini tak hanya lewat tengah malam. Tetapi sering sampai pagi. Yang bikin keki, ada seorang pria usia lanjut yang kadang-kadang saya lihat. Terkesan berganti pakaian sendiri saja sudah pasti kesulitan dia, tetapi ternyata masih berani juga semalam suntuk. Kalau pulang pagi kadang-kadang bersamaan dengan saya turun. Magandang umaga. Selamat pagi. Jalannya tertatih di anak tangga. Saya masih lebih gesit menuruni tangga. Tetapi di tempat tidur mungkin dia sangat perkasa, bisa terbang membawa pasangannya terasa melayang. Edaan. Jangan membandingkan, pikir saya. Keberuntungan orang lain lain. Kadang datang tak terduga.

Selang beberapa minggu kemudian. Tamunya berganti lagi. Selalu dalam pakaian formal. Pakai jas warna gelap, seperti seragam atau pakaian resmi. Bicaranya sopan dan gentle. Tak ada kesan urakan sama sekali. Kadang datang dan pergi diantar jemput mobil. Pria-pria muda, tampan, gagah dan menarik.

Tak pernah bertutur sapa langsung dengan saya. Hanya dengar kalau bicara dengan petugas jaga atau bicara dengan Cynthia di depan pintu. Suatu pagi saya bertemu salah satu dari pria itu di bawah. Good morning, sapanya sopan. Dia dijemput mobil warna putih. Sekali lagi Datoin yang buka kartu. He is a guest relation officer. Invited by Cynthia. Bukan teman kencan. Bukan client. Tetapi ternyata Cynthia yang jadi client bagi pria-pria tampan itu.

Cynthia masih muda. Menarik dan cantik. Mau cari suami atau pasangan kohabitasi tetap kayak apa pasti tak akan susah. Tetapi pilihan orang memang bisa berbeda-beda. Dia, paling tidak sementara ini, nampak menikmati kencan dengan jasa GRO. Memang wanita kaya, bisa memilih siapa saja, kapan saja, manasuka. Mau pilih pria yang tipe apa, tinggal lihat gambar dan angkat tilpon. Disuruh apa saja, depan belakang, atas bawah, pasti menurut. Tak ada pikiran buruk sama sekali. Pilihan masing-masing.

Jam sebelas malam. Suara mobil masuk garasi di lantai bawah. Suara Cynthia terdengar lembut sepanjang koridor. Bersama teman kencannya. Moga-moga cepat dapat teman pasangan tetap yang didambakan. Apa yang kaucari ? Siapa yang kau nanti dan kau dambakan Cynthia?

Yang gumun,

Ki Ageng Similikithi


Ilustrasi: spartancommunity

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *